Second Change

Second Change
Chapter 33



Pengumuman hasil ujian tengah semester sudah terpampang di website kampus. Della dan aku masih duduk di meja belajar masing-masing dalam kamar berhadapan dengan laptop kami. Portal kampus sudah terpampang di layar, NIM dan password sudah diketik tanpa ada kesalahan satu huruf atau angka, sebelum menekan tombol enter, kami sempat pandang-pandangan selama beberapa detik dalam bisu.


Setelah menekan entar, aku dan Della tidak melepaskan pandangan kami pada layar laptop selama beberapa menit.


"Lia Lia.. Aku dapat lima A dan dua B." Della mengibas-ngibas sebelah tangannya memintaku mengumumkan nilaiku.


"Aku empat A, tiga B." ujarku cemberut lalu menghempaskan punggungku ke kursi sambil menghela nafas.


Della loncat dari kursinya dan melihat nilaiku. "Kalau Sir Yudha dan Miss Desy kasih B aku gak heran. Tapi kok Pak Gil kasi kamu nilai B sih? Bukannya soal latihan yang kita kerjakan sama? Kamu ada salah isi gak? Gak. Gak.. Kita juga Uda cocokan jawaban kita begitu selesai ujian kemarin. Jawaban kita sama kan?"


"Entahlah, mungkin ada dendam pribadi."


"Maksudnya? Dendam pribadi gimana?"


Aku memandang Della sekilas sebelum bangkit dan melempar diriku ke tempat tidur. Walaupun hubungan pertemanan ku dengan Della cukup dekat, tapi kurasa tidak perlu juga menceritakan kejadian tentang Pak Gil padanya. Della juga adalah salah satu fans Pak Gil. Kalau saja aku mengatakan kalau Pak Gil adalah psikopat, mungkin aku akan di musuhi. Aku tidak mau mengambil resiko di guncingi para fans Pak Gil.


"Karena aku sering video call di kelas." kataku alasan.


"Masa sih hanya karena itu? Tapi iya juga sih, mungkin Pak Gil merasa tersinggung karena merasa kamu tidak mendengar kelasnya dengan serius."


Hatiku sedikit tertusuk mendengar Della yang mengkritikku secara tidak langsung. Tapi aku tetap mengangguk-ngangguk walaupun seharusnya Pak Gil lah yang seharusnya di kritik. Menutupi keburukan orang lain dengan mencela diri sendiri sungguh bukan yang seharusnya aku lakukan. Aku harus bertanya langsung pada Pak Gil.


Toh tidak susah untuk bertemu dengan Pak Gil. Aku hanya tinggal beralasan sakit perut pada saat makan siang dan pura-pura baca buku di perpustakaan. Sesuai dugaanku, orang yang kuharapkan muncul lima menit setelah aku duduk di meja paling ujung. Aku sengaja mengambil meja paling ujung karena tempat ini lebih sering kosong. Mungkin saja Pak Gil melihatku sedang sendiri dan akan menghampiriku. Tapi kali ini dugaanku melesat. Pak Gil mengambil tempat duduk di meja tengah bergabung bersama kakak-kakak kelas yang juga fans garis keras Pak Gil.


Aku menjadi sedikit gelisah karena rencanaku tidak berjalan lancar. Aku juga tidak berani bergabung ke meja itu untuk minta ijin bicara dengan Pak Gil. Akhirnya aku mengurungkan niatku untuk berbicara dengan Pak Gil.


Ketika aku kembali ke kantin, ternyata Della masih berada di sana sedang duduk semeja dengan beberapa anggota BEM. Della tak lain juga adalah salah satu anggota BEM. Della berbeda denganku, dia suka mengikuti organisasi-organisasi. Bahkan dia sudah mengajukan diri untuk menjadi panitia di acara jalan-jalan akhir semester nanti. Sedang aku, ingin hari-hari berlalu dengan tenang. Mungkin hari-hari yang sudah kulewati sudah cukup berombak, jadi saat ini aku hanya mendambakan angin yang sepoi-sepoi.


Aku melambaikan tangan pada Della saat mata kami berpapasan, dengan segera dia mengangkat tas dari kursi sebelahnya sebagai tanda aku boleh bergabung dengan mereka. Aku menunjuk ke arah stand makanan sebagai kode kalau aku akan mengambil makanan dahulu. Della mengerti dan langsung membuat tanda ok.


Percakapan dengan kakak-kakak kelas BEM membuatku sedikit risih. Walaupun mereka setengah bercanda, tapi aku sukses merasa tersinggung. Tak lain tak bukan adalah seputaran tentang David. Mereka bertanya apakah aku sugar baby? Apakah aku berhubungan dengan pria beristri? Aku tahu kalau Della merasa bersalah karena telah menceritakan pada mereka kalau aku pacaran dengan David yang seorang pria mapan dengan usia jauh di atasku.


