Second Change

Second Change
Chapter 28



Berkas pendaftaran akhirnya sudah diterima oleh administrasi kampus, ijin tinggal di asrama juga sudah beres. Selanjutnya tinggal mengepak barang dan kirim ke alamat asrama. Hitung mundur tujuh belas hari di mulai dari hari ini.


Dua gelas champagne berdenting malam ini di meja makan apartemen. Untuk pertama kalinya aku menyesap champagne. Berkat David.


"Aku gak suka." protesku mengernyitkan wajahku. "Softdrink aja deh."


Aku membuka pintu kulkas dan mengambil softdrink merah favorit ku. Sisa champagne dari gelasku, ku tuang ke gelas David lalu mengisinya dengan Softdrink merah sampai penuh.


David tertawa melihat tingkahku.


"Dasar bocah." ejeknya


"Dasar tua Bangka." ejekku balik.


David menjitak kepalaku pelan.


Oh ya, belum pernah ku beri tahu kalau umur aku dan David terpaut sepuluh tahun. Aku dua puluh satu dan David tiga puluh satu. Tak heran dia memanggilku bocah.


Walaupun usianya sudah tiga puluh satu tapi menurut Emi, David tidak pernah menjalin hubungan yang serius. Hanya pernah berkencan beberapa kali dengan wanita yang dikenalkan oleh mamanya. Tak heran selama beberapa tahun ini banyak yang mengira David adalah penyuka sesama jenis.


Sampai kemunculanku. Tepatnya saat David menciumku di depan umum saat pernikahan Emi, kecurigaan mereka tentang David langsung sirna. Mungkin ini juga alasan kenapa aku langsung direstui oleh keluarganya. Padahal asal usulku sangat bertolak belakang dengan David.


David menusuk potongan abalon dengan garpunya dan menyuapiku.


"Enak?" tanyanya


Aku mengangguk sambil mengunyah dengan semangat.


Ini akan menjadi salah satu makan malam yang kami rindukan. Aku tidak mau memikirkan apa yang akan terjadi pada kami. Apakah kami bisa melalui empat tahun ini dengan baik-baik saja? Aku benar-benar tidak mau memikirkannya.


Tapi lain dengan David.


Hari ke tiga sebelum keberangkatanku, aku dan David saat ini sedang berada di ruang rapat yang luas, dengan meja panjang dan kursi putar yang rapi berjejer mengelilingi meja. Aku duduk berhadapan dengan David yang tampak serius menatapku dengan dua map kulit hitam berjejer di atas meja. Dia menggeser salah satu map itu ke arahku.


"Apa ini? Kok serius amat?" aku tertawa kecil untuk mencairkan suasana.


"Bukalah dan kamu akan tahu." jawabnya serius.


Aku mengusap map kulit itu dengan tanganku sebelum membukanya. Lembut sekali seperti terbuat dari kulit asli. Tampilannya juga mewah. Tapi aku tergelak sejadi-jadinya setelah hanya membaca judul isi dari map itu.


'SYARAT LDR'


"Ini apa?!" seruku lalu tertawa lagi sambil memegang perutku.


"Ini serius, Lia. Baca lalu tanda tangan di bawahnya." David tetap memasang wajah yang serius.


Aku menyadari saat ini bukan saatnya menertawakan judul isi map mewah ini. Aku berdehem untuk menghentikan tawaku dan mengalihkan perhatianku ke isi yang David bilang serius ini. Beberapa kali aku menahan nafas untuk tetap tenang agar tidak menyuarakan suara hatiku yang sedang tertawa sambil membacanya.


Syarat LDR (Long Distance Relationship)


1. Setiap panggilan harus di jawab. Kalau tidak sempat\, maka wajib menelepon balik.


2. Wajib Morning Call dan Night Call.


3. Harus segera mengabari kalau sedang sakit atau sedang mengalami kesulitan.


4. Jika bertengkar harus segera berbaikan hari itu juga.


Aku lebih percaya syarat LDR ini dibuat oleh bocah remaja ingusan yang baru pertama kali pacaran. Aku melirik David dari balik map kulit dan mendapati kalau dia masih menatapku, menunggu responku. Aku berdehem untuk kedua kali. Fungsinya sama, agar tidak tertawa.


"Dave, ini beneran kamu yang buat?" tanyaku. Berharap dia bilang, tentu saja ini hanya bercanda. Aku sebenarnya hanya ingin mengajakmu makan siang.


"Kamu bisa mengubahnya kalau mau." kayaknya David beneran serius.


Aku mengangguk kecil sambil berpikir. Syarat LDR ini seharusnya tidak perlu di buat. Tapi jika ternyata sudah di buat, maka harus lebih ekstrem dan pantas untuk di sematkan di map kulit yang mewah.


