
"It's over." kata Tony di telepon.
"Aku akan menepati janji."
Percakapan Lia dan Tony aku mendengar semuanya dengan jelas. Walaupun aku tidak mengerti apa-apa tentang perasaan perempuan. Tapi kata-kata Tony pasti sangat menyakitkan baginya. Aku sedikit kagum dengan keberanian dan kegigihannya. Seharusnya dia sudah menyerah ketika kejadian di bar. Tidak ada yang tidak tahu apa yang terjadi di kamar saat itu. Dan di waktu yang sama dia di putuskan dan di usir. Di tambah dengan ancamanku. Perempuan normal harusnya akan langsung depresi dan menghilang. Tapi tak di sangka untuk kedua kalinya dia muncul lagi di bar.
Keluarga Tony saat ini sedang menekannya dengan menjadikannya sebagai tumbal perusahaan. Dia harus menikah dengan Emi, adik perempuanku satu-satunya sesuai syarat dari perjanjian kerjasama antara anak perusahaan keluarga kami. Jika mereka tidak menikah, maka kedua pihak telah melanggar janji dan masing-masing pihak berhak mengambil saham dari pihak yang melanggar.
Awal perjanjian konyol ini dibuat, aku orang pertama yang menentang karena calon yang akan menikahi Emi adalah orang yang terkenal suka main perempuan. Tidak bekerja, selalu nongkrong di bar, mabuk-mabukan dan bawa perempuan ke hotel. Aku tidak rela Emi menikah dengan orang seperti itu.
Tapi pandangan Emi berbeda. Dia sudah menyukai Tony sejak mereka masih sekolah. Emi mengaku sering curi-curi pandang ke kelas Tony. Dan bela-belain masuk ke Universitas yang sama dengan Tony. Padahal Emy punya jantung yang lemah. Keputusan untuk kuliah di Harvard sangat sulit untuk kami setujui pada saat itu. Tapi Emi janji dia akan lebih sering checkup dan tidak mati-matian belajar.
Tanggal pernikahan mereka sudah kurang dari sebulan. Satu-satunya masalah yang harus di atasi adalah Lia. Perempuan yang dicintai Tony. Tony menangis ketika perpisahan mereka di bar. Dia meminta maaf dan menyalahkan diri atas perbuatannya pada Lia.
Semua orang yang berada di ruangan itu sepakat mengatakan kalau Tony berubah menjadi lebih manusiawi. Farhan bahkan mengirim ke grup foto Tony sedang beli buah di pasar. Dia mengenakan kaos oblong dan celana pendek serta sandal jepit. Seorang Tony yang angkuh. Tony yang selalu memamerkan kekayaannya. Tony yang punya segalanya. Mungkinkah seperti yang mereka bilang, cinta bisa mengubah batu menjadi berlian. Gadis cengeng ini lah yang membuat Tony berubah.
Aku memapah Lia masuk ke mobil. Sepanjang perjalanan dia hanya diam menatap keluar jendela. Aku membiarkan dia menetap sebentar di pikirannya. Karena tidak peduli apapun yang kukatakan untuk menghiburnya, saat ini pasti tidak ada gunanya.
Kata-kata terakhir dia masih teringang-ngiang di kepalaku.
'Jika tidak ada yang sempurna di dunia ini, kenapa kekuranganku menjadi masalah.'
Memang benar, tidak pernah ada sesuatu yang sempurna di dunia ini. Manusia juga tidak sempurna. Jadi mengapa kekurangan seseorang harus menjadi masalah? Bukankah kita memang hidup di dunia yang tidak sempurna dan mau tak mau kita juga hidup di dunia ini.
Seharusnya anak konglomerat juga bisa bersama anak yatim piatu yang tidak punya apa-apa. Mau dengan siapa saja, kesempurnaan itu tidak pernah ada.
Ingin sekali aku mengatakan padanya kalau kini aku sependapat dengannya. Tapi jika kulakukan, dia pasti akan bangkit dan semangat lagi untuk mengejar Tony. Sedangkan bukan itu yang kami mau. Tony berjanji akan mengakhiri hubungan mereka dan aku berjanji akan memastikan kalau Lia baik-baik saja.
