Second Change

Second Change
Chapter 19



Aku hampir mengira kalau Lia sudah menyerah akan Tony. Tidak disangka dia masih menaruh harapan besar pada hal yang tidak mungkin. Tony memang masih menyukainya. Tapi Tidak mungkin akan berpaling padanya lagi. Semakin dia mengejar, yang dia dapatkan hanya luka yang semakin besar.


Hari pernikahan tinggal beberapa hari lagi. Emi menelepon ku dan mengatakan kalau dia gugup dan ingin bertemu denganku. Saat ini aku sedang bersama dengan Lia di perjalanan pulang dari kantor. Aku mengatakan padanya kalau hari ini kita tidak pulang ke apartemen. Dia menatapku sebentar lalu mengangguk.


Sejak kejadian di pantai, dia menjadi lebih pendiam dan penurut. Tidak melawan seperti biasanya. Aku tidak bisa membaca pikirannya karena dia sulit sekali ditebak. Mungkin saja dia sekarang sedang merencanakan sesuatu atau memang sudah pasrah akan keadaan. Seharusnya sekarang dia sudah mengerti kalau apapun yang dia lakukan, dia tidak akan bisa bersatu lagi dengan Tony. Satu-satunya hal yang perlu dia lakukan saat ini adalah fokus menyelesaikan kuliahnya.


"Aku ingin pinjam komputer mu, bole?" tanyanya tiba-tiba.


"Untuk apa?" tanyaku basa basi.


"Tugas kuliah. Hari ini kelas agak padat jadi gak sempat ke perpustakaan." jelasnya


"Pakailah."


Setelah itu hening sampai akhirnya kami tiba di rumah.


Emi dan Bibi Nia menyambut kami.


"Kakak, aku gugup. Apa yang harus kulakukan?" Emi meloncat-loncat kecil di hadapanku.


"Gak usa gugup. Jalani aja." Aku tidak tahu bagaimana caranya menenangkan Emi. Alhasil dia cemberut karena tidak terbantu.


"Non Emi panik karena berat badannya turun dan gaun pengantinnya harus di ubah lagi ukurannya." jelas Bi Nia sabar "Tapi belakangan ini Non Emi gak berani makan karena takut gendut."


Bi Nia menertawakan Emi dan Emi tambah cemberut.


"Lia." Emi mengejar Lia yang sudah di atas tangga.


Lia menoleh dengan senyum kecil.


"Kita ngobrol yuk." ajak Emi dan Lia mengangguk.


"Sesama perempuan pasti lebih enak ngobrolnya. Gak apa-apa yah." kata Bi Nia seraya menepuk bahuku.


Aku mengikuti mereka sampai kamar Emi tapi Emi melarang aku masuk.


"Lia mau ngerjain tugas kuliah." alasanku


"Gak apa-apa, minggu depan baru dikumpul." ujarnya


Lia tidak bisa membuatku tenang. Akankah dia mengatakan hubungannya dengan Tony pada Emi? Semuanya akan sia-sia kalau Emi sampai tahu.


Aku menggedor-gedor pintu kamar Emi. Pokoknya Lia tidak boleh berduaan dengan Emi. Aku terus-terusan mengetuk sampai Lia muncul dari balik pintu. Aku mendorongnya ke dinding.


"Jangan macam-macam." ancamku pelan.


"Yang kamu takutkan tak akan terjadi." bisiknya.


"Kakak, kamu kenapa sih?" Emi keluar dari kamar.


"Ada apa ini? Siapa yang gedor-gedor pintu tadi?" Seru Ibu yang sedang menaiki tangga.


Lia melingkari kedua tangannya di leherku. "Kamu tidur duluan yah. Besok pagi baru kutemani."


Tubuhku menegang, wajah Lia sangat dekat sampai aku bisa mencium wangi shampoonya. Jantungku bergetar. Perasaan ini sama saat dia mendorongku jatuh ke pasir dan berjongkok di sampingku. Saat itu tubuhku merespon dan berbalik mendorongnya. Lia seperti punya magnet yang membuatku ingin menciumnya saat itu dan perasaan itu muncul lagi di detik ini.


