Second Change

Second Change
Chapter 17



Aku ingin membuktikan kata-kata Katrine. Makan, belanja dan jalan-jalan bisa membuat perasaanku menjadi lebih baik. Kami mengunjungi Mall yang lumayan besar. Katrine bilang ini bukan Mall terbesar. Tapi karena masalah waktu, ini adalah Mall terdekat yang bisa kami jangkau.


"Disini ada toko Hermes?" tanyaku


"Mau ke Hermes? Langsung? Gak mau lihat-lihat yang lain dulu?" tanya Katrine.


"Aku harus menjual ini dulu baru bisa ke tempat lain." kataku sambil menunjuk tas pemberian Tony yang sedang kubawa.


Ternyata mata jeli Grace benar. Ini beneran tas Hermes yang sudah tidak di produksi lagi tapi sangat banyak peminatnya. Aku mendapatkan harga yang bagus menurut Katrine.


"Kita harus habiskan uang ini hari ini." kataku.


"Kalau soal menghabiskan uang, aku paling tahu caranya." ujar Katrine kegirangan.


Pertama-tama kami beli tas baru untuk menyimpan kembali isi tasku. Walaupun bukan barang branded, tapi cukup cantik dan sesuai seleraku. Lalu kami pergi ke bagian food court dan memesan semua yang kami suka tanpa memperhitungkan apakah bisa habis atau tidak. Kami makan sampai kekenyangan dan menertawakan kekhilafan kami. Beli baju dan celana. Katrine juga memilihkan gaun yang menurutnya cocok untukku. Walaupun aku gak tau kapan gaun-gaun ini akan terpakai. Tapi, gaun-gaun yang dipilihkan Katrine sangat cantik aku merasa sayang kalau tidak membelinya. Akhirnya aku memborong banyak pakaian hari ini.


Aku melewati salon dan memutuskan untuk memotong rambut sepinggang ku. Rambut panjang ku ternyata bisa di sumbangkan untuk pasien-pasien kanker yang sedang berjuang menjalani kemoterapi. Aku langsung mengiyakan ketika stylis mengatakan kalau bentuk wajahku cocok untuk model rambut Bob.


Sesekali aku melirik ke arah Katrine yang sibuk mengetik di handphonenya. Dia pasti sedang melapor ke David. Semoga saja David tidak memarahi Katrine. Aku mengeluarkan handphone dari tas baruku dan tidak ada notifikasi apa-apa. Aku memutuskan untuk inisiatif mengirim pesan pada David.


'Aku memaksa Katrine jalan-jalan ke Mall. Jangan marahi dia. Lampiaskan saja padaku saat aku pulang nanti.'


Sekejab setelah terkirim, langsung dua centang biru. Tapi David tidak membalas pesanku. Seperti biasa. Aku menyimpan kembali kedalam tas. Beberapa detik kemudian terdengar bunyi notifikasi. Aku mengambilnya lalu membaca sekilas balasan David.


'Sudah lebih baikan?'


Tiba-tiba pesannya hilang. David menarik kembali pesannya. Aku menunggu beberapa saat, mungkin David ingin mengubah kata-katanya. Tapi tidak ada pesan lain yang muncul.


'Sudah lebih baik.'


Dua centang biru.


Stylis sudah selesai memotong rambutku. Aku menatap diriku di cermin. Seperti bukan aku. Sudah lama sekali tidak rambut pendek. Terakhir mungkin saat aku masih SD.


"Cantik." puji Katrine.


"Makasih sudah menemaniku. Mungkin kita pulang saja sekarang." ajakku


"Aku free hari ini. Tidak apa-apa jika mau lanjut." ujarnya


"Tidak. Kita pulang saja." ajakku. "Makasih yah sudah menemaniku hari ini."


"Tidak apa-apa. Aku juga senang bisa libur dadakan hari ini." katanya ramah.


***


Mobil berhenti di depan gedung. Katrine melarang aku turun karena David sedang menuju ke sini. Katrine mengucapkan selamat tinggal padaku lalu turun dari mobil. Dia berdiri di sisi mobil menunggu David datang.


Akhirnya David datang. Katrine mengatakan sesuatu dengan serius padanya lalu kemudian Katrine pamit dan langsung masuk ke dalam gedung.


David masuk ke dalam mobil dan menatapku sejenak.


"Kamu cocok rambut pendek." katanya


"Kamu gak marah?" tanyaku


"Kenapa harus marah?" tanyanya sambil melaju.


"Aku menculik sekretaris mu dan mencuri mobilmu." aku mengaku dosa.


"Gak apa-apa." ujarnya


Aku lega dia gak marah. Kasihan Katrine jika di marahi David. David yang sedang marah sangat menyeramkan.


Mobil masuk di gerbang sebuah restoran bernuansa Chinese dengan tembok merah dan lampion-lampion yang menghiasi gedung tersebut.


"Aku sudah makan tadi." kataku jujur.


"Aku belum." katanya. "Temani aku makan."


Kami masuk ke ruangan yang bernuansa rumah makan jaman dahulu. Meja persegi dan kursi panjang di susun rame di sisi kiri kanan ruangan, ada kolam ikan besar di tengah ruangan dan jembatan kecil. Salah satu lagu Teresa Teng berjudul Good Bye My Love berkumandang di seisi ruangan. Kakak-kakak pramusaji yang cantik mengenakan qipao pink dan rambut di sanggul menggunakan konde.


