Second Change

Second Change
Chapter 11



Sudah seminggu aku bekerja di Bar ini. Karena hari ini adalah hari khusus VIP, maka aku sudah mempersiapkan diri dari rumah. Memakai sepatu yang nyaman, makan kenyang, dan tidur yang cukup sehari sebelumnya. Aku sudah mengalami sekali VIP day. Sungguh lebih mengerikan dari pada yang di ceritakan oleh teman-teman sesama pemagang.


Dua menit lagi pintu akan di buka. Kak Jay masih sempat menepuk bahuku dan menyemangatiku. Aku berbalik menyemangatinya. Karena pada saat VIP day, kemungkinan untuk berbuat kesalahan lebih banyak. Jadi Kak Jay harus lebih jeli agar meminimalkan kesalahan-kesalahan yang mungkin akan terjadi.


Aba-aba pintu di buka sudah terdengar di seisi ruangan. Tidak sampai setengah jam, ruangan sudah di penuhi dengan orang-orang berpakaian glamour dan seksi. Cowok-cowok yang datang juga berpakaian formal dan tampak mahal. Mereka merokok, sesuka hati mencampur bermacam-macam alkohol lalu dijadikan sebagai ajang taruhan dengan hadiah uang segepok di atas meja. Kak Jay pernah cerita kalau setiap kali VIP day berakhir, di lantai, di kolong-kolong pasti ada benda berharga yang jatuh. Uang, dompet, anting emas, kalung berlian, tak jarang handphone juga pernah di temukan. Lain halnya di lantai dua dan tiga.


Cleaning service paling trauma ketika harus membersihkan ruang-ruang VVIP di lantai dua dan tiga. Berkali-kali aku bertanya kenapa pada Kak Jay, tapi dia tetap tidak mau mengatakannya. Katanya, cukup fokus di lantai satu saja. Urusan di lantai atas biarlah karyawan atas yang bertanggung jawab.


Pengunjung hari ini lumayan banyak. Ruangan jadi sedikit sesak. Sudah beberapa kali kaki ku terpijak orang-orang yang lalu lalang. Seorang wanita berambut panjang pirang berjalan sempoyongan ke arahku dan meminta tolong untuk mengantarnya ke kamar mandi. Tubuhnya tercium aroma alkohol yang sangat tajam. Aku memapahnya ke kamar mandi dan dia langsung muntah di kloset kemudian terduduk di sana selama beberapa menit sambil memenjamkan mata. Aku mengusap-ngusap punggungnya untuk membuatnya lebih baik.


Wanita pirang ini memakai sweater crop berwarna putih dan rok celana pendek berwarna putih serta sepatu hak tinggi berwarna coklat. Aku tidak habis pikir kenapa harus memakai pakaian yang begitu terbuka di tempat seperti ini. Menurut ku baju terbuka lebih cocok di pakai di pantai dan kolam renang. Pasti banyak yang tidak sependapat denganku. Tapi tidak penting juga. Saat ini yang terpenting adalah wanita pirang ini memintaku untuk mengantarnya ke lantai tiga tempat dia dan teman-temannya berkumpul. Aku sudah mengatakan kalau kami di larang untuk naik ke atas. Tapi wanita ini ngotot padaku karena dia tidak sanggup berjalan sendiri. Dia bangkit merangkulku dan menopang tubuhnya padaku, padahal aku belum mengiyakan.


Aku terpaksa memapahnya ke koridor yang berakhir ke sebuah ruangan yang lumayan besar. Di sana ada beberapa sofa, meja resepsionis dan deretan lima pintu lift. Kakak resepsionis tidak melihat kami karena sibuk melayani tamu-tamu lain. Salah satu pintu lift terbuka dan Wanita pirang ini menyeret ku masuk. Hanya beberapa detik saja lift sudah sampai di lantai tiga.


