
Sisa satu jam perjalanan akhirnya kugunakan untuk tidur. Lebih tepatnya pura-pura tidur. Gara-gara untuk mengalihkan pertanyaannya seputaran tentang David. David kerja dimana? Lulusan mana? Umur berapa? Laki-laki baik atau tidak? Pernah memukul tidak?
Aku malas mengisi rasa penasarannya lalu dengan mengalihkannya aku bertanya tentang isi tulisan di sticky notenya. Lalu malapetaka pun terjadi. Aku di beri kuliah gratis dengan fasilitas di atas awan, privasi terjamin dan menerima perdebatan seputaran isi bukunya. Dan dua jam yang menyiksa pun akhirnya berlalu setelah aku mencegat seorang pramugari yang kebetulan lewat.
"Mbak, boleh minta paracetamol? Aku sepertinya mabuk udara."
Pramugrari yang ramah dan cantik dengan sigap menyanggupi permintaanku. Hanya dengan semenit, kakak pramugari kembali dengan sebutir obat plus segelas air hangat. Pak Gilbert mengamatiku, mungkin dia ingin memastikan apakah aku bohong atau tidak. Tapi sumpah. Aku beneran merasa pusing dan perutku bergejolak. Lima puluh persen akibat terbang dan lima puluh persen akibat kuliah gratis.
Akhirnya Pak Gilbert menyuruh aku untuk tidur dan dia janji akan membangunkan aku ketika pesawat sudah landing. Tapi aku tidak bisa beneran tidur karena terganggung oleh deruan mesin pesawat yang terus menerus membuat telingaku gak nyaman. Tutup mata dan diam seperti ini sebenarnya sudah sangat membantu. Satu jam akan segera berlalu.
***
Lobi bandara yang hiruk pikuk. Aku berjalan mengikuti sekelompok penumpang yang satu pesawat denganku. Setelah kira-kira menemukan jalan keluar, aku berhenti untuk menelepon David. Ada perbedaan waktu satu jam lebih cepat di sini. Hanya deringan pertama, langsung terdengar suara David. Aku tersenyum senang sekaligus lega. Suara David seperti magis yang langsung memberiku rasa aman di tempat asing ini.
David memintaku untuk mencari sebuah restoran yang selalu dia kunjungi kalau tiba dari bandara ini. Selain rasanya enak, restoran ini juga mempunyai kenangan yang sangat berarti bagi dia. Tempat dimana dia dan keluarganya pernah singgah ketika sedang berlibur. Dan itu juga merupakan jalan-jalan sekeluarga terakhir karena setelah itu Ayahnya sangat sibuk memperluas bisnisnya sampai tidak pernah lagi jalan-jalan sekeluarga. Oleh karena itu, jika David kebetulan akan datang ke kota ini, entah tujuan untuk jalan-jalan atau dinas, dia akan singgah ke restoran ini dan memesan makanan yang dahulu dia makan bersama keluarganya.
Tidak susah mencari restoran yang disebut David karena berdampingan dengan restoran siap saji yang terkenal. Tempatnya luas, dengan kaca-kaca yang mengeliling seluruh restoran ini. Suasana di dalam terasa adem dan kalem. Bagaimana aku menyebutnya? Pokoknya aku bisa duduk lama deh disini. Aku memilih tempat duduk di samping kaca karena tempat duduknya sofa dengan sandaran tinggi dengan meja panjang di depannya. Rasanya seperti punya ruang privasi tersendiri.
David masih di sambungan telepon yang sekarang sudah beralih ke Video Call. Aku menggunakan vas bunga kecil sebagai sadaran handphone. Seorang pramusaji menyerahkan buku menu padaku. Aku memintanya untuk kembali lagi nanti setelah aku memastikan pesananku.
Baru buka satu halaman, aku langsung menutupnya kembali.
"Mahal banget, Dave." protesku pelan.
"Tapi rasa dan harganya worth it banget, Sayang." jawab David di seberang sana yang sedang mengetik sesuatu di laptopnya. Dia juga lagi berada di restoran sebuah hotel, sedang menunggu salah satu investornya.
"Aku harus berhemat, Dave. Baru saja sampai masa langsung boros." Aku sudah hendak beranjak dari kursi yang empuk ini. Mending aku makan di restoran cepat saji di sebelah saja.
