THE ACTOR

THE ACTOR
Bab Bonus: Keluarga Besar Uzumi Bertamu



[Ruang Tamu]


Empat cangkir teh dan berbagai kue berada di tengah meja dengan dua sofa saling berhadapan. Uzumi, Eliyana bersama putranya yang sudah berusia 4 tahun sedang bertamu seketika Alan datang bersama Seira dan Sora agar berkenalan dengan Haruchiyo Kei.


"Paman, bibi lama tidak jumpa!" teriak Seira dengan penuh semangat


"Seira-chan, Sora-chan apa kabar?" tanya Eliyana dengan senyuman lembut


[Menutup Telinga]


"Kak Seira jangan teriak di dekat telingaku, sakit tahu!" ucap Sora dengan ekspresi kesal


Seira terdiam sejenak ketika melihat Haruchiyo Kei sedang malu dengan penampilannya sendiri sehingga berbeda sekali dari sosok Uzumi yang berpenampilan dingin tapi keren. Namun, umur 4 tahun sudah terlihat bahwa Kei memiliki paras rupawan dan elegan mirip sekali dengan ibunya seketika Seira membandingkannya setelah itu, dia memeluk Sora dihadapan Kei.


"Sora di mataku tidak akan kalah dari siapa pun!" ucap Seira karena menyadari kalau Kei lebih di atas Sora


Sora kebingungan dengan perkataan kakaknya tapi Alan memahami Seira sehingga mereka bertiga disuruh untuk bermain bersama di luar rumah. Alan, Veronica, Uzumi dan Eliyana saling bicara mengenai masa-masa lalu mereka serta mengenai anak-anak kemudian sudut pandang berubah ke mereka bertiga yang sudah keluar rumah untuk bermain di taman bersama anak tetangga.


"Kak, aku jumpa temanku dulu!" ucap Sora yang langsung pergi menemui temannya


Seira terus menatap Kei yang selalu menutupi wajahnya disertai ekspresi malu hingga tidak ada tanda keberanian dan rasa percaya diri. Teman-teman Seira terus memanggilnya untuk bermain bersama tapi meninggalkan Kei sendirian akan berbahaya sehingga dia menarik tangan Kei agar Sora mengurusnya.


Dari jauh kedatangan Seira menarik Kei terlihat seperti menarik barang sontak dia bingung dengan perilaku kakaknya. Sora mendapatkan tanggung jawab untuk bermain bersama Kei seketika teman-teman lainnya mau bermain kejar-kejaran dan Kei masih menutup dirinya hingga Sora perlahan-lahan terus membujuk agar berani sambil mengajaknya bermain bersama.


"Kita memang baru bertemu tapi Kei kau sudah seperti keluarga sendiri karena ayah dan ibu kita saling kenal. Jadi, tidak perlu takut untuk bermain bersamaku!" ucap Sora dengan senyum tipis sambil mengulurkan tangannya


"Ma-maa-maaf Sora da-dan terim-terima ka-ka-kasih!" ucap Kei dengan terpatah-patah


[Menjabat Tangan Sora]


Mereka pada akhirnya bermain kejar-kejaran sedangkan Seira terus memantau dari jarak jauh dengan senyuman lebar karena melihat adiknya bisa mengatasi masalah tersebut. Selama bermain, Kei tidak bisa lari cepat karena selalu kelelahan hingga selalu menjadi pemain yang wajib mengejar lainnya seketika teman-teman Sora mulai mengejek dan menertawakannya.


Kei di bully habis-habisan dengan pasir terus menghujani tubuhnya sontak Sora melindungi Kei hingga teman-temannya mulai menjauhi dia sambil ikut membully Sora. Kei kagum melihat keberaniannya sampai melawan balik para pembully tersebut walaupun dia tidak bisa menghadapi semuanya hingga Sora mendapatkan beberapa pukulan yang mengakibatkannya terjatuh sampai lutut terluka.


"Sudah kubilang menjauh dari Kei!" teriak Sora sambil menahan rasa sakit di lututnya


Saat Sora masih menguatkan diri untuk berdiri agar dapat melindungi Kei tiba-tiba anak usia 4 tahun itu langsung berdiri di depan Sora dengan melebarkan kedua tangannya disertai ekspresi kesal dan berani menatap para pembully tersebut.


"Menjauhlah dari Sora!" teriak Kei dengan nada tinggi disertai ekspresi penuh kemarahan


Para pembully tersebut mulai mengambil batu seketika Sora mulai menganggap semua ini akan berbahaya tetapi lebih berbahaya lagi kalau kakaknya melihat semua ini.


[Menyeret Batang Kayu]


"Hey, bocah. Apa yang kalian perbuat pada saudaraku!" ucap Seira dengan ekspresi marah besar disertai tatapan tajam


Kei yang tadi berani langsung roboh melihat ekspresi Seira lalu para pembully berlarian dan ada yang terjatuh sambil menangis hingga tidak berani bergerak dari tempatnya. Seira menghadapi sisa pembully tersebut dengan batang kayu berada di tangan kanannya lalu dia memukul ke permukaan tanah secara kuat sebagai peringatan.


