
Seisi rumah menganggap aku dan Tony sangat harmonis dan romantis. Ibunya bahkan sudah merencanakan pernikahan kami setelah Emi menikah.
Terserah.
Sebelum itu terjadi, aku akan sudah berada di suatu tempat bersama Tony. Di tempat yang tidak ada seorangpun mengenal kami.
Yang harus aku lakukan saat ini adalah menelepon Tony dan mengutarakan rencana ku. Iya, aku sudah berhasil mendapatkan nomor baru Tony.
"Kalian sering ngobrol gak?" tanya ku pada Emi tadi malam di kamarnya
"Lumayan sih, tapi dia rada-rada dingin gitu. Makanya aku tidak tenang." ujarnya sambil menghela nafas
"Dingin gimana sih? Bole aku lihat chatingan kalian?" pintaku penasaran.
Yes, Emi yang polos langsung menunjukkan padaku. Aku pura-pura membaca percakapan mereka tapi diam-diam sudah menghapal nomor handphonenya.
Dari cerita Emi tentang hubungan dia dengan Tony, bisa kusimpulkan kalau Tony tidak punya perasaan padanya. Ingin sekali rasanya menunjukkan pada Emi, percapakan dua orang yang saling mencintai itu bagaimana. Dan memamerkan foto-foto mesra kami. Selamanya Emi tidak akan tahu kalau Tony pintar bermain gitar dan suara nyanyiannya merdu.
Suasana di meja makan hari ini lumayan ramai. Emi terus-menerus menceritakan persiapan pernikahan dia. Rencana bulan madu akan ke jepang dan mengunjungi pulau-pulau di sana.
"Kamu mau jadi kru National Geographic atau bulan madu?" ejek Ibunya seraya menertawakannya.
"Ihhh, Ibu.." rengeknya.
"Lia, besok kalau kamu sudah sehat, temani aku fitting baju yah. Sekalian aku akan carikan gaun yang cantik untuk mu." ujar Emi semangat
"Lia masih harus istirahat besok." pinta David.
Orang-orang di ruang tamu terdiam saling pandang-pandangan penuh arti.
"Apa kata dokter?" tanya Ayahnya dengan suara berat.
"Tidak apa-apa. Hanya radang tenggorokan." jawab ibunya dengan suara yang menenangkan.
"Pergilah temani Emi." Perintah Ayahnya.
"Baik Paman." jawabku sopan.
Emi melirik aku dan kakaknya bergantian. Seperti sedang memberiku kode untuk melihat kakaknya yang duduk di sebelahku.
Aku menoleh dan wajah David menegang sambil makan dan sesekali mendengus menahan marah. Emi masih melirikku sambil terus memberiku kode. Akhirnya aku mengerti maksudnya. Emi menyuruhku membujuk David.
Aku meletakkan sendokku dan mengambil sendok dari tangan David. Lalu aku meletakkan tangannya di dahiku.
"Aku sudah sembuh. Gak usa khawatir yah." ucapku dengan senyuman palsu
Wajah David yang tadinya menegang sekarang berubah canggung.
"Besok Ibu juga ikut." Sela Ibunya. "Akan ku jaga Lia baik-baik."
David mengangguk pelan dan melanjutkan makannya. Wajahnya sudah berubah seperti biasa. Emi tersenyum puas padaku. Aku membalas senyumnya. Satu-satunya orang yang tampak tidak senang adalah Ayahnya. Tapi aku gak peduli. Ini tidak akan lama.
"Apa yang sedang kamu rencanakan?" tanya David saat di kamar.
"Rencana apa?" Tanyaku sambil meletakkan bantal di sofa.
"Aku gak percaya kalau kamu sudah nyerah." tanyanya mendekatiku.
"Itu urusanmu." aku duduk di sofa lalu mengeluarkan buku catatan dari tas kuliahku.
David menarik buku dari tanganku. "Katakan padaku kalau kamu sudah menyerah."
Aku melotot padanya dan hendak merebut kembali bukuku tapi dia mengelak.
"Katakan!" desaknya.
"Aku mencintainya." tegasku
David melempar bukuku ke dinding lalu mengguncang bahuku marah.
Aku menatap matanya dengan berani. Aku sudah tidak takut lagi pada David. Aku harus lebih tegar dari sebelumnya. David tidak akan benar-benar membunuhku atau menyakitiku. Dia palingan hanya berani mengancamku atau bertindak kasar padaku seperti sekarang ini.
"Lepaskan aku David." kataku dingin.
Aku menahan untuk tidak meringis ketika dia meremas bahuku kuat.
"Kamu hanya sedang menyakiti dirimu sendiri, tau gak? Tidak bisakah kamu merelakan dia?" David sudah tidak begitu emosi lagi.
Dia terduduk di sampingku, merebahkan punggungnya di sofa.
