Second Change

Second Change
Chapter 32



Taxi berhenti mulus tepat di depan asrama. Aku membayar tarif sesuai argometer yang terpampang jelas di layar depan. Cukup mahal juga. Tak heran, karena perjalanan dari bandara juga lumayan jauh, satu jam tujuh belas menit.


Hal kedua yang kulakukan setelah membayar tarif taxi adalah mengirim pesan ke David.


'Aku sudah sampai di asrama.'


Pesan saat aku sudah di dalam taxi masih belum ada balasan. David mungkin kesulitan menangani investor itu. Aku melempar handphoneku ke dalam tas selempang ku lalu turun dari taxi. Pak supir sudah menurunkan koperku dari bagasi mobil. Aku mengucapkan terima kasih lalu menarik koperku masuk ke dalam gerbang asrama. Bangunannya sangat apik, tak lupa dengan ciri khas ukiran kota ini terdapat di setiap tiang-tiang bangunan. Seluruh gedung berwarna merah bata dengan atap yang menjuntai keluar. Kayak perpaduan antara klasik dan moderen.


Aku menaiki sejumlah tangga untuk masuk kedalam bangunan lalu langsung di sambut dengan meja resepsionis di tengah-tengah ruangan yang luas. Di belakang meja resepsionis terdapat beberapa meja panjang dan kursi yang mengelilingnya. Ada sekelompok mahasiswi memenuhi salah satu meja dan tampak sedang berdiskusi sesuatu yang serius. Aku gak bisa mengalihkan perhatian ku pada seorang mahasiswi yang sedang berdiri melakukan latihan presentasi. Suaranya bulat, artikulasinya sempurna. Dia pasti akan dapat nilai A untuk presentasinya.


"Hallo." Kakak yang berada di meja resepsionis mengembalikan perhatianku.


"Oh, hallo kak. Saya Amelia, mahasiswi transferan. Hmm, aku sudah daftar untuk tinggal di asrama."


"Hallo Amelia, data kamu sudah kami terima. Sebelumnya kamu daftar tinggal di asrama sampai studi kamu selesai yah? Tapi kami ada peraturan kalau ijin tinggal di asrama hanya maksimal sampai semester empat saja."


Hal ini tidak ada di beritahukan David padaku. Tapi bisa jadi dia juga tidak tahu dengan peraturan ini. Baiklah, jalanin saja dulu. Untuk selanjutnya aku hanya perlu mencari tempat kost yang dekat kampus.


"Iya, kak. Setelah semester empat, aku akan pindah dari asrama."


Aku di beri kunci dengan gantungan kunci kayu yang bertulisan nomor kamarku. Aku berjalan kebelakang gedung menuju halaman belakang yang merupakan tanah kosong yang di kelilingi gedung tiga lantai. Dari sini aku bisa melihat pintu-pintu yang berjejer dipagari balkon setiap lantainya. Aku menaiki tangga di sisi kanan tanah kosong dan menuju kamarku di lantai dua.


Dengan sekejab aku langsung menemukan nomor kamarku. Aku memutar lubang kunci dan mengetuk pintu sebelum masuk. Karena bisa jadi teman satu kamarku juga lagi di dalam. Tapi ternyata di dalam kosong. Ada satu kamar mandi, dua tempat tidur, dua lemari pakaian, dua meja belajar yang salah satunya sudah tertata rapi dengan buku-buku, lampu meja, cermin kecil dan tempat pulpen yang berisi berbagai macam warna pulpen.


Mulai saat ini, di sinilah aku akan mengisi hari-hari lelahku sampai semester empat selesai.


***


"Lia, kamu ngerti gak sih apa yang di terangkan Pak Jos?" tanya Della padaku ketika di perjalanan tukar kelas.


"Lumayan. Ada beberapa bagian yang aku gak ngerti."


kami berjalan berdampingan dengan sekelompok mahasiswa yang berlomba-lomba merebut bangku barisan depan di kelas Pak Gilbert.


Iya, Pak Gilbert yang ku maksud adalah orang aneh yang memberiku kuliah gratis di atas pesawat. Tak lain tak bukan, ternyata dia memang seorang dosen yang sudah mengajar bertahun-tahun di kampus ini dan yang lebih mengejutkan lagi, dia sangat populer di sini, dan dimana saja. Berarti hanya aku satu-satunya yang menganggap dia aneh, posesif dan psikopat.


