
"Apa ku bilang, Dave! Kamu juga penipu, pembohong!"
"Apa maksudmu, Lia. Kamu tenang dulu."
David mati-matian menahan lenganku yang terus memberontak.
"Lepaskan aku!" Aku mundur beberapa langkah darinya "Kamu bilang Tony tidak menyukaiku. Tony menipuku. Tapi ternyata dia masih mencintaiku. Karena tidak ingin aku terluka makanya dia pergi. Dugaan awalku tepat kalau kamu yang merencanakan semua ini!"
"Tidak seperti yang kamu pikirkan, Lia. Kamu tenang dan dengar penjelasanku dulu." bujuk David
"Gak ada yang perlu di jelaskan lagi. Sekarang kamu juga akan membuangku kan? Kamu menghasut Om untuk memulangkan aku. Padahal Om sudah janji akan membeli rumah orang tuaku. Lagi-lagi kamu, Dave. Mau melihatku sehancur apa lagi?!" raungku pedih.
"Aku gak memulangkan kamu. Kamu salah paham, Lia. Pliss dengarkan aku boleh?" David mengulurkan tangannya padaku sambil maju dua langkah dengan hati-hati.
Hatiku terlalu sakit untuk mendengar kebohongannya. Semuanya sudah terbongkar. Otakku terlalu kacau untuk mengkaji satu persatu kebohongan-kebohongan David selama ini.
"Cukup Dave! Aku mendengarnya sendiri tadi!"
"Lia, pliss. Aku gak tahu apa yang sudah kamu dengar. Tapi tidak seperti yang kamu pikirkan. Mungkin kamu hanya mendengar sepotong saja. Ayok kita pulang, aku dan ayah akan menjelaskannya padamu."
David dengan sigap menangkap satu tanganku lalu diikuti dengan tangan kedua.
"Kamu ingin kuliah kan? Lakukan, Lia. Kamu ingin kita berpisah sejenak? Jika itu yang kamu inginkan, aku rela. Kamu ingin membangun kembali rumah orang tuamu? Aku dan ayah akan lakukan yang terbaik." jelas David tegas menatap erat mataku.
"Tapi kenapa kamu bilang akan memastikan aku kembali ke rumah orang tuaku?" tanyaku nanar
"Setelah kuliah kamu selesai, kamu butuh tempat tinggal kan? Kamu bisa kembali ke rumah orang tua mu. Urusan warga yang salah paham padamu, Ayah yang akan mengurusnya."
"Kalau Tony? Kamu bilang dia menipu ku. Tapi ternyata dia beneran masih menyukaiku. Kalian sudah memisahkan kami."
"Walaupun kalian saling mencintai, kenyataan kalian gak bisa bersatu itu sudah pasti. Tony punya alasannya sendiri. Dan aku memisahkan kalian juga punya alasanku sendiri. Dari awal seharusnya kamu sudah mengerti. Kamu sudah memilihku. Masalah ini tidak ada hubungannya lagi dengan Tony." David mengusap air mataku. "Kita pulang yah."
David memunggungi ku, meletakkan sebelah tanganku di pundak, lalu mengangkat ku kepunggungnya.
"Aku akan meminta ayah untuk menjelaskan padamu. Ayah sudah mulai menyukaimu. Dia bilang kamu adalah gadis yang kuat, seolah-olah tidak ada badai yang bisa menumbangkan mu. Sama seperti Ibu dulu."
"Benarkah Om berkata begitu?" tanyaku dari balik punggungnya yang lebar.
"Aku dan Ayah tadi sempat merundingkan universitas yang punya mess pribadi. Agar kamu bisa kuliah dengan nyaman."
Air mata yang sudah berhenti dua menit lalu, kini mengalir lagi membasahi baju David. "Maafkan aku."
"Sudah percaya padaku?" tanyanya
"Awalnya aku gak bisa menerima. Tapi setelah kupikirkan lagi, kuliah adalah impianmu. Tanpa aku, mungkin kamu bisa lebih fokus. Aku bersedia menunggumu."
Aku membenamkan wajahku di bahu David dan menangis untuk yang kesekian kalinya. Tapi kali ini karena aku terharu dan menyesal sudah salah paham padanya.
...****************...
Setelah meminta maaf dengan Om, Tante dan Emi, aku dan David pulang ke apartemen kami. Sepanjang perjalanan, David menggenggam tanganku. Mobil melaju melewati laut dan pantai. Pemandangan malam dari atas jembatan sangat indah. Walaupun sudah beberapa kali lewat tempat ini, baru kali ini aku melewati dengan perasaan yang lega dan bahagia.
"Ingat kita duduk di pantai itu? Aku memesan nasi goreng di restoran itu tapi tidak kumakan." kataku memecahkan keheningan.
"Di pantai itu, untuk pertama kalinya aku jatuh cinta." ujarnya seraya menyunggingkan senyum.
"Jatuh cinta sama siapa? Cinta pertamamu? Kapan itu?" tanyaku menggebu-gebu. Kapan lagi bisa mengorek masa lalu David.
"Kamu. Emang dengan siapa lagi aku ke pantai?"
Aku? Bukankah saat itu kami sedang bertengkar? Bisa-bisanya jatuh cinta padaku di saat seperti itu.
"Bukankah hari itu kamu mengajakku ke pantai karena ingin menenggelamkan aku?" candaku
David tertawa.
"Tidak jadi," David menatapku sekilas "karena aku terlanjur jatuh cinta padamu."
Perasaan seseorang apakah beneran sesimpel itu? Apakah kami beneran saling jatuh cinta pada moment tertentu atau karena terjebak dengan emosi masing-masing? Bisakah perasaan yang instan ini akan bertahan lama?
Sepanjang perjalanan ini aku memikirkan apa yang akan menjadi prioritasku saat ini. Aku di berikan kesempatan lagi untuk mewujudkan impianku selama ini. Impian yang kukira tidak akan pernah terwujud karena kendala ekonomi. Hal-hal buruk di dalam hidupku semoga sudah terlewati dan selanjutnya hal-hal baik yang akan menyongsong hari-hari ku.
Aku menoleh pada David yang sedang serius menyetir. 'Maaf kan aku, Dave. Saat ini kamu bukan prioritasku. Aku janji akan jadi versi yang lebih baik ketika muncul di hadapanmu nanti.'
Aku akan jadi wanita yang pantas untukmu. Walaupun kamu tidak pernah keberatan dengan statusku, dan walaupun saat ini aku sedang merangkak dari bawah, tapi aku janji, aku akan berdiri di hadapanmu dengan status sosial yang pantas untukmu sebagai ungkapan terima kasih atas segalanya yang telah kamu dan keluargamu berikan untuk ku.
"Lagi mikirin apa?" Tanyanya tiba-tiba memecahkan balon-balon lamunanku.
"Tidak apa-apa." aku mengalihkan perhatianku ke jalanan.
David mengelus kepalaku sambil tetap fokus menyetir di jalanan yang masih ramai walaupun sudah pukul sepuluh malam. Ternyata sudah jam segini, pantas saja aku mengantuk. Aku menutup mataku menikmati hembusan AC dan alunan musik instrumental yang aku tidak tahu judulnya. David selalu memutar lagu instrumental ketika sedang menyetir. Dan untuk pertama kalinya aku menikmati alunan musik yang padahal sebelumnya aku merasa sangat membosankan karena tidak ada penyanyinya. Cocok dengan ciri khas David yang kalem, tegas, dingin, tapi belakangan ini dia hangat dan perhatian.
Aku menguap untuk ketiga kalinya lalu tertidur.