
Kehidupan menjadi tawanan David, pagi wajib membuat sarapan dan kopi, melipat baju kotornya dan di masukkan ke tas laundry. Pukul delapan dia mengantar aku ke kampus, pukul empat di jemput Katrine ke kantornya. Pulang kerja, pergi makan malam lalu pulang rumah. Lalu besoknya begitu lagi.
Bagaimana dengan sabtu dan minggu?
Setelah sarapan, David mengurung dirinya di kamar sampai siang. Saat dia keluar kamar untuk makan siang, aku meminta ijin padanya untuk pergi bareng Cindy. Awalnya dia melarang. Tapi akhirnya setuju dengan syarat dia harus ikut.
Aku mengatakan syarat itu pada Cindy. Tapi Cindy malah tidak keberatan. Selama ini dia sangat penasaran dengan David.
Aku dan Cindy janjian di sebuah cafe dalam mall. Aku terlambat lima belas menit dari waktu janjian. Saat aku dan David tiba di cafe itu, Cindy sudah duduk disana bersama seorang laki-laki.
"Kak Jay!" pekikku. "Sudah lama sekali tidak jumpa."
Aku meloncat kecil sambil menepuk bahu Kak Jay. Senang sekali melihat Kak Jay lagi.
"Bagaimana kabarmu, Lia?" tanyanya.
Aku melirik David sebentar, "Baik." jawabku.
"Kak David, aku Cindy teman Lia." Cindy mengulurkan tangannya hendak berjabat.
David mengabaikan tangan Cindy dan langsung duduk di kursi depan Kak Jay.
Aku meraih tangan Cindy "Cantik sekali gelang mu. Baru beli?" tanyaku menghilangkan canggung
"Iya. Dibelikan Kak Jay tadi. Ada untukmu juga." Cindy mengambil paperbag dipangkuan Kak Jay dan menyerahkan padaku.
"Makasih Kak." dengan semangat aku mengambil kotak persegi panjang dari dalam paper bag dan membukanya.
Gelang tangan dengan hiasan bintang berwarna rose gold. Cantik sekali. Aku mengambilnya lalu meminta Cindy untuk memakaikan di tanganku.
"Suka?" tanya kak Jay.
"Suka banget Kak. Makasih banyak." aku mengangkat dan menggoyang-goyang kan tanganku di udara.
Selama di cafe, David hanya minum cappuccino dan bermain game. Dia seratus persen mengabaikan kami. Saat bayar, dia mengeluarkan kartu berwarna hitam pada pramusaji dan kartu Kak Jay yang berada di tangan pramusaji di tarik dengan seenaknya dan di kembalikan pada Kak Jay.
Tingkahnya sangat arogan dan sombong. Setelah itu kami semua merasa tidak nyaman dengan kehadiran David. Akhirnya aku meminta maaf pada Cindy dan Kak Jay dan pamit pulang duluan.
Setelah berpisah dengan mereka, David menarik tanganku dan melepaskan gelang yang di beli Kak Jay.
"Kamu ngapain sih?" aku berteriak marah.
"Mana ada pacar sahabat sendiri memberi gelang. Kamu gak lihat Jay punya maksud pada mu?" Dia ikutan marah.
"Kak Jay itu sepupunya Cindy!" seruku sambil merebut paksa gelang dari tangannya. "Kak Jay itu menganggap aku sebagai adiknya."
Aku melotot padanya dan meninggalkannya. Dia mengejarku dan menarik tanganku lagi. Orang-orang yang lalu lalang melihat ke arah kami. Aku malu sekali, gara-gara David kami sekarang menjadi tontonan orang. Akhirnya aku mengalah dan mengikutinya menuruni eskalator.
Hari Sabtu ku yang berharga hancur gara-gara David. Aku mengabaikannya sepanjang perjalanan pulang. Sesampai di apartemen pun aku masih diam dan merajuk. Saat hendak masuk ke kamarku, dia sempat menarik tanganku dan mendorongku ke di dinding.
"Maaf. Aku gak tau kalau mereka sepupuan." katanya
"Mana ada orang minta maaf begini caranya." ketusku.
Dia diam menatapku lekat dan rahangnya menegang. Dia pasti akan marah lagi.
Tapi ternyata dia malah memelukku.
"Maaf." katanya lagi.
Jantungku berdebar. Nafasku menjadi sesak karena di dekap.
