Second Change

Second Change
Chapter 26



Ruangan kerja yang lebih minimalis daripada yang kubayangkan. keempat sisi ruang terpajang lukisan besar dan kaligrafi Tiongkok. Sudut ruangan ada Vas porselin setinggi aku.


Aku duduk di kursi kayu yang bisa berputar dengan kaki gemetaran, berhadapan dengan Papa David yang berwajah tegas. Garis-garis di keningnya tampak jelas, menandakan dia hendak membicarakan sesuatu yang serius padaku.


"Kamu serius dengan David?" tanyanya tiba-tiba.


Aku terpaku dengan pertanyaannya yang aku sendiri juga tidak tahu jawabannya. Sebelum siapapun bertanya padaku, aku sudah duluan bertanya puluhan kali pertanyaan ini kepada diriku sendiri. Jawabanku selalu, jalanin aja dulu.


"Atau kamu bertahan dengan David karena Tony?" tanyanya lagi.


Pertanyaannya seperti selongsor peluru yang langsung menembak tepat di tengah-tengah jantung lalu sukses menembus kulitku. Seketika aku tidak bisa bernafas dan terpaku kaku di kursi.


"Aku tahu hubunganmu dengan Tony. Dan tahu bagaimana kamu bisa sampai di sini. Jika kamu bertahan dengan David karena Tony, katakan apapun yang kamu mau. Ambil dan pergi." Papa David mengerutkan kening menunggu jawabanku.


Bagaimana Papa David tahu hubunganku dengan Tony? Bagaimana dia tahu segalanya? Bukankah hanya aku, David dan Tony yang tahu kebenaran ini? Aku mengenyahkan semua pertanyaan itu dan berpikir cepat apa yang harus kukatakan.


"Aku. Maksudku, Saya. Ehmm.. Om..." Aku menarik nafas, memenjamkan mata menghitung pelan.


Satu


Dua


Tiga


"Awalnya aku adalah tawanan David. Aku kesal dan jengkel karena dipaksa tinggal dengannya. Tapi lama kelamaan, perasaan jengkel itu hilang. Aku mulai terbiasa ada David di hidupku. Sejujurnya aku takut kalau David yang memutuskan untuk memulangkan aku. Aku takut kembali ke lingkungan yang sudah tidak menerima ku lagi." Aku meremas pahaku kuat untuk menutupi badanku yang gemetaran.


"Intinya kamu hanya memanfaatkan David." tukasnya


"Aku tidak berpikiran begitu Om. Aku hanya membiarkan segalanya berjalan mengikuti arus. Aku bahkan tidak pernah berpikir bagaimana akhir semua ini."


"Berarti jika David membuangmu, kamu juga akan mengikuti arus?"


"Aku tidak tahu." jawaban yang kuucapkan setelah terdiam selama beberapa detik.


"Katakan apapun yang kamu mau."


Aku menunduk, teringat Papa dan Mama. Teringat kehidupan saat aku kecil di rumah yang hangat itu. Teringat kenyataan kalau aku sudah menghancurkan rumah itu dengan tanganku sendiri. Teringat aku tidak lagi bisa tinggal disana. Aku juga pelan-pelan menghancurkan hidupku, sampai aku bisa tersesat di tempat yang seharusnya bukan milikku. Sampai aku melupakan mimpiku.


"Benarkah om akan mengabulkan apapun yang aku mau?" tanyaku.


"Jika kamu berani mengatakannya, apapun akan kuberikan." Papa David memajukan badannya, seolah-olah menerima tantangan ku.


"Aku ingin Om membeli rumah orang tuaku, membangun kembali dan menjadikannya rumah yang layak huni." ujarku.


"Hanya itu?" tanyanya


"Aku akan memakai uang itu untuk kuliah di kota lain. Selama aku kuliah, aku tidak akan kembali ke sini. Tapi aku ingin hubunganku dengan David tidak di tentang oleh Om. Jika hubungan kami kandas di tengah jalan, selamanya aku tidak akan kembali lagi ke sini. Tapi jika kami bisa bertahan, aku mohon kepada Om untuk merestui kami."


