
"Sstt.. " Raga meringis ketika dirinya tengah mengobati luka akibat bertengkar dengan Sean, cukup parah hingga sudut bibirnya sobek dikit. Namun hal itu tak membuat Raga sakit. Sikap Sean kali ini benar-benar keterlaluan. Sudah lama ia menginginkan Aninda namun dengan se'enaknya dia merebutnya?
Hell, Raga bukan cowok penyabar, dia akan melakukam segala cara untuk mendapatkan Aninda kembali.
"Oh cowok itu, bener-bener.. " Tangannya terkepal kuat. " Pengen rasanya gue tonjok tuh muka sialan. " Desisnya pelan.
Melempar kotak obat itu hingga berserakan di lantai. Rahang Raga mengeras, amarahnya seakan meletup begitu saja ketika mengingat Aninda di peluk oleh dia. Raga tidak bisa menerima itu semua.
"Apa gue harus pake cara yang kasar biar lo jadi milik gue, Aninda Sakura? Gue capek kalo bermain halus sama lo karena gue bukan tipe cowok yang penyabar. Gue gak mau kalah dari Sean, apa yang di miliki Sean harus jadi milik gue. "
Raga beragumen sendiri. Tatapannya mengkilat merah layaknya se'ekor elang yang siap ingin menyantap mangsanya.
Brak!!
Pintu terbuka lebar. Menampilkan sosok dua sepasang kekasih yang kini tengah berdiri dengan tangan si cowok yang tak lepas dari pinggang si cewek. Aninda menelan ludah gugup.
Raga marah, melihat bagaimana Sean memeluk tubuh Aninda sungguh membuatnya tak tahan untuk tidak menghantam cowok itu.
Sean terlalu berani untuk melakukan hal ini. Perbuatannya justru semakin mengundang amarah Raga.
"Singkirin tangan lo. " Desisnya pelan. Tatapannya menajam.
Sean mengerjap lucu. " Maksud lo apa? Ngapain lo nyuruh gue buat nyingkirin tangan gue? " Seolah tidak tahu apa-apa, dengan lancangnya Sean mengecup lembut puncak kepala Aninda, hal itu membuat Raga marah dan menarik kerah seragam milik Sean. Aninda terperanjat kaget. Mundur sedikit ketika Sean melepaskan genggamannya.
"Sakura pacar gue, lo gak berhak ada di samping dia, ngerti? "
"Eh? Lo gak berhak ngelarang gue, emang lo siapa? Bokap gue?! "
Sean ini bener-bener dah...
Bahkan Aninda pun tak tahu harus berekspresi seperti apa.
"Gue gak tahu apa rencana yang lo buat sekarang, tapi yang gue mau sekarang juga lo lepasin Aninda, dia gak pernah bahagia sama lo. " Sean tertawa remeh.
"Kenapa lo percaya diri banget? Lo gak ngaca? Justru di sini lo yang malah buat Aninda tertekan, Aninda gak pernah bahagia sama lo. "
"Gue gak peduli. Gak cukup ketika lo ngambil semua apa yang gue punya? Sekarang pun gue gak mau ngalamin hal yang sama. "
Sean diam, bibirnya terbungkam rapat. Dirinya tidak menyangka jika dulu Raga sungguh tersiksa olehnya. Meskipun Sean membencinya, namun jauh dari lubuk yang paling dalam Sean benar-benar peduli dengannya. Raga, telah Sean anggap sebagai saudara sendiri.
"Hm, gue tahu. Tapi lo tahu sendiri kan kalo gue selalu dapetin apa yang gue mau, dan yang satu ini gue gak akan pernah ngelepasinnya. "
"Brengsek! " Sean terhuyung ke belakang. Membuat Aninda terkejut ketika mendengar sebuah pukulan dari ruangan itu. Ia menangis kencang, dua cowok itu terlalu larut dalam kebencian hingga melupakan kehadiran Aninda di tengahnya.
Aninda menutup kedua telinganya rapat. Memori itu kembali bermunculan di kepalanya. Peristiwa kecelakaan hingga membuat Genta pergi meninggalkannya untuk selamanya, semua ini salahnya, hingga tidak lama pandangannya mulai mengabur.
*****
Raina cemas ketika mendapati tubuh putrinya terbaring lemas di brankas rumah sakit. Ketika mendengar perkelahian itu membuat Aninda terlempar lagi ke masa lalunya yang kelam. Entah bagaimana masa lalu Aninda, yang jelas sungguh membuat dua cowok di antara putrinya itu cemas dan khawatir.
Aninda tidak pernah sesakit ini.
Bahkan Sean pun tak habis fikir, setelah mendengar cerita dari Raina, Sean benar-benar di landa rasa bersalah, namun Raina menampiknya.
"Aninda itu putri tante satu-satunya. Dia punya pacar pas SMP dulu, namanya Genta. "
Sean menelan ludah gugup. Mendengar nama itu ia jadi teringat di sebuah makam dengan tulisan di batu nisan itu.
"Genta anak yang baik, tante bisa lihat dari matanya kalo dia bener-bener mencintai Aninda. Setelah kepergian papanya, Aninda jadi sering murung, namun Genta selalu di sisinya, menaruh kenangan yang begitu Aninda pada Aninda. " Helaan nafas keluar dari bibir Raina. Sean menelan ludah lagi.
"Perihal kebutaan Aninda, bisa tante cerita? " Raina tersenyum dan menepuk pelan pundak sang pemuda Alfabeth itu.
"Aninda mengalami kecelakaan, waktu itu Aninda dan Genta sempat beradu konflik, Aninda curiga kalo Genta akan meninggalkannya demi cewek lain. Padahal yang ada di fikiran Genta cuma ada dia.. " Isak tangis mulai terdengar. " Mereka bertengkar di dalam mobil, sampe Genta tidak mengetahui bahwa ada sebuah truk melintas di depannya. Genta hilang kendali, mobil mereka mengalami kecelakaan, namun sayangnya Genta gak selamat, Aninda mengalami kebutaan permanen. "
"Tante-"
"Aninda kehilangan semua kebahagiaannya, papanya dan juga Genta meninggalkannya dengan sebuah luka, tante mohon buat Aninda tersenyum lagi. "
"Tapi, tadi di Sekolah-"
"Aninda sudah 4 tahun menjadi pasien psikiater, mentalnya terganggu. Dia pernah mencoba untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Tante tidak tahu apa yang membuat dia sesakit ini, hatinya sudah terlanjur hancur. "
Sean tak bisa berkata apa-apa, mendengar pernyataan Raina, dia benar-benar menyesal karena belum mengetahui hal itu semua. Raga pun tak ada bedanya, berdiri di pintu dengan tangan terkepal kuat.
Tak ada yang mengetahui jika Aninda termasuk cewek yang begitu lemah, mentalnya terganggu.
Sean mengambil alih telapak tangan dingin itu dan mengecupnya lembut, menyalurkan sebuah kehangatan di sana.
"Aku, janji gak akan pernah ninggalin kamu, Aninda. "
Sean Alfabeth
Raga Dirgantara