Aku mendorong dadanya lalu mengeluarkan gelang pemberian Kak Jay dari saku celanaku.
"Ini rusak." kataku merengut.
Dia mengambilnya dari tanganku lalu aku masuk ke kamar.
***
Keesokan paginya, setelah membuat sarapan dan kopi untuknya, aku kembali ke kamar dan melanjutkan tidurku. Tadi malam aku chatting dengan Cindy sampai tengah malam alhasil sekarang aku kurang tidur. Mumpung hari minggu, aku akan istirahat dan bersantai di kamar.
Tak di sangka aku tertidur sampai siang. David pasti marah karena aku gak nyiapin makan siang untuknya. Aku buru-buru bangkit dan keluar kamar. David sedang di dapur, lagi menunggu kopi dari mesin kopi.
Aku membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan makanan untuk di masak.
"Gak usa masak lagi. Makan di luar saja." ajaknya
Aku kontan memasukkan kembali bahan-bahan masak ke dalam kulkas dan masuk ke kamar mandi.
"Sabtu depan Emy dan Tony menikah." ujarnya saat di dalam mobil.
"Jadi?" tanyaku
"Kamu ikut." tanyanya
Mobil berhenti tepat di belakang rambu merah.
"Boleh? Kamu gak takut aku mengacau pestanya?"
"Kamu ingin membuat Tony cemburu?" aku balas menatapnya
"Dia tidak mungkin cemburu. Dia tidak mencintaimu." jawabnya kasar.
"Dia mencintaiku. Tapi dia terpaksa menikahi Emi karena tuntutan perusahaan. Makanya dia berkata kasar padaku agar aku menyerah. Bukankah begitu skenario yang sedang kalian mainkan? Lalu kamu .... " Aku menelan ludah karena gugup. "Kamu menawanku tapi sebenarnya sedang menjagaku atas permintaan Tony."
"Kamu..." David panik.
"Bagaimana aku tahu?" tanyaku.
Rambu sudah berubah hijau. Mobil-mobil di belakang mulai mengklakson dengan tidak sabaran.
"Aku hanya tebak. Dan ekspresimu baru saja memberitahuku kalau tebakanku tepat."
Rahang David menegang. Dia memegang setirnya sekuat tenaga sampai urat-urat tangannya menonjol.
"Aku akan pergi bersamamu. Kamu boleh mengatakan pada keluargamu kalau aku pacarmu atau tunanganmu. Pernikahan mereka akan baik-baik saja. Tapi selagi aku masih hidup, suatu hari Tony akan kembali padaku."
Mobil-mobil di belakang melewati kami dan rambu kembali merah. Mata David berkilat marah. Dia menyetir dengan cepat dan masuk ke jalan tol. Apakah dia akan membawaku pulang ke rumahnya? Tapi ternyata dia membawaku ke pantai.
Aku tertawa getir. "Mau membawaku naik kapal lalu membuangku ke tengah laut?"
David tidak menjawab. Dia memarkir mobilnya di depan restoran seafood. Mungkinkah ini makanan terakhirku?
Aku turun sesaat setelah mesin di matikan. Aku tidak mau telingaku sakit karena suara hantaman pintu mobil. Aku masuk ke dalam restoran seafood dan memilih tempat duduk yang lumayan ramai. Untuk berjaga-jaga jika tiba-tiba David mau menghajarku.
"Sejak kapan kamu tahu?" tanyanya setelah pramusaji pergi setelah menulis orderan kami.
Aku sama sekali tidak punya selera makan. Perutku dari tadi bergejolak memikirkan sebentar lagi aku akan di lempar ke laut. Aku hanya memesan nasi goreng seafood dan es teh manis.
"Sejak di bar. Di dalam kamar." kataku.
"Apa yang terjadi di kamar itu." tanyanya gerem.
"Kami bercinta." bisikku pelan setengah meledeknya.
"Katakan selagi kesabaranku masih ada." ancamnya.
"Tony mengatakan kalau dia mencintaiku. Dan terus menerus minta maaf kalau dia akan meninggalkan aku untuk sementara dan berjanji akan kembali padaku." jawabku jujur "Walaupun sedang mabuk, bukankah kata-kata itu lebih bisa di percaya dari pada kata-kata kasarnya saat di tangga darurat?"