Pintu lift terbuka di ruangan besar seperti di lantai bawah. Bedanya di sini tidak ada meja resepsionis. Wanita pirang itu menunjuk ke arah koridor panjang dan luas. Kami berjalan melewati beberapa pintu yang berjarak lumayan jauh setiap pintunya. Bisa kubayangkan ruangan didalam pasti lumayan besar. Wanita pirang berhenti di pintu yang tertera nama 'T.Rex' dan masuk ke dalam. Orang-orang di dalam bersorak melihat wanita pirang ini kembali bergabung dengan mereka. Suasana di dalam ruangan remang-remang dengan dentuman musik yang lumayan kencang. Terdapat sofa panjang dan banyak botol-botol minuman di atas meja. Begitu pintunya di tutup, suara dentuman hanya terdengar samar-samar.


Aku tahu kalau ini adalah kesalahan. Seorang karyawan memergokiku saat dia keluar dari salah satu ruangan. Aku menjelaskan padanya secara singkat dan dia meninggalkan ku dengan wajah cemberut. Aku yakin dia pasti akan mengadu. Aku harus bergegas turun dan menjelaskan situasi ini pada Kak Jay.


Jalan ku terhadang oleh salah satu pintu yang mendadak terbuka. Dua orang laki-laki sedang memapah temannya yang menceracau tidak jelas. Tampaknya temannya sudah mabuk parah. Tapi suara ceracaunya terdengar sangat familiar. Aku berlari kecil mengejar mereka untuk memastikannya.


"Toni?! Kamu kenapa? Kok kamu bisa disini?" Pekikku. Aku memegang kedua pipinya yang dingin seperti es.


"Lia.. Lia ku sayang. Lia tercinta." Tony memelukku setelah menatapku dengan mata setengah terbuka.


"Lia? Lo Lia?" tanya salah satu temannya.


"Maksud lo Lia yang tadi kalian ceritain?" tanya temannya yang satu lagi.


Tony memelukku dengan erat sampai aku tidak bisa menjawab pertanyaan mereka.


Kedua teman itu menarik Tony.


"Iya, aku Lia. Amelia. Pacarnya Tony." ujar ku.


Tony menarik tanganku dengan langkah gontai dan masuk ke ruangan tadi. Didalam ruangan masih ada tiga perempuan yang masing-masing sedang duduk di pangkuan seorang laki-laki. Pandangan mereka semua tertuju pada kami yang tiba-tiba masuk. Diantara mereka bertanya kenapa balik lagi dan kenapa bawa pelayan masuk ke sini.


Tony membawaku masuk ke salah satu dari dua ruangan yang ada di dalam. Kontan aku menjerit karena kaget dan berbalik sambil memenjamkan mata. Karena disana ada sepasang sedang melakukan hubungan badan di atas tempat tidur.


"Keluar!" usir Tony.


Seorang laki-laki bertubuh tinggi masuk dan menarik kerah Tony. "Ku peringatkan kamu jangan macam-macam." ancamnya


Tony menepis tangannya. "Siapa lo berani memperingatkan gue. Kalau bukan karena gue, lo dah hancur."


"Brengsek!" serunya lalu mengangkat kepalan tangan.


Aku menghadang laki-laki yang saat ini matanya berkilat marah. Kedua teman Tony yang tadi masuk dan menarik laki-laki marah ini keluar.


Tony menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Lalu mendorongku ke tempat tidur yang kini sudah kosong.


"Kamu dari mana saja? Kenapa nomor mu tidak bisa di hubungi? Apa yang terjadi padamu selama ini?"


Pertanyaan ku tidak satupun di jawab dan dia mulai menciumku.


"Jangan disini. Kita pulang saja yuk."


Tony tidak menggubris dan lanjut melakukan keinginannya. Tony seperti binatang buas yang sedang kelaparan. Biasanya juga dia agresif, tapi tidak seperti sekarang ini. Tidak bisa dikendalikan. Seharusnya aku bersyukur Tony baik-baik saja. Tony sehat dan dugaan kecelakaan itu tidak terjadi sama sekali. Tapi tidak bisa di pungkiri kalau saat ini Tony sedang menyakiti ku. Menganggap ku seperti boneka pemuas nafsunya.


Tony tertidur lemas di sampingku. Aku merapikan pakaian ku lalu merapikan pakaiannya. Berkali-kali aku mencoba membangunkannya sampai terdengar erangan sebelum akhirnya dia membuka mata. Dia bangkit dan menatapku dengan tatapan asing. Sepertinya dia sudah tidak begitu mabuk lagi. Hanya saja aku tidak mengenali tatapannya.


