Second Change

Second Change
Chapter 30



Sampai jumpa, David. Sampai jumpa kota kelahiran ku. Sampai jumpa kenangan-kenangan yang terukir bersamaku. Aku akan kembali lagi. Pasti.


Pelukan terakhir David masih terasa hangat di dadaku saat aku duduk di kursi pesawat.


Semenjak orang tua ku meninggal, aku sudah terbiasa hidup sendiri. Tidak berbeda dengan aku sekarang yang hidup sendiri juga. Tapi kesepian yang kurasakan kali ini terasa lebih mendalam. Seolah-olah aku hidup di planet asing yang penghuninanya semua alien yang tidak mengerti bahasaku, begitu juga sebaliknya. Budaya dan kebiasaan sudah pasti juga berbeda. Hidup di tempat baru, sama saja dengan harus memulai semuanya dari nol lagi.


Takut?


Pastinya takut. Juga gugup. Entah apa yang akan kujumpai di ujung jalan ini. Siapa wajah-wajah baru yang akan menjadi temanku atau sahabat mungkin? Aku memandang ke luar jendela pesawat. Saat ini pesawat belum lepas landas, tapi aku sudah merasa jauh. Derungan mesin pesawat tidak bisa menyembunyikan degupan jantungku.


Aku mengalihkan perhatian ku ke penumpang lain. Kursi penumpang sepertinya sudah mulai terisi penuh. Masih ada beberapa penumpang yang masih mencari nomor tempat duduknya. Tapi kursi di sebelahku masih kosong.


David tadinya bermaksud membelikan aku tiket pesawat kelas bisnis agar aku lebih nyaman. Sebelum itu, aku sudah wanti-wanti kepada Katrine kalau aku gak mau naik kelas bisnis. Awalnya David bersikeras yang akhirnya terjadi perdebatan selama beberapa jam. Katrine yang menjadi penengah akhirnya menyarankan untuk mengambil kelas Ekonomi Premium yang tempat duduknya lumayan nyaman. Jarak tempat duduk dengan tempat duduk di depan lumayan lempang untuk menaikkan sandaran kaki. Jumlah kursi di sisi kiri kanan pesawat hanya dua seat. Tidak seperti kelas ekonomi yang masing-masing sisi terdapat tiga seat. Yang terpenting, harganya tidak terlalu jauh dengan kelas ekonomi. David akhirnya menyerah. Aku dan Katrine menghembuskan nafas lega berbarengan.


Tempat duduknya senyaman yang di jelaskan Katrine. Hanya dua tempat duduk di baris setiap sisi. Tinggal lima menit lagi pesawat akan lepas landas tapi kursi di sebelahku masih kosong. Mungkin kursi pesawat memang tidak selalu penuh.


Atau jangan-jangan David sengaja membeli dua seat agar kursi di sebelahku kosong? Tidak tidak, itu tidak mungkin. Mau seberapa kaya dan sepengaruhnya status David, gak mungkin sampai bisa mengatur kursi di sebelahku kosong. Dua menit berlalu, aku mengirim pesan terakhir kepada David sebelum beralih ke mode pesawat.


'Sampai nanti setelah landing. Love you.'


Beberapa detik kemudian, diterima balasan dari David.


'Must! Love you too.'


Aku mengaktifkan mode pesawat lalu membuka aplikasi game offline untuk mengisi kebosanan. Detik itu juga, seseorang dengan nafas tersengal-sengal datang dan memasukkan kopernya di bagasi atas lalu mengisi kursi di sebelahku.


"Maaf maaf, tadi aku salah ruang tunggu." katanya meminta maaf padaku karena mata kami bertemu.


"Tidak apa-apa. Untung saja keburu." jawabku sopan


"Aku sedang Zoom saat namaku dikumandangkan. Malahan peserta zoom yang mendengarkan kalau namaku sedang di panggil-panggil." katanya sambil tertawa. "Alhasil aku lari terbirit-birit sampai sebelah sepatuku tertinggal entah kemana."


Dia menjulurkan kakinya yang hanya beralas kaos kaki coklat dan akibatnya aku tidak sanggup menahan tawa.


"Maaf, kok bisa sih? Baru kali ini Cinderella jadi laki-laki." Gelakku terpingkal-pingkal.


Orang yang ku tertawakan bukannya tersinggung. Malahan ikutan menambah lelucon dan kami tertawa sampai kakak pramugari meminta kami untuk memperbaiki duduk karena pesawat akan segera lepas landas.


Laki-laki kocak di sebelahku bukan hanya pandai bercerita lucu, tapi dia juga punya tampang yang jenaka. Wajahnya polos dengan kaca mata bingkai emas bulat dan rambut berponi yang basah karena keringat. Dia mengenakan kemeja putih dan dasi coklat. Walaupun tampangnya acak-acakan karena habis berlari, tapi kemejanya masih tersemat rapi di dalam celana cropped-nya.


Aku menerka-nerka umurnya mungkin sekitar tiga puluhan, kalau begitu bisa jadi seumuran dengan David atau lebih tua sedikit. Karena aku bisa melihat garis-garis halus di ujung matanya saat dia tertawa tadi. Sedangkan David tidak ada. Tapi aku gak yakin juga, karena David jarang tertawa.


Aku membuka galeri foto di handphone ku dan mencari foto David yang sedang tertawa atau tersenyum lalu perbesar ke area mata untuk memastikan apakah David ada garis halus atau tidak.


