
Dua jam tambah dua belas jam di udara bersama burung besi akhirnya mendarat di bandara Narita. Tempat yang di penuhi dengan berbagai emosi. Baik yang datang ataupun yang pergi, semua berkumpul di tempat ini membawa cerita yang berbeda-beda. Bisa bahagia, sedih, bingung, penasaran dan takut.
Aku membawa perasaan bahagia mengikuti kerumunan orang-orang yang turun satu pesawat denganku. Jantungku berdebar semakin kencang mengingat David sedang menungguku di area penjemputan. Dia sengaja tiba sehari sebelum untuk menyiapkan penginapan dan transportasi agar bisa menjemput ku.
Begitu sampai di dalam gedung bandara, sekeliling terasa sangat asing. Bahasa yang tidak ku mengerti, tulisan-tulisan yang tidak aku kenal, orang-orang dengan warna kulit yang berbeda-beda. Semuanya asing kecuali satu laki-laki berkemeja putih, tinggi, sedang menunggu penuh harap di antara kerumunan orang yang juga menunggu orang yang di jemput. Dia belum melihatku, air mataku sudah jatuh sebelum melihat jelas wajahnya yang berada di kejauhan. Padahal aku sudah menyusun skenario kalau bertemu dengan David, aku akan berlari terus meloncat ke pelukannya lalu berputar seperti yang kulihat di drama-drama. Tapi belum apa-apa, air mata bodoh ini sudah keluar dan kaki ini gemetaran. Tidak ada satupun organ tubuhku yang menyetujui skenario konyol ini.
Aku menyeret koper dengan kaki yang tertatih-tatih, berusaha bergerak secepat mungkin. Semakin dekat, air mataku semakin deras. Aku berkali-kali mengusap dengan lengan bajuku yang sudah basah. Langkahku menjadi berat ketika dia akhirnya melihatku. Seperti semua beban jatuh ke atas kakiku, memaku agar aku berhenti. Aku menangis sambil melebarkan kedua tanganku menyambut dia yang sedang berlari ke arahku.
Air mata bahagia untuk pertama kali dalam seumur hidup. David berhenti di hadapanku, mengamatiku dengan senyum yang tak kalah bahagia. Mengusap sisa-sisa air mataku lalu menghilangkan jarak antara kami. Pelukan erat yang membuat orang-orang di sekitar iri, mengamati sambil berlalu. Akhirnya detak jantung yang kurindukan ini terdengar lagi di telingaku. Aku tertawa dalam tangisku. David meraih pipiku dan mengecup bibirku.
"Benarkah ini Lia kecilku?" kata-kata pertama yang terucap di mulutnya. "Kamu kok kurusan?"
"Kamu..." aku menelan ludah lalu tarik nafas. "Kamu kok makin tampan?"
David tertawa, suara tawanya yang renyah membuatku semakin bahagia.
***
David meremas tanganku sekilas sedetik setelah kami menapakkan kaki ke dalam. Kami di hadapkan oleh sebuah ruangan besar tanpa sekat. Terdapat beberapa tiang penyangga berwarna emas di dalam ruangan, lantai full tatami yang di susun rapi dengan tekstur horizontal dan vertikal. Di dinding ruangan terdapat lukisan gulungan yang bergambar gunung dan pemandangan sungai bersandar bersama lukisan-lukisan lain. Ada vase porselin sebesar aku di setiap sudut. Aku dan David berpandang-pandangan selama dua detik. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan dan tidak tahu harus kemana. Pokoknya kami hanya berdiri di tempat kami tercengang, yaitu tengah-tengah ruangan.
"Konbawa. Lia san desuka?"
Tiba-tiba sebuah suara muncul dari samping ruangan yang ternyata terdapat Shoji yang bisa di geser. Aku dan David menoleh kompak. Seorang wanita setengah baya dengan kimono mewah menyambut kami dengan senyum lebar sampai tidak menampakkan bola matanya.
Selanjutnya, David yang melanjutkan percakapan dengan wanita tersebut dengan bahasa Jepang yang aku tidak mengerti sama sekali. Akhirnya kami di ajak makan malam bersama beberapa anggota dari keluarga Vivi. Wanita ramah yang menyambut kami tadi adalah kakak ipar Vivi. Selain itu ada Kakak laki-laki Vivi, Ibu Vivi dan sepupu perempuan Vivi. Inti dari pembicaran selama makan malam yang mewah ini adalah mereka sangat berterima kasih atas perawatan dan perhatian yang ku berikan kepada Vivi selama di rumah sakit. Vivi sangat berterima kasih dan ingin memberiku sebuah hadiah. Tapi hadiah berupa barang serasa tidak cukup untuk membalas kebaikan hatiku. Jadi, akhirnya Vivi mengundangku ke Jepang agar aku bisa datang dengan pacar yang sudah setahun tidak berjumpa sebagai hadiah yang lebih berkesan dan tidak terlupakan. Hadiah dari Vivi bukan hanya sekedar makan malam bersama anggota keluarga kerajaan. Hadiah yang lebih menakjubkan adalah berlayar dengan kapal pesiar dengan beberapa perhentian di beberapa pulau yang terkenal selama tujuh hari.
"Kamu gak apa-apa cuti sampai tujuh hari?" tanya ku pada David saat kami sedang berada di perjalanan pulang ke hotel.
"Tidak apa-apa. Cuti sebulan juga gak masalah." David mengecup keningku.
Mobil lexus yang tadinya di kendarai oleh David, kini sedang di bawa oleh supir yang telah disiapkan oleh keluarga Vivi. Alhasil aku bisa memeluk David sepuas-puasnya di bangku belakang.