Mungkin terlalu berlebihan jika kuliah gratis, mengikuti ku sampai ke restoran, menguping percakapan ku dengan David lalu menawarkan tumpangan padaku terus kusebut dia psikopat. Tapi jika asal ke kantin, Pak Gil selalu ada di sana dan memesan makanan yang sama dengan ku bahkan minuman juga sama. Bukan hanya sekali, tapi selalu. Aku pernah coba gak makan di kantin dan membaca di perpustakaan. Pak Gil juga muncul di perpustakaan saat itu juga. Walaupun dia tidak menghampiriku atau terus-terusan melirik seperti orang yang terobsesi dengan sesuatu, tapi kehadirannya saja cukup membuatku terganggu. Lama-lama aku merasa ngeri.


Kuliah yang di bawakan Pak Gil selalu menyenangkan. Dia selalu tahu waktu yang tepat untuk bercanda, serius dan bertanya. Akhirnya mahasiswa akan fokus padanya dari awal ampe akhir.


Kecuali aku. Beberapa menit setelah aku duduk di kelas, David menelepon. Seperti biasa, aku akan mensenyapkan panggilan videonya dan meletakkan tegak di atas meja menggunakan phone holder. Kemunculan David di layar selalu membuat hatiku terhibur. Teman sekelas sudah tidak heran jika aku membuka video call di sela-sela pelajaran. Awal-awal mereka mengira aku adalah sugar baby dari laki-laki yang sudah beristri. Disamping itu penampilan David yang lebih dewasa dan selalu berpakaian formal menampilkan usia kami yang terpaut jauh mendukung kecurigaan kalau aku adalah sugar baby. Tapi setelah aku menjelaskan kepada mereka kalau David adalah pacarku dan kami sedang LDR, akhirnya mereka mengerti. Walaupun ada satu dua orang yang mengatakan kami terlalu bucin. Tapi itu adalah pendapat orang lain. Lagian aku dan David punya kesepakatan yang tidak mau kami langgar.


Ujian tengah semester sudah di depan mata. Aku dan Della lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan kampus ataupun di ruang belajar asrama. Kami lebih banyak mengkaji ulang catatan dan latihan-latihan. Lalu mengumpulkan soal-soal yang tak terjawab kemudian besoknya kami akan mencari dosen yang bersangkutan untuk bimbingan. Walaupun tingkat stress dalam mempersiapkan ujian tengah semester cukup tinggi, tapi dari pihak universitas sudah berjanji akan mengadakan kegiatan di luar kampus setelah selesai ujian akhir semester.


Menurut kakak-kakak kelas, acara ini selalu di adakan setiap pergantian semester. Lalu BEM akan menyusun panitia di setiap tingkatan untuk mendiskusikan lokasi beserta kegiatan yang akan di laksanakan. Acara yang hanya berlangsung selama tiga hari ini selalu di nanti-nantikan oleh mahasiswa yang berkuliah di sini.


"Bagaimana persiapan ujianmu?" tanya David di pukul sembilan malam saat aku sudah naik ke tempat tidur dan Della masih di meja belajar.


"Pasrah." kataku.


"Yakin di UTS pertama gak mau lebih berusaha?" tanya David setelah menyesap anggur putihnya.


"Sudah capai limit. Gak tahu lagi apa yang mau di usahakan." ujarku lalu menguap.


"Jam berapa ujiannya besok?"


"Mulai jam sepuluh dan selesai jam lima."


"Baiklah, cepatlah tidur. Hubungi aku kalau sudah selesai ujian."


"Dave, selama ujian bolehkah video call hanya waktu malam? Selesai ujian aku harus ke perpustakaan atau nyari dosen untuk bimbingan lagi. Aku takut tidak akan sempat atau lupa menelepon mu."


"Baiklah. Chat pada saat kamu senggang. Jangan lupa makan siang. Vitamin yang kukirim ada kamu minum gak?"


"Ada.. Ada.." tekanku. "Lama-lama kamu seperti bapak-bapak saja."


"Kalau kamu mau mengalami penuaan dini karena stress belajar, mulai bulan depan aku gak akan mengirimnya lagi." ancamnya sambil mendekatkan wajahnya ke layar.


Aku tertawa mendengar ancamannya yang tidak seperti ancaman bagiku. Mata tajamnya sama sekali tidak menyeramkan di layar.


Dengan selesai UTS, aku dan David akhirnya sukses melewati tiga bulan pertama kami.