Second Change

Second Change
Chapter 12



Aku terkejut bangun dari tidurku. Di teras rumahku sepertinya terjadi kegaduhan. Ribut sekali di luar sana, mereka juga menggedor-gedor pintu ku dengan kasar dan tidak sabaran. Aku turun dari tempat tidur dan membuka pintu.


Sekelompok om-om dan tante-tante yang sama sekali tidak ramah melotot padaku. Aku di tarik paksa oleh tante-tante ke jalanan. Aku terus-terusan bertanya ada apa tapi mereka terus memaki-maki aku perempuan ******, tak tahu malu, dan kata-kata kasar lainnya. Aku menangis ketakutan sampai di rumah pak lurah.


Aku ditolak sampai terjatuh di lantai.


"Amelia, kamu tiap hari tengah malam baru pulang. Semalam juga kamu subuh di antar pulang sama laki-laki. Kamu sudah buat malu kelurahan kita. Sebelumnya juga kamu tinggal dengan laki-laki. Sangat tidak pantas lagi kamu tinggal di sini."


"Lihatlah Pak. Yah tuhan..."


Tante-tante itu menarik kerah baju ku dan memampangkan bekas-bekas merah akibat kejadian dengan Tony tadi malam. Aku tahu sudah tidak bisa mengelak biar bagaimanapun aku jelaskan. Semua skenario fitnahan sudah tersusun rapi.


"Kami tidak mau mengarakmu. Jadi secepatnya pindahlah dari sini. Kalau besok kamu masih disini, kami akan mengarak dan mempermalukanmu."


Aku hanya menunduk dan menangis. Kenapa jadi seperti ini? Apakah aku tidak berhak bahagia? Tidak seperti yang mereka katakan. Aku bukan perempuan ******. Aku bukan perempuan yang tidak tahu malu. Aku ingin menyobek-nyobek hatiku yang sakit ini. Tidak ada seorang pun disini yang mau mendengarkan aku. Tidak ada yang bertanya sebenarnya apa yang terjadi padaku. Apa yang kulakukan selama ini untuk bertahan hidup. Kini mereka membuangku. Tony juga membuangku. Papa dan Mama juga pergi meninggalkanku.


Aku menelepon Cindy. Setengah jam kemudian dia datang bersama dengan Kak Jay.


Aku sedang menyusun baju dan barang-barang yang kubutuhkan. Air mataku tidak mau berhenti mengalir biar bagaimana aku berusaha untuk berpikiran positif. Seolah-olah tidak ada hal positif lagi yang bisa kupikirkan. Aku terlalu hancur untuk berusaha.


Cindy memelukku dan menangis bersamaku. Cindy bertanya siapa yang melecehkanku tadi malam. Aku menceritakan semua padanya.


"Tony Kamandaka?" tanya Kak Jay tiba-tiba.


"Entahlah aku tidak pernah nanya nama belakangnya. Aku kira hanya itu namanya." isakku.


"Punya foto?"


Aku menunjukkan album foto di handphone pada Kak Jay. Wajah Kak Jay menegang, raut wajahnya tidak bisa di tebak.


"Kakak kenal?" tanya Cindy


"Dia salah satu pemilik bar kita." ujarnya pelan "Dia dan dua teman lainnya membangun bar ini dan beberapa bar and lounge di beberapa hotel juga."


Wajahku mendadak dingin. Otakku terasa kosong diikuti perutku yang menegang. Tony bukanlah pengamen. Aku di tipu. Tapi kenapa?


"Lia, jangan dipikirkan dulu. Sadar Lia. Tidak apa-apa. Masih ada aku dan Kak Jay. Kami akan membantumu." Cindy panik melihat perubahan wajahku yang mendadak kaku.


Bukan aku tidak mau bergerak. Tapi tidak bisa. Aku tidak sanggup. Aku sedang menflashback pertemuan pertamaku dengan Tony, sampai akhirnya kami tinggal bersama, kami pacaran, sama-sama berusaha mengejar mimpi kami masing-masing. Bagaimana keseharian kami yang harmonis, damai dan manis. Tony yang romantis, Tony yang perhatian, Tony yang sangat membantuku, Tony yang selalu ada saat aku kesusahan. Tapi kata Kak Jay, Tony adalah pemilik bar yang bukan hanya satu. Artinya Tony bukan orang susah. Tony adalah orang yang berkecukupan bahkan kaya raya. Tapi apa yang membuat dia melakukan ini semua selama setahun bersama ku? Lalu tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan apapun. Mengapa tadi malam dia melakukan hal seperti itu padaku lalu kemudian membuangku?


Ada satu lagi.


