Second Change

Second Change
Chapter 39



Aku menyusul Della ke cafe seberang hotel tersebut. Tapi ternyata dia tidak sendirian.


"Pacar kamu selingkuh?" tanya Kak Zio ceplos


"Kakak kok bisa di sini?" tanya ku seraya menarik kursi di samping Della mengabaikan pertanyaannya.


"Aku yang mengantar Della ke sini." ujarnya


Aku menoleh ke Della meminta penjelasan.


"Maaf Li, tadinya kita akan sarapan bertiga." mata Della berputar panik "Tapi kamu mendadak batal. Jadi aku pergi berdua sama Kak Zio. Pas di jalan kami berpapasan dengan mobil sport biru jadi kami buntuti."


"Jadi pacar kamu selingkuh dengan sekretarisnya? Gak heran sih, karena orang yang paling dekat itu sekretaris." Kak Zio menimpali seraya memperbaiki duduknya.


"Belum pasti kalau itu David, Kak." ketusku tersinggung.


"Sudah berkali-kali kami cocokkan dengan foto di Instagram kamu. Della yang tidak sampai hati memberitahumu."


Della tertunduk takut. "Benarkah Del? Yang tadi bersama Katrine itu David?"


"Lia, please. Aku juga gak yakin. Kamu tahu kan, aku belum pernah lihat langsung wajah Kak David." elak Della dengan ekspresi tak sampai hati.


"Mobil sport itu punya pacar kamu?" pertanyaan Kak Zio sukses membuat perut kosongku bergejolak. Asam lambung sepertinya mulai naik dan aku mual. "Jawab, Lia."


"Iya." jawabku pelan hampir tak terdengar.


Kak Zio menjentikkan jarinya dan merebahkan punggungnya ke kursi. "Kalau gitu sudah jelas."


"Li. Jangan sedih dulu. Kamu harus pastiin sendiri." Bujuk Della menggoyang-goyang lenganku.


"Bagaimana kalau beneran David dan Katrine?" tanyaku menahan tangis


"Telepon pacar kamu sekarang dan suruh share location." Perintah Kak Zio


"Gak aktif." aku menunduk melihat layar handphone bertulisan David *heart*.


Hatiku sakit. Benarkah David? Kalau bukan David, siapa yang mengendarai mobilnya? Benarkah Katrine cuti di saat David sedang sibuk-sibuknya? Bagaimana David bisa meng-handle pekerjaan yang banyak itu tanpa bantuan Katrine? Kalau bukan David, jadi dimana dia sekarang? Kenapa mematikan handphone? Kenapa merangkul pinggang Katrine? Kenapa masuk ke hotel?


Kak Zio mengajukan ide gila.


Kami bertiga kini duduk di lobi hotel yang posisinya paling dekat dengan lift. Dengan jarak sedekat ini, sudah pasti bisa melihat jelas setiap wajah yang keluar dari lift. Della dengan tangan gemetaran menelepon ke nomor Katrine memakai handphoneku. Belum sampai deringan ketiga sudah terdengar suara Katrine. Della dengan suara panik meminta tolong kalau aku tiba-tiba jatuh pingsan dan kejang-kejang. Suara panik juga terdengar dari seberang, di barengi suara laki-laki samar yang memanggil namaku. Sedetik setelah Della memutuskan panggilan, mereka berdua menatapku meminta jawaban karena sama-sama mendengar suara laki-laki.


"Aku gak tahu." bukankah suara laki-laki semuanya terdengar mirip. Apalagi di seberang telepon dan samar-samar.


Selanjutnya, kami melihat ke arah lift. Menunggu sosok panik yang akan keluar dari pintu besi itu.


Lima menit berlalu. Selama itu juga jantungku memaksa untuk keluar dari kulit ku. Perutku yang di penuhi asam juga terus menerus bergejolak dan semakin mendesak untuk keluar dari kerongkongan ku.


Ting.


Bunyi pintu lift.


Kami bertiga kompak menahan nafas.


Katrine yang mengenakan kaos dan celana jeans, pakaian yang berbeda dengan tadi pagi keluar dari lift dengan langkah tergesa-gesa di ikuti dengan langkah panjang seorang laki-laki yang juga mengenakan kaos dan celana jeans senada dengan yang di pakai Katrine. Aku sontak bangkit dari persembunyianku dan memanggil Katrine.


Air mataku yang tertahan dari tadi keluar begitu saja. Lalu asam lambung juga menerobos tanpa ampun. Aku menutup mulutku sebagai pertahanan terakhir.


"Li, kamu kenapa? Mau muntah?" tanya Della panik.


Aku menerobos kerumunan dan berhasil sampai di toilet. Katrine mengusap-usap punggungku saat aku mengeluarkan asam yang tidak betah lagi tinggal lambungku.


Setelah selesai, aku menatap Katrine dengan mata berlinang dan memeluknya. "Maaf ya, Kat."


Kami berlima duduk mengelilingi meja di restoran dalam hotel tersebut.


