Second Change

Second Change
Chapter 9



Apa-apaan ini? Ini tidak sama seperti bayangku.


Tepat pukul tujuh, terdengar aba-aba di speaker kalau pintu diperbolehkan untuk di buka. Yang terjadi selanjutnya adalah, dentuman musik yang entah muncul dari mana tiba-tiba menggelegar, lampu seketika dimatikan dan cahaya kerlap kerlip membuat pandanganku seketika bergoyang. Kepalaku langsung pusing. Sebelum aku adaptasi dengan mataku, tiba-tiba saja ruangan sudah di penuhi dengan orang-orang yang masuk secara bersamaan. Akhirnya aku memahami situasi ini. Ini bukanlah cafe. Tapi bar.


Aku gugup sampai perutku bergejolak. Rasanya aku ingin pergi dari tempat ini. Pantas saja ada peraturan yang aneh-aneh. Ternyata ini memang tempat yang khusus untuk orang dewasa bersenang-senang. Semakin di pikirkan, perutku semakin bergejolak dan kepalaku pusing. Aku meninggalkan posisiku dan lari masuk ke ruangan di belakang bar tempat kami berbaris tadi.


"Kamu kenapa, Lia? Tamu sudah mulai berdatangan. Kamu harus standby di tempat mu!" perintah Kak Jay yang mengikutiku masuk.


"Maaf kak. Kepalaku pusing." lirihku


"Karena lampu?" tanyanya tidak sabaran


"Iya."


Kak Jay masuk ke ruang loker dan keluar setelah beberapa menit. Dia memasangkan kaca mata berlensa putih ke mataku.


"Pakai ini dan cepatlah adaptasi." Kak Jay mendorong bahuku keluar dari ruangan dan menemaniku berdiri di tempat seharusnya aku berjaga.


Jujur, sejak memakai kacamata ini, pandanganku lumayan sudah tidak terlalu berputar-putar lagi. Aku mencoba memandang sekeliling dan ternyata benar. Ini kacamata apaan? Ajaib banget.


"Udah enakan?" tanya Kak Jay yang masih berdiri di dekatku.


"Udah kak." sahut ku.


Aku tersenyum dan dia membalas ku dengan senyuman juga.


Syukurlah, aku kira dia akan marah.


"Lia, antarkan ini ke meja A lima!" seru Kak Vino dari Bar.


Aku mengangkat baki berisi beberapa minuman warna-warni yang di bawah gelasnya ada nama minuman yang harus aku ucapkan pada saat meletakkan di meja tamu.


"Blue Shangrila, Dark Ginny, Macal Fire, Vodca Double. Enjoyed your night Miss." Misi pertama selesai.


Saat aku mengucapkan nama-nama minuman itu, kakak-kakak berbaju sexy itu tampak mengabaikanku. Mereka asik ber-selfie sambil merokok. Begitulah tempat ini. Aku harus cepat beradaptasi. Empat jam akan cepat berlalu.


Sesuai dugaan, empat jam sebentar saja berlalu. Hari ini aku mengantar 23 pesanan ke meja tamu dan semuanya berjalan lancar. Hanya saja kata Kak Jay, cara ku berjalan masih kaku karena aku takut jatuh dan takut bertabrakan dengan tamu-tamu yang lalu lalang.


"Besok aku akan berusaha lagi."ujar ku ke Kak Jay yang penampilannya masih onpoint.


Tidak seperti aku yang rambut uda lepek dan wajah pun berminyak. Lipsgloss yang ku pakai uda hilang dari tadi dan tidak bisa di retouch.