Laki-laki yang ingin menghajarnya mengatakan kalau Tony akan menikah dengan adik perempuannya.


Menikah...


Ini adalah salah satu impianku.


Kak Jay meminta Cindy untuk memeriksa barang bawaanku. Setelah memastikan sudah tidak ada lagi yang perlu di ambil, Kak Jay menggendongku masuk ke mobilnya. Cindy memelukku di sepanjang perjalanan.


"Lia, maaf aku gak bisa mengajakmu ke rumahku. Aku tinggal bersama orang tua, paman dan nenek. Aku tidak ingin kamu di kritik oleh mereka. Maaf yah Lia." jelas Cindy yang masih memelukku.


"Kita kemana?" tanyaku lemah dan suaraku serak.


"Kamu tinggal di rumah Kak Jay dulu untuk sementara sambilan mencari tempat tinggal yang baru. Tapi tenang aja, Kak Jay sementara akan tinggal di bar."


"Tapi aku khawatir dengan kondisi Lia. Kalau gak keberatan, aku akan di rumah menemani Lia. Hanya untuk memastikan Lia baik-baik saja."


"Tapi kak..."


"Gak apa-apa Cin. Aku uda terbiasa tinggal dengan laki-laki. Sampai mereka bilang aku perempuan murahan, tidak tahu malu, perempuan ******. Kak Jay sudah begitu baik memberiku tempat tinggalnya, gak mungkin aku biarkan Kak Jay tinggal di kamar bar yang sempit." kataku dingin


"Aku tidak akan berbuat macam-macam." ujar Kak Jay.


***


Kalau kalian kira aku akan depresi di dalam kamar, meratapi nasib ku yang malang, mempertanyakan sejuta pertanyaan kepada diriku sendiri, kalian salah.


Situasi yang mirip seperti ini sudah pernah aku alami ketika kehilangan Papa dan Mama. Aku pernah bangkit kembali, sekarang juga aku akan bangkit lagi. Cindy terkejut ketika melihatku ke kampus pagi ini. Aku sudah tidak menangis lagi hari ini.


"Aku sudah dapat informasi tentang Tony dari Kak Jay." ujarku pada Cindy saat perpindahan kelas. "Hari ini Tony akan ke bar lagi. Aku akan kesana menjumpainya."


"Bagaimana caranya? Kamu sudah tidak bekerja disana lagi kan?" tanya Cindy yang ngeri dengan rencana ku.


"Uangku cukup untuk membeli tiket VVIP." kataku "Saldo di rekeningku tiba-tiba bertambah banyak. Pasti Tony yang mengirimnya karena merasa bersalah."


"Kamu yakin akan kesana? Bagaimana kalau dia.. itu... kamu lagi?" tanya Cindy terbata-bata


"Aku gak takut, Cin. Aku ingin minta penjelasan darinya. Aku ingin tahu kenapa dia yang sudah punya segalanya masih mau mempermainkan aku? Masih banyak yang aku tidak mengerti."


"Btw, tas ini beneran Hermes dong." ujarnya


Kami sama-sama berhenti seketika sambil pandang-pandangan.


"Apa aku jual aja ke Grace? Bukannya kemarin dia bilang mau?"


***


"Aku takut Tony akan kalap lagi melihat penampilanmu." ucapnya takut-takut.


"Aku bisa melindungi diri. Kali ini dia tidak akan bisa menyentuhku lagi." ucapku.


Kami kemudian singgah di salon untuk merapikan rambutku dan menatanya. Lalu wajahku juga di makeup dengan hasil yang sangat natural. Kini aku sudah pantas menjadi seorang pengunjung VVIP. Bahkan anak- anak magang itu pasti tidak bisa mengenaliku.


"Kamu cantik sekali Lia. Kayaknya kamu harus sering-sering dandan kayak gini deh. Cocok banget." puji Cindy yang darj tadi memotretku dari berbagai angle.


"Aku gak bisa dandan." kataku canggung karena Cindy terus-terusan mengarahkan kameranya padaku.


"Nanti ku temani beli alat-alat makeup lalu akan ku ajari." kata Cindy bersemangat.


***


Sesuai rencana, aku saat ini sedang duduk di salah satu meja di Bar. Aku punya kartu VVIP yang artinya aku bebas berada di lantai manapun malam ini. Setelah menghabiskan dua gelas jus jeruk, akhirnya orang yang ku tunggu-tunggu pun datang. Aku melihat Tony dan kedua temannya masuk dan langsung menuju ke koridor. Mereka pasti hendak langsung ke lantai tiga. Aku bangkit dan membuntutinya. Melewati ramainya pengunjung hari ini. Saat aku belokan menuju koridor, seseorang menarikku dan mendorong aku ke dinding.


