
"Lia, jadi pacar ku mau gak?"
"Gak mau." aku meringis.
"Aku kurang tampan?" Kak Zio memperbaiki posisi duduknya.
"Aku sudah punya pacar. Kurasa seisi kampus juga tahu itu." Aku duduk sedikit menyamping ke arah jendela.
"Tapi kalian kan LDR."
"Itu bukan alasanku untuk selingkuh." tukasku tersinggung.
Aku melotot marah pada Kak Zio. Aku tidak peduli kalau dia adalah seniorku. Yang aku tahu adalah dia terlalu lancang karena menganggap aku gampangan. Masih ada empat jam perjalanan lagi baru sampai di tujuan, aku sudah muak dengan Kak Zio. Kuliah gratis tampaknya lebih mudah dihadapi dari pada ini.
"Kita bisa sembunyi-sembunyi. Jika kamu ternyata jatuh cinta padaku, kamu baru putus dengannya." ujarnya lagi.
Detik ini juga aku ingin menampar wajahnya tampannya. Setidaknya beberapa menit yang lalu aku masih menganggapnya tampan. Sekarang aku menilai wajahnya menjijikkan.
"Jawabanku tetap tidak!" tegasku kuat.
"Hey ada apa di sini? Tegang amat suasananya." Suara Pak Gil terdengar dan aku menoleh.
Untuk pertama kalinya aku lega akan kehadiran Pak Gil.
"Semua baik-baik saja, Pak." Elak Kak Zio.
"Pak, aku ingin membahas sesuatu dengan Bapak. Apakah Bapak punya waktu?" alasanku.
Walaupun aku tidak beneran ingin duduk bareng Pak Gil. Tapi tampaknya lebih gampang mengabaikan Pak Gil dari pada Kak Zio yang memuakkan.
"Tentu saja. Waktu ku ada empat jam. Apakah cukup?" Pak Gil seraya melihat ke jam tangannya.
"Cukup." jawabku lalu bangkit.
Aku menyepak paha Kak Zio kasar agar dia memberi jalan.
"Apa yang terjadi?" tanya Pak Gil saat kami sudah duduk di kursi belakang yang kosong. Sesekali Kak Zio menatapku dari depan.
"Dia memintaku untuk pacaran dengannya." Jawabku jujur.
Pak Gil tertawa dan aku balas dengan tatapan tajam. Menganggap ini tidaklah lucu.
"Maaf, maaf." Pak Gil menyadari aku tidak senang dengan responnya. "Jadi apa jawaban mu?"
"Tentu saja aku tolak. Aku sudah punya pacar. Lalu dia memintaku untuk selingkuh dengannya."
"Menarik." ucapnya singkat. Jelas sekali sedang menahan tawa.
"Tidak lucu dan tidak menarik, Pak. Aku tidak mengerti bagian mana yang lucu."
Detik itu aku ingin pulang ke asrama. Andai saja aku menuruti David untuk tidak ikut kegiatan ini. Aku memalingkan wajahku ke jendela sambil menyesali keputusanku.
"Maaf, Lia. Aku juga tidak menganggap ini lucu. Hanya ingin mencairkan suasana. Selama kegiatan ini kamu pasti akan merasa tidak nyaman. Aku akan selalu di dekatmu agar kamu tidak terganggu lagi oleh Zio."
"Hmm.." gumamku.
Terus menerus di dekati oleh Pak Gil juga bukan bagian dari rencanaku. Mungkin sebaiknya aku harus segera mencari dan bergabung dengan kelompok gadis-gadis yang bersedia menerimaku.
Sisa perjalanan empat jam aku duduk dengan Pak Gil berjalan dengan tenang. Aku terus menerus menatap keluar jendela dan melamun kadang mengantuk lalu memenjamkan mata sejenak. Pak Gil juga tidak mengajakku mengobrol. Di sisi ini aku merasa Pak Gil sedikit pengertian dan manusiawi. Bukan Pak Gil yang memberikan kuliah gratis pada seseorang yang baru dia jumpai di atas awan. Tapi seorang kakak yang sedang memberi jarak antara dunia luar dari adiknya.
