
Hal konyol apa yang pernah kamu lakuin saat bercinta? Tiba-tiba buang angin? Pause untuk ke kamar mandi? Sendawa? ******* seperti suara kodok?
Kalau aku, bertanya. "Teringat Tony gak?"
Pertanyaan mematikan yang bisa membuat para laki-laki kehilangan mood.
Kecuali David.
"Tidak." Dia menyeringai puas.
Senyumnya menyebalkan. Seakan-akan dia telah memenangi taruhan yang dia buat sendiri. Tapi aku tetap tidak ingin menjadi bonekanya. Karena aku masih tidak yakin kalau David menyukaiku.
Aku mendorong David sekuat tenaga dari atasku. Aku melepaskan diriku darinya yang mungkin sudah hampir *******.
Aku gak peduli.
"Maaf, aku gak bisa." ujarku sambil memungut pakaianku yang berserakan. " Aku teringat pada Tony."
"Apa aku lebih buruk dari dia? Kenapa kamu tidak bisa melupakannya dan menerimaku?" serunya.
"Suatu hari kamu juga akan seperti dia. Kalian sama saja."
Aku buru-buru memakai pakaianku dengan asal, tanpa sadar David sudah berdiri di depanku.
"Jangan samakan aku dengan dia!"
David mencengkram bahuku kuat. Aku meringis kesakitan.
"Setidaknya dia tidak kasar seperti kamu. Dia tidak pernah menyakitiku seperti ini. Tidak menarikku dengan kasar. Tidak menciumku dengan paksa di depan umum." seruku.
Air mataku berlinang. Lagi-lagi aku teringat Tony. Lagi-lagi jantungku seperti di remas.
"Itu karena dia menipumu! Dia tidak benar-benar menginginkanmu! Dia berpura-pura baik di hadapanmu!"
David mengguncang-guncang bahuku geram.
"Sadar Lia! Aku berani mencium mu di hadapan keluarga ku. Aku berani melamar mu di tempat umum. Sedangkan dia? Menyembunyikan identitasnya dan pergi begitu saja. Jika kamu tidak kebetulan bekerja di bar? Kamu akan seperti orang bodoh menunggu dia selamanya!"
David benar. Apa yang barusan dia katakan benar. Tapi aku tidak ingin mengakui kebenaran ini. Aku tidak mau kesalahan Tony dijadikan pembelaan atas dirinya. Yang pada akhirnya mereka akan sama saja. Sama-sama menyakitkan.
"Aku tidak menyukaimu."
David melonggarkan cengkraman di bahuku. Tapi hanya dua detik. Aku kembali meringis.
"Aku tidak peduli."
Plakk
Pukulan tanpa sadar yang kulayangkan untuk pertama kalinya di pipi seseorang.
David shock, begitu juga aku. Aku menyesal bercampur kesal. Aku ingin meminta maaf tapi rasa kesal juga menguasai ku. Beberapa detik ini sangat menyiksaku.
"Begitukah? Begitu tidak sukanya kamu padaku?" David menatapku dengan mata berkaca-kaca.
Mungkinkah dia sedang merasa sakit karena penolakan ku? Bagaimana kalau dia beneran menyukaiku? Bagaimana kalau aku yang berada di posisinya saat ini?
Tanganku bergerak ke arah pipinya yang tadi tanpa sadar ku tampar. "Ma.. Maaf. Aku tidak benar-benar ingin memukulmu."
Dia masih menatapku, air matanya sudah berada di pelupuk mata. Untuk pertama kalinya aku melihat seorang laki-laki menangis. Lebih tepatnya menangis karena aku. Perasaan bersalah kini seratus persen menguasaiku. Walau bagaimanapun, memukul adalah salah ku.
"Apa yang kamu lihat dariku, David? Aku sama sekali tidak pantas untukmu." ujarku pelan.
"Kamu yang bagaimana baru pantas untukku? Bisakah kamu jelaskan?" tanyanya
Banyak. Jika aku kaya, jika aku punya keluarga utuh, jika aku cantik, jika aku punya kemampuan merawat diri, jika aku punya rumah, jika aku kuliah di universitas bergengsi, dan masih banyak lagi. Sampai aku tidak tahu harus mengatakan yang mana duluan padanya.