"Aku meminjam Lia sebentar dan kakak gedor-gedor pintuku." Emi mengadu pada Ibu.


"Dave, sudah." kata Ibu singkat.


"Le.. Lepaskan aku." kataku gugup


Lia menggeleng "Janji dulu tidak marah." katanya dengan suara manja.


"Iya, aku janji." lidahku kelu.


Lia melepaskanku, mengucapkan salam pada Ibu lalu masuk ke kamar Emi.


"Lia masih kecil, kamu kelewatan deh Dave." Ibu memarahiku "Jangan sampai dia hamil sebelum wisuda."


Aku menoleh ke Ibu dan ingin menjelaskan. Tapi sudahlah, apa lagi yang bisa kujelaskan. Status kami memang pacaran di rumah ini di tambah dengan situasi tadi.


"Aku akan hati-hati." jawabku


"Jadi beneran kalian uda... " Tanya Ibu canggung


Tuh kan, harusnya aku menjelaskan tadi. Sebelum aku sempat berpikir, ibu memukulku.


"Kamu kok gak bisa nahan diri. Lia masih kuliah semester satu. Coba hitung berapa jarak usia kalian. Seharusnya kamu lebih dewasa lebih bisa mikir dong. Kamu serius dengan Lia?"


"Bu..." aku mundur menghindari pukulannya


"Apa?" tanya Ibu melotot "Kamu beneran serius?"


"Kurasa iya." jawabku asal.


"Nikahi dia kalau gitu. Jangan sampai hamil duluan, trus bikin aib di keluarga kita." jawaban ibu diluar sangkaanku.


Aku kira ibu akan melarang karena status Lia.


"Ibu merestui kami?" tanyaku menghampiri Ibu "Lia itu anak yatim piatu."


"Ibu juga yatim piatu saat menikah dengan ayahmu." ujarnya.


"Tapi Ibu beda. Ibu punya banyak warisan, bahkan pertambangan itu juga punya Ibu."


"Emang kenapa kalau Lia gak punya apa-apa? Yang penting kamu suka." Ibu memegang kedua pipiku sambil tersenyum.


***


Keesokan paginya aku bangun dan melihat Lia tidur di sofa berbalut selimut tebal. Entah jam berapa semalam dia kembali ke kamar. Sampai aku selesai mandi dan berpakaian pun Lia belum bangun. Jika tidak beres-beres sekarang, mungkin dia akan terlambat karena setelah lewat tol, jalanan pasti akan lumayan macet. Aku memutuskan untuk membanguninya.


Aku mengambil handphonenya di lantai dan meletakkan di samping atas bantalnya. Aku menelepon ke handphone dan nada dering langsung berdering kuat. Dia bergerak sedikit dan mengambil handphonenya dengan malas. Matanya masih terpenjam.


"Kamu akan terlambat kalau tidak bangun sekarang." ujarku tapi tidak direspon. Dia kembali tidur dan meringkuk di dalam selimutnya.


"Lia. Lia. Kak." Emi mengetuk pintu kamar.


Aku membuka pintu melihat tampang Emi yang cemas.


"Kak, Lia sudah baikan? Tadi malam dia tiba-tiba demam. Dia kembali ke kamar setelah minum obat. Tapi dia pucat sekali, aku khawatir." Emi menjelaskan sambil masuk ke kamar.


Emi mendekati Lia "Lia kenapa kamu tidur di sofa?"


Lia menggeliat sebentar dan berusaha duduk "Aku takut menularkan pada David. Kayaknya aku masih sakit, Emi."


Emi memandangku marah "Kakak kok jahat sih?"


"Bukan salah David. Semalam aku gak membangunkannya." ujarnya lemah.


"Lia yang malang." Emi mengusap pipi Lia yang merah. "Badanmu panas sekali."


"Kita kerumah sakit aja." ujarku.


"Gak usa." lirihnya


Aku menggendong Lia yang lemah dan diikuti Emi yang membukakan pintu. Ibu dan Ayah sedang sarapan dan bingung pada situasi ini. Aku meminta Emi untuk menjelaskan pada mereka dan langsung ke pekarangan tempat mobilku diparkir.


"Pakai ini." aku melepaskan Jas dan menutupi badannya.