Jantungku berdegup kencang. Untuk pertama kalinya aku seberani ini mengajukan keputusan yang begitu besar.


"Kamu gadis yang pintar. Sayangnya nasibmu saja yang kurang mujur."


"Jika Om bisa mengabulkan permintaanku, ini akan menjadi hal yang paling mujur yang pernah ku dapatkan seumur hidupku."


"Kenapa kamu tidak pernah ajukan permintaan ini ke David? Kamu merasa dia tidak mampu membeli rumah orang tuamu atau dia tidak rela membiarkanmu kuliah ke luar kota?"


"Jika dia yang membeli rumahku, seumur hidup aku akan terikat dengannya. Jika suatu hari kami berpisah, di saat aku teringat orang tua ku dan rumah yang penuh dengan kenangan, aku akan teringat padanya. Jika Om yang membeli, aku akan menganggap Om sebagai pembeli random yang memang tertarik dengan rumah itu."


Raut wajahnya merenggang, Papa David kembali bersandar pada kursinya sambil tetap menatapku selama hampir satu menit.


"Besok aku akan meminta notaris untuk mengurus perjanjian jual beli. Sekretaris ku akan membantumu menyiapkan surat-surat yang diperlukan."


Aku menarik nafas panjang lalu mengangguk. "Terima kasih, Om."


"Panggil David kemari." perintahnya seraya memperbaiki duduknya.


...****************...


"Apa yang Ayah katakan padamu. Sepertinya serius banget." tanya Emi.


"Sesuatu yang melegakan pokoknya." ujar ku.


"Ihhh apaan sih? Kasi tau dong." bujuk Emi.


"Bukan apa-apa. Kamu sudah mau berangkat, mending gak usa terlalu banyak berpikir dan khawatir hal-hal kecil kayak gini lagi deh."


"Yakin bukan apa-apa? Ayah menyuruhmu berpisah dengan kakakku?"


Aku menggeleng.


Aku yakin Tony yang berdiri di sudut ruang tamu walau sedang memandangi handphonenya, tapi sebenarnya sedang mendengar percakapan kami.


Aku mengangguk.


Emi bangkit dan lari memanggil Ibunya yang sedang berada di dapur.


Di ruang tamu tinggal aku dan Tony yang saling pandang memandang, seolah-olah punya sejuta pertanyaan yang ingin ditanyakan padaku. Aku berharap dia menghampiri ku dan beneran mengajukan sejuta pertanyaan itu.


"Kan sudah kubilang, Ayah kita itu mudah dibujuk. Lia berhasil kan?" Mama David muncul bersama Emi.


Dia membawa nampan berisi dua piring buah-buahan. Emi meletakkan satu piring ke meja ruang tamu lalu menyerahkan nampan itu padaku.


"Lia, tolong bawakan ke kamar kerja Om yah. Tampaknya pembicaraan mereka akan lama."


Aku mengiyakan dan meraih nampan itu hati-hati.


"Makasih calon mantu." sahutnya ceria.


Menyenangkan sekali punya ibu yang ramah seperti ini. Andaikan Mama masih hidup, kurasa dia pun akan senang kalau tahu aku punya pacar. Tiap malam Mama akan kekamarku berbagi kisah cintanya padaku.


Aku naik ke lantai dua menenteng nampan berisi sepiring penuh buah-buahan potong yang nampak segar. Ada kiwi, buah naga kuning, semangka, melon berwarna peach, anggur dan lychee. Tak sampai semenit, aku sudah berada di depan pintu. Aku menggunakan sikuku untuk menurunkan kenop pintu. Pintu terbuka sedikit dan ketika aku hendak masuk, aku mendengar suara David.


"Aku akan memastikan Lia kembali ke rumah orang tuanya." ujarnya serius.