"Rupanya benar kamu si pelayan yang kemarin. Mau ngapain cari Tony lagi? Kan sudah kuperingatkan kemarin."


"Aku hanya ingin minta penjelasan dari Tony. Tolong biarkan aku menemuinya. Sebentar saja." mohon ku.


Dia menahan kedua tanganku di dinding.


"Tidak. Kamu diam disini atau pulang."


"Gak mau." seruku "Aku harus menemui Tony."


"Bagaimana caranya? Kamu kira bisa kabur dariku?" ujarnya.


Wajahnya mendekat padaku diikuti tatapan tajamnya.


"Baiklah. Aku pulang. Lepaskan aku." kataku pasrah.


Tapi bohong.


Aku melarikan diri secepat kilat di koridor dan menekan tombol lift. Kakak Resepsionis melihat ku dan mencegahku masuk ke lift yang terbuka.


"Aku punya ini." cepat-cepat aku menunjukkan kartu VVIP ku lalu cepat-cepat masuk ke dalam lift sebelum pintunya tertutup.


Sedetik setelah aku masuk, laki-laki itu menerjang masuk ke dalam Lift. Dia melotot padaku marah. Wajah marahnya sangat mengerikan, tapi aku bertekad tidak akan takut padanya. Aku yakin dia tidak akan melukai ku.


"Untuk menyingkirkanmu sebenarnya sangat gampang. Tinggal memasukkan mu ke mobil, menaikkanmu kekapal kemudian melemparmu ke tengah lautan." ancamnya


"Kamu berani?" tantangku


"Jangan maksa aku membuat pilihan."


"Kamu boleh membunuhku. Tapi setelah aku mendengar penjelasan dari Tony." balasku


"Kamu akan mati tanpa menerima penjelasan apa-apa darinya."


Pintu lift terbuka tapi dia menghadang ku. Dia mendekapku dengan sebelah tangannya dan menekan tombol satu di lift. Pintu lift terbuka dan menuju ke bawah.


"Aku serius." tegasnya


"Aku juga serius. Aku akan menunggunya. Aku gak percaya hari ini aku tidak bisa menemui Tony."


Lift terbuka dan aku langsung duduk di sofa depan meja resepsionis. Aku akan menunggu Tony disini. Walau sampai jam berapapun akan ku tunggu. Laki-laki pemarah itu tidak akan bisa ngapa-ngapain aku di tempat ramai seperti ini.


Kini dia sedang berdiri di depanku. Aku berbalik melotot padanya. Aku juga bisa marah. Kami saling melotot selama beberapa menit sampai akhirnya wajahnya memerah. Kemarahannya sudah mencapai puncak.


Dia menarik tanganku tapi berhasil ku tepis. Dia mencoba lagi tapi aku berhasil mengelak. Tidak sampai di situ. Akhirnya dia menggendongku. Seperti menggendong karung beras yang diangkat di bahunya. Aku berteriak sambil meronta-ronta tapi sama sekali tidak berpengaruh. Bahkan orang-orang sebanyak ini pun tidak ada satupun yang menggubris walaupun aku sudah berteriak-teriak minta tolong.


Aku di lempar masuk kedalam mobilnya. Aku mencoba kabur ketika dia sedang berjalan menuju pintu kemudi. Tapi sia-sia, aku tidak berhasil membukanya. Sepertinya dia punya tombol kunci yang tidak bisa dibuka dari dalam. Dia masuk ke dalam mobil dan menahan bahuku. Aku terdiam. Tubuhku gemetar. Nafasku tersengal-sengal.


Dia melototi ku sambil menarik seatbelt kursiku.


"Duduk diam atau aku memukulimu sampai pingsan." ancamnya seraya menarik seatbeltnya lalu menyalakan mesin mobil.


"Kamu mau membuangku ke laut, apa bedanya dengan sekarang kamu memukuliku sampai pingsan?" tantangku dengan suara gemetaran.


Jantungku serasa mau keluar dari kulit ku. Keringat dingin mengucur di dalam mobil yang mulai dingin karena ac. Mobilnya melaju cepat di jalan tol yang tidak begitu ramai. Aku tahu ini adalah jalan tol menuju kota lain. Mungkinkah dia beneran nekat membunuhku? Aku mengeluarkan handphone dari sakuku dan hendak menelepon polisi.


Aku ingat pernah menyimpan nomor kantor polisi, aku menekan-nekan layar handphoneku dengan jari gemetaran. Tapi handphone ku berhasil di rampas olehnya.


"Duduk diam." katanya dingin.


Dia yang berubah dingin malah lebih menyeramkan daripada ketika marah.


Aku pasrah.