Second Change

Second Change
Chapter 25



Minggu-minggu pertama menjadi pacar David, suasana masih canggung. Tapi David adalah tipe yang sangat perhatian. Selalu video call setiap tiga jam sekali, hanya untuk melihat aku sedang ngapain. Aku selalu meletakkan handphone ku dalam posisi berdiri di meja makan dan melanjutkan rutinitas membersihkan rumah. Sedangkan David, kerja di meja kerjanya dengan layar menyorot wajahnya.


"Sudah yah. Aku mau mandi dulu." ujarku padanya di seberang yang sedang sibuk mengetik-ngetik sesuatu di keyboard komputernya.


"Telepon aku pas makan." Pintanya sekilas melihat ke layar handphone.


Padahal sibuk. Tapi ngapain musti video call terus. Apakah ini termasuk tipe posesif? Atau bucin?


Entahlah. Jalani saja deh dulu.


Nada dering handphoneku kembali berdering. Kali ini Emi yang menelepon.


"Hello Lia!!! Gimana nih kabarnya? Baik-baik saja kan dengan kakakku?"


"Hai Emi. Iya, baik-baik aja. Ehm. Gimana kabar mu?"


Sebenarnya aku sedikit enggan menanyakan kabar Emi. Karena tidak mau mendengar dia menceritakan kisah pengantin barunya. Aku takut cemburu, iri lalu sedih lagi. Tapi sekarang sudah terlanjur kutanyakan. Aku akan mendengarkan dan melupakannya.


"Baik sih. Tony dan aku sedang mempersiapkan perpindahan kami. Jadi belakangan ini sangat sibuk dan gak bisa kasi kabar. Maaf yah."


Hanya itu? Hanya sibuk mempersiapkan perpindahan? Bukan cerita bagaimana manisnya kehidupan pengantin baru?


Tapi apa tadi? Pindah?


"Pindah? Pindah kemana?"


"Ayah sedang ada proyek besar di pertambangan. Dan proyek ini di serahkan sepenuhnya ke Tony. Jadi kami harus pindah ke tempat yang dekat dengan lokasi tambang."


"Apakah jauh?"


Apakah artinya aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan Tony? Apakah ini usul David agar kami berjauhan?


"Perjalanan lima jam pesawat, Lia. Jauh banget. Aku pasti akan rindu kamu dan kakak."


Lima jam perjalanan bukan dengan mobil. Tapi dengan pesawat. Apakah jarak ini bisa membuatku sepenuhnya melupakan Tony? Apakah karena jarak ini malah akan membuatku semakin merindukannya?


"Oh ya.. Besok kita akan mengadakan perpisahan di rumah. Jadi pulanglah besok malam bareng kakak ya, Lia."


Makan malam perpisahan dengan Emi apakah itu artinya Tony juga akan hadir besok? Apakah aku punya keberanian lagi berhadapan dengan Tony yang saat ini sudah menganggapku jijik. Hatiku penuh dengan dilema. Antara ingin bertemu dengannya dan tidak ingin bertemu. Tapi situasi saat ini sepertinya tidak memberiku pilihan. David pasti akan pulang untuk menemui adik kesayangannya. Yang artinya perjumpaan Tony dan aku kali ini tidak terelakkan lagi.


Aku mengiyakan Emi lalu menutup panggilan. Aku melangkah ke kamar mandi, menyiram diriku dengan air dingin dari shower. Di balik kelopak mata ku yang gelap, aku teringat Tony yang pertama kali mandi dengan gayung. Dia masuk ke kamar mandi dan keluar lagi setelah beberapa detik. Lalu bertanya apakah dia harus masuk ke dalam bak? Tapi bak itu terlalu tinggi dan mungkin dia bisa tenggelam.


Aku tergelak dalam hati mengingat kejadian hari itu. Aku yang saat itu mengira dia selama ini mandi di sungai atau mandi hanya saat hujan. Sekarang kalau di pikirkan kembali, tingkah Tony yang tampak bingung saat tinggal di rumahku bukan karena dia terlalu miskin, tapi karena terlalu kaya, makanya kehidupan jelata merupakan hal yang baru baginya.


