
Dua hari sebelum pesta pernikahan. Aku pergi ke kampus untuk mengucapkan perpisahan pada Cindy. Cindy sudah tahu semua rencana ku. Dia khawatir dengan ku dan menyarankan aku untuk nyerah. Tapi aku tidak bisa. Lebih baik gagal dari pada tidak mencoba. Satu-satu hal yang Cindy gak tau adalah kejadian David menciumku saat tidur.
Aku masih sering terbayang kejadian itu. Ada perasaan yang aneh muncul setiap mengingat kejadian itu. Sudah ribuan kali aku mencoba untuk menanyakan pada David kenapa mencium ku? Tapi aku tidak punya keberanian.
Cindy memelukku dan pergi meninggalkan aku yang duduk di kursi batu kampus kami. Akhirnya aku punya kesempatan untuk menelepon Tony. Beberapa hari ini David mengawasi ku dengan ketat. Kalau tidak, pasti aku sedang menemani Emi belanja atau membantu Emi mengepak barang-barangnya.
Hari ini aku ijin ke kampus dengan alasan mengumpul tugas. Padahal aku hanya ingin sendiri di tempat yang tidak diawasi. Sekarang lah saatnya aku menelepon Tony.
Jantungku berdebar kencang. Apakah Tony akan menjawab telepon ku?
"Halo."
Tony menjawab. Aku memperbaiki dudukku.
"Tony. Aku Lia."
"Gue tau. Gue hapal nomor Lo." katanya.
Aku senang dia menghapal nomorku. Jantungku semakin bersemangat.
"Kita kabur yuk." ujarku langsung "Di hari pernikahan, aku akan pura-pura pingsan lalu kamu harus cepat-cepat menggendong ku masuk ke mobil. Lalu kita pergi."
"Lia hentikan. Gue kira Lo dah ngerti."
"Saat aku bilang kamu masih cinta ama ku, David gak menyangkal. Kalau masih saling cinta, kenapa harus pisah?"
Tony menghela nafas panjang.
"Gue dulu selalu di tipu cewek. Tiap kali gue mau serius Ama cewek, ternyata mereka tu cuma mau duit gue. Trus suatu hari si Farhan teman gue ngasi ide buat nyamar jadi cowok miskin trus nyari cewek yang mau ama gue. Dan ternyata gue ketemu ama Lo. Gue makasih banget Lo cinta ama gue dengan tulus. Baru kali ini gue benar-benar dicintai tanpa ada campur tangan duit. Tapi yah sudah, akhirnya gue juga harus balik ke kehidupan gue lagi. Lo itu ya, ibaratnya hanya serpihan kecil di hidup gue. Jadi lo dah ngerti?"
"Kamu kok tega?"
"Maafin gue. Gue gak tau mau gimana baru lo bisa lebih enakan. Gue harap lo bisa lupain gue, jalani hidup lo dan gapai cita-cita lo. Kalau lo butuh bantuan, gue akan bantu. Hanya itu yang bisa gue lakukan buat lo."
"Tapi aku ingin mencoba lagi dengan kamu." isakku.
"Gue sudah mau nikah, Lia." Tony mendengus "Sudah yah, gue mau kerja."
Hatiku sakit sekali. Rasanya aku ingin lenyap dari bumi ini. Kenapa Tony begitu tega padaku. Kenapa setelah memilihku dia harus membuang ku lagi? Apakah aku seburuk itu? Apakah aku begitu tidak pantas untuk dicintainya? Apakah karena aku yatim piatu dan tidak punya apa-apa? Mengapa hidup begitu kejam padaku?
Sekarang aku bisa kemana? Aku bahkan tidak punya tempat tinggal lagi. Rumah orang tua ku sudah di jual David. Apartemen David yang katanya adalah tempat tinggal ku juga ternyata adalah tempat tinggalnya. Aku teringat David pernah berkata kalau setelah pernikahan, aku akan di kembalikan ke tempat asalku. Jika itu terjadi, maka aku akan di arak dan di permalukan oleh orang-orang di lingkungan itu. Aku akan di maki pelacur, murahan, tidak tau malu lalu aku akan di cambuk sampai mati.