"Pakai kartu kreditku. Gak perlu berhemat. Kamu itu pergi kuliah, bukan bertapa."
"Sejak kapan aku punya kartu kreditmu?"
"Sudah kusisipkan di dompetmu tadi pagi."
"Beneran?"
Aku langsung mengecek slot dompetku yang tiba-tiba bertambah satu kartu. Master Card berwarna hitam berkilap.
"Aku gak salah lihat? Matamu kok bersinar?" ejek David seraya mengusap-usap matanya.
"Bawalah serta terus. Aku sudah pasang alat pelacak disitu. Jika kamu tiba-tiba tidak bisa dihubungi, aku bisa melacakmu lewat itu."
"Serius?"
"Bohong."
Akhirnya berkat kartu kredit David, aku sukses menikmati hidangan yang harganya setara dengan biaya hidup setengah bulan dan sukses memenuhi lambungku. Aku rasanya akan kenyang sampai malam. Investor David sudah sampai dan dia harus menutup panggilan. Tak lupa mengingatkan aku untuk terus memberi kabar lewat chat.
"Pacar kamu ternyata posesif yah." sebuah kepala tiba-tiba menyembul dari balik sandaran kursi depan.
Jantungku kontan seperti terserang listrik lima ratus volt.
"Pak Gil!! Sejak kapan bapak ada di situ?" tanyaku seraya mengelus dadaku yang masih shock.
"Dari tadi." Katanya seraya meninggalkan mejanya dan beralih duduk di hadapanku. "Aku ingin menyapa, tapi kamu sedang berbicara dengan pacar kamu, jadi kuurung."
"Aku harus pergi sekarang." kataku seraya menyeruput habis smoothies ku.
"Ayok biar ku antar." Pak Gilbert ikut-ikutan beranjak.
"Tidak usah, Pak. Aku naik Taxi saja." Jawabku buru-buru memasukkan handphoneku ke dalam tas.
"Aku kebetulan akan ke kampus, jadi aku bisa drop kamu di asrama." ajaknya lagi.
Perasaanku tidak enak. Ditanyai urusan pribadi saja sudah membuatku tidak nyaman, di tambah kuliah gratis yang membuatku mual. Terus diikuti sampai di restoran apalagi sekarang di ajak jalan bareng. Aku belum ada kenalan siapa-siapa di sini, aku gak boleh ceroboh. Bisa jadi dia seorang penipu yang berkedok dosen. Bisa jadi aku kebetulan menjadi sasaran yang bisa di tipunya.
Aku tidak menjawabnya lagi dan langsung buru-buru pergi meninggalkan restoran. Aku berlari kecil menuju jalan besar dan naik ke dalam taxi yang sedang kosong. Aku tidak berani melihat ke belakang karena takut tahu-tahu Pak Gilbert sedang mengejarku. Aku mengatakan alamat tujuanku pada supir taxi lalu bernafas lega.
Aku mengirim pesan singkat pada David kalau aku sedang di perjalanan menuju asrama. Aku tidak berani menceritakan kejadian tadi pada David. Masih ada waktu empat tahun, aku tidak mau terlalu cepat membuatnya khawatir.
Aku menunggu beberapa menit tapi David belum merespon. Mungkin dia masih rapat dengan investornya. Akhirnya aku menikmati pemandangan di luar kaca jendela mobil. Jalanannya mulus, bersih, banyak sekali bangunan-bangunan adat. Perumahan warga juga terdapat ukiran dengan ciri khas kota ini. Katanya penduduk di kota ini sangat ramah, semoga saja aku akan bertemu dengan orang-orang ramah di asrama dan di kampus.
Tiba-tiba otakku terlintas sosok Pak Gilbert, kontan membuat bulu kudukku berdiri. Kalau Pak Gilbert bukan penipu, dia beneran orang baik, ramah dan terkadang kocak. Tapi sikapnya tadi menurutku terlalu menunjukkan perhatian yang berlebihan. Sampai-sampai bisa membuat orang tidak nyaman.
Perjalanan baru saja di mulai, aku harus tabah dan tidak boleh lengah sedikitpun. Pokoknya aku harus menyelesaikan studi ini sampai selesai. Karena ini juga merupakan impianku dan juga harapan mendiang orang tuaku.
Semangat Lia!!