Lagi-lagi aku teringat Tony. Di memory kehidupanku seperti sudah tidak ada lagi ingatan lain kecuali hari-hari bahagia saat tinggal bersama. Kehidupan dengan David belum cukup untuk menutupi ingatan-ingatan itu. Andaikan otak manusia bisa di buka seperti komputer, aku akan menghapus semua folder yang berhubungan dengan Tony. Berawal dari hari dimana dia membawa gitarnya duduk di kursi batu halaman rumahku sambil menyanyikan lagu 'Easy on Me'. Saat dia menyanyikan part 'Go ea....sy on me baby, I was still a child' pandanganku sudah tidak bisa lepas lagi darinya. Sejak itu aku selalu mencari alasan untuk berbicara dengannya. Andai saja aku tidak memberinya segelas air. Andai saja aku tidak menyimak nyanyiannya. Andai saja dia ku usir saat ijin duduk di kursi batu. Andai saja dia tidak pernah datang.


Handphone ku berdering dua jam kemudian ketika aku sedang menuang nasi goreng dari teflon ke piring. Yang menelepon tak lain adalah David. Aku menegakkan handphone ku bersadar pada kotak tisue dan menggeser tombol hijau. Muncul David yang sedang berada di dalam mobil.


"Sedang ngapain?" tanyanya


"Baru siap masak." aku mengangkat teflon ke arah kamera lalu berbalik ke wastafel untuk menyucinya.


Aku mengangkat handphone dan membawanya ke meja makan lalu menggunakan gelas sebagai sandaran.


"Mau kemana?" tanyaku seraya menyendok nasi goreng ku.


"Ada meeting di hotel." ujarnya masih memandangiku.


"Gabut amat, meeting di hotel. Di kantor juga ada ruang meeting kan?"


David tertawa kecil memamerkan giginya yang berjejer rapi. "Pertemuannya masih bersifat rahasia, jadi tidak boleh terlalu terang-terangan."


Aku mengangguk sambil mengunyah.


"Siap makan rencana mau ngapain?" tanyanya


"lanjut Netflix. Setelah itu masak untuk makan malam." jelasku sambil mengunyah suapan ke dua.


"Hari ini kamu gak usa masak. Aku sudah menyuruh Katrine memesan bebek Peking untuk makan malam."


Aku mengangguk-angguk lagi sambil mengunyah suapan ketiga.


"Aku sudah hampir sampai. Nanti siap meeting ku telepon lagi."


Aku melambaikan jariku di depan kamera dan panggilan selesai.


...****************...


"Besok kamu jemput aku atau aku yang ke kantormu?" tanyaku saat kami sedang makan malam.


David yang sedang memisahkan daging paha bebek peking dari tulangnya terhenti dan memandangku.


"Kamu kok tahu?"


"Tadi Emi nelpon. Kenapa? Kamu rencana pulang sendiri?"


"Apa yang kamu takutkan, Dave?"


David masih tidak menjawab. Hanya fokus dengan makanannya.


"Kamu gak percaya padaku?"


Alih-alih menjawabku, dia malah mengambil tissue, mengelap mulutnya lalu mencampakannya di atas tulang paha dalam piring. Gak sampai disitu. David bangkit dan masukkan ke kamarnya diiringi dengan bantingan pintu.


Dibalik David yang perhatian, ada dia yang emosional. Lebih baik dia membentakku, mendorongku ke dinding, melotot dengan mata berkilat marah dan mengancamku agar aku tidak pulang ke rumahnya dari pada diam dan membanting pintu.


Aku membereskan meja. Memasukkan sisa bebek Peking ke kulkas dan menyusul David ke kamarnya. David sedang berdiri di beranda kamarnya yang menghadap ke taman yang merupakan bagian dari apartemen. Pagi hari, banyak lansia yang melakukan senam pagi di taman itu. Siang hari, matahari menyinari seisi taman dan tidak ada orang yang betah lama-lama di sana. Sore hari, mulai banyak anak-anak yang ditemani orang tua mereka asik bermain sepeda, skateboard dan berlari-larian. Kalau malam, taman hampir tidak terlihat. Yang mencolok hanyalah lampu-lampu berwarna kuning yang menghiasi pinggiran taman.


Aku berdiri di samping David dan ikut memandangi pemandangan malam di depan kami. Sambilan menebak-nebak apa isi pikiran David, memilah-milah kalimat yang harus kuucapkan tanpa membuatnya tersinggung dan canggung.


"Besok tidak akan terjadi apa-apa." ujarku memecahkan keheningan.


David masih tidak bergeming.


