Second Change

Second Change
Chapter 23



Sehari setelah pernyataan cinta yang dramatis itu David kembali menjadi seperti biasa. Dingin dan tidak bisa di tebak. Pagi-pagi aku pamit dengan Ibunya dan Bibi Nia karena akan kembali tinggal di apartemen. David mengangkat koperku yang isinya adalah baju-baju lama Emi yang tidak dipakai lagi. David awalnya tidak setuju aku menerima baju bekas Emi. Tapi aku ngotot mau menerimanya. Mungkin karena itu juga dia menjadi dingin lagi padahal baru menyatakan cinta.


Tapi kalau dipikir-pikir, sepertinya bukan pernyataan cinta. Dia tidak bilang suka apalagi cinta. Dia hanya menyuruh ku melihat apakah dia pantas kucintai atau tidak. Egois sekali. Apakah dia juga seperti Tony yang hanya ingin menerima cinta dari seseorang dan jika sudah didapatkan maka aku akan di buang lagi.


Kali ini aku tidak akan tertipu lagi. Orang yang punya kekuasaan dan kekayaan seperti dia bisa saja mendapatkan perempuan cantik manapun. Perempuan yang tidak punya apa-apa seperti ku hanya cocok untuk dijadikan mainan dia. Setelah selesai bersenang-senang, maka akan disingkirkan tanpa meninggalkan sedikit pun rasa bersalah.


Jijik


Teringat kata Tony kepada David.


Aku yang sebelumnya di sayang, akhirnya akan menjadi jijik bagi mereka. Lebih baik David membuangku saja daripada kembali mempermainkan ku. Aku tidak ingin diseret lagi ke neraka.


David meninggalkanku di apartemen lalu dia pergi kerja. Aku memasukan koper ke kamar ku yang lumayan pengap karena tertutup selama beberapa hari. Jadi, aku memutuskan untuk bersih-bersih hari ini.


Mulai dari kamar mandi, kamarku, kamar David, ruang tamu lalu terakhir dapur. Aku membuka kulkas dan mengeluarkan semua isinya dan memasukkan kembali bahan-bahan makanan yang masih layak di gunakan. Hasilnya tidak banyak yang tersisa.


Ketika aku merebahkan diri di sofa ruang tamu, ternyata sudah pukul tiga sore. Pantas saja aku capek dan lapar. Aku memutuskan untuk memaksakan diriku pergi keluar mencari makanan sekalian membeli beberapa bahan masakan sebelum pulang. Aku masuk ke kamar untuk mengambil handphone dan dompet lalu memasukkannya ke dalam tas selempang kecil. Dari dalam tas terdengar suara gemerincing. Aku meraih sumber suara itu dan ternyata adalah kunci rumah ku.


Tiba-tiba terbersit keinginan untuk coba kembali kesana. Aku duduk termenung selama beberapa menit memikirkan kemungkinan yang akan terjadi.


Mungkin aku akan langsung kepergok oleh ibu-ibu tetangga dan mereka kembali mengeroyok ku. Yang muncul di dalam pikiranku hanyalah kemungkinan-kemungkinan terburuk. Tidak ada sedikit harapanpun akan di terima lagi di lingkungan itu.


Aku meninggalkan kunci itu di meja nakas dan mengenyahkan keinginanku untuk kembali. Aku tidak punya keberanian untuk menghadapi kejadian saat itu lagi. Aku malu dan sakit memikirkan bagaimana aku di maki dan di fitnah di tempat umum. Kalau aku kembali untuk menjelaskan, mereka juga tidak mungkin akan percaya.


Jadi saat ini aku tidak punya pilihan selain terjebak dengan David. Aku harus lebih menguatkan diri dan waspada agar tidak terulang kejadian dengb Tony lagi.


***


Aneh rasanya makan sendirian di warteg. Dulu aku terbiasa makan sendirian di rumah. Setelah kehadiran Tony, aku tidak pernah lagi makan sendirian. Dan bisa di bilang ini pertama kalinya aku makan di tempat umum sendirian. Aku menertawakan diri ku yang sepertinya ditakdirkan untuk kesepian.


"Tinggal dimana dek?" tanya ibu pemilik warteg yang sedang membersihkan meja di sebelah ku. "Kayaknya gak pernah nampak."


