Second Change

Second Change
Chapter 38



"Lia..Lia.. Keren banget perjalanan mu." sorak Della di kamar asrama kami.


Aku yang masih mendekap di balik selimut di goyang-goyang Della begitu dia melihat wujudku di kamar setelah seminggu menghilang.


Aku mengerang dan dia menunjukkan layar handphonenya padaku yang masih berusaha membuka mata.


"Kak David ternyata tinggi banget, Lia." serunya lagi. "Di foto ini jelas banget wajah Kak David. Lebih tampan dari saat Video Call."


Aku duduk dengan setengah badan masih di dalam selimut. Berusaha menyadarkan diri dari sisa-sisa jetlag. Aku menoleh ke layar handphone Della yang menampilkan isi dari medsos ku.


"Kenapa Kak David kok tiba-tiba mau muncul di sosmed kamu, Li?" tanya Della lagi.


"Aku maksa." jawabku dengan kesadaran setengah nyawa dan suara masih serak.


Dari awal memang David sudah memperingatiku kalau dia tidak mau fotonya terpampang di media sosial manapun. Karena takut mengundang pihak dari stasiun tv atau redaksi untuk melakukan interview eksklusif yang paling di bencinya. Selama ini David sudah menolak puluhan media dengan alasan tidak mau muncul di media manapun. Tapi kenapa kali ini dia berhasil muncul di medsos ku dengan berbagai pose dan pakaian yang santai?


Cerita awal bermula dari postingan pertama semenjak aku menginjakkan kaki di Jepang. Yaitu foto dua Bento yang kami beli di stasiun. Dengan caption : 'Our First Meal at Japan, after one years.'


Setelah postingan itu, followers ku bertambah dua ratus dalam sejam. Pengikut-pengikut itu tak lain adalah mahasiswa di kampus. Tak terkecuali Pak Gil dan Kak Zio. Lantas aku mengatakan kepada David kalau dua orang ini sering mengusikku di kampus. Jiwa kecemburuan David muncul. Dia meraup bibirku di atas tempat tidur lalu memfotonya kemudian langsung di upload ke medsos ku.


"Kalau mereka masih mengusikmu, beritahu aku. Aku akan..."


"Sudah.. Sudah. Ini saja sudah cukup." aku menyentuh bibirnya dengan jariku.


Dan pada akhirnya, dua puluh postingan selama di jepang rata-rata adalah wajah David. Hari ke empat, Katrine menelepon bahwa banyak media yang meminta klarifikasi dari David tentang kemunculannya di medsos. David tertawa dan meminta Katrine untuk membuat jadwal kepada media yang ingin meng-interview-nya secara eksklusif.


"Serius, Dave? Gara-gara aku." ucapku sesal.


"Memang sudah waktunya memunculkan diri. Sekalian mempromosikan proyek baru Ayah." David mengakhiri pembahasan media dengan kecupan di keningku.


Aku akhirnya merangkak turun dari tempat tidur dan membuka salah satu koper yang masih berbaris rapi. Aku mengeluarkan paper bag yang bertulisan Issey Miyake lalu menyerahkan kepada Della yang matanya langsung berbinar-binar setelah mengintip isi paper bag itu.


"Serius, Li?!" dia mendekap paper bag tersebut


Aku mengangguk dengan yakin sambil tersenyum cipit.


Della mengeluarkan Lucent Bag berwarna hitam dengan tampilan tiga dimensi dari potongan kulit segitiga yang di susun menjadi persegi di keseluruhan tas tersebut. Della hampir nangis menatap dan mengelus tas tersebut sejak tadi. Aku mengambil kesempatan ini naik ke tempat tidur untuk melanjutkan tidur lagi. Karena hari ini adalah hari Minggu dan masih pukul enam pagi. Aku menguap lebar lalu kembali tidur.


***


Hari demi hari berikutnya berlalu dengan cepat. Ujian tengah semester sudah berlalu dan lagi-lagi ujian akhir semester sudah menunggu di depan mata. Masa-masa pengabaian David telah di mulai lagi. Setiap hari aku dan Della sibuk menyelesaikan puluhan lembar soal, membuat power point, membuat makalah dan bimbingan perorangan dengan dosen. Hasil Ujian Akhir Semester tentu saja memuaskan. Akhirnya nilai A menghiasi semua mata kuliahku. Begitu juga dengan Della. Kamar kami kontan di penuhi dengan sorak riuh kami berdua. Akhirnya kali ini aku berhasil mendapatkan beasiswa untuk semester depan. Kabar ini langsung ku beritahukan kepada David.


Lalu apa yang terjadi?


Keesokan, pagi-pagi buta, di saat matahari masih mengintip malas di balik awan yang sedikit mendung. Seseorang mengetuk pintu asrama. Della yang membuka pintu, kakak admin mengabari kalau seorang kenalan ku sedang menunggu di bawah. Seorang perempuan berpakaian rapi, berambut panjang dan berkacamata.


Della membangunkan aku dan menemaniku turun menyambut tamu yang katanya kenalanku. Aku masih tidak bisa menebak kalau aku punya saudara dengan ciri-ciri seperti yang disebutkan tadi. Sampai akhirnya orang itu berdiri depanku.


Aku memeluk Katrine yang juga sama senangnya saat melihatku.


"Kamu sama siapa?" tanyaku sambil mengintai di balik punggung Katrine.


