
David akhirnya janji akan membawaku menjumpai Tony. Aku duduk di lantai samping nakas tempat tidur tempat aku mengecas handphone ku. Aku mengirim chat ke Cindy kalau besok aku ijin tidak ngampus.
David keluar dari kamar mandi dan langsung duduk di meja kerjanya.
"Rumahmu mau di jual?" tanyanya tiba-tiba.
"Itu rumah orang tua ku. Aku gak tega menjualnya." ujarku.
"Jadi kamu rencana mau tinggal di sini selamanya?" ejeknya
"Aku bisa pulang ke rumahku." ketusku " kalau kamu mengijinkan."
"Rumahmu sudah tidak bisa di tinggali." ujarnya "Sebutkan nomor handphone mu. Akan kukirim fotonya padamu."
Aku menyebutkan deretan nomor handphone ku dan tak berapa lama tiga puluh dua foto terkirim ke WhatsApp ku.
Aku shock melihat kondisi rumahku di dalam foto itu. Semuanya hancur dan berantakan. Semua perabot, kamarku, dapurku, semua berantakan. Barang-barang berharga seperti televisi, kompor, sofa, tempat tidur semua hilang. Dinding juga dicoret-coret tulisan yang tidak enak di pandang.
"Kok bisa jadi begini?" tanyaku miris
"Berkat Tony." katanya
"Apa hubungannya dengan Tony?"
"Orang-orang bergosip kalau Tony kalah judi dan kamu jual diri untuk membayar hutang-hutangnya." katanya senang.
"Itu tidak benar!" seruku.
"Tentu saja itu tidak benar. Tapi kenyataannya Tony kabur dan kamu kerja di bar. Pulang subuh di antar laki-laki dan ada bercak merah di....." David menunjuk lehernya "sini."
"Bagaimana kamu bisa tau?" Tanyaku heran
"Aku menyuruh orang ku ke sana. Dan itulah yang dia dengar." ujarnya "Saranku, jual saja rumah itu. Aku akan mencarikan tempat tinggal lain."
"Kenapa kamu mau membantuku?" tanyaku lirih.
"Demi Emi. Kamu kira aku suka berurusan dengan mu? Aku hanya menganggap kamu itu benalu yang bisa menghalangi pernikahan Emi. Aku sekarang sedang menyingkirkan benalu." ucapnya geram.
Hatiku sakit mendengarnya. Sekotor itukah aku di mata orang lain? Menjual diri? Pelacur? Tidak tahu malu? Benalu? Yang kulakukan hanya mencintai Tony. Aku mencintainya dengan hati yang tulus. Bahkan ketika dia menyakitiku, aku tetap tidak bisa melupakannya. Aku selalu percaya padanya. Begitu sulitkah mencintai seseorang itu?
***
"Aku ada urusan sebentar. Tolong kabari Ayahku kalau aku akan ikut rapat sesi ke dua." Ujar David pada Sekretarisnya yang datang menjemput pada pagi hari.
"Baik Pak. Rapat ke dua akan di mulai pukul dua siang. Kira-kira bapak bisa ikut?" tanyanya sopan.
David memutar bahuku dan membungkuk sedikit sehingga wajah kami bertemu. "Dengar, jam dua aku ada rapat penting. Selesaikan urusanmu sebelum itu atau kamu ku tinggal."
"Aku bisa pulang sendiri." Aku mendorong dadanya dan mundur dua langkah.
Bibi Nia dan Kakak sekretaris melihat kami sambil tersenyum. Mereka jadi salah paham. Padahal David sedang mengancam ku, tapi di mata mereka ini seperti romansa di pagi hari.
"Oke. Ini dimana? Sebutkan nomor rumah, nama komplek dan kawasan." ujarnya
"Aku gak tahu." jawabku jujur.
"Gak usa melawan kalau gitu." ketusnya lalu menarik tanganku seperti biasa tapi tidak menyakitkan.
"Kita kemana?" tanyaku ketika mobil masuk di jalan tol.
David kembali menjadi pendiam.
