Second Change

Second Change
Chapter 7



"Bro, gua sebenarnya gak tega banget liat lo bolak balik pasar tiap hari kek gini." ujar Farhan tahun lalu ketika gue sering nyuruh dia antar jemput gue karena gue gak tau caranya naik angkutan umum.


"Lo sebenarnya gak tega liat karpet mobil lo kena lumpur dari sepatu gue kan?"


"Lo tu siapa Bro? Mana mungkin gue keberatan hanya gara-gara hal sepele gini doang." Farhan membelokkan setirnya ke jalan raya yang macet. "Jangan-jangan lo di pelet."


"Percaya gak gue lempar nenas ini ke kepala lo?"


"Jadi lo rencana akan terjebak berapa lama di situasi ini?" Tanya Farhan yang tiba-tiba berubah menjadi serius.


Gue terdiam.


"Selama mungkin."


Setahun berlalu, Farhan menanyakan hal yang sama di Bar langganan kami.


"Sudah seminggu ini lo balik ke Suite Lo. Sudah selesai dengan Lia?"


Gue menghela nafas dan mengesap martini yang tinggal sedikit sampai habis.


"Gue sumpah kali ini beneran gue mau mengakhiri. Tapi sekarang gue uda kangen banget ama Lia." Gue frustasi. "Gue bahkan gak sanggup Face Time. Takutnya gue langsung luluh dan pulang ke Lia."


"Lo yakin gak kena pelet? Mau gue carikan Mbah yang lain lagi gak?" Farhan mengambil Iphone terbaru dari sakunya dan mendekatkan speaker ke mulutnya. "Hai Siri carikan akun facebook dukun."


Gue bangkit dan meninggalkan Farhan yang masih asik dengan sirinya.


Selama setahun ini gue dan Farhan uda berkunjung ke beberapa Dukun. Sampai sudah menjalani beberapa ritual yang aneh-aneh. Semuanya mengatakan kalau gue gak di pelet. Lalu Farhan menyarankan gue untuk ke Psikiater. Gue juga menurutinya. Hasilnya jam tidur gue bertambah panjang karena di resepkan obat penenang. Lia bukan penyakit. Tapi Lia justru seperti narkoba yang membuat gue kecanduan parah dan saat ini gue sedang merehab diri gue dengan menghindari Lia selama mungkin.


Seperti pecandu-pecandu lainnya, mood gue down banget seminggu ini. Tidak ada gairah hidup dan kangen banget dengan Lia. Steak tujuh juta bisa buat gue gak selera tapi malah kepikiran rawon, nasi goreng buatan Lia dan bubur ayam abang-abang yang sering ku kejar karena abangnya rada budeg kalau di panggil. Peyek buatan Lia juga enak banget di makan dengan nasi soto.


Berhari-hari gue lebih banyak mengurung diri di kamar Suite Gue dan duduk di samping jendela besar di ruang tamu. Gue menatap langit sambil berpikir, apakah Lia juga akan suka menatap dari ketinggian begini? Maukah Lia kalau ku ajak berlibur ke gunung? Maukah Lia naik kereta gantung lalu berseluncur di atas salju bersama gue? Jika Lia takut untuk berseluncur, gue akan nyewa villa di tempat tinggi dan duduk di teras villa memandang pemandangan yang di selimuti salju tebal sambil menyesap coklat panas. Mungkin Lia bisa memasak kari ayam di Villa dan kami bisa sambil makan kari ayam panas di tengah cuaca yang dingin.


****, gue jadi pengen makan kari ayam.


Ding Dong


Lamunan gue pecah karena seseorang membunyikan bel kamar gue. Yang jelas bukan Farhan karena dia selalu mengabari lewat telepon alih-alih memencet bel. Dan bukan juga pegawai hotel karena uda gue peringati untuk jangan dekat-dekat di kamar gue. Dengan langkah gontai gue mengintip di lobang pintu.


Jantung gue tersentak.


"Mom!"


"Kenapa kaget liat Mom? Bawa perempuan lagi ke kamar?"


Nyokap gue yang sudah sembilan bulan menghilang dari hidup gue mendadak muncul dengan sikap yang tidak friendly. Bahkan terkesan seperti sedang inspeksi kamar.


"Gue uda lama gak bawa cewek ke kamar." kata gue sambil ngikutin nyokap keliling kamar.


"Aku juga tahu setahun belakangan ini kamu jarang kesini." ujarnya dingin "Tapi kamu yang ke rumah perempuan bernama Amelia."


"Mom.." Gue mau protes tapi gak jadi karena gak heran kalau Mom menyuruh orang mengawasi gue. "Iya, namanya Amelia. Dia cewek baik-baik."


"Aku juga tahu kalau dia perempuan baik-baik. Sekarang sedang kuliah di kampus yang lumayan." Ujar nyokap masih tanpa ekspresi.


"Uang kuliah juga dari tabungannya sendiri. Gue gak banyak membantu."


Nyokap duduk di sofa, lalu melepaskan syalnya dan bersandar. Tanda Nyokap bukan hanya sekedar inspeksi tapi sedang siap-siap untuk introgasi. Gue bahkan gak berani duduk sebelum di ijinkan.


"Aku tahu dia rajin bekerja. Katanya nilai mata kuliah dia juga lumayan bagus dan dia sedang mengejar bea siswa untuk tahun depan." Nyokap menatap mata gue tajam dan belum juga menyuruh gue untuk duduk.


"Dia juga pintar masak." tambah gue sambil nyengir canggung, berkali-kali menghindari kontak mata dengan Nyokap.


"Putus dengan dia."


"Why Mom? Lo juga bilang dia anak baik-baik, rajin, kerja keras. Tapi kenapa sekarang suruh putus?" protes gue sambil mendekati Nyokap.