Aku terkesima dengan tempat ini. Atap-atap juga di penuhi dengan lampion kertas yang cantik sekali. Seperti masuk kedalam restoran di drama kolosal. Aku berdiri di samping kolam dan melihat ikan-ikan koi sedang menghampiriku. Sepertinya mereka mengira aku akan memberi makan. Aku mengulurkan tanganku hendak mencoba mengelus kepala ikan yang menyembul.


"Nanti kamu jatuh." David menarik tanganku dan badanku terhuyung ke belakang.


"Maaf. Aku gak sengaja." Aku menyentuh perutnya panik "Sakit gak?"


"Gak apa-apa."


Seorang kakak pramusaji menghampiri kami dan mengantar kami duduk di tempat samping jendela yang terbuka lebar. Bentuk jendelanya juga seperti yang ada di film kolosal. Rangka kayu dan di tempelin kertas minyak. Jika ada seseorang ingin mengintip dari jendela, dia harus mengemut jarinya lalu menusuk kertas minyak itu sampai berlobang.


Tanpa sadar aku tertawa kecil.


"Ada yang lucu?" tanya David.


Aku menceritakan apa yang sedang kupikirkan tentang jendela itu. Dia hanya mendengar sambil mengangguk-ngangguk dengan ekspresi yang biasa saja. Mungkin dia tidak menemukan bagian yang lucu.


David memesan beberapa menu yang aku tidak mengerti. Aku masih sibuk mengagumi setiap sudut ruangan ini. Kakak pramusaji selesai menulis orderan lalu pamit meninggalkan kami.


"Kamu..." ucapnya.


"Apa?" tanyaku


"Gak apa-apa?" tanyanya pelan


Aku diam menatapnya. Baru kali ini aku benar-benar memperhatikan wajah David. Jika sedang tidak marah, wajahnya lumayan tampan. Selama ini aku tidak menyadari kalau ternyata dia punya kelopak mata. Matanya yang tidak berkilat marah sedang menatapku khawatir.


"Tentu saja tidak." jawabku berusaha senyum. "Aku sedang sedih."


"Kamu tidak perlu pura-pura." ujarnya


"Tidak mungkin juga sepanjang hari aku menangis, meratap nasib, bahkan aku juga tidak mungkin menangis disini padahal aku sudah susah payah menahannya sepanjang hari." jelasku. Otot wajahku tiba-tiba mengerut diikuti air mataku yang jatuh.


Cepat-cepat aku mengusapnya sambil menengadah ke langit-langit.


"Hari yang indah. Terlalu sayang dipakai untuk bersedih." ucapku pelan.


"Setelah makan, kita akan ke tempat tinggal mu yang baru." katanya.


Aku menoleh padanya. "Dimana?"


Aku mengusap sisa-sisa air mata yang ada di pipi.


"Apartemen dekat kampus." jawabnya


"Benarkah? Apartemen?" tanyaku senang. "Apakah aku sudah bisa tidur di sana malam ini?"


Dia mengangguk lalu menyeruput teh yang disajikan Kakak pramusaji barusan.


Aku ikut-ikutan menyeruput tapi lidahku terbakar. Aku gak menyangka tehnya akan sepanas ini. Aku mengipas-ngipas lidahku dengan tangan panik.


David menertawaiku. Untuk pertama kalinya aku melihat dia tertawa.


***


"Aku beneran akan tinggal disini?" tanyaku takjub.


Aku menyentuh sofa biru yang halus lalu duduk di atasnya. Empuk. Aku bisa tertidur di sini sampai pagi sambil menonton televisi. Aku bangkit dan mengukur televisi dengan tanganku. Tiga kali lipat lebih besar dari televisi ku dulu. Lalu aku melihat gorden berwarna emas dan menyikapnya. Ternyata di balik gorden ada pintu kaca yang bisa di geser. Di luar adalah beranda kecil. Aku membuka kunci dan menggeser pintu itu. Angin langsung menerpa wajahku. Aku melangkah keluar dan melihat ada sofa kecil disana. Di dinding juga terpaku lampu berbentuk kerucut yang cantik.


"Tolong jangan menjemur baju disini." ucap David yang mengikutiku


"Kenapa?" tanyaku. "Padahal fungsi beranda itu yah untuk menjemur baju."


"Ini tempat favorit ku. Aku gak mau duduk disini sambil memandangi baju-bajumu." ujarnya.


"Jadi jemur dimana?" tanyaku


"Di samping kamar mandi ada ruang cuci. Mesin cuci bisa mencuci sekaligus mengeringkan." David duduk di sofa kecil itu lalu menyandarkan kepalanya dengan kedua tangan diselipkan di kepalanya.


"Tunggu. Ini tempat favorit mu? Bukannya ini tempat tinggalku?" tanyaku sambil berkacak pinggang.


"Aku juga tinggal disini." katanya santai.


"Maksud mu aku masih tawananmu?" seruku.


"Aku harus mengawasimu sampai mereka menikah." ujarnya.