
"Orang-orang tidak menyadari ini, kesepian selalu dianggap remeh." -Tom Hansen, 500 Days of Summer.
Daffa segera memasang wajah masam melihat kedua sahabatnya menatapnya seperti itu.
"Pft.. hahaha.."
Tawa Evelin segera meledak, dia memukul meja sesekali di tengah tawanya dengan sedikit kekuatan.
"Kenapa Lo ketawa?" Daffa mengangkat alis heran saat melihat Evelin tertawa di situasi seperti ini.
"Haha.. Perutnya tambah buncit karena makan terus. Katanya Daffa kasih dia makan makanan yang manis terus.. Haha.. Makanya perutnya tambah buncit. Hahaha.."
Meski dia tertawa Evelin tetap berbicara, dia bahkan menghapus air mata di sudut matanya karena tertawa berlebihan.
Berbeda dengan Evelin yang tertawa terbahak-bahak, ekspresi wajah Daffa saat ini sangat tidak bagus untuk di lihat.
"Lo.." Daffa menunjuk Evelin dengan gemetar, dia mengatupkan bibirnya dengan marah, dahinya berkerut dengan kesal.
Dia sudah khawatir tentang apa yang terjadi, meski bukan dia yang melakukannya. Bisa saja gadis itu meminta pertanggung jawaban dari dia.
Bagaimana dia bisa menjelaskan kepada orang tuanya jika semua hal itu terjadi? Apakah mereka akan percaya kalau dia mengatakan yang sebenarnya?
Reputasi dia di sekolah tidak terlalu bagus, dia di kenal sebagai playboy. Jadi, siapa yang akan percaya kalau dia mengatakan tidak pernah melakukannya?
Namun, semua pikiran buruk yang tak terhitung jumlahnya menjadi sia-sia. Karena, itu hanyalah sebuah lelucon.
"Kenapa? Muka Lo kok kayak gitu? kan Evelin cuma bilang yang sebenarnya." Evelin mengangkat bahu Acuh.
Dia melanjutkan, "Kalo nggak percaya kakak tanya aja sama dia."
"Lo bercandanya kelewatan tau nggak? gue pikir itu beneran. Awas aja lu ya..!" Nada suaranya semakin terdengar kesal saat dia berbicara.
Dia bahkan sudah berdiri dengan wajah marah, mungkin dia ingin melampiaskan amarahnya.
Namun, sebelum dia bisa melakukan apa pun, dia tidak sengaja melihat mata Reyhan yang seolah berkata, 'Mau apa Lo? kalo Lo berani apa-apain adik gue. Habis Lo sama gue..!'
Dengan itu, Daffa kembali duduk dengan tenang walau ekspresi kesal masih terlihat di wajahnya.
Rian hanya menahan tawa melihat Daffa, dia tahu Daffa tidak akan melakukan hal tersebut. Mau se-brengsek apa pun dia, dia tidak akan melakukan hal yang di luar batas.
Namun, dia senang melihat hiburan. Jarang ada orang yang bisa membuat Daffa seperti ini.
Karena semua gadis yang ada di sekitar mereka, semuanya tertarik kepada wajah tampan dan rayuan manisnya.
Jadi, kapan lagi dia bisa melihat gadis yang mengejek Daffa.
Daffa seperti anak kecil yang di marahi, dia ingin marah namun tidak bisa.
Walau Reyhan terlihat seperti tipe cowok yang tenang. Tapi, dia sangat menyeramkan saat dia marah dan Daffa pernah menjadi korban kemarahannya.
Mengingat hal itu saja sudah membuat dia merinding.
Jadi, Daffa memasang ekspresi sedih melihat ke arah Rian namun Rian hanya mengacuhkan tanpa niat membantu. Bahkan ada sedikit senyum mengejek di wajahnya.
Ah, sekarang dia menyadarinya bahwa orang yang paling senang saat melihat dia di ejek adalah orang di sebelahnya ini.
Ekspresinya kembali masam dengan bibir mengerut.
Evelin hanya menahan tawa saat melihat ekspresi Daffa.
Namun, walau bibirnya mengeluarkan tawa, matanya masih menunjukkan kesedihan yang mendalam walau tidak ada yang menyadarinya.
