
Secercah cahaya masuk ke pupil mataku. Beberapa detik lalu aku sudah sadar tapi mataku belum bisa terbuka.
"Lia.. Lia.. Kamu uda sadar?" tanya seorang laki-laki yang suaranya terdengar familiar.
Aku hendak mengusap mataku tapi sebelah tanganku sakit saat ku gerakkan.
"Jangan bergerak dulu. Kamu sedang di infus." ucap suara itu lagi.
Ketika mataku sudah terbiasa dengan cahaya, ternyata orang itu adalah Kak Jay.
"Kak Jay kenapa disini? Ini dimana?" tanyaku setelah melihat kesekeliling.
Tempat aku berbaring di kelilingi oleh tirai panjang berwarna hijau yang tertutup. Dan hanya ada Kak Jay dan aku di balik tirai ini.
"Ini di UGD rumah sakit. Kamu pingsan di kampus dan Cindy menghubungiku. Sudah hampir satu jam kamu tidak sadar di ruang kesehatan kampus, jadi aku inisiatif membawamu ke rumah sakit." Jelas Kak Jay.
Penampilan Kak Jay beda banget dengan saat sedang tidak bekerja. Saat ini dia mengenakan kaus polos abu-abu, celana jeans. Rambut berponinya jatuh ke kening,
"Cindy mana?" tanyaku, berharap Cindy ada di sini juga.
"Cindy harusnya sedang mengikuti kelas. Aku yang melarangnya ikut. Lagi pula kalau dia ikut hanya bisa panik dan banjir pertanyaan saja." Kak Jay tertawa ringan.
"Kalau gitu kita pulang saja yah. Aku sudah gak apa-apa." Kataku berusaha bangkit dan melihat ke selang infus, apakah aku bisa mencabutnya sendiri.
Kak Jay menuntun bahuku kembali berbaring. "Habiskan infus ini dulu yah baru kita pulang. Aku panggil dokter dulu."
Kak Jay menghilang dari balik tirai dan masuk kembali setelah beberapa saat bersama satu orang dokter wanita.
"Amelia, bagaimana keadaan mu? Sudah lebih segar? Tahu apa yang terjadi?" tanya Dokter wanita yang bernama Sinta. Terbordir di outer putihnya.
"Aku tiba-tiba pusing dan mungkin aku pingsan." jawabku.
"Kamu jarang makan ya?" Dokter Sinta menepuk-nepuk perutku pelan untuk memastikan sesuatu.
"Tadi pagi aku tidak sempat sarapan." ujar ku.
"Kapan terakhir kamu haid?"
Jantungku tersentak. Jangan-jangan aku hamil? Aku berpikir keras kapan aku terakhir haid. Aku meminta handphone ku pada kak Jay yang sedang memakai tas ku. Aku mencoba membuka aplikasi siklus yang sengaja ku download untuk menghindari masa subur ketika aku dan Tony berhubungan.
"Tiga minggu lalu, dok." jawabku
"Haidnya lancar?" tanyanya lagi
"Iya, sejauh ini lancar dok. Emang kenapa y dok?" tanyaku curiga.
Semoga dokter tidak bilang aku hamil atau sejenisnya.
"Gak apa-apa. Biasanya kalau berdekatan dengan siklus haid atau telat haid, bisa menjadi pemicu pingsan. Tapi kalau yang dari saya lihat, kamu hanya kurang gizi. Jadi makanlah dengan teratur, jangan diet-diet. Jangan hanya makan sayur saja. Nasi, sayuran dan daging harus seimbang." jelasnya
Aku menghela nafas lega. "Jadi aku gak hamil kan dok?" tanyaku tiba-tiba saja keluar dari mulutku. Sepersekian detik kemudian aku nyesal.
Dokter Sinta dan Kak Jay pandang-pandangan selama sekitar lima detik.
"Gak ada pakai kontrasepsi?" Dokter Santi bukannya bertanya padaku. Tapi ke Kak Jay.
Kak Jay tampak panik dan menunjukkan bahasa tubuh yang aneh.
"Atau mau saya rujuk ke dokter kandungan?"
"Gak dok. Gak gak gak. Yakin gak hamil kok." ujar ku
"Kalau dalam dua minggu ini tidak haid, langsung ke dokter kandungan yah."
***
"Makasih ya Kak." Ucap ku pada Kak Jay saat di dalam mobilnya.
"Jangan sungkan." katanya sambil tersenyum.
Setelah sekitar lima belas menit menyetir, Kak Jay memarkir mobilnya di pekarangan sebuah restoran yang bangunannya berwarna pink.
"Kita turun disini kak?" tanya ku ketika Kak Jay sedang melepaskan seat belt nya.