"Bagus kalau itu keputusanmu."


Apa yang terjadi sebenarnya? Apa yang sedang mereka bicarakan? Bukankah tadi sudah sepakat kalau aku akan pindah ke kota lain. Bukan malah kembali ke rumah orang tua ku. Bukankah Om sudah janji akan membeli rumah itu?


"Biar bagaimanapun disitu lah tempat dia berasal."


Aku tidak sanggup lagi mendengar. Aku shock, tubuhku bergetar hebat. Aku berusaha menstablikan langkahku dan turun ke bawah. Emi yang menungguku di bawah tangga menyadari ada yang tidak beres dengan ku.


"Kenapa Lia? Kamu baik-baik aja?" tanyanya khawatir.


"Enggak." kataku kacau


Aku menyerahkan nampan begitu saja pada Emi. Aku tak sengaja melepaskan tanganku tanpa menyadari Emi belum meraih dengan benar. Alhasil nampan dan piring jatuh ke lantai menghasilkan suara pecahan yang nyaring.


"Ma..maaf, Emi. Ma maaf, aku tidak sengaja."


"Gak apa, Lia. Kamu kenapa?"


Aku tidak menghiraukan penggilan mereka dan lari keluar rumah. Aku berlari sendiri sambil menangis. Jalanan sudah gelap dan suasana di perumahan sudah sepi. Otakku terlalu kacau untuk berpikir aku harus berbelok kemana. Aku hanya mengikuti kemana kaki ini melangkah. Hatiku terlalu sakit untuk menyadari kalau ternyata aku tidak memakai alas kaki. Air mata yang tidak berhenti ini membuat pandanganku kabur sampai tidak menyadari lampu mobil yang menyala ternyata sudah dekat sekali dengan ku. Klakson panjang berbunyi dan langkahku terhenti. Aku sudah siap untuk berakhir di sini.


Badanku terhuyung ke samping dengan keras sampai aku jatuh menimpa seseorang yang mengerang.


"Lo dah gila? Nampak mobil gak bisa ngelak?"


"Aku mau mati aja." isakku jongkok di pinggir jalan.


"Lo yang gue kenal gak selemah itu." hardiknya


"Karena kamu menganggap aku kuat, makanya kamu seenaknya membuangku?" aku bangkit dan memukul dada Tony berkali-kali sampai dia menahan lenganku.


"Gue gak buang Lo. Lo terlalu baik untuk di sebut buang. Gue ... Gue... "


"Kalau gak buang jadi apa? Masih ingat kamu bilang aku menjijikkan? Pas ngomong gitu, kamu ada pikirkan perasaan ku gak sih?"


"Lo cewek yang paling gue suka. Gue suka banget Ama Lo, Lia. Tapi Gue gak bisa lanjut dengan Lo. Gue punya tanggung jawab di keluarga Gue."


"Apa?" tanyaku tak percaya dengan apa yang ku dengar.


"Maafkan Gue, Lia. Andai gue memang bocah pengamen, gue akan hidup dengan Lo Ampe selamanya. Lo cewek hebat yang berhasil bikin gue luluh. Gue sayang banget Ama Lo."


"Jadi kenapa kamu menikah dengan Emi?" tanyaku lirih.


"Gue gak punya pilihan. Nyokap gue ngancam akan sakiti Lo kalau gue gak pisah dengan Lo. Gue lebih rela Lo benci Ama gue dari pada lihat lo tersakiti."


Tony terhuyung ke belakang dan terpelanting dalam waktu sepersekian detik. David baru saja melayangkan tinju ke pipi Tony.


"Tony." seruku


Lenganku di tahan ketika aku hendak memapah Tony yang terkapar di lantai.


"Kamu uda gak ada urusan di sini." ujar David yang menahan lenganku sekuat tenaga.


"Lepaskan aku, Dave!" Seruku


Tony bangkit dan menunjuk jari tengahnya pada Dave lalu meninggalkan kami.