Pergi ke sekolah, belajar, bersama keluarga, dan kegiatan lainnya yang terus berulang sampai pada suatu hari dia menerima sebuah pesan.
Evelin melihat pesan tersebut dengan tatapan dingin dan tanpa emosi dengan mata gelapnya.
"Ada apa?" Reyhan bertanya saat melihat Evelin tiba-tiba diam.
Mereka sekarang dalam perjalanan pulang sekolah. Walau Evelin jarang masuk kelas beberapa hari ini, namun dia tidak pernah absen sekolah.
Reyhan menyadari perubahan yang terjadi pada Evelin. Dulu, Evelin memang jarang pergi sekolah dan sering bolos, daripada pergi ke sekolah dia lebih memilih untuk pergi berbelanja ke mall untuk menghabiskan waktu.
Perubahan yang paling terlihat dari Evelin mungkin dari sikapnya terhadap Reyhan dan ibunya.
Dia tidak lagi membenci mereka dan bahkan bersikap hangat kepada mereka seperti mereka benar-benar keluarganya.
Meski dia tidak tahu kenapa Evelin tiba-tiba berubah seperti ini. Namun, dia hanya bisa senang dengan Evelin yang mau menerima dan tidak membencinya lagi.
kegelapan di matanya hilang dalam sekejap di gantikan binar mata yang cerah, bibirnya membentuk sebuah senyum ceria saat dia menjawab dengan penuh semangat, "Nggak papa kok, Kita jadi mampir ke toko kue kan nanti?"
Reyhan melirik tatapan Evelin yang terlihat sangat senang.
Dia tersenyum lembut sebelum berkata, "Iya, Bentar lagi nyampe kok ke tokonya."
Evelin berseru senang sebelum kembali duduk dengan wajah bahagia.
***
Bulan bersinar dengan cerah, angin sejuk berhembus melewati suasana malam yang sunyi.
Dia mengenakan long coat berwarna hitam, celana jeans hitam panjang dengan baju kaos warna hitam sebagai dalaman.
Rambut panjangnya terbang di tiup angin malam, dia melihat sekitar dengan dingin sebelum melompat dari balkon dan mendarat dengan mulus tanpa satu suara sekecil apa pun.
Dia berjalan dan menyelinap, memperhatikan sekitar sebelum kembali berjalan lagi. Dia terus berjalan seperti seorang pencuri dan setelah beberapa menit, dia melompati pagar saat tidak ada orang di sekitar.
Berjalan kembali setelah sekitar tiga menit hingga sebuah motor besar terlihat, warnanya sama dengan pakaiannya dan terlihat elegan di bawah sinar bulan.
Dia menaiki motor, menyalakan mesin, dan melajukan motor dengan kecepatan tinggi.
Motor melaju dengan cepat, membelah angin malam. Di jalan yang sepi, suara motor terdengar melewati malam.
Motor terus melaju hingga tiba di depan rumah kosong yang tertulis daun. Di bawah kegelapan malam, rumah yang sudah tua terlihat semakin menyeramkan.
Dia memarkirkan motor dan perlahan berjalan masuk ke dalam rumah kosong yang hanya di terangi cahaya bulan.
Suara langkah kakinya terdengar semakin jelas di kesunyian malam. Tangannya mendorong pintu hingga terdengar suara berderit.
Dia terus melangkah masuk, menaiki tangga, berjalan di lorong, berbelok dan berhenti di depan sebuah ruangan.
Sekali lagi, dia mendorong pintu namun kali ini tidak ada suara berderit. Matanya menyapu ke dalam ruangan.
Di sana ada dua orang dengan jenis kelamin yang berbeda. Satunya adalah seorang pria besar dan kekar dengan wajah garang dan yang lainnya adalah seorang perempuan muda berambut pirang lurus, wajahnya terlihat muda dan cantik.
"Kamu sudah datang..!" Suaranya mengalir dengan lembut dan menggoda di kegelapan malam.
"Apa..! kamu baru datang..!?"
Pria tersebut berbicara saat melihat Evelin dengan wajah garangnya. Nadanya penuh dengan intimidasi dan ejekan.
Namun, dia tidak peduli dan berjalan lurus ke arah mereka hingga tiba di hadapan mereka.