Second Change

Second Change
Chapter 8



"Ton, aku pengen kerja nih." kataku saat kami sedang duduk di teras.


"Kerja? Kerja apa?" tanyanya sembari meletakkan gitarnya ke meja


"Gini, kan aku uda gak bisa jualan es. Jadi aku ingin kerja magang-magang gitu sepulang kuliah." Jelas ku hati-hati.


"Kita kan masih punya tabungan. Nanti kalau album gue dah kelar, itu bisa lunasi uang kuliah sampai lo wisuda." kening Tony berkerut tanda dia tidak suka ide kalau aku pergi kerja.


"Tapi aku kan punya biaya hidup juga. Gak mungkin kan kita tiap hari makan tahu tempe." aku menggoyang-goyangkan lengannya.


"Lo kalau mau setiap hari makan di restoran juga gue sanggup." tegasnya


"Ehm... Aku mau beli skincare mahal. Aku mau beli baju baru. Aku mau beli sepatu baru. Aku mau beli kosmetik. Trus aku mau.."


Tony menarik tanganku yang sedang menghitung.


"Beli semua yang lo suka. Kalau lo mau beli mobil dan sewa supir untuk antar lo pergi kuliah juga boleh. Atau lo mau beli rumah yang lebih gede juga bole. Asal lo mau, gue sanggup belikan semuanya untuk lo." Tony menatap mataku lekat-lekat.


Aku tersenyum dan mengecup pipinya.


"Makasih. Aku hanya bercanda. Kalau kamu gak ijinin aku kerja, aku gak pergi. Ok?"


Tony menarikku untuk duduk di pangkuannya. "Kalau lo punya keinginan, lo harus kasi tau gue, ok?"


"Keinginanku ingin kamu selalu di sampingku. Sampai kita jadi kakek dan nenek juga aku ingin duduk di pangkuanmu seperti sekarang ini."


Tony tersenyum lalu menciumku. "Gue sayang banget ama lo. Sayang banget."


***


"Lia. Maafkan gue." Tony memeluk ku di depan pintu sebelum dia menghilang di balik pagar.


Subuh sekitar jam empat telepon Tony berdering dan Tony mendadak tegang sesaat setelah mengangkat panggilan itu. Setelah telepon pertama itu, telepon Tony terus berdering tanpa henti. Tony buru-buru mengganti bajunya, mengambil handphonenya dan memakai sepatunya. Teleponnya terus berbunyi padahal Tony sudah berkali-kali mengangkat telepon. Isinya semua sama yaitu telah terjadi sesuatu dengan Ayahnya.


"Boleh aku tahu apa yang terjadi?" tanya ku setelah punya kesempatan untuk bertanya saat Tony sudah selesai memakai sepatu.


"Bokap gue kritis. Gue harus pulang."


Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Tidak sempat bertanya apakah aku boleh ikut? Tidak sempat bertanya rumah Ayahnya dimana. Tapi aku yakin setelah situasi sudah lebih tenang, Tony pasti akan menghubungi ku. Saat ini mungkin lebih baik aku tidak mengganggunya. Mau bagaimanapun Tony sepertinya sudah setahun lebih tidak pulang ke rumah orang tuanya. Tiba-tiba saja ayahnya di vonis kritis. Apakah selama ini ayah Tony sedang sakit? Apakah Tony tahu kalau ayahnya sedang sakit? Semoga kondisinya tidak terlalu parah dan dia bisa tenang kembali.


Saat-saat sekarang adalah saat yang penting dalam hidup Tony karena album pertamanya akan segera di rilis. Semoga saja kondisi ayahnya tidak berpengaruh besar terhadap proses perilisan albumnya. Kalau mau di bilang, aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Tony. Kampung halamannya dimana juga aku tidak tahu. Dia punya berapa saudara atau dia anak keberapa juga Tony tidak pernah mau bilang. Walaupun aku pernah bertanya tentang keluarganya. Dia selalu mengelak dan aku tidak mau memaksanya karena kondisi keluarga setiap orang berbeda. Mungkin saja dia punya pengalaman buruk ketika bersama keluarganya makanya dia keluar dari rumah dan tidak pulang selama ini.


Akhirnya aku pergi kuliah dengan perasaan hampa dan tak bergairah. Cindy yang duluan datang langsung menyambutku di kelas.


"Lia, gimana? Hari ini terakhir perekrutan loh." ujarnya.


Cindy yang mengajak aku untuk magang di cafe tempat sepupunya bekerja. Tapi aku sudah menolaknya kemarin setelah Tony melarangku untuk bekerja. Tawarannya sebenarnya lumayan. Gajinya sesuai UMR, jam kerja juga tidak terlalu panjang. Walau pulangnya tengah malam tapi ada kendaraan khusus untuk mengantar semua karyawan pulang ke rumah. Makanya karyawan yang direkrut, rumahnya tidak boleh yang terlalu jauh. Dan Cindy bilang kriteriaku cocok untuk pekerjaan ini. Cindy sendiri sebenarnya gagal masuk karena masalah berat badan yang tidak ideal. Padahal hanya kelebihan tiga kilo dari berat idealnya, tapi langsung didiskualifikasi.


Aku menghempaskan diriku di kursi dan menghela nafas panjang sambil menggeleng-geleng.