Air mata pertama akhirnya jatuh ke tanganku yang masih di pipinya. Dia menurunkan tanganku lalu memelukku.
Detik itu aku luluh. Gak tahu kenapa. Pokoknya aku luluh. Apakah perasaan seseorang memang segampang itukah berubah? Apakah karena aku menyesal telah menamparnya? Atau karena air matanya? Atau karena pelukannya? Entahlah. Hatiku memberi signal kalau pertarungan selesai. Tembok pertahanan diri sudah runtuh.
Aku memenjamkan mata dan melingkar tanganku di punggungnya.
Benarkah David?
Bisakah aku percaya padamu?
Jika kamu juga membohongi ku, aku tidak akan mau berpijak pada bumi ini lagi. Bumi yang kejam. Bumi yang begitu besar tapi tidak ada satu pun tempat untuk aku yang kecil ini.
David, aku akan memberi kesempatan terakhir kepada diriku. Untuk terakhir kalinya aku akan percaya pada orang. Terakhir kalinya aku menyerahkan hidupku pada seseorang. Terakhir kalinya aku memberikan seluruh hatiku pada seseorang. Terakhir kalinya aku berharap akan happy ending.
"Ayok." ujarku
Aku menengadahkan kepalaku. Dia menatapku dengan tatapan bertanya-tanya.
"Pacaran."
****************
Pagi yang canggung di hari pertama pacaran. Aku sedang menyiapkan sarapan sederhana. Roti bakar dan telur mata sapi. Kopi untuknya dan teh untukku. Kami makan dalam diam tapi setidaknya bukan suasana tegang seperti biasanya. Raut wajahnya juga lebih santai dari biasanya. Aku mengamati pipi kirinya apakah ada bekas jariku di sana?
Untung tidak ada. Syukurlah.
Apakah biasanya dia segagah ini memakai setelan? Kenapa baru kusadari hari ini? Tapi warna dasinya tidak cocok untuk setelan ini. Mungkin mulai besok aku yang akan menyiapkan pakaiannya.
"Jangan silent handphone." katanya
Aku mengangguk
"Jangan berkeliaran sendiri."
Aku mengangguk
"Kalau mau kemana-mana, aku akan menyuruh supir kantor untuk mengantarmu."
Aku mengangguk
Dia mengeluarkan dompet dari kantong di balik jasnya dan menyerahkan kartu kredit berwarna hitam mengkilap.
"Beli baju baru, jangan pakai baju bekas Emi. Belilah apapun yang kamu mau. Aku akan meminta Katrine untuk menemanimu hari ini."
Aku ragu untuk mengambil kartu itu dari tangannya. Akhirnya David meninggalkan kartu itu di atas lemari sepatu. Mengecup keningku lalu menghilang dari balik pintu.
Pilihan yang sulit. Ambil terkesan matre, tidak ambil terkesan gak menghargainya.
Akhirnya kartu kredit itu masih berada di tempat yg sama sampai Katrine datang. Dengan segera Katrine menemukan kartu kredit Bossnya ada di tempat yang tidak pantas. Kartu Kredit seharusnya berada di dalam dompet.
"Aku gak terbiasa Ket. Seolah-olah aku itu materialistik banget." protes ku.
"Enggakkk. Justru laki-laki itu paling senang kalau orang yang dia sukai membelanjai uangnya." Ujar Katrine meyakinkan.
"Masa begitu? Bagaimana kalau aku gak sengaja menghabiskan isinya?" tanyaku.
"Isinya tidak akan pernah habis. Walaupun telah mengosongkan satu store chanel."
Aku mengangguk-angguk walaupun tidak tahu berapa yang harus dibayar untuk mengosongkan satu store chanel.
Sepanjang siang ini, aku dan Katrine memang tidak mengosongkan store chanel. Tapi belanjaan kami hari ini hampir bisa membuka satu butik. Katrine membeli segala baju, sepatu dan tas yang dia suka lalu memberikannya padaku. Seratus kali dia meyakinkan aku untuk percaya pada seleranya dalam memilih baju.
Selanjutnya kami ke klinik kecantikan untuk treatment wajah dan spa. Tiga jam yang cukup rollercoaster. Aku menikmati sekali saat spa. Tapi baru kali ini aku tahu kalau treatment wajah itu sangat menyakitkan dan membosankan.
