Second Change

Second Change
Chapter 6



Sudah seminggu penjualan menurun drastis. Terlebih hari ini, tidak ada satupun penjualan. Aku duduk termenung di teras sambil memandangi botol- botol kaca yang isinya belum terjamah padahal hari sudah mendekati jam tutup. Tony juga sedari tadi entah kemana. Sudah ku telepon dari tadi tapi selalu nada sibuk. Ketika aku bermaksud menelepon lagi, tiba-tiba ada nomor asing yang menelepon.


"Halo."


"Halo, ini dengan Es buah Lia ya?" tanya seorang wanita di seberang telepon.


"Iya benar." Jawaku.


"Mbak, mau order es buah variannya mix lima puluh cup ya, mbak."


"Hah?! Serius mbak? Lima puluh cup?"


Mendadak aku panik celingak celinguk menghitung stock cup, es batu, sirup.


"Iya serius mbak. Tolong infokan totalan dan nomor rekening mbak ke nomor whatsapp saya yang ini ya. Biar saya payment langsung."


"Oh. Ok ok mbak. Saya kirim sekarang juga ya."


Dengan segera aku menutup panggilannya dan mengetik jumlah totalan dan nomor rekening ke whatsapp mbak tadi dengan tangan gemetaran dan jantung berdebar kencang. Aku juga menanyakan orderan tersebut akan di antar kemana. Belum sempat sadar dari kebingunganku, sebuah bukti transfer berjumlah nominal yang sesuai terkirim. Dan alamat pengantaran ke Kantor Pengadilan yang jaraknya tidak jauh dari sini. Hanya perlu naik angkot satu kali saja. Aku mengecek mutasi di rekeningku untuk memastikan kalau bukan penipuan.


Jackpot, ternyata bukan penipuan.


Aku mencoba menelepon Tony dan deringan kedua dia mengangkat. Katanya sudah hampir tiba di rumah. Sore yang menegangkan itu kami selesaikan berdua. Entah bagaimana caranya aku menjelaskan, pokoknya orderan lima puluh cup sudah selesai dan Tony memanggil ojek mobil online untuk mengantarnya sampai tujuan. Aku menatap puas botol-botol kaca yang rata-rata sudah kosong. Tony menawarkan diri untuk mencuci semua botol-botol kosong itu. Tak berapa lama kemudian nada deringku berbunyi. Mbak dari kantor pengadilan menelepon.


"Halo, mbak mau kabari nih. Esnya sudah sampai. Ternyata enak banget ya mbak. Besok mau order lima puluh cup lagi yah mbak. Di antar sekitar kayak jam tadi. Nanti aku langsung transfer untuk besok yah."


Aku terduduk di lantai setelah menutup panggilan.


"Kamu kenapa?" tanya Tony panik.


"Besok lima puluh cup lagi !" Seruku kegirangan sambil memeluk Tony.


"Syukurlah." Tony mengelus rambutku "Lo istirahat, biar Gue yang selesaiin."


Rasa senangku tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Bayangkan sudah seminggu aku menerima pesanan dalam partai besar. Pertama orderan ke kantor pengadilan, selanjutnya ke kantin sebuah perusahaan kosmetik, lalu ke percetakan. Walau capek tapi hati ini rasanya senang sekali.


Hari Minggu, kantor-kantor sedang libur dan aku juga meliburkan diri. Untuk pertama kalinya sejak aku tinggal sendiri, aku bangun di atas jam sembilan. Senang banget rasanya saat tidak usah memaksakan diri bangun untuk bekerja. Tony tadinya sudah bangun. Tapi karena dia melihat aku masih pulas, dia juga kembali tidur sambil memelukku. Aku menyembunyikan wajahku di dadanya dan menikmati momen ini. Aku sangat mencintainya. Walaupun hidup kami serba hemat, Tony tidak pernah mengeluh. Dia laki-laki sempurna bagi ku. Tidak merokok, tidak mabuk-mabukan, tidak main game online, tidak main sosmed. Dia polos, seorang pekerja keras dan bisa di andalkan. Terima kasih sudah hadir di hidupku.