"Perusahaan butuh kamu."


"Mana Frank? Mana Jessica? Mana Celine? Mana Wilson? Mereka masing-masing sudah memegang perusahan cabang kan? Tidak ada lagi bagian untuk gue. Makanya selama ini gue hidup seperti pecundang yang mabuk-mabuk dan main perempuan."


Frank adalah kakak laki-laki gue, Jessica dan Celine kakak perempuan gue dan mereka kembar. Sedangkan Wilson adalah suami dari Jessica. Mereka semua pintar mengurus perusahaan dan tergolong berbakat. Seperti sudah di setting sejak di dalam kandungan untuk menjadi CEO. Sedang gue, anak kebobolan yang di setting menjadi seorang pecundang. Di saat gue masih sekolah, kakak-kakak gue sudah sibuk membangun kerajaan mereka masing-masing. Gue yang selesai kuliah di Harvard dengan predikat hampir gagal tentu saja tidak masuk hitungan lagi karena di anggap sebagai benalu yang hanya menumpang ketenaran.


"Dad butuh kamu." Mata nyokap tiba-tiba sendu. Dalam jarak sedekat ini, gue yakin kalau bola matanya berkaca-kaca.


"Emang Dad kenapa?" tanya gue merasa ada sesuatu yang janggal.


"Dad mu mulai sakit. Mom dan Dad selama ini selalu merasa bersalah pada kamu karena mengabaikanmu. Mom dan Dad ingin kamu ke kantor pusat." ujar Nyokap yang wibawanya pelan-pelan mulai runtuh.


"Dad sakit apa?"


"Ada masalah di sarafnya. Mungkin akan lumpuh." Air mata Nyokap mulai turun.


"Tapi kalau Gue ke pusat, bagaimana pandangan kakak-kakak yang lain? Mereka pasti tidak akan senang anak ingusan ini menggantikan Dad."


"Kamu tidak menggantikan Dad. Masih ada Mom. Tapi Mom ingin kamu belajar dan suatu hari kalau Mom dan Dad sudah tidak ada, kami akan memberimu semua saham kami. Dan pada saat itu datang, kakak-kakakmu tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi." Nyokap menggengam tangan Gue seraya memohon.


"Lia bagaimana?"


"Gadis itu biarkan dia selesaikan kuliahnya lalu bawalah dia kerja di perusahaan. Mom tidak akan menghalangi kesuksesan dia karena Mom juga merasa dia punya masa depan yang cerah." bujuk Nyokap


"Tapi Gue mau Lia jadi istri Gue."


"Nak, kamu sendiri tahu kalau itu tidak mungkin. Bukankah ini juga alasan kamu mengurung diri di sini? Kamu juga sadarkan, kalau Mom dan Dad tidak akan menyetujuinya. Dari pada Mom bertindak, lebih baik kita putuskan begitu saja. Mom berjanji selama dia bekerja di perusahaan, Mom akan selalu memastikan dia baik-baik saja. Mom akan memberikannya gaji sesuai keinginan kamu. Kuliahnya juga akan Mom lunasi dengan dalih beasiswa."


Gue terdiam. Gue masih tidak rela tapi gue tau suatu hari ini akan berakhir.


"Inilah yang terbaik buat Lia, Nak. Pikirkanlah. Sebelum semuanya terlambat. Mom khawatir banget dengan kondisi Dad." Benteng Nyokap akhirnya runtuh.


Nyokap menangis.


"Mom, Lia juga akan menangis dan sedih seperti kamu di saat gue ninggalinnya."


"Makanya harus segera di putuskan. Lia masih muda, masih cantik, dia masih bisa mencari laki-laki lain yang mencintainya. Percayalah, Nak. Sakit yang di rasakan Lia tidak akan sebanding dengan sakit Mom yang harus di tinggalkan Dad yang sudah bersama selama tiga puluh lima tahun."


***


"Bro, gue merasa bersalah pada Lia." gue menelepon Farhan tengah malam di minggu ketiga.


"Jadi lo gak merasa bersalah ama lusinan cewek yang lo tinggalin dengan cara lebih kejam?"


"Mereka nerima uang gue." elak gue


"Setidaknya Lia mendapat kasih sayang dari lo, Lia berhasil memperbudak lo, jangan munafik kalau Lia gak nerima uang dari lo."


"Iya, dia nerima uang gue tapi kan dia gak tau kalau itu uang gue. Itu uang dari hasil dia jualan es yang walaupun semua itu gue yang beli."


"Nah, intinya Lia itu pemenang dari semua cewek-cewek yang pernah lo tiduri. Jadi kalau lo mau merasa bersalah, Lia urutan terakhir." Farhan berusaha meyakinkan gue. "Percayalah bro, Lia cewek kuat. Dia akan baik-baik saja. Bukankah selama ini dia juga hidup sendiri tanpa nyokap bokapnya? Dia baik-baik aja selama ini kan? Apalagi sekarang dia lagi kuliah. Siapa tau dia langsung jatuh cinta ama kakak senior yang kece-kece dan lo yang status pengamen tak tahu diri akan segera di lupakannya."


"Gue uda jatuh cinta ama Lia."


"Bro. Akhiri sandiwara ini, okey? Balik ke diri lo. Yakinlah Bro, lo tu gak jatuh cinta. Hanya terlalu mendalami peran dan perasaan lo itu hanya perasaan nyaman. Gue berani taruhan mercedes baru gue kalau sebulan lo balik, lo akan lupain Lia."


"Jadi gue harus gimana?"


"Lo pulang ke Lia dan bertingkah seperti biasanya."


"Trus."


"Trus,...."~~~~