
Lima belas menit di perjalanan, terjebak macet selama lima menitan, Pak Gil dan aku hanya membahas tentang ujian semester kemarin. Tak lupa aku bertanya tentang nilai B yang di berikan padaku saat UTS kemarin.
"Kamu terlalu vakum di kelas, Lia. Tidak pernah bertanya dan menjawab. Itu sebabnya nilai kamu tidak mencukupi untuk ke nilai A." jelasnya santai. "Coba semester depan lebih fokus di kelas. Dan kurangi video call selama di kelas."
Wajahku mendadak panas karena malu. Bagaimana Pak Gil bisa tahu tentang video call? Aku yakin selama mengajar, dia tidak pernah menghampiri mejaku. Lagian, aku selalu duduk belakang, handphone ku otomatis terhalang oleh bangku di depan ku.
"Banyak yang mengatakan padaku. Dosen-dosen lain tidak keberatan karena melihat nilai mu yang lumayan. Dan kamu giat mengikuti kerja kelompok." Pak Gil melihatku sekilas.
Aku menunduk dan diam saja.
"Aku tidak berhak mencampuri urusan asmara kamu. Tapi kalau kamu jelaskan kepadanya baik-baik, saya yakin dia akan mengerti."
"Apa yang harus saya jelaskan dengan pacar saya, Pak?" aku masih menunduk, tp gejolak panas di dada terasa sangat sesak. Sampai-sampai aku gak bisa mengontrol suara saya untuk tidak bersamaan dengan emosi.
"Yah, jelaskan kalau kamu itu sedang mengikuti kelas dan,"
"Dia juga tahu saya sedang mengikuti kelas. Dan saya juga tahu kalau dia sedang bekerja. Video call hanya sebatas layar yang menyala dengan suara bisu. Tidak ada yang terganggu satu sama lain." aku mengepalkan tanganku kuat-kuat di atas kakiku untuk menahan emosi yang memaksa untuk dimuntahkan. "Di kelas Bapak, saya tidak bertanya karena sudah mengerti. Saya tidak menjawab bukan karena saya tidak bisa. Tapi karena saya memang tidak mau terlalu pamer di kelas. Kalau hanya karena itu nilai saya kurang, berarti saya sekarang bisa menilai kalau bapak lebih suka anak didik yang tukang pamer."
"Baiklah, saya mengerti." ucapnya setelah hening beberapa menit.
Toko buku terbesar di kota ini sudah ada di depan mata.
"Terima kasih tumpangannya, Pak. Nanti saya akan pulang sendiri saja." aku menunduk sedikit padanya lalu pergi meninggalkan Pak Gil yang masih di parkiran.
Tanganku gemetaran, entah karena emosi yang tertahan atau karena aku telah berkata kasar pada dosen ku sendiri. Aku menenangkan diri di rak bagian komik. Tarik nafas Lia. Tenang Lia. Tidak apa-apa. Kamu hanya mengatakan yang memang sudah seharusnya. Pak Gil akan mengerti sikap mu.
Setelah memastikan detak jantungku normal kembali, aku keluar dari tempat persembunyianku dan mulai menelusuri toko buku sambilan berusaha menghindari Pak Gil. Setelah hampir satu jam, akhirnya aku ke kasir dengan membawa lima buku pelajaran, dua novel dan satu buku pengembangan diri. Antrian di kasir lumayan panjang, mungkin karena pas sekali dengan jam makan siang, makanya kasir yang melayani hanya satu. Aku mengambil kesempatan ini untuk mengecek handphone yang dari tadi kuabaikan karena sibuk memilih buku.
Ada satu pesan dari David lima belas menit yang lalu.
David : Sudah makan siang?
Lia : Belum. Lagi antri di toko buku.
Lia : Beli buku apa? Coba foto.
Aku memotret isi dari kantong belanjaku dan mengirim ke David.
David : Banyak juga. Bayar pakai kartu kredit ku yah.
Lia : Kalau gitu aku mau nambah sepuluh buku lagi 😏
David : Beli semua isi di toko buku juga boleh 💵💵
Lia : Makaciihh... ❤️❤️
David : ❤️❤️
Suasana hatiku otomatis menjadi lebih baik. Tapi hanya sepuluh menit. Ketika aku keluar dari toko buku, sebuah mobil mencegatku. Mobil yang sama dengan yang ku tumpangi sejam yang lalu.
"Lia, ku antar saja yuk." sebuah kepala menyembul keluar dari jendela.
Aku menolak sambil berjalan menuju gerbang keluar. Tapi mobil itu terus mengikutiku dengan kecepatan yang sama dengan langkahku. Alhasil, mobil-mobil di belakang yang juga ingin keluar membuat barisan panjang dan membunyikan klakson karena tidak sabaran.
Sialan Pak Gil.
Demi menjaga ketertiban dan tidak ditegur satpam yang sudah menghampiri, aku buru-buru masuk ke dalam mobil. Pak Gil mengangkat sebelah tangannya pada Satpam lalu melajukan mobilnya mantap keluar dari gerbang.
"Maaf ya, Lia." Pak Gil menoleh padaku sejenak.
Mata di balik kacamatanya terlihat tulus. Seketika rasa bersalah karena perkataan kasar dan tidak sopan tadi muncul.