Singkat cerita, waktu yang berjalan lambat pun akhirnya tiba di tujuan juga. Kami sampai di perkemahan yang berada di lereng gunung. Tempatnya luas dan di kelilingi oleh sungai dan air terjun yang berjarak tidak jauh dari sini. Tempat ini adalah salah satu perkemahan yang terkenal dan di gandrungi oleh para wisatawan. Tapi saat ini, wisatawan tidak ada yang berkunjung karena sudah di reservasi sepenuhnya untuk acara kampus. Total tenda yang harus kami bangun sebanyak sebelas tenda. Masing-masing tenda bisa di isi empat orang. Beruntungnya, penempatan tenda ditentukan secara acak.
Aku di tempatkan bersama tiga gadis di fakultas yang berbeda dengan ku. Kami saling berkenalan dengan ramah dan bekerja sama membangun tenda untuk pertama kali. Kak Zio menawarkan diri untuk membantu kami. Tiga gadis lainnya sangat antusias karena ketampanan Kak Zio. Hera sampai tersipu ketika Kak Zio memintanya untuk membantu memegang tiang. Senyum Kak Zio yang manis membuat mereka bertiga tidak berhenti membicarakannya ketika tenda kami yang paling dulu berdiri kokoh di bandingkan sepuluh tenda lainnya. Masih bisakah aku akrab dengan mereka jika kukatakan kalau Kak Zio baru memintaku selingkuh dengannya enam jam yang lalu? Ide bodoh ini sudah pasti akan kukubur dalam-dalam di lereng gunung ini. Kak Zio bisa saja hanya ingin mempermainkanku atau hanya sekedar memastikan kesetiaanku karena gosip tentang aku adalah sugar baby telah beredar di fakultasku, bahkan sampai ke telinga dosen-dosen. Buktinya kini Kak Zio sedang tebar pesona lagi di tenda yang lain. Gadis-gadis satu tendaku masih betah memantau Kak Zio dari pada menyusun barang-barang ke dalam tenda. Aku ikhlas melakukannya sendiri.
Malam pertama di tenda.
Setelah selesai makan malam mie instan dari kompor portable yang di sediakan tempat perkemahan, kami di minta untuk segera masuk ke dalam tenda. Hera, Jenny, Vivi dan aku walaupun masing-masing di fakultas yang berbeda tapi ajaibnya kami cepat akrab. Kami meringkuk di balik selimut tebal sambil bercerita dan bercanda tentang kejadian lucu dosen-dosen kami. Malam pertama berlalu dengan cepat sampai-sampai aku lupa memberi kabar pada David karena mengecas handphone dalam keadaan padam.
Pagi hari di bangunkan oleh kicauan sekelompok burung dan desiran pohon. Vivi yang duluan bangun, dia membuka resleting tenda dan cahaya matahari langsung masuk ke dalam menyilaukan mata kami. Aku menggeliat di dalam selimut begitu juga Hera.
"Pagi." ucapnya dengan suara serak
"Pagi." sahutku.
Aku dan Hera langsung bangkit dan berjongkok di belakang Vivi untuk melihat ke arah matanya menatap. Tentu saja aku tidak seantusias Hera dan Vivi. Jenny yang baru saja membuka mata juga tidak mau kalah. Ikut mendongakkan kepalanya. Hera mengambil handphonenya dan merekam Kak Zio yang bertelanjang dada, mengayunkan kapak ke kayu yang langsung terbelah dua. Ketiga gadis yang sedang asik-asiknya mengintip tiba-tiba terpekik kegirangan ketika Kak Zio menyadari kalau dia mendapatkan penonton dan melambaikan tangannya pada mereka.
Lebih hebohnya lagi, Kak Zio melempar kapaknya ke samping lalu menghampiri tenda kami. Ketiga gadis ini antara senang dan panik. Senang karena dihampiri Kak Zio dan panik karena tampang di pagi hari yang lumayan privasi untuk seorang gadis. Andai saja mereka tahu kalau sebenarnya laki-laki paling suka melihat wajah bantalnya perempuan. Lebih menggemaskan dan terasa lebih intim. Setidaknya aku tahu hal ini dari Tony dan David.
