
"Yuk! " Tangan kekar itu berhasil membuatnya terkejut ketika menyentuh kulit halusnya. Jantung Aninda bergetar hebat, jika Sean mendengarnya mungkin Aninda akan menyembunyikan dirinya di dalam karung. Berdekatan dengan Seandra Alfabeth adalah sesuatu yang sangat buruk. Menyentuh kulitnya saja, Aninda akan di maki habis-habisan. Aninda terbuyar dari lamunannya dan segera menepis kasar tangan Sean.
"Lepas!! " Bahkan tongkat yang ada di tangan kanannya terlepas begitu saja. Aninda berjongkok mulai meraba tanah untuk mencari tongkatnya.
Sial!!!!
Kemana tongkatnya?!!!
"Gak usah keras kepala, gue gak suka. "
"Gue lebih gak suka sama lo! " Lagi-lagi Aninda menghempasnya. Nafasnya memburu, amarahnya sudah mengusai hatinya. Beberapa kali Aninda melayangkan tangannya ke udara, Sean menahan tawa.
"Gue ada di belakang lo? lo mau nyakar gue? " Pernyataan itu membuat nyali Aninda menciut sekaligus malu. Bagaimana tidak??!!
Aninda membuat dirinya malu sendiri. Aninda membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah Sean dengan tatapan sengit, meskipun tubuhnya sempat terhuyung. "Hati-hati!! "
"Mending lo pergi, sebelum nih tongkat melayang ke muka lo. " Sean tersenyum remeh, cewek di depannya ini sungguh membuatnya gemas. "Gue gak butuh bantuan lo. "
"Yakin? " Ucapnya meyakinkan. Memasukkan kedua tangannya di dalam saku. "Kurang 10 menit lagi gerbang di tutup, sedangkan kita masih disini? yakin lo gak butuh bantuan gue. "
Aninda kicep. Bahkan dirinya tidak berfikiran sejauh itu. Seharusnya Aninda menyuruh supirnya saja untuk mengantarnya, bukan malah cowok di depannya ini. Aninda berjalan dan menyenggol pelan bahu Sean.
"Gue tetep jalan sendiri. " Sean menatap sebentar tongkat yang ada di genggamannya, Aninda sedikit kesulitan untuk mencari sesuatu.
"Keras kepala. " Gumam Sean.
Hingga tangan besar tiba-tiba menggendongnya, hal itu membuat Aninda sedikit terkejut. "Yang ada lo di hukum sama Guru killer di Sekolah. "
Aninda meneguk ludahnya pelan. Dapat ia rasakan hembusan nafas hangat di wajahnya. Aninda gugup.
🌺🌺🌺
"Lo beneran di anter sama si Sean, Nin?! " Aninda terlonjak kaget ketika mendengar gebrakkan meja di depannya. Itu suara Kira. Aninda memutar bola matanya malas. "Kok bisa?! sejak kapan?!! " Kira bertanya bertubi-tubi, pertanyaan itu hanya membuatnya pusing.
"Lo tahu?! gosip tentang lo di anter sama Sean udah tersebar luas kek virus! semua anak-anak pada ngomongin lo! " Aninda memang buta, tapi bukan berarti tidak bisa mendengar bukan? bahkan Aninda dapat merasakan hawa-hawa tidak enak di dalam kelasnya. Dari pagi Aninda sudah mendengar itu, tapi Sean berkata untuk tidak terlalu di fikirkan dan anggap saja angin lalu.
"Gue tahu. " Aninda mendesah panjang, bersandar di kursi dan memejamkan matanya.
Sedikit menikmati kegelapan di kedua matanya meski sering kali Aninda memimpikannya. Suara pantulan bola basket berhasil memecahkan konsentrasinya.
"Si Sean beberapa kali masukin tuh bola ke dalem ring. " Aninda memcoba mengabaikan ocehan Kira yang menurutnya tidak penting. "Kini, tinggal nunggu waktu, kapan bisa masukin cewek jutek kek lo ke dalem hatinya si Sean. " Aninda mendelik, melihat ekspresi terkejut dari Aninda, sontak membuat Kira tertawa keras, bahkan sampai memegang perutnya.
"Sembarang kalo ngomong. "
"Lagian lo! " Kira menjeda. " Terlalu di fikirin, terlalu banyak mikir ntar endingnya nyesek. Kesempatan gak datang 2 kali, Aninda. Gue tahu, lo pasti membutuhkannya juga kan? Lo merasakannya, cuma belum siap untuk menerima kenyataan yang di berikan untuk lo. "
"Maksud lo? " Aninda menaikkan sebelah alisnya.
"Intinya, lo harus nanggung resikonya, entah otu Sean deketin lo atau gak, tapi kalo enang udah jodoh? mau di kemana'in?? " Kali ini Aninda mendengarkannya, Ucapan Kira barusan ada benarnya. Tapi apakah dirinya bisa berjalan dengan cowok lain sedangkan di dalam hatinya masih ada namanya???