Second Change

Second Change
Chapter 13



"Masih lama?" tanyaku gemeretuk karena kedinginan.


"Di kursi belakang ada jaket."


Aku melirik ke belakang dan meraih jaket kulit besar dan menutup tubuhku.


"Apakah laut hari ini juga sedingin sekarang?" tanyaku sambil menatap keluar jendela.


Mobil sedang melaju di jembatan melewati lautan. Pemandangan laut sangat indah. Andai saja aku punya kesempatan bermain di pantai bersama orang yang kucintai. Aku akan membuat rumah siput dari pasir, menulis nama dia dan namaku di pasir, bermain siram-siram air lalu berbaring karena kecapean. Tapi sudah tidak mungkin, karena malam ini aku akan mengembuskan nafas terakhir ku dan menyatu dengan lautan yang dingin.


Kami berkendara sekitar satu setengah jam dan akhirnya memasuki daerah perkotaan. Kemudian mobil masuk ke kawasan perumahan yang terlihat elit dan mewah. Sepanjang jalan di terangi oleh lampu jalan dan lampu-lampu kecil seperti kunang-kunang yang indah.


"Kita kemana?" tanyaku tapi tentu saja tidak di jawab. "Kupikir kita akan naik kapal dan membuangku ke laut."


Sebuah gerbang besar berwarna putih terbuka, mobil masuk dengan mulus lalu berhenti di depan pintu dengan pilar mewah yang tinggi.


"Dengar." katanya. "Jika kamu ingin bertemu dengan Tony, kamu harus nurut."


"Maksud mu?"


Kenapa sekarang tiba-tiba ingin mempertemukan aku dengan Tony?


"Sebulan lagi Tony dan adik ku akan menikah. Sampai hari itu tiba, kamu akan tinggal di rumahku."


"Bilang aja kalau aku jadi tawananmu." ujarku


"Kira-kira seperti itu." Dia melepaskan seatbelt dan bersiap turun. "Sekalian bawakan jaket itu."


Aku turun seraya memakai jaket itu dengan benar dan mengikutinya. Dia berbalik menungguku dan menggenggam tanganku. Genggamannya kali ini berbeda. Tidak menyakitkan seperti yang sebelumnya.


Dia mendorong pintu yang tampaknya berat itu dengan gampang. Kami di sambut oleh wanita tua setengah baya yang sepertinya bukan ibunya.


"Tuan kok bisa pulang? Nyonya baru saja naik ke loteng dengan Nona." Ujar wanita tua yang ternyata adalah pekerja di rumah ini. "Mau saya panggil nyonya?"


"Tidak usa. Tolong bawakan saja baju tidur untuk dia." perintah laki-laki pemarah yang tampaknya sudah lebih ramah sekarang.


"Ehmm. Nona ini siapa?" tanya wanita itu sambil melirik dan tersenyum ramah padaku.


Aku tersenyum kembali padanya. Tidak enak rasanya mengabaikan wanita yang ramah dan berwajah menyenangkan ini.


"Pacarku." jawab laki-laki pemarah dengan santai.


Sudah kuduga. Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin dia bisa menawanku disini. Aku sama sekali tidak terkejut dia akan berbohong seperti ini. Dengan begitu dia bisa bebas mengawasiku, mengikuti, memerintahku dan membawaku atau membunuhku.


"Nama ku Amelia. Panggil saja aku Lia." kataku pada wanita itu.


"Ahh.. Lia kamu cantik sekali. Kalau butuh apa-apa panggil saja bibi Nia yah." Bibi Nia tersenyum lebar.


Perkenalan diri sudah selesai, laki-laki pemarah ini membawaku ke lantai tiga dengan tangga putar besar yang cukup tinggi. Sampai di puncak lantai tiga, nafasku ngos-ngosan. Bukannya dia kasi istirahat tapi laki-laki pemarah yang nafasnya masih teratur membawaku masuk ke koridor kedua di lantai ini. Lalu membuka satu-satunya pintu disana.