"Iya, hari ini kamu belum makan apa-apa kan? Kamu boleh makan sepuasnya disini." ujarnya
Kak Jay turun dari mobil dan bergegas membukakan pintu untukku. Situasi yang hanya pernah ku lihat di drama Korea. Ketika seorang cewek di ratukan oleh pacarnya. Di bukakan pintu, di ajak kencan ke tempat bagus.
Perasaan bersalah menusuk ketika aku turun dari mobil.
Suasana di dalam restoran begitu menyenangkan. Banyak sekali kucing-kucing yang berkeliaran di dalam. Ada tamu yang sedang makan dengan kucing bermanja-manja di kaki mereka. Ada yang sedang duduk di kursi pendek sedang menggendong kucing Persia berwarna putih. Dari sudut sana, sekelompok kucing berhidung pesek sedang memandang ke arah ku. Aku memekik kegirangan dan menghampiri sekelompok kucing yang langsung berhambur pergi. Tinggal satu kucing pesek dengan bulu panjang warna abu-abu yang hanya mundur beberapa langkah. Aku mengelus kepalanya, menggaruk lehernya dan si abu memenjamkan matanya lalu memanjangkan lehernya kebawah. Sepertinya keenakan di garuk. Aku mencoba menggendong si abu dan ternyata dia kucing yang penurut.
Kak Jay menghampiriku dan mengelus kepala si abu. Kak Jay mengajakku ke lantai atas. Tapi karena kucing tidak di perbolehkan ke loteng, jadi dengan berat hati aku menyerahkan si abu kepada karyawan yang menyambut kami di tangga.
Pemandangan di lantai atas lebih menakjubkan. Di sepanjang dinding tertanam Aquarium yang mengelilingi ruangan. Meja dan kursi makan tersusun rapi di tengah-tengah. Aku berseru kagum melihat pemandangan di dalam aquarium. Ikan-ikan laut berukuran kecil sedang bermain-main di sekitaran batu karang yang berwarna merah. Ikan-ikan kecil yang berwarna-warni sedang berenang santai. Aku mengamati isi aquarium dengan mata terbelalak sambil berkeliling. Sedangkan Kak Jay sudah mengambil tempat duduk di depan aquarium yang terdapat botol kaca yang di dalam ada hewan berwarna putih sedang bergerak-gerak.
"Apa itu?" tanyaku menunjuk botol kaca yang isinya bergerak-gerak halus.
"Itu gurita." Kak Jay tersenyum menampakkan giginya yang rapi.
Aku menjerit kecil ketika kepala bulat seekor gurita muncul dari dalam botol. Gurita tersebut meloloskan semua tentakelnya kemudian menghilangkan di balik batu yang diikuti semburan pasir yang melayang pelan di air. Guritanya sedang menggali pasir dan bersembunyi. Mungkin karena kaget melihat kedatangan kami.
Sarapan sekaligus makan siang yang sangat berkesan dan tak terlupakan. Kami sangat betah berlama-lama di restoran ini. Lebih tepatnya, aku yang betah berada di sini. Setelah selesai makan, kami kembali ke lantai bawah dan bermain lagi dengan kucing-kucing.
Tapi kami tidak bisa berlama-lama disini karena restoran mulai ramai kedatangan tamu-tamu yang juga ingin bermain dengan kucing. Aku dan Kak Jay akhirnya memutuskan untuk pulang.
"Wajahmu sudah lebih segar sekarang. Makanmu juga lahap. Senang melihat kamu sehat seperti ini." ucapnya dalam perjalanan ke rumah ku.
"Makasih yah Kak untuk hari ini. Maaf kalau aku sudah ngerepotin kakak. Padahal kakak juga butuh istirahat karena setiap hari pulang subuh."
"Aku sudah terbiasa. Jangan merasa tidak enak." ucapnya ramah
"Lia. Kamu sudah punya pacar?" tanya Kak Jay setelah beberapa menit diam.
Aku mengangguk.
"Maaf yah kalau kamu tidak mau cerita juga gak apa-apa. Apakah hubungan kalian baik-baik saja?" tanyanya
"Hubungan kami baik-baik saja. Tapi saat ini dia menghilang. Aku tidak bisa menghubunginya." jawabku jujur.
Lalu aku menceritakan kejadian tentang Tony kepada Kak Jay. Kak Jay mendengar dengan serius tapi dia melarang aku untuk melapor ke polisi dan menyuruhku sabar. Katanya dia punya firasat yang tidak enak tentang Tony. Mungkin saja Tony memang sengaja pergi.
Aku tersinggung dengan prasangka Kak Jay. Padahal Kak Jay tidak mengenal Tony. Sisa perjalanan ini aku hanya diam saja. Tidak mau membahas masalah ini lagi dengan Kak Jay.