Aku menurunkan kursinya agar dia bisa berbaring lebih nyaman. Mata kami bertemu dan menjauh ketika kursinya bergerak turun. Wajahnya pucat dan nafasnya cepat.


Mobil yang kukendarai melaju keluar dari halaman rumah. Aku menyalakan GPS di mobil dan mencari rumah sakit terdekat. Aku mengambil lokasi yang berjarak paling dekat yaitu sekitar lima belas menit. Robot GPS mulai menunjukkan jalan tercepat.


Sepanjang jalan, beberapa kali Lia batuk sambil memejamkan matanya dan tubuhnya menggigil.


"Sudah hampir sampai. Tahan sebentar lagi."


"Aku gak apa-apa. Hanya demen biasa." ucapnya lemah


"Demam juga bisa menyebabkan kematian." jawabku


"Mati juga gak apa-apa." suaranya memelan.


"Aku gak mau kamu mati."


Lia batuk lagi, agak keras sampai badannya terguncang.


Akhirnya kami sampai di depan UGD, perawat mengangkat Lia berbaring di ranjang pasien. Aku memarkir mobilku lalu lari ke UGD.


Saat aku tiba di UGD, dokter sedang memeriksa dan memberi beberapa pertanyaan pada Lia.


"Tidak apa-apa. Hanya radang tenggorokan. Nanti saya kasi antibiotik dan obat demam." ujar dokter


"Rawat inap saja." usulku


"Tidak perlu. Tunggu infusnya habis, sudah boleh pulang. Kalau tiga hari demam belum turun baru cek darah." jelas dokter lalu pergi memeriksa pasien lain.


"Kita ke rumah sakit lain saja."


"Gak mau. Kamu bisa tenang gak sih?" Lia batuk lagi.


***


"Bibi bisa jaga Non Lia loh. Tuan tenang aja deh." Bi Nia menepuk punggung ku.


"Emi juga bisa." sahut Emi yang baru masuk kekamar membawa air jahe.


Akhirnya aku nyerah dan berangkat kerja dengan perasaan tidak tenang. Perasaan ku campur aduk. Entah khawatir karena dia sakit atau karena takut dia akan mengatakan hal yang tidak seharusnya selagi aku pergi.


Aku tidak bisa konsentrasi menangani dokumen-dokumen yang ada di meja. Kepalaku terus terbayang wajah pucat Lia. Masa bodo, aku harus pulang sekarang. Aku menitipkan beberapa pekerjaan pada Katrine dan meninggalkan kantor.


Setengah jam kemudian aku sudah sampai rumah. Emi, Ibu dan Lia sedang nonton drama di televisi.


"Kok cepat banget pulang?" tanya Ibu khawatir ketika melihat aku muncul dengan wajah tegang.


Aku melihat ke arah Lia. Wajahnya sudah tidak pucat dan sepertinya sudah tidak selesu tadi pagi.


"Kakak bucin banget Ama Lia." ejek Emi.


Emi tampak ceria seperti biasa, Ibu juga tidak kelihatan seperti habis mendengar kabar yang mengejutkan.


"Non Lia hanya tidak selera makan. Tapi demamnya sudah turun." lapor Bi Nia tersenyum penuh arti.


Aku bernafas lega, semuanya baik-baik saja.


"Kalau aku sakit, Tony bisa kayak kakak gak ya?" tanya Emi tiba-tiba.


"Kalau sempat Tony juga seperti kakakmu, ayah akan capek bekerja sendiri." ejek Ibu "Tau gak tadi ayah menelepon? Katanya kamu tiba-tiba pulang karena ada masalah di rumah. Katrine gak tenang karena persoalan di rumah jadi menghubungi sekretaris Ayah."


"Aku akan menelepon Ayah menjelaskan." kata ku lalu naik ke kamar.


Perasaan ku lega tapi ada sedikit ganjalan. Benarkah Lia sudah merelakan Tony atau sebenarnya dia sedang merencanakan sesuatu. Jika ingin membuat Tony kembali padanya bukankah dengan mengatakan kebenaran akan lebih cepat? Sebenarnya apa ya g sedang dipikirkan Lia.