David menahan nafas sambilan menahan amarahnya.
"Kamu juga seharusnya sudah mencampakkanku setelah di tangga darurat itu. Tapi kamu malahan memberiku tempat tinggal, memaksakan diri untuk tinggal bersamaku. Apa yang kamu takutkan? Sebenarnya kamu bukan sedang mengawasiku. Tapi mengawasi Tony yang mungkin saja akan menemuiku jika aku tinggal di rumah Kak Jay. Jika kamu terus bersamaku, Tony tidak akan punya kesempatan. Apalagi kamu terang-terangan memperkenalkan aku sebagai pacarmu. Kamu sebenarnya ingin membuat Tony merelakanku padamu. Bukan begitu?"
David tertawa sinis. "Betul. Kamu perempuan yang pintar. Aku terlalu meremehkan mu."
Aku menarik nafas dan menelan ludah.
"Aku akan tetap melaksanakan rencana ku. Percayalah ini tidak akan lama. Sebentar lagi kamu akan kucampakkan ke tempat asalmu." ancamnya.
"Walau kamu mencampakkanku, Tony pasti punya cara untuk menemukanku." belaku
"Dia tidak akan bisa." jawabnya pasti
"Apa maksudmu tidak bisa?" tanya ku curiga. Aku punya firasat yang tidak enak.
"Tony, anak yang tidak di inginkan di keluarganya. Dia dijadikan tumbal oleh keluarganya dengan menikah dengan Emi. Aku tidak setuju pernikahan mereka. Tapi Emi cinta mati dengan Tony. Dan taruhannya ratusan miliyar jika tidak memenuhi pernikahan ini. Keluarga kami juga berniat membuang Tony ke pertambangan. Membuatnya bekerja siang malam di sana. Dan butuh waktu seumur hidup untuk mengawasi tambang. Kira-kira kalian kapan punya waktu untuk selingkuh?"
Hatiku perih mendengarnya. Ternyata ini kenyataan yang aku tidak tahu. Tony adalah tumbal mereka. Dari pada hidup tertekan di bawah kelimpahan, mendingan hidup sederhana bersamaku. Aku akhirnya mengerti perasaan Tony. Apakah aku bisa menyelamatkan Tony dari penjaranya?
Aku tidak menyentuh nasi goreng di hadapanku. Aku terlalu larut dalam pikiranku. Sedangkan David merasakan kemenangan dan melahap kerang dan udangnya sampai habis.
"Aku akan ikut ke pernikahan Tony dan Emi." ujarku sambil mengikutinya.
Kami berjalan keluar dari arah berlawanan dengan pintu masuk tadi dan langsung menuju ke pantai.
"Kamu dengar gak sih? Aku akan ikut ke pernikahan !" Seru ku
Aku berlari di atas pasir dan mendahuluinya. Aku mendorong dadanya kuat sampai dia terjatuh ke pasir. Aku jongkok di sampingnya.
"Aku akan ikut ke pernikahan!" seruku lagi.
Dia membalas mendorongku sampai aku terbaring di atas pasir. David berpaling di atasku. Wajahnya mendekat sampai aku bisa merasakan nafasnya yang cepat.
Jantungku berdebar dan wajahku panas. Bukan karena cuaca pantai yang kering. Tapi sikap David membuatku salah tingkah. Badanku terpaku di atas pasir yang hangat. Aku menatap matanya dan ekspresi wajahnya yang tidak bisa kutebak. Seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa diungkapkan.
"Terserah." katanya lalu menjauh dan duduk di sebelahku.
Aku langsung duduk karena sinar matahari menusuk mataku sesaat setelah David menjauh.
"Kamu beneran tidak keberatan hadir sebagai pacar ku bahkan tunanganku?" tanyanya memecahkan lamunanku.
"Terserah." balasku
"Akan ada banyak keluarga ku yang hadir. Kamu akan terus berada di manapun aku pergi. Mungkin kamu akan di tanyai soal keluargamu. Mungkin kita harus berakting seperti layaknya pasangan." David mengatakan sambil menatap ke laut lalu berpaling padaku. "Apakah kamu beneran tidak keberatan?"
Dia menatapku dan aku membalas tatapannya. Aku tidak tahu apakah aku harus keberatan atau tidak. Aku tidak peduli dengan semua itu. Misiku hanya satu. Yaitu menculik pengantin pria.