Semakin dekat jarak Kak Zio ke tenda, tiga gadis ini semakin panik mengecek wajah mereka masing-masing di cermin cushion sambil rebut-rebutan. Aku gak bisa gak tertawa melihat tingkah mereka.
"Pagi." Kak Zio berjongkok di depan tenda kami.
"Pagi!!" mereka menyahut serentak.
"Cepat amat bangunnya?" tanya Kak Zio menyunggingkan senyumnya.
Dadanya yang basah dan beberapa butir keringat menetes dari keningnya menambah nilai ketampanannya. Ketiga gadis di depanku yang tadinya antusias sekarang berubah menjadi gugup. Tidak ada satupun yang menjawab pertanyaan Kak Zio. Mata mereka tertuju pada tubuh atletis Kak Zio yang berkilau karena keringat yang terpantul cahaya matahari.
"Karena berisik makanya kami jadi bangun. Perlu banget pagi-pagi belah kayu, Kak?" Jawabku memecahkan kecanggungan di tenda.
"Oh, maaf yah kalau aku berisik." Kak Zio malu seraya menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal.
"Gak gak. Gak berisik kok. Kami yang minta maaf karena mengganggu Kakak." jelas Vivi dengan suara gemetar.
"Gak ganggu sih. Kalian ada yang mau nyoba gak?" Kak Zio menunjuk dengan jempolnya ke arah tunggul pohon yang tadi dijadikan alas untuk membelah kayu.
Ketiga gadis ini saling pandang lalu mengangguk serentak.
"Lia, ikut?" tanya jenny.
Aku menggeleng dengan ekspresi pura-pura takut. Kak Zio menatapku sebentar dengan pandangan yang sulit kuartikan lalu berjalan mengiringi ketiga gadis yang gugup bercampur penasaran. Aku menonton mereka dari dalam tenda sampai akhirnya orang-orang di tenda yang lain ikut bermunculan dan berkumpul menjadi kerumunan besar. Bisa kubayangkan wajah Kak Zio yang bangga bisa memamerkan keahliannya kepada junior-juniornya.
Detik berikutnya aku tersentak karena teringat belum memberi kabar kepada David sejak tadi malam. Aku menyalakan handphoneku dengan jantung berdebar-debar. Terbayang mata tajamnya dan raut wajahnya ketika marah.
David : Sudah sampai?
David : Sudah makan malam?
David : Cepat tidur dan jaga dirimu di sana.
David : Ingat kunci tenda. Awas ular kecil.
Setelah membaca pesan terakhir, aku kontan meloncat keluar dari tenda. Seolah-olah di dalam tenda beneran ada ular kecil yang menyelinap masuk.
Aku memakai sandal dan menelepon David. Saat ini masih jam setengah tujuh. Mungkin David baru bangun.
"Gara-gara kamu bilang awas ular, aku jadi meloncat keluar dari tenda." protesku setelah mendengar suara David di seberang.
David tergelak. Suaranya masih terdengar parau, tanda dia baru saja bangun.
Pagi-pagi di tempat asing bersama orang-orang baru membuatku sangat rindu pada David. Aku menyampaikan kerinduanku padanya. Dia tertawa mengejekku.
"Aku bisa kesana kapanpun kamu mau. Kurang dari enam jam, kamu sudah bisa memelukku sepuasnya."
"Mana mungkin kurang dari enam jam. Dari bandara ke sini saja memakan waktu enam jam. Belum lagi jarak pesawat ke sini."
"Kalau naik heli, mungkin bisa." gelaknya "Mau taruhan?"
"Jangan gila, Dave. Kita sudah sepakat."
"Asalkan kamu yang minta, aku gak keberatan."
Sebenarnya aku goyah. Aku ingin dia ke sini dan membawaku pulang ke asrama. Aku ingin mengatakan padanya kalau aku tidak nyaman dengan Pak Gil dan Kak Zio. Aku marah karena Della tidak satu destinasi dengan ku. Aku ingin jujur kalau sebenarnya aku memaksakan diri untuk akrab dengan tiga gadis satu tendaku. Aku ingin kembali meringkuk di dalam zona nyamanku. Aku tidak suka kegiatan jalan-jalan bersama orang-orang asing ini. Aku kesepian diantara keramaian. Aku cuma butuh David.