"Pegang tanganku dan pastikan aku selalu di sampingmu." kataku lagi.


"Besok kamu di rumah. Aku akan pikirkan alasan ketidakhadiranmu pada Emi." tegasnya berbalik memandangku.


"Apa sih yang kamu takutkan, Dave?" tanya ku setengah kesal. "Kamu takut aku tidak bisa mengendalikan diri dan membocorkan semuanya?"


"Aku hanya tidak suka melihat kalian berdua di ruangan yang sama." geramnya.


"Adegan apa yang kamu pikirkan jika melihat kami berdua di ruangan yang sama?"


"Tidak ada. Hanya tidak suka."


"Aku dan dia sudah selesai, Dave. Apapun yang ada di dalam pikiranmu itu sudah tidak akan terjadi di masa sekarang dan masa depan."


"Tidak bisakah kamu nurut kali ini saja?" suaranya meninggi "Please, Lia."


Aku menggeleng. "Besok akan kubuktikan kalau kekhawatiranmu sia-sia."


Aku melangkah pergi tapi dipeluk olehnya. Dia membenamkan kepalanya di bahuku. Aku membuang semua kekesalanku dan menepuk punggungnya.


"Aku takut kehilangan kamu."


"Aku gak akan hilang jika tidak kamu hilangkan." candaku


Dia terkekeh pelan. "Aku selalu ingin mengantongimu kemana-mana."


...****************...


Dua puluh empat jam setelah aku berhasil membujuk David, kini David kembali memasang raut wajah yang tidak menyenangkan karena posisi duduk Tony di meja makan pas di depanku. Aku sumpah, aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengamati Tony. Bagaimana jari seorang laki-laki bisa terlihat sangat elegan saat menggunakan sumpit?


Saat tangannya di angkat, aku penasaran sayur mana yang akan dia raih dari meja makan. Yang pertama dia ambil adalah tempura oyster.


"Nak Lia, makan nak." ujar Mama David yang duduk di sebelah Emi.


"Ah, iya. Om makan, Tante makan."


Sekilas Papa David hanya mengangguk tanpa melihat kearahku. Seperti biasa, Papa David tidak pernah ramah padaku.


Ketika pandanganku teralih ke alat makan di depanku, ternyata piringku sudah dipenuhi dengan makanan. Aku sampai tidak menyadari kalau sedari tadi David sudah memindahkan makanan ke piringku.


Sembari makan, pemandangan di depanku masih menarik perhatianku. Caranya mengunyah makanan dengan wajah datar berbeda banget dengan ketika dia makan bakwan udang untuk pertama kalinya. Matanya terbelalak, mengamati sebagian bakwan udang di tangannya yang sudah digigit setengah.


"Ini perfect match banget, Lia ! Gue baru tau kalau wortel, bombay dan apa satu lagi namanya trus di campur udang and di goreng dengan tepung bisa se perfect ini. Siapa sih yang nyiptain ini?" dia memasukkan setengah potong lagi ke mulutnya dan mengambil potongan lain dari piring.


"Satu lagi namanya kol. Trus ada lagi potongan cabe merah dan rawit." ujarku seraya terkekeh melihat tingkahnya.


"Phanthas phedhass." katanya dengan mulut penuh.


Aku tersenyum sekilas mengingat kejadian itu. Hanya bisa sekilas karena orang yang sama di hadapanku tidak akan pernah seperti itu lagi terhadapku. Dia makan tempura oyster dan saikoro medium rare dengan wajah datar. Padahal bagiku ini enak sekali dan tidak bisa di bandingkan dengan bakwan udang, kari ayam, rawon yang pernah dia makan di rumahku.


"Meja makan kita sebentar lagi akan sepi ya Pak." ujar Mama David pada suaminya sambil terisak.


"Ihh.. Mama, jangan buat sedih dong. Kan uda janji gak akan nangis." dua detik kemudian Emi menangis sambil memeluk mamanya.


Acara makan malam akhirnya berakhir dengan tangisan Ibu dan Anak perempuan yang akan pergi jauh.


"Amelia."


Aku terperanjat hampir melompat dari kursiku. Untuk pertama kalinya Papa David memanggilku. Aku menoleh padanya dengan wajah pucat membalas mata tajamnya yang sedang menatapku.


"Y..ya, om." ucapku gugup.


"Ikut aku ke ruang kerjaku." perintahnya.