"Ada pulpen?" tanyaku


David menyodorkan sebuah pulpen hitam berkilap ke arahku. Aku meraihnya lalu menulis syarat yang mungkin akan membuat David merengut atau marah.


5. Tidak boleh bertemu langsung secara sengaja\, hanya boleh Video Call.


6. Jika salah satu pihak ingin mengakhiri hubungan\, maka pihak yang lain harus menyetujuinya.


Sesuai dugaan, David memelototiku dengan mata tajam yang sudah lama tidak kulihat.


"Tidak boleh bertemu secara sengaja?" David memicingkan matanya. Walaupun begitu, bola matanya masih berkilat marah.


"Untuk menghindari kamu mendatangiku secara tiba-tiba dan menggangu studiku."


"Kalau begitu bagaimana kalau diubah menjadi, hanya bole berjumpa jika kampus sedang libur."


"Gak Dave. Tidak ada pengecualian."


"Empat tahun tidak bertemu? Kita beneran lagi pacaran gak ini?" protesnya


"Justru ini akan menguji apakah kita bisa bertahan atau tidak. Empat tahun itu cepat berlalu, Dave. Lagi pula kita bisa video call setiap hari, setiap saat. Masih ada morning call, night call."


"Aku juga ingin membelaimu, memelukmu, menciummu dan..." David tidak menyelesaikan kalimatnya.


"Jika kamu tidak tahan, kamu diijinkan membelai, memeluk, mencium wanita lain." ujarku tegas. Ikut-ikutan memasang mata tajam ala David.


"Kalau kita bisa bertahan, empat tahun ini tidak akan sia-sia."


"Satu lagi, poin enam."


"Jika salah satu dari kita sudah tidak ada perasaan, buat apa hubungan ini dilanjutkan lagi?" tukas ku


"Kamu serius?" tanyanya dengan suara dalam, dingin dan serius.


Aku mengangguk "Seharusnya beginilah isi syarat LDR."


David duduk terdiam selama beberapa menit sebelum akhirnya dia menelepon Katrine untuk masuk dan merevisi isi di dalam map kulit itu.


"Kamu pesimis?" tanyaku setelah Katrine menutup pintu.


"Aku percaya pada diriku. Tapi kamu?"


"Aku kenapa? Kamu tidak percaya padaku?"


"Kehidupan kampus tidak sesimple yang kamu bayangkan. Mungkin saja kamu akan bertemu orang lain di sana."


"Kehidupan kantor juga lebih rumit. Banyak wanita cantik, seksi, dewasa, mapan yang ku jumpai di sepanjang perjalanan menuju ruanganmu. Atau kalau mau lebih gampang kusebut, Katrine. Kalian sering dinas bareng, kemana-mana juga bareng, Katrine lebih mengenalmu dari pada aku. Katrine lebih perhatian pada kebutuhanmu dari pada aku. Tapi, aku tetap memilih mempercayai mu. Bolehkah kamu juga percaya padaku?"


"Katrine tidak lebih dari sebatas asisten." ujarnya


"Aku percaya."


David memandangku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Aku membalas dengan senyuman yang kemudian langsung tertular padanya. Dan akhirnya kami tertawa berbarengan.


"Bolehkah aku mengunjungimu pada saat tahun baru?" tanyanya


Aku menggeleng.


Katrine masuk ke ruangan di saat yang tepat. Menghentikan David yang hendak protes. Katrine meletakkan dua map itu di hadapan aku dan David. Aku memastikan isinya sudah sesuai dan langsung menandatanganinya. Aku melirik pada David yang masih ragu. Katrine mengambil map dari hadapanku lalu di serahkan pada Boss nya yang masih terpaku dengan map berkulit mewah di hadapannya.


"Cepetan dong. Aku lapar." desakku


"Aku akan menundanya." ujarnya seenaknya lalu bangkit dari kursi.


Aku panik seketika dan bermaksud menahannya. "Kita akan bicarakan lagi nanti."


Kata nanti yang tidak pasti kapan itu akhirnya tiba di keesokan harinya.


Pagi pukul tujuh aku sudah selesai memanggang roti dan smooked beef. Tapi tumben David belum keluar dari kamarnya. Aku mengetuk pintu kamarnya dua kali dan menunggu responnya. Lima detik berlalu, belum ada respon apapun. Mungkinkah David sedang sakit? Apakah lebih baik aku masuk untuk memastikannya?