"Pacar kamu?" tanyanya sambil menyeka keringat dengan sapu tangan.


"Iya." jawabku canggung langsung menutup galeri handphone-ku.


Laki-laki itu mengeluarkan buku dari tas jinjing yang berisi laptop dan beberapa buku lainnya. Sekilas aku melihat judul bukunya Manajemen Pendidikan. Seketika aku penasaran mengapa dia membaca buku anak kuliah? Apakah dia mahasiswa juga?


Rasa penasaran membuat perhatianku tidak bisa teralihkan dari dia. Dia membaca, menulis di sticky note lalu di lengketkan ke halaman buku tersebut. Dia seperti mahasiswa teladan yang sedang belajar keras untuk menghadapi ujian.


Disaat sedang asik-asiknya mengamati, dia menoleh dan langsung mendapati kalau aku sedang memperhatikan dia.


"Maaf yah, aku terlalu asyik dengan kerjaanku. Kamu terganggu ya?" tanyanya sopan seraya membetulkan posisi kaca matanya.


"Gak gak kok. Aku yang seharusnya minta maaf karena terlalu kepo dengan apa yang kamu lakukan."


"Kamu mengajar?" Jujur aku takjub.


"Oh ya, maaf aku belum perkenalkan diri. Namaku Gilbert, profesi dosen di salah satu universitas di kota yang akan kita tuju." dia mengajakku berjabat tangan dan tentu saja tangannya langsung cepat-cepat ku raih.


Dosen yang sangat sopan sekali. Padahal tidak harus juga memperkenalkan diri kepada orang yang kebetulan duduk di sebelahnya yang kepo dengan kegiatannya. Tapi dia malah minta maaf karena belum perkenalkan diri. Detik berikutnya aku merasa bersalah kalau tidak memperkenalkan diri juga.


"Aku Amelia. Aku mahasiswi tansfer."


"Wah ternyata kamu mahasiswi. Kamu daftar di kampus mana?"


Aku menyebutkan nama kampus padanya dan matanya langsung berbinar semangat dengan mulut terbuka karena takjub.


"Wahh kebetulan sekali. Aku mengajar disana sudah lima tahun." dia menepuk tangannya sekali lalu meraih tas jinjing yang di letakkan di bawah dan mengambil sebuah buku tebal lalu menunjukkan halaman terakhir padaku.


"Lihat ini biografiku."


Sebelum membaca biografinya aku melihat foto yang terpampang di halaman itu lumayan mirip dengan dia. Yang di foto, rambutnya tersisir rapi ke belakang dan tidak memakai kaca mata. Lebih tampan dan tampaknya bijaksana. Ternyata rambut dan kaca mata bisa memberi pengaruh banyak terdapat citra seseorang.


Gilbert Raka, SE, M. Acc lahir di tanggal 9-9-1989 merupakan anak tunggal dari Ibunda Riani dan Ayahanda Berdinand. Saat ini penulis sedang mengajar di beberapa universitas dengan mata kuliah yang berbeda-beda. Penulis baru saja menyelesaikan studi pasca sarjana di Holmes Institute, Australia dengan Jurusan Master of Professional Accounting. Penulis juga sedang menyiapkan diri untuk melanjutkan program Doktor di salah satu universitas terbaik di tanah air.


Aku menutup mulutku yang terngaga membaca tulisan di depan mataku. Aku mengembalikan buku itu sambil menahan nafas. Yang menerima malah tersenyum lugu.


"Pak." panggilku spontan sambil menunduk sedikit.


"Kok tiba-tiba panggil bapak?" dia tertawa sampai matanya tinggal segaris.


"Kemungkinan besar aku Mahasiswi Bapak."


"Bukan kemungkinan lagi, tapi pasti." lalu lanjut tertawa lagi.


Apakah semua orang pintar itu aneh?


"Kenapa kamu transfer?" tanyanya tiba-tiba suasana berubah serius.


"Ehm.. Ehm.. Karena satu dua hal, aku cuti di universitas yang dulu. Lalu akhirnya memutuskan untuk lanjut di Universitas tempat bapak mengajar."


"Itu bukan jawaban yang ingin kudengar." tanyanya.


Matanya berkilat di balik kacamatanya yang terpantul wajahku yang tampak canggung.


"Ehm.. Ada hal yang tidak ingin ku jawab, Pak. Karena terlalu pribadi dan panjang." jawabku sama seriusnya dengan dia.


"Apakah kamu pindah karena sebuah kasus di universitas yang dulu? Kamu anak nakal?" tanyanya curiga


"Ooo.. Gak gak, Pak. Bukan karena itu aku pindah."


"Kalau begitu tidak ada lagi hal yang sulit di katakan. Perjalanan kita masih ada tiga jam. Apakah ceritamu bisa lebih dari tiga jam?"


Aku mendengus dalam hati. Haruskah ku jawab pertanyaannya? Kalau aku tidak menjawab, apakah dia akan mempersulit selama aku di kampus?


Akhirnya aku hanya memberitahu kalau aku di tentang pacaran oleh Ayah David. Lalu aku akhirnya di minta untuk menyelesaikan studi sebagai syarat untuk melanjutkan hubungan dengan David.


"Ayah yang bijaksana." katanya. "Makasih sudah jujur."


Apakah semua orang pintar itu aneh dan menyebalkan?