Aku tersentak karena tiba-tiba di sapa. "Anu, Bu. ehm. Aku tinggal di situ."


Aku buru-buru mengelap mulutku seraya menunjuk gedung tinggi di seberang.


"Apartemen itu? Yang mahal itu?" tanya ibu itu takjub melihat ke arah aku menunjuk.


"Iya Bu. Gak tau itu mahal atau tidak." jawabku canggung


"Iya, itu mahal. Tapi kok kamu makannya di warteg?" Ibu itu mengernyitkan dahinya sambil mengamatiku apakah aku sedang berbohong atau tidak.


"Aku hanya numpang tinggal Bu. Tempat teman."


"Oh.. Pantas. Yang tinggal di sana semuanya konglomerat. Sanggup beli pun belum tentu diijinkan beli." oceh ibu itu sambil mengacak pinggang


"Kenapa begitu Bu?" tanyaku jadi penasaran


"Karena yang tinggal di situ hanya orang-orang yang berpengaruh. Kayak Mentri, artis, konglomerat. Kalau kayak pengusaha-pengusaha kaya tapi gak punya pengaruh, gak akan mungkin bisa tinggal disitu." Ibu itu mengangkat piring kotor sambil menggeleng-geleng.


"Teman kamu itu apa?" tanyanya


"Hmm." Aku gak tau apa-apa tentang David. "Konglomerat."


Aku menebak yang paling mendekati. Aku pernah ke kantornya dan sepertinya bukan kantor menteri atau artis.


Ibu itu berlalu sambil mengangguk-angguk. Mungkin tidak percaya apa yang kukatakan. Tapi memang sulit dipercaya, penampilanku tidak tampak seperti punya teman konglomerat.


Kaos oblong, celana keper selutut, sandal karet, dan tidak memakai perhiasan apapun. Mungkin ibu itu lebih percaya kalau ku bilang sebenarnya aku bekerja di rumah seorang konglomerat. Aku tertawa dalam hati. Menertawakan diriku sendiri.


Aku membayar makananku lalu berjalan di sekitar warteg. Tak jauh dari sana ternyata ada toko kelontong kecil. Aku masuk dan membeli beberapa kebutuhan dan terakhir aku mengambil salah satu es krim dari freezer. Aku duduk di bangku panjang depan warung, makan eskrim sambil mengamati beberapa anak-anak sedang bermain kelereng. Ketika mereka tertawa, tanpa sadar aku ikutan bahagia seolah-olah aku adalah bagian dari mereka. Sudah lama tidak merasakan suasana seperti ini. Sederhana, ceria, seru, dan kebersamaan.


Eskrim yang ku beli tadi sudah lama habis dan anak-anak sudah mulai bubar. Tak terasa matahari mulai terbenam dengan cepat. Aku berlari kecil di jalan kecil ini karena warung-warung sudah tutup dan sekeliling mulai sepi. Beberapa menit kemudian aku sudah sampai di jalan besar dan akhirnya bisa bernafas lega. Jalanan kecil yang sepi biasanya rawan dengan perampok atau begal. Aku mengatur nafas yang tersengal sambil berjalan perlahan di samping trotoar yang di terangi lampu jalan berwarna kuning. Jalanan di sini mulai rame dan ada beberapa gerobak yang berjualan di samping trotoar. Aku berhenti di gerobak nasi goreng dan membeli dua bungkus. Satu untukku dan satu untuk David.


Saat ini David mungkin sudah pulang ke apartemen dan pasti sudah lapar. Aku mempercepat langkahku dan akhirnya sampai di bawah gedung apartemen. Tak sampai lima menit, aku sudah di depan pintu dan menekan nomor pin di bawah kenop. Sebelum aku selesai menekan angka terakhir, pintu tiba-tiba di buka dengan cepat.


"Kamu kemana?" matanya berkilap marah.


Aku mengabaikannya dan masuk melewatinya. Pintu di banting di belakangku.


"Aku beli nasi goreng untukmu." kataku sabar


"Aku tanya kamu kemana dari tadi?" tanyanya lagi.


Kali ini dia menarik tanganku sampai sendok-sendok jatuh berdentingan di lantai.


