
Deringan kelima yang di reject David. Dua kali dari Randy dan tiga kali dari Katrine.
"Kamu yakin tidak mau menjawabnya? Siapa tahu penting." ujarku berhenti sejenak di atasnya.
"Persetan dengan urusan kantor."
"Benar juga. Kantormu tidak akan pergi. Tapi aku bisa." Aku tertawa kecil meledeknya.
"Mungkin kamu bisa menunda kuliahmu hingga semester depan?"
Aku menggeleng seraya mencium dahinya. "Aku akan muncul di hadapanmu dengan versi yang lebih baik. Aku janji."
***
Sehari sebelum berangkat, aku dan David kembali duduk berhadapan di ruang rapat yang dingin dengan dua map kulit yang isinya sudah kutandatangani, terpampang di hadapannya. Katrine berdiri di sebelah David yang sudah sepuluh menit tidak bergeming. Aku dan Katrine pandang-pandangan penuh arti. Tapi tidak ada satu pun dari kami yang berniat memecahkan kesunyian. Sampai masuk menit ke tiga belas, David meremas kedua kertas itu dengan kedua tangannya.
"Kenapa?" tanyaku sambil memandangnya menghampiriku.
Aku bangkit dari kursiku siap-siap mencubit pipinya karena bertindak sesuka hati lagi. David tersenyum dan memelukku erat. Dagunya menyentuh bahuku lalu dia berbisik.
"Aku akan menuruti kemauanmu. Tapi bukan berdasarkan secarik kertas."
"Terima kasih." bisikku balik.
Khusus hari ini, aku seharian di kantornya. Dari berangkat kerja sampai pulang kerja. Tidak banyak yang bisa kulakukan karena sepanjang hari David selalu sibuk. Rapat saja sudah bolak balik lima kali. Di tambah rapat kecil lima belas menit bersamaku, total jadi enam rapat. Kata Katrine sih saat ini perusahaan sedang ada proyek baru yang lumayan besar. Jadi David sibuk mondar mandir dari kantor cabang ke kantor pusat. Belum lagi perwakilan dari perusahaan lain untuk melakukan presentasi.
Saat ini sudah pukul dua artinya sudah lewat jam makan siang, tapi David belum juga kembali. Aku berbaring di sofa panjang sambil bermain game dari handphoneku sampai tidak sadar ketiduran. Aku bermimpi sedang makan KFC dengan sambal geprek yang gurih dan pedas. Tapi walau seberapa banyak ku makan, aku terus merasa lapar tapi malah perutku yang terus menerus membesar. Aku terbangun dengan nafas terengah-engah sampai hampir terjatuh dari sofa.
"Sudah bangun?" suara David terdengar dari balik mejanya.
Dia masih sibuk di depan komputernya dengan lembaran dokumen berserakan di mejanya.
"Kamu sudah lama kembali? Sudah jam berapa sekarang?" aku bangkit sambil mencari-cari handphoneku yang ternyata ada di meja depan sofa beserta satu kotak bertulisan KFC.
"Tadi aku melihat karyawan memesan KFC jadi aku meminta mereka memesan lebih untuk mu." ujarnya
"Makasih." ucapku girang. "Pantas saja tadi aku mimpi sedang makan KFC."
"Kamu sudah makan?" tanyaku
"Sudah."
"Makan apa?" aku menarik kedua bagian sayap sampai lepas dan melahap sisi yang lebih tipis.
"Masakan india." jawabnya. "Tadi bareng klien yang datang dari India."
Aku mengangguk kecil dan memutuskan untuk memberi privasi pada David yang tampaknya memang sedang mengerjakan sesuatu yang rumit. Dia mengernyitkan dahinya sampai kedua alisnya hampir bersentuhan satu sama lain di depan komputernya yang berlogo apel tergigit di belakangnya.
Tak sampai lima belas menit, aku sudah menyelesaikan makanku dan pergi ke kamar mandi yang ada di ruangan itu juga untuk cuci tangan. Tiba-tiba pintu kamar mandi di belakangku mendadak tertutup. Aku menengadah melihat David di pantulan cermin di atas wastafel. David memelukku dari belakang dan mencium leherku.
