The Assassin'S Transmigration

The Assassin'S Transmigration
Potongan Ingatan Yang Hilang



"Kamu tidak dapat menemukan kedamaian dengan menghindari kehidupan." - Michael Cunningham.


Evelin melangkahkan kaki memasuki Cafe yang familiar baginya. Ini sudah ke empat kalinya dia ke cafe ini.


Pemandangan di dalam Cage segera memasuki penglihatannya, sepeti biasa tidak ada banyak pelanggan di Cafe ini. Hanya ada beberapa mahasiswa dan anak sekolah yang sedang berkumpul.


Saat seseorang yang dia cari masuk dalam pandangannya, dia segera melangkahkan kaki menuju meja tempat orang tersebut berada.


Dia mengangkat matanya melihat gadis di depannya, setelah memerhatikan sebentar dia segera menghela nafas.


Gadis itu yang mendapat tatapan waspada dari orang di depannya tidak memperlihatkan ekspresi terganggu. Dia hanya dengan santai menyesap minuman di depannya, menunggu orang di depannya berbicara.


Setelah terdiam beberapa detik, Evelin membuka suaranya dengan nada yang rumit.


"Jadi.. Apa yang sebenarnya terjadi, Angel?"


Angel meletakkan minuman di atas meja, menatap Evelin dengan intens.


"Di lihat dari reaksi mu, sepertinya ingatan mu sungguh tidak lengkap."


Dia hanya terdiam mendengar hal tersebut.


"001!!"


Tubuhnya secara refleks menjadi kaku saat mendengar kata yang di sebutkan dari bibir gadis di depannya.


Melihat pihak lain terdiam, gadis itu kembali menatapnya dengan tatapan rumit.


"Kurang lebih kau pasti sudah tahu tentang situasi mu saat ini kan Eve!"


Mendengar Angel mengganti panggilannya, dia segera menghela nafas dan memegang kepalanya. Bulir-bulir keringat dingin masih terlihat di pelipisnya.


Sepertinya karena sudah lama tidak mendengar panggilan itu, dia menjadi lebih sensitif saat mendengarnya lagi.


"Ya."


Melihat kondisi Evelin yang sudah lebih rileks, dia kembali melanjutkan.


"Sebelum aku menjelaskannya, aku ingin memastikan sesuatu dulu padamu."


Evelin mengangguk, bibirnya melengkung membentuk senyum alami, "Oke"


"Apa ingatan terakhir yang kau ingat sebelum datang ke dunia ini?"


"Ingatan terakhir?"


Angel mengangguk, "Ya. Seperti yang ku katakan tadi, ingatan mu tidak lengkap. Mungkin karena beberapa 'kecelakaan' yang terjadi saat kau datang ke dunia ini atau saat kau memasuki tubuh itu, kau kehilangan beberapa ingatanmu dalam prosesnya."


Melihat Evelin yang sepeti akan menanyakan sesuatu dia segera berbicara.


"Karena itu, sebelum aku menjelaskan semuanya." Dia menunjuk ke arah Evelin, "Jawab dulu pertanyaan ku dan ingat kembali dengan baik."


Evelin terdiam sejenak, dia menjadi linglung untuk sesaat. Dia menjawab dengan ragu-ragu seolah dia sendiri tidak yakin dengan apa yang dia katakan.


"Aku ingat kalau aku sedang.. Tidur? Tidak.. Bukan.. Aku sedang bekerja?"


Dia berbicara seperti bertanya kepada dirinya sendiri, di dalam kepalanya seperti ada kabut tebal yang membuat ingatannya menjadi kabur dan tidak jelas.


Dia memegang kepalanya yang terasa sakit saat berusaha mengingat sesuatu. Ah? Kenapa dia tidak menyadarinya sebelumnya? dia bahkan tidak tahu kalau ingatannya sendiri tidak lengkap. Kenapa dia bisa ceroboh seperti ini?


Saat rasa sakit menghantam kepalanya seperti di tusuk ribuan jarum, dia merasakan sebuah tangan yang menggenggam tangannya.


"Jangan paksakan dirimu, aku tidak memintamu untuk mengingat semua hal tersebut. Aku hanya ingin tahu kapan ingatan terakhirmu. Tapi sekarang sepertinya aku tahu ingatan apa saja yang sudah kau lupakan."


"Aku tidak bisa menjelaskan tentang apa yang terjadi kalau kau melupakan penyebab terjadinya semua peristiwa ini."