"Pacarku tiba-tiba pulang tadi subuh." ujarku. Ketika menceritakan ke seseorang, air mata ini serasa gak bisa di bendung.


"Kenapa kok tiba-tiba pulang? Ada masalah apa?" tanya Cindy sambil mengawasi mataku yang kutahan-tahan agar air mata ini jangan jatuh.


"Ayahnya kritis." aku menengadah kepalaku agar air mata yang di kelopak ini menguap saja.


"Emang ayahnya sakit apa?" tanya Cindy "Kalau mau nangis, nangis aja Lia. Jangan di tahan."


Cindy menarik kedua pipiku ke depan wajahnya.


"Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Padahal sudah setahun kami tinggal bersama." Kali ini air mataku beneran tidak bisa di bendung lagi.


"Jadi sekarang dia sudah bertemu ayahnya?" tanya Cindy yang mengelap air mataku dengan lengan bajunya.


"Gak tahu."


"Kalau begitu coba telepon atau chat dia." usulnya


"Bolehkah? Bukannya saat ini aku harus membiarkan konsentrasi dengan urusannya?"


"Yah tidak. Justru saat ini kamu harus menunjukkan kalau kamu peduli dengan dia."


Aku menerima usul Cindy dan menge-chat Tony. Tapi pesan tidak terkirim. Aku coba meneleponnya, tapi tidak tersambung


"Mungkin saat ini dia sedang di jalan yang tidak punya signal." kataku pada Cindy.


***


"Besok apakah kamu bisa mulai bekerja?" Kak Jay, sepupu cindy mengulurkan tangannya mengajakku berjabat.


"Bi.. Bisa." Jawabku ragu seraya melirik ke cindy yang berjingkrak-jingkrak kegirangan.


Ini semua karena Cindy yang berhasil membujukku. Katanya kalau aku tidak betah atau Tony sudah pulang, aku bisa resign kapan saja. Karena masih karyawan magang jadi tidak terikat kontrak. Tapi sejujurnya, tempat ini terlihat lebih mewah dari pada cafe. Dan lagi jam bukanya adalah jam tujuh malam. Cafe mana yang buka jam tujuh malam sampai jam tiga pagi. Tapi karena aku hanya anak magang, jadi jam kerja ku hanya sampai jam sebelas saja. Kerja hanya empat jam tapi gaji UMR. Karena alasan itulah aku tergiur untuk kerja di sini. Ketika Tony melarang, sebenarnya aku merasa sayang sekali. Padahal jika dibanding ketika jualan es, ini lebih menguntungkan dan pastinya tidak capek. Kalau capek pun hanya empat jam. Aku pasti bisa melaluinya.


Kak Jay juga tampaknya baik. Dia adalah pengawas di bagian bar. Dia bertanggung jawab atas waiters dan bartende serta kenyamanan tamu-tamu yang datang. Memastikan kalau bartenders dan waiters tidak melakukan kesalahan. Anak magang seperti aku totalnya ada lima orang. Sedangkan karyawan tetap ada sepuluh orang. Kami di ajari langsung oleh Kak Jay dan wajib bertanya langsung ke Kak Jay kalau ada yang tidak di mengerti. Dan ada beberapa peraturan yang harus kami patuhi. Seperti tidak boleh menemani tamu, tidak boleh menerima tips, tidak boleh bertukar nomor handphone dengan tamu, dan lain-lain. Aku berusaha untuk mengerti peraturan-peraturan yang agak aneh ini. Padahal kalau tidak di kasi tahu juga kita tidak mungkin akan berani menemani tamu di mejanya apalagi bertukar nomor handphone dengan orang yang tidak dikenal.


Aku mengangguk-ngangguk saat Kak Jay menjelaskan panjang lebar di hari pertama kerja. Aku bersama keempat anak magang baru yang terdiri dari tiga cowok dan dua cewek sedang berbaris di hadapan Kak Jay yang sedang memastikan kantong seragam kami kosong. Tidak boleh bawa handphone, kunci, bahkan permen juga tidak boleh. Kak Jay yang mengenakan kemeja putih, dasi biru dongker dan rompi hitam senada dengan celananya tampak rapi dan tampan. Apalagi rambutnya yang di sisir kebelakang dengan wax, wajahnya yang bersih pasti hasil dari rajin perawatan. Saat Kak Jay berdiri di depanku, tercium wangi parfum yang kuat tapi tidak menyengat. Sudah pasti adalah parfum mahal. Pokoknya penampilan kak Jay dari atas rambut sampai sepatu kulit yang mengkilat semuanya tampak mahal.


Kalau gaji anak magang saja sesuai UMR, apalagi gaji Kak Jay. Mungkinkah sebesar uang kuliah ku setahun?


"Lagi mikirin apa?" tanya Kak Jay tiba-tiba.


Aku menelan ludah karena gugup. "Tidak mikirin apa-apa kak."


"Saat kerja kamu harus fokus. Jangan pikiran kosong kayak tadi." Kak Jay menjentik jarinya ke kening ku.


Sudah hampir pukul tujuh, kami sudah standby di posisi masing-masing. Tugas ku adalah membawa minuman ke meja tamu. Akhirnya aku kerja. Aku pasti bisa. Aku harus bisa. Empat jam akan cepat berlalu. Selamat datang di dunia kerja, semangat Lia!