Semua belanjaan kami di bawakan oleh Randy, supir yang mengantar kami. Aku berulang kali meminta maaf akan bawaan yang banyak dan berterima kasih pada Randy. Katrine mengatakan kalau ini adalah hal yang wajar, tidak perlu terlalu merasa bersalah atau terlalu berterima kasih.
Tapi aku tidak terbiasa. David memakai Katrine untuk menunjukkan dunianya padaku. Dunia glamour yang bisa di dapatkan hanya dengan satu kartu hitam miliknya.
"Ket, David bisa tahu gak sudah berapa banyak uang yang kita belanjakan?" Aku bertanya pada Katrine yang sedang menyeruput lemon teanya.
"Bisa dong. Setiap pembayaran pasti akan masuk notifikasi di handphone bapak. Dan akan tertera tempat dan jumlah yang di belanjakan." jelasnya.
"Kalau gitu kita sudahi saja yah. Aku takut dia marah. Dia marah mengerikan banget tau gak?" bujukku panik.
Aku gak mau ikut jadwal Katrine selanjutnya yaitu salon. Entah sudah berapa uang yang kami habisin hari ini. Aku sampai tidak berani bertanya pada Katrine.
"Bapak gak marah kok." Ujar Katrine santai seraya menunjukkan layar handphone nya padaku.
'Good job Kat.'
Hanya itu yang terbacaku sekilas.
Tapi mungkin saja sampai rumah nanti aku akan di interogasi oleh David. Pokoknya aku gak akan ke salon lagi. Akhirnya aku memakai alasan kecapean dan tidak enak badan untuk segera pulang. Sepanjang perjalanan di mobil, aku pura-pura tidur. Katrine dan Randy membawakan barang-barangku naik sampai ke apartemen. Sekali lagi aku meminta maaf sekaligus berterima kasih pada Randy.
"Kotak obat ada dimana ya?" tanya Katrine sambil mengamati tempat yang memungkinkan menyimpan kotak obat.
"Ket, aku gak apa-apa. Maaf yah, aku hanya ingin cepat pulang." ngakuku
"Yakin gak apa-apa? jangan memaksakan diri yah, Lia."
"Makasih Ket, aku beneran gak apa-apa kok. Maaf yah sudah membuatmu khawatir."
Aku meyakinkan Katrine seraya mendorongnya ke pintu depan. Dia dan Randy pamit dan aku segera menutup pintu. Aku menghadap pada puluhan paper bag di ruang tamu.
Ting tong.
Aku terperanjat oleh bunyi bel yang ternyata adalah Katrine.
"Lia. Bapak meminta aku untuk mengambil koper berisi baju Emi. Maaf aku lupa tadi."
Aku buru-buru masuk ke kamar dan mendorong koper itu dan menyerahkan pada Katrine.
Dasar David. Begitu gak sukanya dia aku pakai baju Emi. Padahal semuanya masih tampak baru. Sayang sekali.
Aku kembali berhadapan dengan paper bag yang sepertinya selamanya pun tidak akan beres dari ruang tamu ini. Ingin sekali membiarkan mereka di sana saja. Tapi teringat sebentar lagi David akan pulang. Bisa-bisa dia murka melihat ruang tamu yang berubah wujud jadi gudang paperbag.
Akhirnya aku mengeluarkan semua isi pakaian terlebih dahulu. Melipat paperbagnya dan menumpuk jadi satu lalu melipat satu per satu semua pakaian itu dan memasukkan ke lemari baju di kamar.
Lanjut.
Aku mengangkat semua kotak sepatu ke lemari sepatu dan mengeluarkan satu persatu sepatu dan sandal dari kotak sembari menyusun ke dalam lemari.
Lanjut.
Parfum, skincare, aksesoris, tas aku meletakkan di lantai kamar. Aku akan menyusunnya pelan-pelan mulai besok. Aku merebahkan diri di tempat tidur meregangkan otot-otot ku yang kaku.
Sejak kapan tempat tidur ini menjadi begitu nyaman? Aku membiarkan tubuhku rileks sambil menutup mata. Tanpa sadar aku tertidur.