"Bapak tidak ikut. Katanya nanti Lia marah kalau Bapak tiba-tiba kemari." ujarnya seolah-olah tahu kalau aku berharap sosok David muncul dari belakangnya.


"Jadi, kamu sendiri?" tanyaku kaget. Teganya David menyuruh Katrine jauh-jauh kesini sendiri.


"Iya, sendiri." ujar Katrine salah tingkah.


Sebenarnya Katrine jarang bersikap seperti itu. Dia adalah orang yang percaya diri dan melakukan sesuatu dengan pasti. Tapi kayaknya Katrine sedang menyembunyikan sesuatu. Aku mengajak Katrine masuk ke dalam kamar asrama. Ternyata Katrine saat ini sedang cuti setelah bertahun-tahun tidak pernah libur sama sekali. Kejanggalan lain yang kurasakan adalah bagaimana bisa Katrine cuti, padahal dua hari yang lalu David mengatakan kalau akan ada rapat dengan investor-investor tentang pengembangan proyek. Sejak hari itu, David mondar-mondar menjumpai investor sampai ke luar kota dan tengah malam baru sampai di rumah. Jika pekerjaan yang bersangkutan dengan proyek, clien, investor dan pemegang saham, David harus selalu melibatkan Katrine. Katrine yang mengatur semua jadwal dan bahan lalu David yang mempelajarinya. Selama beberapa tahun ini, aku sedikit mengerti tentang pekerjaan David.


Kejanggalan ketiga adalah katrine jauh-jauh kemari tetapi hanya stay selama dua hari saja. Padahal kalau sudah bertahun-tahun tidak cuti, bukankah lebih menyenangkan sekalian berlibur lebih lama? Pokoknya kehadiran Katrine hari ini selain menitipkan sebuah kalung frank & co dari David juga menyisakan kejanggalan. Belum sempat mengajak Katrine untuk sarapan bareng, dia sudah duluan pamit. Iya, secepat itu untuk orang yang sudah dua tahunan tidak jumpa.


"Lia, tadi itu siapa? Keren banget pacarnya pakai setelan trus jemput pakai mobil sport warna biru." tanya kakak resepsionis saat aku dan Della hendak keluar.


"Oh itu, ehm." aku panik karena kakak-kakak yang lain ikutan nimbrung karena penasaran. "Sekretarisnya pacar aku."


"Pantas saja, vibenya kayak wanita karir banget. Lihat gak stilettonya tadi? Berkelas banget."


"Pacarnya tadi kalian lihat gak sih? Ganteng banget. Kayak konglomerat gitu."


Kejanggalan yang lain menyerobot ke dalam hatiku. Mobil sport biru, laki-laki bersetelan dan mirip konglomerat. Perasaan gak enak memompa jantungku dengan kencang dan mengobok-obok isi perutku.


"Del, aku kayaknya gak jadi ikut deh." rasanya aku ingin segera masuk ke kamar, menenangkan diri lalu menelepon David.


Sebenarnya ada skenario yang tiba-tiba muncul di otakku yang aku sendiri tidak mau mempercayainya. Bagaimana kalau sebenarnya David dan Katrine datang berdua, Katrine berbohong kalau David tidak ikut lalu saat ini mereka sedang pergi berdua, berlibur. Kalau tidak berlibur, mungkin saja ada pertemuan dengan investor di kota ini. Tapi mengapa tidak memberitahuku


Dugaan ku ini di dukung oleh handphone David yang tidak aktif. Pikiranku semakin kacau. Adegan-adegan tidak pantas muncul bertubi-tubi tanpa ampun. Opini kakak-kakak yang melihat sangat yakin kalau laki-laki tersebut adalah pacar Katrine. Lalu mobil sport biru adalah hadiah dari ayah David setengah tahun yang lalu sebagai hadiah ulang tahun. Aku masih ingat dengan jelas kalau David bilang kalau aku tidak cocok naik mobil sport. Lebih cocok range rover atau bmw yang sering dia pakai. Apakah mungkin karena mobil sport ini lebih cocok di pakai bersama Katrine yang lebih elegan?


Sudah sepuluh kali aku mencoba menelepon ke handphone David yang tidak aktif. Sudah seratus kali aku mengenyahkan pikiran-pikiran yang semakin meliar. Entah sudah berapa lama aku duduk terbengong di lantai kamar asrama. Lalu handphone ku berdering.


Della.


Aku kehilangan gairah untuk mengangkat teleponnya dan membiarkan dia berbunyi sampai terputus sendiri. Nada dering chat berbunyi.


Della : Li, angkat video call ku cepat. Kami nemu Sekretarisnya kak David.


Detik berikutnya handphone ku berdering lagi. Aku langsung menggeser bulatan biru ke atas. Muncul mobil sport biru berhenti di depan lobi hotel dari kejauhan dan tertutup untaian daun-daunan tanda Della sedang bersembunyi di seberang. Lalu tampak Katrine turun dari mobil dan seorang laki-laki memanjangkan tangannya menyambut pinggang Katrine, menuntunnya masuk ke dalam lobi. Seperti yang mereka bilang, laki-laki itu berstelan rapi, tinggi dan pastinya pacar Katrine.


"Li, laki-laki itu siapa?" tanya Della di panggilan.


"Wajahnya gak jelas." ucapku.


Padahal aku ingin bilang, kalau dari belakang sedikit mirip David.