"Maafin aku yah Lia. Aku cerita kalau kamu punya pacar karena Kak Zio bilang dia suka sama kamu. Aku gak mau kamu terganggu karena di kejar-kejar Kak Zio, makanya aku cerita ke mereka kalau kamu sudah punya pacar. Aku sumpah, aku tidak bilang keburukan mu atau kak David. Aku hanya bilang kalau kak David itu tampan dan mapan, seorang CEO di perusahaan. Selanjutnya mereka menafsir sendiri."


Della menjelaskan dengan panik sambil berjalan menuju ke asrama. Sebenarnya aku tidak marah pada Della. Hanya saja aku marah pada tanggapan Kakak-kakak BEM yang membuat penafsiran sendiri.


"Kerja bagus, Del. Aku gak marah padamu. Hanya kesal pada mereka saja." ucapku mendadak berhenti untuk menatap mata Della kalau aku beneran serius tidak marah padanya.


"Beneran gak marah kan, Lia? Aku sudah takut melihat ekspresimu tadi."


Di gedung lantai satu asrama, aku dan Della mengambil salah satu tempat duduk di meja panjang dan mulai merangkum catatan pelajaran hari ini dan mengerjakan tugas. Beberapa teman sekelas yang baru sampai di asrama bergabung dengan kami. David menelepon setengah jam kemudian.


"Beasiswa itu juga bagian dari masa-masa kuliah, Dave." ujarku padanya yang baru sampai rumah. Aku mengamati dia di layar bagaimana dia menghempaskan tubuh lelahnya di sofa.


"Iya, maksud enjoy itu kamu gak usah terlalu stress dengan urusan nilai. Kamu pasti sering melewatkan makan siang kan?"


Aku tertegun mendengar pertanyaannya. Bagaimana dia bisa menebaknya?


"Aku kurusan ya?" tanyaku kemudian


"Banyak. Lihat pipi kempot yang kayak nenek-nenek itu." godanya. Aku mencubit pipiku yang masih chubby lalu mencibirnya.


Begitulah tengah semester ini berlalu. Ujian Akhir Semester juga tanpa sadar mendekat dengan sangat cepat. Seolah-olah aku telah melewati ruang waktu selama beberapa bulan. Aku, Della dan beberapa teman sekelas secara natural telah membuat kelompok belajar sendiri. Kadang lima orang kadang tujuh orang. Kami semua mempunyai target yang sama. Yaitu beasiswa.


Ujian Semester telah berakhir, yang artinya kegiatan di luar kampus sudah di depan mata. Della sibuk mengikuti rapat untuk menyusun kegiatan tersebut yang artinya aku lebih banyak sendiri.


Kantin kampus tutup lebih cepat karena perkuliahan sudah libur, hanya dosen-dosen dan pegawai beserta beberapa mahasiswa yang bimbingan atau ujian susulan yang masih berada di kampus. Aku baru saja dari kantor dosen untuk menyerahkan tugas presentasi sebelum ujian yang di sudah direvisi kepada Pak Kennedy. Karena tidak punya tujuan, aku memilih untuk kembali ke asrama.


Aku mengambil jalan dari belakang kampus, melewati lapangan parkir untuk keluar dari pintu belakang. Aku menyapa Pak Ngadino yang bertugas menjaga ketertiban lapangan parkir dan di balas dengan senyum ramahnya.


Sungguh disini sangat nyaman, tenang dan aman. Cuaca hari ini juga bagus, tidak panas dan tidak hujan. Langit biru di tutupi oleh gumpalan-gumpalan awan putih yang sesekali bergerak melewati matahari, lalu menyusul awan-awan yang lain seolah-olah sedang bermain cilukba dengan penghuni di bawah langit.


Terdengar bunyi klakson dari belakangku, aku kontan meloncat ke samping sambil menoleh ke belakang. Mobil itu bergerak di sebelahku dengan kaca jendela terbuka.


Pak Gil.


"Lia, mau kemana?" tanyanya di belakang setir.


"Mau pulang ke asrama, Pak." jawabku berhenti.


"Jam segini pulang ke asrama? Ayok ikut aku." ajaknya tanpa basa-basi


"Gak pak, makasih." tolakku langsung melangkah hendak kabur darinya.


"Aku mau ke toko buku. Mungkin aku bisa merekomendasikan buku untuk semester depan." mobilnya bergerak pelan mengikuti langkahku.


Tapi langkahku berhenti lagi setelah mendengar toko buku. Memang ada beberapa buku yang ingin ku beli. Tapi kalau cuma berdua dengan Pak Gil, apakah pantas?


"Ayok, aku tidak bisa berlama-lama berhenti di sini." desaknya.


Entah karena desakan atau keinginan untuk pergi ke toko buku membuat tanganku membuka pintu mobil, kaki melangkah masuk lalu duduk dengan mantap di samping Pak Gil yang tersenyum puas dengan memamerkan deretan giginya. Cepat-cepat aku mengalihkan pandanganku ke jalanan, mengenyahkan kemungkinan buruk yang terlintas bertubi-tubi di otakku.