Pukul dua belas, kami sudah sampai di kantor. Suasana di kantor sedang sepi karena semua karyawan sedang istirahat makan siang. Aku masih punya waktu dua jam sebelum mengikuti rapat presentasi dengan klien-klien besar perusahaan lain. Saat ini Kami sedang membuat sebuah proyek besar tentang bahan dasar pembuatan bahan bakar baru. Untuk melanjutkan proyek, kami perlu dukungan finansial dari perusahaan lain yang berminat untuk kerjasama. Proyek ini akan dilakukan di pertambangan warisan turun temurun keluarga ibuku.
Jaman dulu, pertambangan itu hanyalah pertambangan mineral biasa. Tidak banyak yang bisa di hasilkan disana sehingga akhirnya pertambangan itu berhenti beroperasi hingga puluhan tahun. Ibuku adalah pewaris pertambangan itu. Suatu hari Ayah iseng berkunjung ke pertambangan itu bersama para ahli insinyur tambang kepercayaan Ayah. Mereka menganalisa tanah di area pertambangan telah bergeser akibat gempa dan banyak mineral yang bisa di ambil di sana. Salah satunya adalah mineral minyak langka dari lapisan bumi paling dalam yang naik ke daerah itu. Setelah penelitian bertahun-tahun yang menghabiskan hampir dari setengah umur ayah, akhirnya mereka memastikan kalau mineral ini bisa menjadi bahan dasar bahan bakar baru di dunia ini. Untuk membangun pabrik, butuh biaya yang besar. Dan pastinya harus ada dukungan dari perusahaan lain yang berminat untuk bekerja sama.
Katrine mengangguk walaupun dia bingung kondisi Lia yang paginya baik-baik saja tapi menjadi seperti ini sekarang. Katrine adalah orang yang bertanggung jawab dan bisa diandalkan. Aku yakin dia bisa mengatasi Lia. Apalagi mereka sesama perempuan. Pasti akan lebih gampang untuk berinteraksi.
Aku melewatkan makan siang ku dan menemui Ayah di ruangannya. Aku mengatakan dengan singkat apa yang membuatku terpaksa melewatkan rapat sesi pertama. Ayah hanya bisa berusaha maklum karena masalah pernikahan Emi hanya akulah yang bisa selesaikan.
"Jadi perempuan itu bagaimana sekarang? Kamu mau menjadikannya pacar kamu sampai kapan? Ibumu sudah senang kamu bawa pacar ke rumah. Bagaimana jika mereka tahu kalau hanya tipuan belaka?" tanya Ayah tegas.
"Aku akan mengatasinya, Yah. Dia akan kutempatkan di salah satu apartemenku." jawabku pasti.
"Kamu tahu kondisi saat ini, Dave. Ayah tidak bisa fokus dengan masalah kamu ini. Jadi atasilah sendiri dengan baik. Jangan sampai membuat Ibu dan adikmu sedih karena hal ini."
"Iya Yah. Aku tahu harus bagaimana."
"Bagus."
***
Rapat selesai dan beberapa pihak setuju untuk menandatangani kontrak kerjasama. Kemungkinan besar, proyek akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Jika pernikahan Tony dan Emi selesai, Ayah berniat agar Tony yang bertanggung jawab atas pemantauan proyek di lapangan. Yang artinya Tony dan Emi akan berpisah untuk sementara waktu. Ini akan menjadi proyek pertama dan terbesarnya Tony.
Aku kembali ke ruanganku setelah mengumumkan hasil rapat yang sukses pada tim. Mereka semua turut bahagia dan mengucapkan selamat padaku. Wajahku kembali menegang karena Lia dan Katrine tidak ada di ruanganku. Aku mengambil Handphone ku hendak menelepon Katrine. Tapi aku melihat pesan yang di kirim oleh Katrine.
'Pak, sebelumnya minta maaf, karena bapak lagi rapat jadi aku hanya meninggalkan pesan. Bu Lia bertanya padaku apa yang biasanya dilakukan seseorang jika sedang sedih. Aku mengatakan padanya, makan, belanja dan jalan-jalan. Jadi saat ini kami sedang di dalam mobil bapak hendak pergi ke Mall. Jangan khawatir Pak, Ibu akan selalu ada dalam pengawasan ku.'
Tanpa sadar aku tertawa.
Lia, kamu sebenarnya terbuat dari apa? Besi kah? Baja kah?
Jika makan, belanja dan jalan-jalan bisa membuatmu melupakan semua kejadian yang membuatmu sedih, aku akan melakukannya bersamamu setiap hari.