"Ku perhatikan, kamu tidak begitu suka berbicara ketika sedang menyetir." ejekku
"Aku hanya tidak mau menjawab pertanyaan yang tidak perlu dijawab." ketusnya
"Karena aku benalu?" ujarku. "Tenang saja, benalu ini akan pergi sebentar lagi. Tergantung kapan kamu mendapatkan rumah baru untukku. Aku juga tidak ingin tinggal bersama laki-laki pemarah."
"Aku sudah mendapatkan tempat tinggalmu." katanya.
Secepat ini? Hanya satu malam?
"Dimana?" tanyaku penasaran
Lagi-lagi dia tidak menjawab.
Tidak ada gunanya penasaran jika David tidak mau menjawab. Aku mengubur rasa penasaranku dan mencoba tidur. Menebus jam tidurku tadi malam.
Aku tersentak mendengar nada dering ku. Aku tersadar dan cepat-cepat mengeluarkan handphone dari tasku.
Angry D
Aku menoleh pada David yang sedang menatapku sambil memegang Handphonenya.
"Kita sudah sampai." ketusnya.
Saat ini kami sedang berada di bawah gedung pencakar langit. Aku menengadah hendak melihat ujung dari gedung ini, tapi malah menabrak David yang ada di belakangku. Dia mendorongku masuk melewati pasukan security yang wajahnya tidak bersahabat.
Gedung di dalam seperti lobi mall yang luas, mewah, bersih, berkelas dan banyak sekali orang lalu lalang. David menggenggam tanganku ke tempat cek in. Jadi kami harus me-scan sejenis kartu pengenal di mesinnya baru kami bisa melewati palang cabang tiga ini. Aku dan David tidak punya kartu pengenal itu, sebagai gantinya petugas yang berjaga yang memberi akses agar kami bisa masuk. Entah bagaimana cara dia melakukannya, pokoknya kini kami sudah berhasil masuk dan berjalan menuju lift.
Saat ini aku sudah berada di atap yang sama dengan Tony. Sebentar lagi aku akan bertemu dengannya. Aku merangkai kalimat demi kalimat yang akan ku utarakan pada Tony. Kami berhasil memasuki lift. Lantai demi lantai kami lewati sampai akhirnya David menarikku keluar ketika lift terbuka di lantai lima belas. Kami berjalan ke arah berlawanan dari orang-orang yang keluar di lantai ini juga. Akhirnya kami sampai di depan pintu emergency dan David membawaku masuk kedalam.
"Kenapa kita di tangga darurat?" tanyaku
"Untuk menghindari gosip." katanya lalu menelepon seseorang. "Lia sudah disini."
Deg.
Jantungku tiba-tiba berpacu. Tony kah itu? Sekarang Tony sudah menuju kemari kah?
"Aku tunggu dibawah." katanya lalu menuruni tangga. Meninggalkan aku yang sudah hampir mati karena gugup.
Beberapa menit kemudian, pintu emergency itu terbuka. Seorang laki-laki bersetelan jas dan bertampang rupawan muncul dari balik pintu itu. Itu dia! Tony! Dia ganteng sekali. Aku harus mengatakan sesuatu.
"Apa yang ingin lo katakan?" tanyanya.
Aku mendekatinya lalu hendak memeluknya. Tapi Tony mundur dan menahan bahuku.
"Cukup berdiri dan katakan apa yang mau lo katakan." suaranya terdengar sinis.
"Benarkah kamu Tony yang ku kenal?" tanyaku.
Hatiku serasa di tusuk ribuan jarum. Lagi-lagi aku tidak bisa menahan air mataku.
"Bukan." katanya
"Jadi dimana Tony yang kukenal?" isakku.
"Kalau tidak ada yang mau dikatakan, gue mau kembali kerja." katanya hendak berlalu.
"Tony. Kamu dan aku tahu apa yang kita lalui di rumah ku. Aku bisa merasakan kalau selama setahun ini kamu tulus dan sayang sama aku."
"Sebelum lo jumpai gue, lo sudah cari tahu tentang gue?" tanyanya
Aku menggeleng "Aku tidak mau mendengar dari orang lain. Aku tinggal bersamamu selama ini, aku lebih tahu kamu orang yang bagaimana."