"Jadi, aku melupakan hal yang paling penting?"


"Ya. Untuk sekarang.." Dia mengeluarkan sebuah kertas dan pulpen lalu menggoreskan tinta dia tas kertas, ".. Terima ini, jika kau ingin ingatanmu yang hilang kembali. Aku sarankan untuk datang padanya. Walupun dia sedikit aneh tapi dia bukanlah orang jahat dan dia bisa di percaya."


Evelin melihat tulisan di kertas sebentar, lalu segera menyimpannya.


Angel melirik gadis di depannya, seperti ingin mengatakan sesuatu namun ragu.


Evelin memakan potongan kue di piring, dai bahkan tidak melihat ke arah Angel saat dia berbicara dengan acuh tak acuh, "Jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja. Aku akan menjawab jika aku bisa."


Angel mengigit bibirnya sebentar, melirik ke arah Evelin dengan gelisah. Dia masih ragu untuk berbicara namun stelah beberapa detik dia masih membuka mulutnya.


"Apa kau dan dia kembali berhubungan?"


Dia meminum minuman, lalu meletakkannya kembali dia tas meja. Tidak perubahan ekspresi yang kentara di wajahnya.


Dia saling menautkan jarinya, meletakkan dagunya di atasnya dan tersenyum, "Bagaimana menurutmu?"


Dia tidak menolak atau menerima gagasan tersebut yang membuat Angel semakin bingung dan gelisah.


"Tapi, melihat reaksinya saat bertemu dengan ku di sekolah seperti bertemu dengan orang asing. Itu artinya dia tidak mengingat tentang kehidupan sebelumnya, kalau begitu kenapa kau dekat dengannya?"


Mendengar ucapan Angel yang mengandung kemarahan dan kebingungan, Evelin hanya terdiam sebelum menjawab dengan santai.


"Jangan khawatir! Aku hanya dekat dengannya untuk melindunginya."


Angel merebahkan tubuhnya ke belakang, dia menatap Evelin dengan tatapan rumit, "Aku tahu bagaimana perasaanmu. Tapi, bukankah lebih baik jika kau menjauh darinya?" Dia mengatupkan bibirnya sebelum berbicara dengan suara rendah, "Kau juga tahukan, kalau cerita Valentine adalah sebuah tragedi."


Masih dengan ekspresi tenang, dia menjawab dengan alami, "Ya, aku tahu. Aku lebih tahu itu dari siapa pun, karena itu kau tidak perlu khawatir."


Melihat sikap keras kepala gadis di depannya, dia hanya bis menghela nafas frustasi. Masih tidak ingin menyerah, dia kembali berbicara.


"Aku tahu ini sangat kejam bagi kalian berdua, tapi aku hanya tidak ingin kau ataupun dia terluka lagi. Karena itu.."


Dia berbicara dengan cepat untuk memotong perkataan Angel sebelum menjadi semakin panjang, "Iya.. Iya.. aku tahu kau hanya mengkhawatirkan kami."


Sebelum Angel kembali berbicara, dia segera berdiri dan berkata dengan cepat, "Kalau begitu aku pergi duluan ya, mau ngerjain tugas dari sekolah. Dah~"


Dengan senyum cerianya, dia segera menghilang keluar pintu.


Angel yang melihat hal itu hanya bisa terdiam, dia tahu hanya dari melihat Evelin hari ini.


"Senyum mu menjadi palsu sejak dia pergi.."


Dia memandang langit keluar kaca jendela, matanya sepeti melihat pemandangan yang sangat jauh.


"..Eve."


Sebuah suara yang dalam dan tenang terdengar, "Kau tahu apa yang menjadi penyebabnya. 014!"


Dia menoleh, tidak terkejut dengan kehadiran pria asing di depannya.


"Apa ini sungguh yang terbaik? bukankah akan lebih baik jika dia tak mengingatnya? Jika dia tahu kebenaran yang sesungguhnya.." dia menunduk dengan mata yang mengandung kesedihan dan rasa sakit, ".. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaanya."


Pria itu melihat gadis di depannya dengan tenang, namun nada bicaranya terdengar tegas dan tidak bisa di bantah, "Jika, kita tidak bertindak sekarang. Bagaimana jika pak tua itu bertindak lebih dulu dan mempengaruhi ingatannya yang masih tidak lengkap?"


Mendengar hal tersebut, matanya menurun dengan bibir yang mengerut.


"Ya. Aku harap pilihan kita tidak salah."