Saat di mobil, keempat anak magang pada ngeluh kecapean. Kaki mereka sakit karena tidak punya kebiasaan berdiri. Sepanjang perjalanan pulang mereka membicarakan pengalaman masing-masing. Vera mengatakan kalau hari ini tidak termasuk rame. Karena hari ini bar di buka untuk umum saja jadi tingkat atas yang khusus VIP di tutup. Aku masih mencerna perkataan Vera tapi tidak berani banyak bertanya. Karena biar bagaimanapun aku anggota yang masuk belakangan. Ada rasa segan untuk mendekatkan diri kepada mereka. Sejauh ini aku hanya mendengar dan bertanya-tanya sendiri di dalam hati. Aku baru tahu kalau ada tingkat dua. Padahal aku tidak melihat ada tangga.


Pukul dua belas lewat sepuluh aku baru sampai rumah dan langsung membersihkan diri. Saat aku berbaring, jam di handphoneku sudah menunjuk jam satu kurang lima belas menit. Aku mengecek notifikasi di imassage berharap Tony sudah membalas. Tapi ternyata pesan yang ku kirim kemarin pun masih belum di terimanya. Aku mencoba meneleponnya tapi tetap saja tidak terhubung. Perasaan gak enak pelan-pelan mengusikku. Apakah Tony baik-baik saja? Mungkinkah dia mengalami kecelakaan di tengah jalan? Semakin di pikirkan semakin ngeri jika beneran Tony mengalami kecelakaan di jalan. Perut ku kembali bergejolak, kepalaku mendadak berat. Rasa kantukku menghilang begitu saja. Jariku gemetaran saat hendak mendial nomor telepon polisi. Apakah aku harus lapor orang hilang ke polisi?


Handphone ku tiba-tiba bergetar. Aku tersentak sampai hanphoneku tergelincir dari tanganku yang masih gemetaran. Aku mengambilnya cepat dan melihat ke layar. Berharap Tony yang menelepon. Tapi nama Kak Jay yang terpampang di atas layar hitam.


"Halo."


"Aku melihat kamu sedang online. Apakah sudah sampai rumah?" tanya Kak Jay.


"Eh.. Uda sampai rumah, Kak. Ini lagi siap-siap mau tidur." kataku "Ada apa kak?"


"Gak apa-apa. Besok kamu ada kuliah pagi kan? Lekas tidur biar besok bisa lebih semangat kerja."


"Iya kak. Tapi..." tapi aku sedang memikirkan Tony.


"Tapi apa?" tanyanya tidak sabaran.


"Gak apa-apa kak." aku menggeleng tanpa sadar.


"Kalau kamu ada masalah, jangan ragu untuk sharing dengan aku yah. Mana tau aku bisa bantu." Ujarnya


Telepon dari Kak Jay sama sekali tidak membuatku lebih tenang. Mungkin besok aku akan cerita dengan Cindy saja. Siapa tau besok dia mau menemaniku membuat laporan di kantor polisi.Aku memaksaku untuk tidur sambil sesekali menyeka air mata ku yang jatuh membasahi bantalku. Bantal kesukaan Tony yang katanya empukny pas.


Keesokan harinya aku terbangun dengan kepala berat dan mata bengkak. Badan juga lesu dan tidak bertenaga. Aku berangkat kuliah tanpa sarapan dan hampir terlambat.


Kelas sudah berlangsung lima menit ketika aku sampai. Aku meminta maaf pada Bu Dosen yang aku lupa namanya dan dia memandang aku dari atas ke bawah lalu mengijinkan aku masuk. Cindy mengangkat tasnya dari kursi yang dia tandai agar tidak di duduki orang.


"Aku nangis semalaman." balasku seraya sibuk mengeluarkan buku pelajaran dan alat tulis dari dalam tas ransel kulit warna hitam.


"Kenapa?" tanya Cindy lagi.


Aku tidak menjawab karena Bu Dosen melihat kearah kami. Cindy melihat ekspresi ku dan dia segera memperbaiki duduknya lalu setengah fokus setengah ngantuk mendengar pelajaran dari Bu Vonny yang baru ku ketahui namanya setelah pelajarannya hampir selesai. Karena seorang tata usaha masuk dan memanggil Bu Vonny untuk ke kantor.