"Maaf, bukan sengaja mengabaikanmu hari ini." bisiknya
"Tidak apa-apa. Kita punya waktu semalaman lagi."
"Mau ngapain saja malam ini?" bisiknya seraya menggigit pelan daun telingaku.
Aku tertawa kegelian dan berbalik menghadapnya. Aku memberi isyarat padanya untuk merendahkan wajahnya lalu dengan gesit menggigit bibir bawahnya. Aku tidak bisa menahan tawa karena lucu sekali melihat wajah kagetnya lalu berubah merah karena tersipu.
David tentu saja tidak tinggal diam, dan langsung ******* bibirku.
Malam di apartemen, kami baru selesai makan malam yang terhitung sederhana untuk makan malam terakhir sebelum keberangkatanku. Aku menawarkan diri untuk memasak spaghetti truffle mushroom kesukaannya. Lain dengan Peter yang lebih suka masakan lokal. Kalau David lebih suka western food walaupun sudah beberapa kali aku memasak hidangan lokal yang paling ku kuasai. Tapi David hanya makan beberapa suap saja walaupun dia berkata enak. Demi David, aku belajar memasak beberapa western food yang tergolong gampang. Walaupun begitu David lebih memilih untuk memesan dari restoran. Katanya tidak mau ngerepotin aku yang sudah capek masak terus harus bersihkan dapur lagi.
Terkecuali hari ini, David menurut saja ketika aku menawarkan diri untuk memasak. Durasi makan malam kami tidak panjang. Tidak ada side dish, tidak ada desert dan tidak ada champagne atau wine yang harus di sesap pelan-pelan. Karena kami ingin menikmati malam terakhir ini dengan keintiman. Saling mengingat nafas masing-masing. Merekam setiap sentuhan dengan kulit kami. Menjadikan malam ini sebagai memori untuk mengenang kehangatan yang tidak akan kami dapatkan selama empat tahun kedepan. Suara terakhir yang terdengar adalah deruan nafas yang terengah-engah sampai akhirnya kami tertidur karena kelelahan.
David pernah bertanya padaku, apa yang aku harapkan dari dia empat tahun lagi? Aku hanya bisa menjawab, semoga kamu sehat. Jawaban klasik yang selalu kita terima saat ulang tahun. "Happy Birthday, semoga sehat selalu yah."
Tak heran David tertawa. Mungkin saat itu dia menganggap aku menggemaskan karena kepolosanku. Tapi arti sehat bagiku itu sangat berarti. Selama empat tahun aku tidak berada di sisinya, aku tidak tahu apa yang akan dialaminya. Aku takut dia akan terlalu lelah bekerja. Aku takut dia tidak makan teratur. Aku takut tidak ada yang mengingatkannya untuk tidur tepat waktu. Jika dia menyetir sendiri, aku takut dia tidak fokus di jalanan. Jika dia dinas keluar kota, aku takut dia akan lupa membawa obat-obatan.
Selama ini, aku tidak pernah meninggalkan orang dan malah sebaliknya. Kali ini, aku takut dengan meninggalkan David, maka karma akan membuat David meninggalkan aku selamanya. Aku tahu ketakutanku ini tidak berdasar. Tapi bukankah setiap orang ketika sedang berdoa selalu mendoakan keselamatan dan kesehatan orang terdekatnya? Karena semakin kita menyukai seseorang, semakin takut kehilangan. Apalagi ketika kita memilih untuk meninggalkannya walaupun hanya sementara.
Aku berbalik bertanya padanya. Apa yang dia harapkan dariku empat tahun lagi? Dengan lugas dia menjawab, tidak ada. Hanya memintaku berjanji, jika aku tidak tahan dan ingin kembali maka jangan memaksakan diri dan kembalilah padanya kapan saja. Aku hanya tersenyum kecil. Hal ini tidak akan terjadi. Aku akan bertahan walau apapun yang terjadi. Karena jika aku berhenti di tengah jalan, ini akan melanggar kesepakatan aku dengan Ayahnya. Biar bagaimanapun sulitnya jalan di depan, aku akan bertahan sampai di garis finish.