"Bisa lihat kan? Aku belanja dan sekalian beli nasi goreng untukmu." jawabku kesal


Aku menepis tangannya kuat dan melotot padanya. Laki-laki aneh. Ngapain semarah itu.


"Kenapa gak angkat telepon?" tanyanya ketus


"Hp ku di tas. Silent." balasku sambil berlalu


Tapi David kembali menarik tanganku dengan kasar.


"Aku khawatir tahu gak?" rahangnya mengeras.


"Gak." lawanku.


"Setidaknya jawab telepon!" bentaknya


"Kayaknya kamu gak perlu marah-marah kek gitu deh. Kan uda ku bilang handphone ku silent. Kalau gak dengar, gimana bisa jawab panggilan kamu? Lagi pula ngapain kamu sok khawatir gitu? Kita bukan siapa-siapa lagi. Drama sudah selesai kan?" omelku sambil duduk di meja makan.


"Kita pacaran." katanya setelah terdiam beberapa detik.


Tanganku yang hendak membuka karet bungkusan nasi goreng juga ikut terhenti. Mencerna sesaat apa yang di katakan David. Maksudnya kita sedang pacaran atau sedang mengajakku pacaran?


"Hah?" hanya ini yang bisa keluar dari mulutku.


"Ku bilang kita pacaran." tegasnya.


Sinar matanya tidak kelihatan sedang bercanda dan malahan tampaknya seperti sedang menagih hutang.


"Sejak kapan?" tanyaku


",Mulai sekarang."


David menarikku dengan kasar untuk kesekian kalinya sampai kursi yang kududuki terpelanting di lantai. Dia mendekap ku. Mungkin lebih tepatnya memelukku. Aku membiarkan kepalaku bersender di dadanya sekitar tiga puluh detik dan melepaskan diri dari pelukannya.


"David. Aku mau jujur."


Tenggorokanku kering karena gugup. Aku tahu apa yang dipikirkan David. Jika kuteruskan, dia hanya akan menjadi seperti Tony kedua. Aku tidak bisa. Tidak mau terulang lagi.


"Aku tidak menyukaimu. Tapi aku tahu jika aku menolakmu, aku akan kehilangan semuanya. Mungkin kamu juga tahu kalau begitu aku mengangkat koper keluar dari pintu apartemen ini, aku akan resmi menjadi homeless. Aku juga tahu kalau kamu memanfaatkan kondisiku sekarang untuk mempermainkanku."


Aku bernafas panjang dan berusaha tegar. Mungkin kata-kataku ini terlalu ceroboh, mengingat kondisiku yang sedang tidak menguntungkan. Mungkin aku akan menyesal sebentar lagi. Mungkin saja David akan tersinggung lalu mengusirku tanpa koper.


"Aku bukan Tony. Jangan samakan aku dengan dia."


Dia mendengus. Raut wajahnya seperti terfitnah.


"Memang kamu bukan dia. Tapi suatu hari kamu akan seperti dia yang menganggapku menjijikkan."


Hatiku serasa diremas ketika adegan itu terulang lagi di otakku.


"Aku tidak akan begitu." Belanya


"Seperti yang Tony bilang, setiap kita bercinta, kamu akan selalu ingat dia. Kamu akan selalu terbayang dan menerka-nerka bagaimana Tony melakukannya padaku. Dan itu akan selalu ada di otakmu berputar terus menerus sampai akhirnya kamu nyerah. Lalu yang tersakiti itu aku." Aku menarik nafas. "Maaf David, aku gak mau lagi. Aku lebih memilih menjadi homeless, mati di jalanan lebih baik dari pada rasa sakit yang akan kamu tinggalkan untukku."


"Aku gak tahu mau bilang apa agar kamu percaya. Tapi aku akan membuktikan kalau aku serius padamu."


"Bagaimana caramu membuktikannya?" tantangku


"Dengan begini."


David menarik kepalaku dan menciumku dengan ritme yang cepat. Tubuhnya menuntun kakiku mundur menuju koridor. Punggungku menabrak dinding selagi David mulai melepas kemejanya.


David akan menyesal. Ini akan menjadi mimpi buruk baginya. Mungkin juga adalah awal dari mimpi burukku yang panjang.