Second Change

Second Change
Chapter 22



"Pacar David cantik sekali. Masih muda banget."


"David yang marah kalau di jodohin ternyata bisa juga punya pacar."


"Pantesan dulu kamu nolak anak Pak bupati, rupanya kamu sukanya yang baru mekar."


"Kalau perempuan gak apa-apa cepat nikah. Jangan tunda-tunda lagi yah. David keburu jadi om-om."


"Kenalnya dari aplikasi dating yang lagi viral itu?"


Diatas adalah reaksi sebagian kenalan atau saudara jauh keluarga David saat aku dan David berkeliling menyapa tamu-tamu yang datang. Tidak seperti yang kubayangkan kalau mereka akan menanyakan asal usulku, pekerjaan orang tuaku, apakah aku punya warisan atau tidak. Yang mereka ingin tahu adalah sudah berapa lama kenalan dan kapan kami akan menikah. Perasaan diterima ini membuat hatiku semakin jatuh dan sedih.


Acara pemberkatan sudah dimulai. Aku dan David duduk berdampingan di kursi panjang baris kedua. Posesi yang mengharukan itu membuat tak sedikit tamu yang ikutan menangis bersama Cindy yang emosional saat menyampaikan pidato terimakasih untuk Ayah dan Ibunya. Aku menyadari kalau beberapa kali Tony mencuri pandang padaku, karena pandanganku tidak bisa lepas darinya. Aku bohong kalau ku bilang sudah melupakannya. Buktinya otakku masih memutar kenangan ketika masih bersamanya di rumahku yang mereka sebut gubuk.


"Lo gak keberatan kalau gue terus tinggal di sini?" tanya Tony di tempat tidur pada suatu malam.


"Gak. Aku senang kamu disini. Maukah kamu selamanya tinggal di sini?" tanyaku


"Mau. Asal dengan lo." lalu dia mengecupku dan kami tertidur sambil berpelukan.


Ingatan itu muncul dan tanpa sadar aku tersenyum getir. Orang yang berkata akan tinggal bersamaku selamanya saat ini sedang berciuman dengan pengantinnya di atas pelaminan. Semua tamu memberikan tepuk tangan dan teriakan heboh. Fotografer dan Videografer sibuk mengabadikan momen itu. Ibu Cindy tertawa sambil menyeka air matanya. Hanya David dan aku yang tidak memberikan respon apa-apa.


Momen yang di tunggu-tunggu para perempuan yang belum menikah akhirnya tiba juga. Sekarang pengantin akan melempar buket kepada para tamu-tamu perempuan yang sudah mulai kerumunan untuk merebut buket bunga itu.


Emi tampak sedang mencari-cari dan akhirnya menemukanku yang sedang berdiri di salah satu pojok. Emi lalu menunjukku dan memberi isyarat pada asisten rias untuk membawaku ke sana. Beberapa tamu lainnya juga ikut-ikutan mendorongku ke kerumunan.


Hitung mundur sudah di mulai, setelah buket dilempar, aku akan menghindar dan membiarkan orang lain yang mendapatkan.


Hitungan mundur sudah selesai tapi Emi tidak melempar, malah berbalik.


Dia tersenyum sambil berjalan ke arahku. Perasaan bersalah menusuk jantungku. Emi yang akhirnya berhasil mewujudkan cintanya terlihat sangat bahagia. Senyumnya yang merekah membuat dia sangat cantik dengan gaun pengantin pilihannya yang sangat cocok dengannya. Gaun yang sama dengan yang aku pernah bayangkan akan kupakai saat menikah dengan Tony kelak.


Orang yang seharusnya bahagia adalah aku. Orang yang menjadi pengantin Tony harusnya adalah aku. Emi harusnya tetap menjadi orang yang bertepuk sebelah tangan dan menangis karena putus cinta hari ini. Emi yang harusnya iri padaku.


Tapi kenyataan sudah terjadi dan aku tidak bisa membuatnya terbalik walau bagaimana aku berusaha. Bahkan setelah menyerahkan semua hidupku padanya. Aku tetap tidak berhak mendapat semua kebahagiaan ini.


"Calon kakak ipar, kamu harus bahagia dengan kakakku yah." Emi menyerahkan Buket padaku dan memelukku.


Suasana menjadi riuh karena tepukan tangan yang meriah.


Aku menangis. Entah karena sedih akan nasibku atau karena aku tahu tipuan ini semakin dalam dan akan semakin banyak orang yang kecewa. Mungkin Emi akan membenciku setelah mengetahui kebenarannya. Emi pasti akan memikirkan cara untuk menyingkirkan aku.


Aku mengusap air mataku yang semakin tak terkontrol dan turun meninggalkan Emi di pelaminan. David menyambutku di bawah, mencegah aku yang ingin pergi.