Laki-laki pemarah akhirnya melepaskan tanganku. Dia berjalan kearah pintu yang ku tebak adalah kamar mandi. Tapi ternyata bukan. Aku mengintip ke dalam lalu akupun tercengang. Mulutku terbuka lebar melihat pemandangan kloset baju terbesar yang pernah ku lihat. Setelah ku perhatikan sekeliling, memang kamar ini tidak ada lemari baju. Dan inilah dia, tempat penyimpanan baju, tas, dompet, jam tangan, sepatu, dasi, setelan. Aku berkeliling melihat-lihat dengan takjub. Ini sudah seperti butik baju di mall. Kemeja-kemeja di gantung di satu rak. Adak rak-rak lain juga yang khusus kaos, celana, jaket, setelan, rompi, dan lain-lain.


"Tidak ada yang bisa kamu pakai di sini. Tunggu Bi Nia akan membawakanmu baju tidur." katanya


Laki-laki pemarah ini membuka jam tangannya dan menyimpan di laci bersekat yang terbuat dari kaca. Aku bisa melihat dengan jelas koleksi jam-jamnya yang tampaknya mahal.


Dia lalu membuka kancing kemejanya sambil berjalan keluar dari klosetnya. Aku mengikutinya dari belakang. Ternyata di dalam kamar masih ada satu pintu yang terlewatiku. Karena pintunya hampir sama dengan dinding dan tidak punya tuas untuk membuka.


"Aku mandi dulu." katanya lalu menghilang dari balik pintu yang menyerupai tembok.


***


Untuk pertama kalinya aku mandi di kamar mandi yang aku gak tau harus berdiri di mana untuk mandi. Ada bathub persegi yang besar, muat untuk enam orang. Apa aku mandinya di situ? Aku coba menarik kerannya dan air yang deras langsung mengucur. Cepat-cepat aku mematikannya lagi. Aku harus mencari sabun dan shampoo dulu. Aku coba mengintip di balik sekat kaca di sudut ruangan. Ternyata showernya ada di sini. Tapi showernya tinggi dan ga bisa di gapai. Beda dengan shower di rumah kak Jay yang bisa di pegang dan di gantung. Peralatan dan sabun juga lengkap di sini. Aku menggantung bajuku lalu membuka shower. Air hangat langsung mengguyur rambutku dan seluruh badanku. Tidak buruk, seperti sedang mandi hujan.


"Kamu memang mandi selalu satu jam?" tanya laki-laki pemarah itu begitu aku keluar dari kamar mandi.


"Bukan urusanmu." jawabku ketus. Aku duduk di sofa sambil merengut.


Aku kelamaan berdiri di bawah shower trus aku harus mengeringi rambutku juga. Rambut panjang tentu saja butuh waktu yang lebih lama untuk kering. Memang laki-laki itu tidak tahu apa-apa. Apalagi laki-laki pemarah seperti dia.


Dia bangkit dari kursi kerjanya dan melempar handphoneku ke sofa tempat aku duduk.


"Temanmu menelepon. Karena kamu mandinya lama, jadi ku angkat."


"Kamu kok seenaknya gitu sih?" Aku menekan layar handphone ku, menekan tombol aktif tapi tidak bisa.


"Lowbath." ujarnya


"Pinjam charger."


"Chargerku tidak cocok untuk model handphone kayak gitu." tukasnya "Tidurlah, besok aku ngantar kamu ke kampus."


"Kamu bolehin aku ke kampus? Gak takut aku kabur?" ejekku


"Kamu bisa kabur kemana? Kerumah Jay? Atau ke gubuk kamu yang sudah di bongkar lurah?"


"Apa maksud mu rumahku di bongkar lurah?" tanyaku serius. "Rumahku diapain ama mereka?"


"Isi rumahmu di ambil. Tidak ada apa-apa lagi di sana." jelasnya sambil naik ke tempat tidur.


"Kenapa kamu bisa tau?" tanya curiga.


"Temanmu yang bilang ditelepon." ujarnya lalu hilang di balik selimut tebalnya. "Kamu tidur di sofa."


Brengsek.


Sepanjang malam aku tidak bisa tidur. Bukan karena tidur di sofa. Sofa ini bahkan lebih nyaman dari pada kasurku. Aku sedih memikirkan rumah yang di tinggalkan Papa dan Mama. Di dalam banyak sekali kenangan masa kecilku. Tempat aku menerima kasih sayang dan cinta yang tak terbatas dari kedua orang tuaku. Tempat dimana aku bangkit dari keterpurukan. Lalu akhirnya menerima cinta pertamaku. Hatiku sakit dan sedih memikirkannya. Kenapa mereka tega sekali. Apakah karena aku hanya sendiri? Apakah karena aku tidak punya apa?