"Kalian para bocah mending pulang dan ngompol di kasur dasar pecundang!" ucap Seira dengan tatapan merendah


[Berlarian]


Semua pembully langsung pulang ke rumah masing-masing hingga teman-teman Seira tepuk tangan dari jauh karena sudah mengetahui sifat sebenarnya dari Seira kemudian Kei menatap kagum dan terpukau hingga tidak melepaskan pandangannya dari Seira yang langsung menolong adiknya.


[Memberikan Hansaplast]


"Aduh. Kak Seira tadi serius mau bunuh anak tetangga sebelah rumah?" tanya Sora dengan ekspresi kalem


"Kakak hampir melakukannya, dik!" jawab Seira dengan ekspresi serius


Seira menghampiri Kei sambil mengulurkan tangannya seketika jantung Kei langsung berdetak kencang karena orang yang dia kagumi sangat dekat dengannya. Saat Kei menjabat tangan Seira hingga dia berdiri dihadapannya tiba-tiba rasa menahan tawanya tidak bisa dia lakukan lagi.


"Hahaha, lemahnya masih mending adikku. Hey, Sora apa perlu kita bully dia habis ini?" tanya Seira sambil tertawa terbahak-bahak


[Menghela Napas]


Sora menghampiri mereka berdua sambil memikirkan alibi untuk keluar dari situasi saat ini agar ayahnya tidak datang ke rumah tetangga karena dapat menyelesaikan semuanya dengan kekerasan sebab kejadian ini pernah terjadi kepada Sora hingga ayahnya turun tangan dengan ekspresi yang mengerikan seketika dia paham asal ekspresi kakaknya berasal.


"Yoshh, Kak Seira anggap aku habis jatuh dari seluncuran dan jangan pernah memberitahu kejadian aslinya kepada ayah!" ucap Sora dengan ekspresi serius


"Ehhh, kenapa. Aku sama ayah bisa mengatasi semuanya!" balas Seira dengan ekspresi kecewa


"Jangan melakukan hal seperti kita keluarga kriminal!" ucap Sora sambil mencubit pipi kakaknya


[Membungkuk]


"Sora, Kak Seira terima kasih banyak sudah membantu saya!" teriak Kei dengan sangat tulus


"Ha, aku tidak melakukannya unt...." mulut Seira langsung disekap adiknya


"Sama-sama Kei tapi berbohonglah kalau kita sudah sampai di rumah agar masalah tidak bertambah banyak!" ucap Sora sambil menahan amukan kakaknya


"Iya aku mengerti, Sora!" ucap Kei dengan lebih berani mengutarakan ucapannya


"Baiklah, Kak Seira tolong lakukan seperti yang aku minta karena permintaan ini secara langsung berasal dari adik tercintamu!" ucap Sora untuk membuat kakaknya menurut


"Keseharian keluarga, berbohong kepada ayah sehari sekali!" ucap Seira dengan ekspresi serius


"Mana ada keseharian seperti itu!" ucap Sora sambil menutup wajahnya karena malu


[Sore Hari]


Mereka bertiga kembali ke rumah dengan pakaian kotor sontak Alan tersenyum menakutkan untuk mengetahui kebenarannya, Sora langsung tidak berani menatap mata ayahnya sedangkan Seira maju ke depan untuk menghadapi ayahnya secara empat mata.


"Emergency Family, Sora barusan jatuh dari seluncuran dan lututnya terluka!" ucap Seira dengan ekspresi mendramatisir


"Sebagai kakak sudah kamu tolong adikmu?" tanya Alan dengan membalas dramatisir tersebut


"Iya. Aku sudah membakar seluncurannya!" jawab Seira dengan ekspresi serius


[Mengelus Kepala Seira]


"Bagus sekali!" ucap Alan dengan ekspresi serius


"Nih, keluarga sudah ga beres dah!" gumam Sora dengan ekspresi bingung menatap ayah dan kakaknya


Kei mendatangi keluarganya sambil memperlihatkan dirinya yang sudah tidak menjadi pemalu sontak Uzumi merasa senang karena Seira dan Sora membawa arus baik untuk putranya bahkan Eliyana terkejut melihat perubahan drastis tersebut hingga dia memeluk Kei dengan erat.


Veronica menghela napas karena dia satu-satunya yang memahami kalau Seira dan Sora berbohong sedangkan Alan sudah terlanjur mempercayai perkataan anaknya. Waktu sudah mendekati malam hari sehingga Uzumi, Eliyana bersama anaknya harus pulang tapi sebelum pulang, Kei membuat sebuah janji kepada Seira.


"Aku akan bertambah kuat hingga kamu tidak pernah menganggapku lemah, Kak Seira!" ucap Kei dengan ekspresi serius


Sora merasakan tekad kuat dari ucapan Kei barusan tapi melihat kakaknya tidak peduli terhadap tekad tersebut seketika membuat Sora sekali lagi menghela napas.


Bersambung....