"Lia, please tolong rahasiakan dari Bapak yah." mohon Katrine sungguh-sungguh.


"Jadi, David gak tahu kalau kamu dengan Randy pacaran?" tanyaku lega setelah mengetahui yang sesungguhnya.


"Ada peraturan tidak boleh berpacaran di satu instansi. Kami sudah berkali-kali putus karena peraturan itu. Tapi akhirnya kami gak bisa." jelasnya


"Mau di sembunyikan sampai kapan? Sudah pernah tanya David langsung?" tanyaku


"Di hadapan Lia, Bapak itu lembut. Tapi saat bersama kami, Bapak sangat tegas dan tidak toleransi." timpal Randy serius.


Tentu saja aku tahu sisi David yang tegas dan tanpa ampun. Aku juga pernah berada di fase ketakutan saat bersamanya sampai beneran percaya kalau akan di bunuh. Bulu kudukku berdiri mengingat kejadian saat itu. Saat aku masih merupakan tawanan David. Mengingat mata marahnya dan berapi-api. Tubuhnya yang seolah-olah bisa membesar saat sedang mengintimidasi aku yang terpojok di dinding.


Ternyata hal ini juga di alami oleh Katrine dan Randy yang hampir senantiasi bersamanya.


"Mengingat kami beberapa kali di tolong Bapak, kami ingin terus bekerja. Tapi kami juga tidak bisa berpisah. Hubungan kami sangat serius." lanjut Katrine


"Baiklah, aku akan merahasiakan hubungan kalian." janjiku tulus. "Tapi David tahu gak kalau kalian memakai mobilnya?"


"Bapak memberikan mobil itu padaku sebagai mobil dinas." Randy menggaruk-garuk kepalanya canggung. "Katanya tidak cocok dengannya."


"Serius? Mobil Sport di berikan pada kamu?" tanya Kak Zio tidak percaya.


"Mobil itu hadiah dari ayahnya bapak. Tapi bapak merasa tidak cocok trus kuncinya diberikan padaku." Randy bangkit dari kursinya dan memeragakan gaya David melempar kunci. "Nah ini kamu saja yang pakai."


Aku, Della dan Kak Zio saling pandang dengan mulut terngaga.


"Tapi ngomong-ngomong kenapa David gak bisa di hubungi?"


"Bapak sedang membawa beberapa investor ke tambang." Randy melihat jam tangannya. "Sekitar dua jam lagi mendarat."


"Tambang?" tanyaku tidak percaya.


Katrine meninju perut Randy. "Bapak bilang mau beri kejutan ke Lia. Kamu lupa?"


"Kejutan?" tanyaku lagi.


***


Lengkingan tangisan bayi terdengar sesaat setelah aku menggeser tombol biru ke atas. Di layar muncul seorang perempuan berambut sebahu acak-acakan sedang menenangkan bayinya dengan menggoyang-goyangnya boneka monyet berbulu coklat yang bisa menimbulkan bunyi di gendongannya.


Aku tertawa tanpa suara melihat pemandangan itu. Tidak kusangka Emi yang lemah dan anggun, bisa se-energik ini mengurus bayinya yang baru berusia tiga bulan. Emi terlihat sangat keibuan plus kewalahan. Beberapa detik kemudian dia menyadari sedang di sorot, dan merebut handphone dari tangan David.


"Halo auntie, ini Jeremy." sisa-sisa kelembutan masih terdengar di suara Emi. "Jeremy kalau nakal terus, ikut om pulang saja yah kasi auntie."


"Kenapa aku di panggil om sedangkan Lia auntie." suara protes David terdengar jelas di sela-sela rengekan Jeremy.


Begitulah yang terjadi.


Makasih surprise yang luar biasa ini, Dave. Kamu pasti tahu kalau aku akan sangat senang melihat bayi Emi yang lucu. Sebenarnya aku tidak tahu kalau Emi hamil dan melahirkan bayi pertamanya. David bukan sengaja tidak memberitahuku karena saat berita kehamilan sampai ke David, aku sedang sibuk mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir semester tahun lalu. Kemudian muncul masalah Vivi lalu kami ke Jepang. Karena itu, David lupa memberitahuku.


Aku melewatkan kegiatan luar kampus tahun ini karena mengingat kegiatan tahun lalu sangat tidak menyenangkan. Oleh karena itu, aku menjadi penghuni satu-satunya di asrama ini. Terkecuali kakak admin. Satu lagi orang yang tidak ikut kegiatan luar kampus adalah Pak Gil. Aku merinding ketika Della mengatakan padaku kalau tidak melihat Pak Gil di lapangan sesaat sebelum berangkat dan memintaku untuk berhati-hati karena kemungkinan Pak Gil mengincarku. Hal ini hanya aku dan Della yang tahu. Karena aku sudah tidak tahan bermain petak umpet terus dengan Pak Gil dan Della lah satu-satunya orang yang ku percaya di kampus ini.