Setahun berlalu, aku akhirnya kuliah. Impian ku akhirnya tercapai dan semua ini berkat Tony. Dia melepaskan kesempatan ini untukku karena Tony dan grup bandnya akhirnya akan merilis album. Jadi, uang yang kami kumpulkan bersama akhirnya untuk membayar biaya pendaftaran, uang kuliah satu tahun, buku-buku dan keperluan lain.


Hubungan ku dengan Tony semakin erat. Kami sering bercinta, tapi selalu hati-hati agar tidak hamil. Karena kami belum siap untuk menikah. Tony ingin aku menyelesaikan kuliah dulu baru memutuskan untuk menikah. Sampai saat itu tiba, kami pasti sudah sangat siap untuk menjemput buah hati kami. Memikirkan saja sudah membuat ku tersenyum tanpa sadar.


Pukul lima sore, perkuliahan hari ini selesai dan aku bergegas pulang ke rumah karena hari ini Tony pulang setelah tiga minggu sibuk mengerjakan album bersama grup bandnya. Karena harus sering ke ruang rekaman, Tony dan teman-teman bandnya harus tinggal bersama di kontrakan yang dekat dengan studio. Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti. Aku hanya mencerna sedikit dari sekian banyak penjelasan Tony tentang itu. Tapi aku percaya padanya.


Hanya butuh setengah jam perjalanan dari kampus ke rumah. Begitu sampai rumah, aku segera ke dapur. Buka kulkas, ambil ayam, kentang, bumbu racikan kari ayam, santan dan kamu pasti tau aku akan masak apa.


"Malam ini gue pengen makan kari ayam." Tony mengatakan di telepon pagi-pagi sebelum jam enam.


"Maksud kamu, hari ini kamu pulang?" jawabku kegirangan dan rasa kantuk akibat terbangun oleh deringan handphone kontan lenyap.


"Iya. Gue dah kangen banget Ama Lo. Pengen cium Lo sepuas-puasnya malam ini. Bolehkah?"


"Aku juga kangen sama kamu."


"Jawab apa?"


"Bole cium Lo sepuas-puasnya malam ini?"


"Aku juga." bisikku


Tony tertawa di seberang telepon. Wajahku panas karena tersipu.


Terdengar suara pintu depan dibuka saat aku sedang mengaduk-ngaduk kari ayam yang hampir mendidih. Tony kah itu?


"Lia." panggilnya


Aku kontan mematikan kompor dan berlari menyambut Tony dengan pelukan erat. Dia mencium rambutku, keningku, pipi ku kemudian aku di angkat dan di putar2 sampai kakiku melayang.


"Gue kangen banget Ama Lo. Gak ada satu detik pun gue betah di ruang rekaman. Selalu teringat Lo."


"Kan bisa telpon atau chat."


"Gue gak mau ganggu kuliah Lo."


Tony kembali mencium pipiku lalu kali ini menggendongku dan mendaratkan aku ke tempat tidur.


"Aku lagi masak kari ayam." ujar ku


"Kompornya sudah di matiin?"


"Sudah."


"Yah sudah. Gue mau langsung ke menu utama."


"Menu utama? Tapi karinya belum matang. Tadi belum sempat mendidih kamu dah pulang."


"Itu dessert. Menu utamanya, Lo."


Tahukah apa yang terjadi selanjutnya?


Akhirnya tidak ada satupun dari kami yang teringat dengan kari ayam karena tidak beranjak dari tempat tidur. Kami bercumbu, bercinta, bercerita, saling mendekap lalu bercumbu lagi, lalu bercinta lagi sampai akhirnya kami sama-sama tertidur entah di jam berapa.


Alhasil, keesokan paginya kari ayam satu panci penuh pun basi. Tony memelukku dari belakang dan berbisik,


"Lo lebih nikmat dari pada kari ayam. Bahkan Lo mengalahkan semua makanan enak yang pernah Gue makan."


"Gombal. Biar gak di marahi karena lupain kari ayam ya?" aku mencubit telinganya pelan


"Lo juga lupa. Berarti Gue lebih enak dari pada kari ayam dong."


"Kamu gak bisa dibandingin dengan makanan. Kamu tuh lebih tepatnya di samain dengan harimau."


"Kenapa harimau?"


"Karena sama-sama buas."