Semua kata-kata hatiku ini kutelan bulat-bulat. Suatu hari aku akan mengatakan pada David. Tiga tahun lagi saat kami berjumpa. Saat kami berhasil menyelesaikan kesepakatan kami. Percakapan kami berakhir saat Miss Hayati membubarkan kerumunan yang semakin tidak terkontrol karena semua orang ingin mencoba membelah kayu, sedangkan kayu yang di butuhkan sudah berlebihan. Orang terakhir yang mencoba tak lain adalah Pak Gil yang tubuhnya terhuyung-huyung ketika mengangkat kapak itu terlalu tinggi. Orang-orang yang berdiri di dekat Pak Gil kontan panik dan menjerit. Sebagian orang berhasil merekam kejadian konyol itu dan menyebarnya. Pak Gil berhasil menambah fans baru untuk dirinya.
Salah satu hal yang tidak di sukai kebanyakan orang saat berkemah adalah, tidak bisa mandi. Kami semua diarahkan ke pinggiran sungai dangkal untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Di area perkemahan ada disediakan toilet tapi lokasinya berjarak sekitar lima ratus meter dari tenda plus ngantri panjang.
Para Dosen dan panitia mulai membuat api di dalam tong bekas minyak yang besar dengan kayu bakar. Asap-asap mulai mengepul. Tak sedikit orang yang batuk-batuk dan matanya berair akibat asap tersebut. Aku, Jenny, Hera dan Vivi memilih untuk bersembunyi di dalam tenda sambil menutup rapat-rapat agar asap tidak masuk. Kami berempat mengambil kesempatan ini untuk mengeluh hari pertama yang menyedihkan ini. Kami berempat sependapat kalau kegiatan ini pasti akan berakhir kecewa. Tapi sangkaan kami ini ternyata tidak sepenuhnya benar.
Singkat cerita, setelah drama asap berakhir, kami akhirnya berhasil sarapan sup sayur asam hambar dan nasi kurang matang. Vivi sudah mau nangis dan memaksa menelan sampai habis. Usut punya usut ternyata Vivi adalah kerabat dari keluarga kerajaan dari negeri sakura. Pantas saja perawakannya imut, cipit, wajah bulat, kulit seputih susu. Vivi berjanji tahun depan dia akan mengajukan seribu alasan untuk tidak ikut lagi di kegiatan luar kampus. Aku ikutan berjanji dengannya. Sedang kebahagiaan berpihak pada Hera dan Jenny. Mereka berdua menemukan gebetan masing-masing. Laki-laki di fakultas lain yang duluan mendekati mereka. Obrolan nyambung dan mereka berdua memisahkan diri meninggalkan aku yang tak berhentinya menjadi penghibur laranya Vivi.
Sore harinya Vivi demam. Aku yang pertama kalinya menyadari karena Vivi semakin pucat dan lemah. Aku keluar dari tenda dan mencari panitia atau dosen yang bisa dimintai tolong. Tapi tidak ada satu orang pun yang berada di area tenda karena mereka semua sedang berada di lapangan sebelah bermain games. Aku berlari ke lapangan dengan kaki telanjang karena terlalu panik sampai-sampai aku lupa memakai alas kaki. Aku terhuyung-huyung di jalan setapak karena beberapa kali menginjak batu kecil.
Beruntungnya di tengah jalan, aku berjumpa dengan Pak Gil yang berjalan ke arah berlawanan. Aku menjelaskan secara singkat kondisi Vivi lalu Pak Gil yang ikutan panik langsung menelepon seseorang. Aku tidak tahu dia menelepon siapa karena aku kembali berlari ke tenda. Kondisi Vivi semakin lemah, nafasnya pendek dan kesadaran mulai hilang. Tubuhnya bergetar dan terasa sangat panas. Aku ketakutan sampai menangis. Tak sampai setengah jam, mobil ambulans berhenti tepat di depan tenda. Vivi akhirnya berhasil masuk ke dalam ambulans setelah di infus. Pak Gil dan aku masuk ke dalam ambulans sebagai wali Vivi. Aku masih menangis dan sampai tidak sadar kalau Pak Gil memelukku.