Second Change

Second Change
Chapter 14



Hari ini Cindy menungguku di gerbang kampus. Aku turun dari mobil laki-laki pemarah yang baru kuketahui namanya David. Tanpa mengucapkan terimakasih atau basa basi perpisahan, aku langsung menutup pintu mobil dan berlari kecil menghampiri Cindy yang sudah membuka lebar kedua tangannya siap-siap memelukku.


"Apa yang terjadi tadi malam? Aku dan Kak Jay khawatir banget sama kamu." Cindy menyerahkan tas yang tertinggal di rumah Kak Jay.


Sepanjang jalan menuju kelas, aku menceritakan kejadian tadi malam pada Cindy. Terlebih tentang laki-laki pemarah bernama David itu. Dan adik perempuannya yang akan menikah dengan Tony.


"Kamu pacar kakakku? Siapa nama kamu?" tanya adik David tadi pagi saat di ruang makan.


"Eh.. Lia. Amelia." jawabku gugup.


"Aku Emily."


Emily anaknya ramah dan cantik, rambut coklat sebahu sangat cocok dengannya. Dia juga punya tubuh yang sedikit lebih tinggi dari aku. Tangannya sangat halus ketika aku berjabat dengannya.


Calon istri Tony sangat sempurna. Detik itu juga aku merasakan diriku yang hanya sebutir debu. Tidak ada kelebihan apapun yang bisa menjadi saingan Emily,


"Jadi kamu mau nyerah?" tanya Cindy


Aku menggeleng. "Aku merasa Tony masih punya perasaan padaku. Mungkin saja dia punya alasan."


"Aku takut kamu akan terluka." Cindy menggenggam tanganku erat.


"Biar bagaimanapun aku harus mendengar penjelasan Tony." ngotot ku.


"Bagaimana dengan David?"


"Ku ikuti saja maunya. Asal bisa bertemu dengan Tony." ucapku.


Kelas berlangsung dengan lancar. Aku tidak bisa fokus seratus persen karena sambilan memikirkan bagaimana aku memanfaatkan David agar bisa menemui Tony. Bagaimana kalau aku mencoba membujuknya? Jika aku memelas, apakah dia akan luluh? Jika dipikir-pikir aku belum banyak bicara dengan David. Aku akan mengorek informasi tentang Tony darinya.


Kelas terakhir hari ini. Sudah ada sepuluh kali aku melirik jam dinding. David bilang dia akan menjemputku. Aku sudah ingin cepat-cepat menjumpai David dan melaksanakan niatku.


"Lia. Kak Jay chat. Katanya barang-barang mu sudah di ambil David." Cindy menunjukkan chat Kak Jay padaku. "Tampaknya David beneran menawan kamu."


"Aku ada rencana ingin membujuknya agar membawaku menjumpai Tony." bisikku.


Pak Dosen melirik ke arah kami.


"Bagaimana caranya?" tanya Cindy dengan suara pelan


"Entahlah. Segala cara akan kucoba." jawabku pelan.


Pak Dosen berdehem sambil melotot.


***


"Makasih uda jemput. Kita ke rumah kamu?" tanyaku pada David saat di dalam mobil.


Seperti biasanya dia tidak menjawab.


"Tadi kamu kerja? Setelan itu cocok denganmu." Aku mencoba lagi.


Raut wajahnya tidak berubah. Tetap dingin.


"Mama kamu cantik yah. Tampaknya dia senang kamu punya pacar. Sebelumnya kamu pernah pacaran?"


Mobil berhenti karena lampu merah.


"Aku lapar." kataku.


"Mau makan apa?" akhirnya dia menjawab.


"Aku ingin makan rawon. Karena Tony suka." jawabku.


Dia mendengus dengan wajah cemberut.


"Tony tidak suka makan apa?" tanyanya setelah beberapa menit.


"Kalau gitu kita makan kwetiau."


Tawaku hilang. Entah apa maksudnya. Segitu bencinyakah dia dengan Tony? Aku masih teringat dia hampir saja menghajar Tony.


"Kamu benci sama Tony?" tanyaku.


Dia tidak menjawab.


"Tony tidak jahat. Tau gak, selama setahun dia tinggal di rumahku dia banyak membantuku. Aku yakin kamu belum pernah ke pasar tradisional. Tapi Tony setiap hari membeli belanjaan untuk jualanku di pasar. Trus dia juga belajar masak. Belajar mengerjakan pekerjaan rumah. Pokoknya dia itu rajin dan sangat bisa diandalkan. Kalau lagi senggang, dia suka duduk di teras nyanyi sambil bermain gitar. Suaranya bagus. Aku punya rekamannya. Nanti kalau handphone ku sudah di cas, akan ku tunjukkan padamu."


Aku melirik David yang wajahnya tampak tegang. Wajah yang gak asing. Artinya dia sedang marah.


"Tony juga..."


"Kamu bisa diam tidak?" hardiknya


"Tidak bisa." lawanku.