Aku menurunkan kenop pintu dan mendorongnya pelan seraya mengintip ke dalam. Rasanya tidak enak masuk ke kamar orang lain tanpa ijin. Tapi aku lebih penasaran apa yang membuat David terlambat hari ini. Pintu terbuka setengah tapi aku tidak melihat sosok David.


"Dave." panggilku.


Aku sudah masuk ke dalam dan melihat sekeliling. Mungkin David masih di kamar mandi. Sekejab aku berubah pikiran. Mungkin lebih baik aku keluar sekarang sebelum David menyadari aku masuk tanpa ijin.


"Lia."


Terlambat.


David keluar dari kamar mandi sedetik setelah aku berbalik. Jantungku serasa mau keluar dari kulitku. Perutku bergejolak di tambah rasa malu karena kepergok. Aku terpaku menghadap pintu, berusaha berpikir apa yang akan kukatakan padanya. Tapi otakku juga ikutan membeku, tidak bisa berpikir apa-apa. Apalagi terdengar langkah kaki David yang semakin mendekat.


"Kamu kenapa, Lia?" tanyanya dengan nada cemas sambil menyentuh bahuku.


"Gak kok. Gak apa-apa." suaraku terdengar serak dan aneh. Karena lupa berdehem, padahal tenggorokanku kering karena gugup.


Aku berbalik dengan rencana untuk meyakinkan kalau aku baik-baik saja. Tapi ternyata aku tidak baik-baik saja setelah melihat penampilan David yang bertelanjang dada dengan handuk melingkari pinggangnya. Aku yakin kali ini suara degupan jantungku bisa terdengar olehnya. Wajahku terasa panas dan kakiku lemas.


"Kamu gak enak badan? Gak usa buat sarapan lagi deh. Kamu istirahat saja hari ini."


"Iya, Oke." jawabku spontan lalu kabur.


Aku masuk kekamarku, jongkok bersandar di pintu. Kedua tanganku menutupi wajahku yang panas. Kuakui kalau tubuhku bereaksi ketika melihat penampilan David barusan. Tapi aku berani bertaruh, semua wanita normal di dunia juga akan bereaksi sama sepertiku. Rambut basah yang acak-acakan, tulang selangka yang tampak tegas, otot bicep yang menonjol, garis otot di perut yang tegas dan handuk yang melilit di bawah pusar. Tapi ada satu hal yang baru kusadari, David mempunyai kulit yang bersih dan cenderung putih.


Walaupun ini bukan pertama kalinya aku melihat tubuh seorang pria. Tapi jika mau membuat perbandingan, tubuh Tony lebih kecil jika dibandingkan dengan David. Makanya ketika David sedang marah dan memojokkanku ke dinding, aku merasa sangat kecil, tidak berdaya dan takut. Dia seperti monster besar yang bisa melahapku dengan sekali telan. Tapi sekarang? Bukannya takut, aku malah bereaksi seperti kucing kecil yang ingin bermanja-manja di tubuh besarnya. Setidaknya tadi aku tidak menunjukkan padanya. Untung aku kabur dengan cepat.


Ketika sedang menenangkan pikiranku yang di penuhi adegan yang tidak pantas di sebut, aku terperanjat dengan suara ketukan beruntun di pintu kamarku yang terdengar tidak sabaran.


"Lia, kamu gak apa-apa? Aku masuk yah."


Aku kontan bangkit dan langsung membuka pintu sebelum David menerobos masuk dan menabrak ku yang duduk di balik pintu.


"Aku baik-baik aja."


David mengengam kedua tanganku dan menciumnya bergantian. Pikiranku yang belum jernih kontan semakin menjadi. Kenapa di saat seperti ini dia hanya mencium tanganku, bukan bibirku?


"Ayok sarapan." ajaknya


Dia berjalan mundur dan aku di tarik mengikutinya.


Tidak, tidak. Ini terlalu cepat berakhir. Otakku masih menguasaiku, bukankah kadang kita harus hidup dengan mengikuti insting. Membiarkan insting alami ini memegang kendali dan membawa kita melakukan hal yang tidak biasa kita lakukan. Seperti aku yang sekarang ini, aku akan membuat laki-laki besar di hadapanku ini fokus hanya padaku. Bukan pada roti panggang dan smooked beef di meja makan atau telepon dari supir yang sebentar lagi akan menjemputnya.


Aku menghentak tanganku dan membebaskan tanganku dari gengamannya lalu melingkari lehernya dengan loncatan kecil. David yang tidak menduga hal ini hanya bisa melongo dengan bingung. Dia juga pasti tidak menduga aku akan meraup bibirnya sebelum dia sempat bertanya.


Hari kedua sebelum aku berangkat, kami bercinta untuk pertama kalinya di pagi hari dengan perut kosong.