
Beberapa hari setelah Vivi keluar dari rumah sakit, aku mendapat kejutan di asrama. Sebuah amplop mewah dengan segel lilin berwarna kuning keemasan di antar oleh seorang laki-laki bersetelan jas dan bertampang dingin. Aku bertanya dari siapa tapi dia langsung pergi begitu saja. Aku membolak balik amplop tersebut tapi tidak menemukan petunjuk selain logo di lilin tersebut. Dan tentu saja aku tidak tahu logo seperti kelopak bunga ini pertanda berasal dari mana. Aku memantapkan diri untuk membuka dan melihat isinya. Aku mengeluarkan selembar kertas putih berlipat dua yang penuh dengan tulisan.
Dear Lia, sahabat baru ku.
Terima kasih sudah menangis untukku dan mengkhawatirkanku, terima kasih telah mengantarkan aku ke rumah sakit dan tidak meninggalkan aku. Terima kasih sudah menjaga dan merawatku dengan penuh kasih dan kesabaran. Kamu telah menunjukkan padaku arti dari teman seperti saudara. Aku tidak punya siapa-siapa di sini. Tidak punya teman juga di fakultasku. Tapi kini Lia adalah teman, sahabat sekaligus saudari ku. Datanglah padaku kapan saja jika kamu memerlukan sebuah pelukan hangat atau teman bicara. Oh ya, aku punya sedikit hadiah untukmu. Aku mengundangmu makan malam di rumah dan kota tempat aku di lahirkan. Tempat yang indah dan bisa menciptakan kenangan tak terlupakan bersama orang yang kamu sayangi.
Salam Hangat
Fujiwara Vivi
Aku membaca surat itu bolak balik dua kali. Belum selesai tercengang, aku mengeluarkan sebuah undangan dari dalam amplop. Ada tulisan berbahasa jepang di sana. Ada alamat, foto, tanggal dan jam tertera di sana. Ini beneran undangan ke keluarga kerajaan? Jantungku berdegup kencang. Panik sampai aku tidak bisa duduk diam. Aku mondar mandir mencari solusi. Di saat seperti ini, David tahu apa yang harus di lakukan.
"Akibat dari terlalu kepo yah gini, Lia. Kamu harus terbang ke Jepang kamis depan." ucap David ketika aku menunjukkan undangan itu padanya. "Itu undangan resmi dari keluarga kerajaan. Kamu rasa pantas gak kalau kamu tidak pergi?"
"Tapi kamu kok kedengarannya kayak marah sih?" tanyaku tidak senang
"Aku panik, Lia. Karena aku harus segera menyelesaikan presentasi ini agar bisa menemanimu ke Jepang."
"Kamu menemaniku ke Jepang? Dave kita tidak boleh jumpa sampai aku wisuda."
"Jadi bagaimana dong?" ujarku makin panik.
Beneran aku akan pergi ke Jepang bareng David? Beneran kami akan melanggar kesepakatan kami demi memenuhi undangan ini. Tapi jika aku tidak pergi dengan David, apakah aku bisa pergi sendiri? Atau aku mencari orang lain selain David untuk berangkat bersamaku. Sekejap otakku kosong dan tidak bisa berpikir siapa sebaiknya yang ku ajak. Hati kecilku berharap aku bisa pergi bersama David. Walaupun hanya sehari. Walaupun setelah makan malam itu kami harus berpisah lagi. Walaupun hanya satu jam. Aku ingin melihat David secara langsung. Aku ingin menyentuhnya. Aku ingin menyentuh wajahnya, mengusap bulu-bulu halus yang baru tumbuh di wajahnya. Memeluk dia erat, mencium wanginya. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan kepadanya.
Tapi aku takut setelah melihatnya, aku menjadi serakah. Aku ingin dia lebih lama bersamaku. Aku takut menjadi manja dan merengek padanya. Aku takut kami sama-sama berubah pikiran dan mengenyahkan semua kesepakatan kami.
"Aku akan menemanimu. Katrine akan mengurus segalanya. Sampai jumpa di Narita, Lia."
Percakapan kami terputus dengan keputusan sepihak David. Aku duduk di pinggir tempat tidur kamar asrama sambil mencerna kejadian ini. David benar, aku segan untuk menolak undangan Vivi. Tapi aku juga tidak berani pergi sendiri ke negeri yang aku tidak mengerti bahasanya. Tidak ada kandidat lain yang bisa ku harapkan selain David. Tapi tidak apakah kami melanggar kesepakatan ini? Apakah ini akan menjadi pelanggaran satu-satunya atau awal dari pelanggaran yang lain.
Atau, inikah alasan mengapa David tidak jadi menandatangani kontrak yang kami buat bersama? Mungkinkah David sudah perkirakan kalau kejadian seperti hari ini kemungkinan akan terjadi? Dia ingin melindungiku tanpa halangan tapi tetap menghargai keputusanku. Aku tersenyum dan tersentuh akan keputusan David. Kenapa baru sekarang aku menyadarinya.
Baiklah, sampai jumpa David.
Terima kasih atas undangannya, Vivi. Aku janji akan mengukir kenangan indah yang tak terlupakan di kesempatan yang kamu berikan ini.