Cindy mengambil kesempatan ini untuk menginterogasi ku.


"Maaf, nama kamu Amelia ya?" salah seorang teman sekelas menyapa.


Gadis yang cantik, wajahnya glowing, bibirnya merah, bulu matanya lentik, rambutnya panjang dan lurus. Aku menatapnya sekitar lima detik sebelum berkata iya.


"Hi Amelia, gue Grace." dia meraih tanganku dan menjabat dengan paksa.


"Oh, hi juga Grace."


"Tas Hermes ini lo dapat di mana?" tanyanya sambil melirik-lirik tas hitam ku.


"Hermes?!" seru Cindy yang lalu ikut-ikutan memperhatikan tas yang Grace bilang Hermes.


"Ini Hermes?" tanyaku balik.


"Iya, ini Hermes Taurillon yang uda gak di produksi. Lo belinya dimana? Itali? Jepang? Bole ku lihat?" Ujar Grace gak sabaran.


"Ini dibelikan pacar saya. Kurasa ini palsu." jawabku lalu menyerahkan tas pemberianTony sebagai hadiah ketika aku berhasil diterima di universitas ini.


"Ini seratus persen asli. Aku sudah lama mencari ini tapi tidak ketemu di mana-mana. Boleh tanya pacar kamu beli di mana?" Grace meletakkan tas yang dia sebut Hermes di mejaku dengan pelan.


Aku melirik Cindy lalu Grace bergantian.


"Pacarku hilang. Aku gak bisa menghubunginya." jawabku jujur.


"Baiklah. Kalau kamu sudah menemukannya, tolong tanyakan yah." Grace menyunggingkan senyumnya lalu berlalu dengan langkah panjang dan menghilang dari balik pintu.


"Hermes taurillon clemence steve tiga lima messenger black."


Cindy membacakan seuntaian kata yang tidak jelas. "Hah?!"


"Ini kan. Sama dengan foto ini kan?" Cindy menunjukkan foto di handphone dan membandingkan dengan tasku.


"Iya, kayaknya sama."


Cindy menjerit panjang dengan mata melotot. Untung ruangan kelas sekarang sudah kosong.


"Lima puluh juta!" pekiknya. "Itupun yang second dan sudah sold."


"Gak mungkin. Ini KW supernya." Aku bangkit dan menylempang tali tas ke pundak ku dan meninggalkan Cindy yang masih bengong.


Sampai di kelas berikutnya pun aku belum sempat bercerita ke Cindy tentang Tony yang menghilang dan aku hendak melapor ke kantor polisi. Cindy malahan duduk bersebelahan dengan Grace dan mereka terus berbisik-bisik selama kelas berlangsung.


"Lia Lia. Kita bawa tas kamu ini ke Hermes store trus cek nomor id nya. Trus kita akan tau ini asli atau palsu. Trus kalau ini asli, kita bisa tau siapa yang beli." usulnya panjang lebar.


"Dari tadi bisik-bisik dengan Grace, lagi bahas ini ya?"


Aku dan Grace sedang berjalan melewati koridor gedung satu hendak menuju gedung dua untuk mengikuti kelas berikutnya. Cindy masih sibuk meneliti tas ku yang katanya Hermes. Entah karena dari tadi Cindy berceloteh terus atau karena semalam aku kurang tidur, kepalaku sedikit pusing dan lantai serasa bergoyang seperti lagi di kapal.


Aku berhenti dan bersandar di dinding sambil memejamkan mata merasakan seluruh duniaku sedang berputar.


"Kamu kenapa, Lia?" tanya Cindy panik.


"Aku pusing." aku meraih tangannya dan menggenggam erat.


"Kita ke ruang kesehatan dulu ya. Bisa jalan?" Cindy mulai memapahku.


Beberapa langkah kemudian, pandanganku gelap.