Aku menangis sambil memeluk kakiku. Lia yang malang. Mungkin kamu tidak di harapkan di dunia ini. Dunia sedang mengusir mu. Bukankah kamu harus pergi?
Benar, mungkin dunia sedang mengusirku.
Terlintas di pikiran ku beberapa cara untuk menghilang dari dunia ini. Apakah kali ini saatnya aku menentukan hidupku sendiri?
Sudah terlalu lama aku disini. Sudah saatnya aku pergi. Tapi aku harus pergi kemana? Gedung tinggi, rel kreta api, apotik? Entahlah, biarlah kaki ini yang membawa jalan kemana aku akan pergi.
Handphone ku berdering terus tapi aku sedang tidak ingin mengangkatnya. Aku sedang hanyut pada diriku sendiri. Entah sudah berapa lama aku jalan dan ada dimana juga tidak tahu.
Tiba-tiba seseorang menarikku masuk ke mobilnya. Mobil yang selalu mengantar aku kemana-mana. Orang di depan setir sedang mengomel tapi aku tidak mau mendengar apa yang dia katakan. Aku memenjamkan mataku dan hanyut lagi kedalam pikiranku. Aku memutar kembali ingatan masa kecilku. Lia yang paling bahagia pada saat itu. Setelah Papa dan Mama meninggal, yang tersisa hanyalah ingatan yang menyakitkan. Aku memutar semua ingatan menyakitkan itu dan membiarkan rasa sakit itu satu persatu menghantam ku.
Mobil berhenti, pintu mobil di buka dan dia menggendongku. Suara-suara di rumah yang terdengar panik pelan-pelan menjauh karena dia buru- buru menggendongku naik ke kamarnya. Kemudian aku didudukan di sofa.
Aku membuka mata dan menoleh padanya. Tatapannya sulit di artikan antara marah dan khawatir. Seharusnya sekarang saatnya aku memelas padanya, mohon ampun agar tidak di kembalikan ke tempat asalku. Seharusnya aku menangis sambil meminta di kasihani. Tapi air mata ini tidak mau keluar. Padahal hatiku masi merasakan sakit yang amat sangat. Apakah air mataku sudah kering?
"Jika kamu mau membunuhku, cara apa yang akan kamu pakai?" tanyaku pelan.
"Aku tidak akan membunuhmu." katanya
Aku tersenyum getir. Cara yang akan kamu pakai adalah meminjam tangan orang untuk membunuhku.
***
Kelebihan terbesar ku adalah punya hati yang lapang dan pikiran optimis. Aku bisa cepat bangkit walaupun dalam keadaan terpuruk sekalipun.
Meninggalnya kedua orangtuaku adalah pukulan terbesar dan aku tetap punya kekuatan untuk bangkit kembali. Tidak tahu apakah orang lain juga sepertiku atau tidak.
Di usir dan di fitnah sudah kulalui. Tapi walau begitu, aku tetap mendapat tempat tinggal yang layak dan nyaman. Tapi masalah tidak berhenti sampai disitu. Saat ini aku harus berusaha bangkit lagi setelah di khianati Tony.
Sebelumnya aku masih belum yakin Tony tega berbuat begitu padaku dan mengira dia meninggalkanku karena ada alasan yang terpaksa. Entah kenapa kali ini aku sudah yakin dan tidak akan menaruh harapan lagi pada dia.
Tidak jelek juga hidup sendiri. Setelah pernikahan mereka selesai, aku juga sudah tidak dibutuhkan lagi oleh David. Semua akan berakhir, aku akan mulai hidup baru lagi dan melupakan ini semua.
Penata rias sedang merias wajahku dengan cantik. Mataku menjadi lebih besar dan cerah. Seharusnya aku senang karena ini pertama kalinya wajahku di rias seperti pengantin dan pertama kalinya memakai gaun panjang. Aku menatap diriku lama di depan cermin panjang. Asisten penata rias tidak henti-hentinya memujiku sampai terus-terusan memotretku.
Tapi hatiku sama sekali tidak bisa bahagia. Senyumku juga sangat terpaksa. Mungkin karena aku tahu hari yang singkat ini akan segera berakhir. Jadi tidak ada gunanya aku senang.
Setelah hari ini, aku akan melupakan mereka semua dan menyakini kalau ini hanya sebuah mimpi buruk yang panjang.