"Kalau lo tidak cari tahu, biar gue yang kasi tahu." ujarnya "Gue pemabuk, main perempuan, foya-foya, hidup dalam kemakmuran, dan menindas orang lemah seperti lo." jelasnya bangga.
"Bukan begitu. Kamu sederhana, pekerja keras, baik hati, pintar nyanyi, perhatian, pengertian lalu ...."
"Itu karena gue lagi menipu lo." selanya ketus
"Kamu juga bilang aku orang lemah, aku tidak punya apa-apa. Apa untungnya kamu menipuku?" seruku
"Gue suka mempermainkan Lo. Gue senang lihat lo tertipu."
"Kamu suka hidup menderita denganku? Tidak ada kemewahan, makanan jelata dan kamu juga ke pasar, cuci piring, memperbaiki keran." aku masih tidak percaya kalau ini adalah tipuan.
"Lo tau gak? Setiap kali gue muasin nafsu gue, gue harus ngeluarin dua puluh juta untuk bayar cewek-cewek itu. Sedangkan ama lo.... " dia terdiam sejenak mengambil nafas "gratis."
Aku terdiam. Tidak sanggup melawan, terlalu sakit untuk berpikir. Sangkin sakitnya, aku jadi susah bernafas. Aku tidak mampu mengangkat kepalaku menatapnya.
"Lo bayangkan berapa banyak duit yang harus gue ngeluarin untuk nikmati cewek perawan. Selama setahun ini gue bercinta dengan lo tanpa takut lo ada penyakit. Gue kerja di rumah lo, anggap gue merasa bersalah ama lo. Hanya itu. Sekarang gue uda mau nikah. Gak butuh lo lagi."
Itu kata-kata terakhir Tony sebelum pergi ninggalin aku. Pernyataan jujurnya yang menyakitkan. Aku tidak bisa menyangkal lagi kalau tujuan hanyalah ingin bercinta gratis. Kalau begitu bukankah yang di katakan orang lain tentangku itu benar? Aku pelacur. Murahan. Tidak tahu malu. Impian membangun keluarga kecil dengan Tony juga hanya ilusiku saja. Hal yang tidak akan pernah bisa terwujud.
Aku berjalan menaiki tangga. Gak tau kemana tangga ini akan berakhir. Aku hanya ingin naik. Aku akan naik sampai kakiku capek. Sampai rasa capek bisa menutupi rasa sakit yang kurasakan saat ini.
Badanku terhuyung kebelakang karena seseorang menarik tanganku. Aku terjatuh di dekapannya. Di dada bidang seseorang dan tangan besarnya mengelus rambutku dan menepuk punggungku.
"Nangislah. Nangis sekuat yang kamu bisa." ucapnya
Tanpa aba-aba lagi, aku menangis meraung di dadanya. Aku menjerit atas ketidakadilan ini. Aku menjerit atas nasibku. Aku menjerit atas semua hal-hal buruk yang menimpaku.
"Seharusnya kamu berhenti saat aku menarikmu keluar dari bar." ucapnya "Inilah akibat dari keras kepala."
"Kenapa aku dan dia tidak bisa bersama? Kenapa dia tidak mencintaiku saja? Kenapa dia harus menikah dengan adikmu? Apakah dia mencintai adikmu?" raungku
"Perbedaan kalian terlalu jauh! Walaupun dia mencintaimu, dia juga tidak mungkin bersamamu." serunya menyamai suara tangisanku.
"Kami sama-sama manusia. Punya hak untuk bersama." belaku
"Dia anak konglomerat sedangkan kamu yatim piatu yang tidak punya apa-apa." David menggoyang bahuku.
David sukses mengatakan sebuah kenyataan atas perbedaan kami. Intinya kami seperti langit dan bumi. Dia raja dan aku hanya pekerja kuli rendahan.
"Jika tidak ada yang sempurna di dunia ini, kenapa kekuranganku menjadi masalah?" ucapku lirih.
Aku capek. Badanku lemas. Rasanya aku ingin duduk dan bersandar di lantai ini selamanya.