"Kita hentikan saja yah. Aku uda gak tahan." kataku pelan.


Aku yakin David mendengarnya walaupun masih ada suara musik dan pemandu acara sedang menutup acara dengan pidato singkat.


Tapi David tiba-tiba menciumku. Bukan ciuman sekilas seperti malam itu. Tapi.. tapi.. Ciuman panjang, berani, dan panas.


Pemandu acara berteriak di depan microphonenya diikuti keriuhan tamu-tamu.


Aku gak tahu apa yang sedang direncanakan David. Apakah dia merasa sakit yang kurasakan masih kurang makanya dia menorehkan beberapa luka lagi? Apakah dia merasa kalau berakhir seperti ini kurang seru makanya dia ingin mempermalukan ku? Atau dia ingin membuatku jatuh sampai tidak bisa bangkit lagi?


Aku mendorongnya dan menatapnya marah di balik air mataku yang tergenang. David menarikku menjauh dari lokasi dan masuk ke ruang rias. Aku duduk di kursi yang sama dengan saat mereka meriasku. Aku menatap wajahku di cermin.


Orang dan Cermin yang sama dengan yang tadi pagi. Tapi pantulannya berbeda. Saat ini aku hanya melihat sosok seorang perempuan dengan mata merah, bengkak dan makeup luntur. Lipstik yang bergeser dari garis bibir. Wajah kacau yang sukses merusak semua kerja keras penata rias selama berjam-jam. Apakah asisten rias masih mau memuji ku dan memotret ku lagi jika dia melihat aku yang sekarang?


"Lo serius? Lo bisa mikir gak sih? Kita uda sepakat akan kembalikan dia. Napa lo sekarang buat segalanya jadi ribet?!" Seru orang itu marah dengan suara tertahan.


"Aku serius." jawab David.


Tony meninju wajah David. Aku tersentak melihat apa yang sedang terjadi. Tapi tubuhku tidak bisa digerakkan. Aku masih bingung dengan situasi sekarang di tambah apa yang sedang mereka katakan.


"Dia mau Lo jadikan kakak ipar gue? Lo tau dia uda berapa kali gue tiduri?" Tony menarik kerah David memaksanya bangkit. "Lo gak jijik? Setiap Lo tiduri dia, Lo akan ingat gue. Bukannya Lo benci Ama gue? Lo sanggup?"


Setiap perkataan Tony menusuk dadaku.


Jijik?


David tidak membalas walaupun beberapa kali di hajar Tony. Aku memaksa diriku untuk bangkit dan baru sadar kalau kakiku gemetaran di balik gaun panjang ku. Aku menghadang Tony yang sedang melayangkan tinjunya yang entah sudah keberapa kali. Tinjunya berhenti tepat di depan hidungku.


"Terserah." katanya setelah terdiam beberapa saat lalu pergi sambil membanting pintu.


"Kamu gak apa?" tanya David


"Kamu yang babak belur tapi nanya aku?" Aku bangkit dengan kaki gemetar dan membantunya berdiri.


Dia memelukku erat setelah berhasil berdiri.


"Kamu sebenarnya mau ngapain?" tanyaku pasrah.


"Aku mau kamu melihatku. Lihatlah dan perhatikan aku, apakah pantas untuk kamu cintai?" ucapnya


"Aku gak ngerti." jawabku


bukankah yang gak pantas itu aku?


"Bisakah kamu lupakan Tony dan melihatku? Aku tidak bisa seperti dia yang pandai merayu. Tapi aku tidak akan menyakitimu seperti dia."


Aku terdiam. Sepertinya aku sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi.


David menyukaiku?


Benarkah?


Kenapa bisa?


Bukankah dia membenciku?


Bukankah dia terus mengancamku?


Jika benar, apakah ciuman malam itu adalah bukti kalau dia menyukaiku?


"Kita pulang aja yuk. Aku capek." elakku


Aku tidak bisa menjawab, aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku kira semuanya akan berakhir. Aku kira akan dikembalikan ke tempat asalku yang ternyata adalah kesepakatan Tony dan David.


Bagaimana kalau aku menolak David? Apakah dia akan marah dan membuangku?


Apa yang bisa kulihat dari David?


Aku tidak pernah berpikir akan menjalin hubungan yang nyata dengannya. Aku bahkan tidak merasakan getaran saat dia menciumku. Aku berpikir dia hanya ingin menyakitiku. Aku tidak pernah melihatnya sebagai laki-laki yang bisa kuandalkan. Laki-laki yang bisa kucintai. Laki-laki yang bisa kucintai dengan segenap hatiku seperti pada Tony. Apakah aku masih boleh berharap? Atau aku kembali ke asal dan menganggap ini adalah mimpi saja.