"Oke. Ku maafin." Pak Gil tertawa lebar. Wajah culunnya bertambah lugu ketika tersenyum lebar seperti ini.
Tanpa sadar aku tertawa.
***
Hari ini semua mahasiswa yang akan berangkat ke kegiatan luar kampus sedang berkumpul di lapangan. Ketua BEM - Kak Felix sedang memberikan pengarahan dan peraturan yang harus di patuhi selama kegiatan berlangsung. Tingkatan kami kebagian ke perkemahan gunung. Jadwal keberangkatan adalah lusa. List barang-barang penting di bagikan ke setiap peserta yang ikut. Setiap Angkatan akan di dampingi lima anggota BEM, lima panitia dan tiga dosen.
David sedikit tidak senang aku ikut di kegiatan ini. Dia juga tidak bisa sering-sering video call di siang hari karena sedang dinas ke luar kota selama beberapa hari. Puluhan kali dia mengingatkan untuk terus memberi kabar.
Di hari keberangkatan, aku dan Della tidak berada di satu Bus. Karena Della adalah panitia, dia ditugaskan untuk ikut ke angkatan lain. Yang artinya, aku akan lebih banyak menyendiri. Setelah memastikan koperku sudah masuk ke bagasi, aku naik ke dalam Bus dan memilih tempat duduk agak kebelakang di samping jendela memangku sling bag kanvas ku. Sekejap kursi-kursi depan sudah hampir terisi penuh. Pak Gil naik ke dalam Bus, wajahku langsung muram. Yang artinya, aku akan terus berada di jangkauannya selama empat kali dua puluh empat jam. Dia beneran psikopat yang sedang mengincar aku kah? Aku berharap ini adalah khayalanku belaka.
Pak Gil berjalan melewati beberapa kursi yang masih kosong. Jangan-jangan dia hendak duduk di sebelahku ? Bayangan ketika di pesawat muncul dan aku kontan merasa mual.
"Pak Gil di sini dong duduknya!"
Dia di tarik oleh sekelompok gadis-gadis yang adalah fansnya dan berhasil menahan Pak Gil duduk di barisan mereka. Aku menghembuskan nafas lega. Siapapun yang duduk di sampingku aku gak peduli. Asal bukan Pak Gil. Perjalanan ini katanya memakan waktu lima jam. Aku gak mau ada kuliah gratis atau mengorek-ngorek informasi tentang aku dan David. Setidaknya sampai sekarang aman. Gadis-gadis itu masih sibuk menginterogasi Pak Gil.
Sepuluh menit sudah berlalu, masih ada beberapa tempat yang kosong, salah satunya adalah kursi di sampingku. Padahal aku sedikit berharap kalau ada gadis yang duduk di sampingku, untuk bisa berbagi Snack sambil bercerita. Tapi jika tidak ada, maka aku bisa tidur sambil mendengarkan lagu dari TWS (True Wireless Stereo) tanpa terganggu dan tanpa di bilang sombong.
Kak Zio - anggota BEM yang pernah ku temui di kantin bersama Della sedang mengabsen kami. Satu persatu nama di panggil, termasuk namaku. Setelah memastikan tidak ada peserta yang ketinggalan, Kak Zio melipat kertasnya dan memasukkan ke dalam saku kemejanya. Aku tidak memperhatikannya lagi setelah itu karena mengeluarkan TWS dari tas, memasang ke telinga lalu membuka playlist dari Spotify. Lagu Bruno Mars langsung meredam suara-suara riuh di Bus.
Jantungku hampir meloncat keluar ketika TWS di sebelah telingaku mendadak di ambil.
"Dengar lagu apa?"
Kak Zio menggoyang-goyangkan kepalanya mengikuti irama lagu 'The Lazy Song'.
Aku tidak menghiraukan pertanyaannya dan memandang keluar jendela dengan wajah masam.
Kak Zio mengetuk-ngetuk bahuku dengan jarinya.
"Apa?!" tanyaku ketus.
"Kamu tidak seramah yang di bilang Della ternyata." katanya sambil mengedipkan sebelah mata.
Aku kembali memalingkan wajah darinya. "Aku tidak ingin di ganggu."
"Alright." itu kata-kata terakhir yang diucapkan padaku selama sejam terakhir.
"Kamu lapar gak?" tanya Kak Zio menjulurkan sebungkus roti padaku dan dia sedang makan satu.
"Aku ada bawa juga. Makasih."
"Sudah berkurang judesnya. Sudah bisa di ajak ngobrol dong kalau gitu?" Kak Zio mengunyah sambil tersenyum membuat kumis tipisnya ikut bergerak-gerak.
Aku diam seraya mencabut TWS dari telingaku karena ada peringatan baterai lemah. Kak Zio juga melepaskan dari telinganya dan memasukkan ke dalam box TWS yang sedang ku pegang.
"Playlist kamu enak-enak lagunya." katanya seraya memasukkan gigitan terakhir ke mulutnya.
"Makasih." jawabku singkat.
"Lia." panggilnya tiba-tiba serius.
Aku menoleh tanpa menjawab.
"Mau pacaran denganku?"
"Hah?!"