"Emi punya jantung yang lemah sejak kecil." David tiba-tiba bercerita. "Aku sangat sayang pada dia. Pernah sekali saat aku masih sekolah dasar, aku melihat Emi yang masih dua tahun dilakukan tindakan pompa jantung oleh dokter yang berbadan besar. Aku menjerit dan nangis sekuat tenaga bersama Ibu karena aku mengira mereka sedang menyakiti Emi yang kecil dan tidak bergerak. Aku baru tahu sebenarnya mereka sedang menyelamatkan Emi yang sudah tidak bernafas."
David menghela nafas sambil menengadah, matanya berkaca-kaca.
"Saat itu aku berdoa, jika Emi sembuh aku akan menjaganya dan memberikan semuanya yang terbaik untuknya. Menjadi kakak yang bisa di andalkan untuknya." David mengucek matanya sejenak. "Tanpa disadari ternyata dia sudah akan menikah dengan cinta pertamanya."
"Cinta pertama?" tanyaku menyela
"Tony dan Emi bersekolah di sekolah yang sama. Ketika Tony kuliah di Harvard, Emi mati-matian memohon pada kami agar di perbolehkan kuliah disana juga. Padahal dia baru saja memasang ring di jantungnya. Saat dia akhirnya akan menikah dengan Tony, aku orang pertama yang tidak setuju karena aku tahu riwayatnya. Pemabuk yang suka main perempuan. Perempuan yang dia tiduri sudah tidak bisa dihitung lagi. Tidak bekerja dan selalu sembunyi di hotel orang tuanya."
Hatiku tersentak mendengar ceritanya. Tanganku gemetar tanpa alasan.
"Saat pertama kali bertemu denganmu di bar, aku sedang membujuknya untuk membatalkan pernikahan." David menoleh padaku. "Tahu apa yang dikatakannya?"
"Kamu sedang mengarang?" tanyaku.
Aku meremas tanganku yang gemetar. Sebenarnya aku takut untuk mendengarnya.
"Aku akhirnya sudah merasakan cinta. Selanjutnya aku akan hidup untuk keluargaku." Kata David. "Dia tidak mau membatalkan pernikahan dan akan mengikuti apa yang telah diatur keluarganya. Akhirnya demi kebahagiaan Emi, aku kan memastikan mereka menikah dan Tony bisa komitmen."
"Sudah merasakan cinta?" tanyaku pelan.
Aku mengusap air mata yang menumpuk di kelopak mataku.
"Itu cerita kalian."
Aku mengusap lagi air mataku yang jatuh tak terbendung lagi.
"Tapi Emi juga mencintainya." isakku
"Emi tidak pernah punya keberanian mendekatinya apalagi menyatakan cinta. Selama ini hanyalah cinta sepihak Emi."
David bangkit dan mengambil bantalku.
"Hari ini tidurlah di tempat tidur." ujarnya
Aku masih mencerna apa yang barusan di katakan David. Masih banyak pertanyaan yang berputar di otakku.
"Apa yang selama ini di alami Tony?" tanyaku
David menarik tanganku menjauhi sofa. "Sudah pernah kuceritakan padamu kalau dia adalah anak yang tidak diinginkan di keluarganya dan pernikahan ini hanyalah sebuah proyek kerja sama. Tony adalah tumbal keluarganya. Kakak-kakaknya yang lain sudah mempunyai perusahaan raksasa masing-masing. Hanya Tony yang tidak punya apa-apa. Dengan kata lain, beban keluarga yang hanya tahu cara menghamburkan uang."
David membaringkan aku di tempat tidur. Lalu dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Obat yang kuminum membuatku tak bisa menahan kantuk. Aku menutup mataku sambil menangis dan tertidur sebelum David keluar dari kamar mandi.
Tengah malam, aku terbangun di dalam dekapan seseorang. Aku membuka mataku sedikit dan menengadah pelan. David sedang memelukku. Kenapa? Kenapa dia tidur di sampingku?
Detik berikutnya, David bergerak dan aku kontan memenjamkan mata. Dia meletakkan tangannya di dahiku beberapa saat untuk memastikan suhu ku. Setelah itu dia mengelus rambutku pelan. Mungkinkah aku sedang bermimpi? Tapi ini terlalu nyata untuk sebuah mimpi. Walaupun mataku terpenjam, aku yakin saat ini dia sedang mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku bisa merasakan nafasnya yang hangat.
Hidung kami bertemu.
Jantungku berdebar karena takut. Walaupun David membenciku, biar bagaimanapun dia adalah laki-laki. Dia bisa saja me... me... melecehkan aku. Akhirnya bibir kami bertemu. Aku menjerit dalam hati. Aku menahan nafas. Apakah aku harus tetap pura-pura tidur atau memergokinya?
Sebelum aku sempat memutuskan, David sudah menjauh tapi kembali mendekapku. tenggorokan ku tersedak, seketika aku terbatuk-batuk. David menepuk-nepuk punggungku. kurang dari semenit, batukku berhenti.
Mata kami bertemu dan terpaku. Sama-sama canggung dan tidak tahu harus bagaimana.
Aku membalikkan badanku membelakangi dia. Lengan David masih terselip di bawah bantalku. Aku mengangkat kepalaku dan menggeser tangannya. Lalu tidur seolah-olah tidak terjadi apa-apa.