"Kita pulang bersama." ajakku.


Aku menarik tangannya tapi langsung ditepis dengan kasar.


Dia bangkit dan menarik tanganku keluar dari kamar itu. Seisi ruangan mendadak hening semua mata tertuju pada kami.


"Pulang." Tony mendorong seraya melepaskan tanganku.


"Kita pulang bareng." ngototku.


"Jangan keras kepala. Gue bilang pulang!" sentaknya


Air mata ku tidak bisa di bendung lagi. Hatiku sakit sekali melihat sikap Tony.


"Lo pulang deh. Lo dan Tony uda selesai." kata teman Tony yang memapahnya tadi. Dia menarik lenganku tapi langsung ku tepis.


"Apa maksudmu selesai?" aku melotot pada laki-laki yang tatapannya remeh.


"Tony selama ini nipu lo. Sekarang Tony gak mau berurusan lagi dengan lo apalagi pulang ke gubuk kumuh lo." laki-laki gondrong itu menusuk-nusuk bahuku dengan jarinya.


Aku menatap Tony yang duduk menunduk dan hendak menghampirinya. Tapi laki-laki gondrong itu menghadang. Lalu tangan ku di tarik dengan kasar oleh seseorang dan menarikku keluar dari ruangan itu. Aku berusaha membebaskan tanganku yang di genggam sangat erat sambil mengerang kesakitan. Tapi tidak bisa.


Dia terus menarikku sampai masuk ke dalam lift baru akhirnya dilepaskan. Aku mengurut tanganku yang kesakitan sambil terisak-isak. Ternyata dia laki-laki yang tadi hampir menghajar Tony.


"Jangan mengganggu Tony lagi." Perintahnya lalu pintu lift terbuka dan lagi-lagi dia menarikku keluar dari lift.


"Kenapa kalian memisahkan aku dan Tony?" isakku


Dia menghentikan langkahnya dan mendorongku dengan kasar ke dinding.


"Dengarkan baik-baik. Tony akan segera menikah dengan adik perempuan ku. Jadi aku tidak akan pernah mengijinkan siapapun merusak pernikahannya." ancamnya


"Menikah? Setahun ini Tony tinggal bersama ku. Tidak mungkin dia akan menikah dengan orang lain."


Aku menangis histeris sambil memukul dadanya.


"Lia. Lia." Kak Jay memanggilku dari kejauhan dan berlari menghampiri. "Apa yang terjadi?"


"Pokoknya menjauh dari dia. Aku akan mengawasi mu." Setelah berbisik di telingaku, dia mundur dan membiarkan Kak Jay membawaku.


"Apa yang terjadi padamu?" Kak Jay bertanya saat kami di ruang istirahat, tempat biasanya kami menyimpan barang di loker.


Aku masih terisak sampai tidak bisa menjawab apa-apa.


"Baju mu kenapa? Kamu..." Kak Jay melepaskan Jas hitamnya dan memakaikan padaku.


Aku gak sadar kalau ada kancing yang lepas dan kemeja kusutku tidak masuk di dalam rok span. Kak Jay mengibas rambut panjangku yang menutupi leher. Dia ingin memastikan apakah ada bekas merah di situ. Kak Jay tertunduk sambil menghela nafas karena apa yang ingin dia pastikan ternyata ada disana. Aku yakin bercak merah itu bukan hanya ada di leher. Walaupun yang di lihat Kak Jay hanya di bagian itu, cukup untuk menjelaskan apa yang terjadi padaku tadi.


"Kamu di lecehkan?" bisiknya pelan. "Siapa? Kamu kenal? Orang yang tadi?"


Aku menggeleng.


"Mobil yang mengantar kalian pulang sudah berangkat lima belas menit yang lalu. Kamu bisa tunggu di sini? Nanti aku akan mengantarmu pulang."


Kak Jay memapahku masuk ke ruangan di balik lemari loker. Setahuku ruangan itu terkunci dan tidak ada yang diperbolehkan masuk.


"Disini ruang istirahatku kalau sedang tidak ingin pulang. Kamu tidur dulu disini, nanti setelah aku selesai, kita pulang sama-sama." Kata Kak Jay lembut.