"Tony juga mewujudkan impianku. Sekarang aku baru tahu kenapa aku bisa mulus masuk ke kampus idamanku. Itu semua karena Tony. Kalau dia tidak mencintaiku, dia tidak mungkin berbuat begitu. Aku sangat tahu hubungan dan perasaan kami lebih dari siapapun. Jadi aku yakin sekali kalau dia meninggalkanku juga pasti punya alasannya. Salah satunya adalah kalian memaksanya menikah dengan adikmu." ujarku emosi.


David menginjak rem. Hampir saja kepalaku menabrak kaca depan. Mobil-mobil di belakang kami klakson dengan marah. Seseorang turun dari mobil dan menghampiri kami. Aku panik. David masih diam sambil melotot ke depan. Nafasnya tersengal-sengal. Dia marah. Marah tingkat tinggi. Tapi bagaimana ini? Orang-orang mengetuk kaca jendela kami sambil-sambil marah-marah.


"Bagaimana ini?" aku menggoyang-goyangkan lengannya karena panik. "Maafkan aku. Aku akan diam. Janji aku diam."


Dia menatapku dengan mata tajam lalu menjalankan mobilnya. Beberapa mobil di belakang tersinggung dan melaju mengejar kami. David tahu dan menambah kecepatan.


"Kamu gila?!" seruku


Sepanjang perjalanan entah kemana, aku hanya bisa menjerit, berteriak dan minta maaf. Aku tidak mau mati di jalanan. David belum juga menurunkan kecepatannya padahal mobil tadi sudah tidak mengejarnya.


David akhirnya menurunkan kecepatannya ketika masuk ke area perumahan. Wajahku pucat dan perut ku mual. David turun dari mobil dan menghantam pintunya sekuat tenaga. Akibatnya telingaku terasa menyakitkan. Dia membuka pintuku dan menyeretku keluar. Kakiku lemas tapi dia tidak peduli padaku yang hampir tersandung.


Bibi Nia tampak khawatir "Ada apa? Non Lia baik-baik saja?"


"Gak apa-apa. Siapkan saja makan malam untuk kami." ujarnya lalu langkahnya terhenti tepat di depan tangga. "Kalau bisa kuewtiau yang warnanya pucat."


David menyeret ku kekamar. Lagi-lagi tanganku sakit akibat genggamannya. Dia mendorongku ke dinding. Wajahnya merah karena marah, matanya melotot dan penuh ancaman. Wajahnya sangat dekat dan jujur aku ketakutan saat ini. Aku gemetar dan keringat dingin mulai bercucuran. Dia masih diam dan aku tidak berani mengucapkan sepatah kataku. Aku takut dia akan mengepalkan kepalan tangannya dan memukulku. Dengan tubuh kekarnya, mungkin aku akan langsung mati di pukulan kedua. Aku ngeri membayangkannya.


Biar bagaimanapun aku adalah tawanannya. Seharusnya aku lebih nurut. Seharusnya ketika dia suruh aku diam, aku diam saja. Aku takut mati sebelum bertemu dengan Tony. Atau aku gak mungkin menjumpai Tony jika wajahku babak belur.


"Ma.. Maaf." ucapku gemetar. Air mataku keluar tanpa sadar.


"Kuberi kamu waktu sebulan untuk melupakan Tony." perintahnya.


"Ga..gak bisa." jawabku. Detik berikutnya aku nyesal. Seharusnya aku diam saja.


"Harus bisa!" paksanya


"Tapi kamu sudah janji akan membawaku menemuinya." isakku


"Dia sekarang adalah tunangan Emi. Kalau kamu mau rujuk dengan Tony, percayalah sebelum berjumpa dengannya, kamu duluan berjumpa dengan dewa kematian."


"Aku hanya ingin dengar penjelasan dari Tony. Jika dia tidak mencintaiku dan akan menikah dengan Emi, aku rela. Tapi biarkan aku menemuinya untuk terakhir kali." bujukku. "Tolonglah. Setelah itu, kamu mau racuni aku, bunuh aku, jadi makan siang harimau juga aku rela. Aku udah gak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Jika aku menghilang, tidak akan ada orang yang mencariku. Tapi setidaknya aku harus memastikan kalau Tony juga tidak akan mencariku."


"Bagaimana jika dia mau rujuk denganmu?" tanyanya.


"Maka aku akan.. Aku akan..." aku tidak tahu akan menjawab apa.


"Sebaiknya kamu membunuhku, biar kalian bisa bersama lagi. Tapi selagi aku masih ada, jangan harap kalian bisa bersama." ancamnya


"Kalau begitu." Aku menelan ludah. "Ajari aku membunuhmu." Aku membalas tatapan matanya.


Aku berusaha tegar walaupun jantungku sudah memaksa untuk keluar dari kulitku. Air mataku juga belum berhenti.


David menyunggingkan senyumnya. "Menarik."