
"Udah Se, perut aku udah kenyang. " Aninda protes ketika Sean selalu menyuapinya dengan porsi yang sangat banyak. Pasalnya sebelum berangkat, Aninda sudah sarapan dengan Raina, di tambah lagi Sean membawa bekal untuknya. Sean menggeleng.
"Gak, lo laper Aninda. Buktinya lo masih mau ngunyah kan? "
"Itukan lo yang maksa! " Teriaknya kesal. Aninda memutar bola matanya jengah, sikap cowok di depannya ini, benar-benar menjengkelkan. " Lagian, ngapain sih lo repot-repot bawa'in gue makanan? gue gak butuh. "
Sean tertegun. Mata lavendernya menatap sendu cewek yang kini sedang kesal padanya. Sean sadar bahwa sikapnya itu sangat menyebalkan bagi Aninda, tapi apa salah jika Sean melakukannya hanya karena ia menyukai cewek ini? Jika saja Aninda tidak muncul di dalam kehidupannya, mungkin Sean tidak akan segila ini, dan mungkin Sean tidak akan bertengkar dengan Raga.
Tapi di sisi lain, Sean begitu bersyukur karena semenjak kedatangan Aninda, hidupnya jadi lebih berwarna. Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali mengusik kehidupan Aninda, karena itu merupakan sesuatu yang menyenangkan.
"Badan lo kurus, kasian gue ngeliatnya. " Ucapnya santai tanpa beban. Aninda melotot tanda tak terima atas penghinaan terhadap dirinya.
"Gue gak kurus! "
Aninda ngambek.
Pundungan sekali.
Tapi, meskipun begitu Sean tidak terganggu sedikit pun, karena Sean sangat mencintai Aninda Sakura. Sean terkekeh melihat wajah jengkel di hadapannya itu, begitu menggemaskan sampai-sampai ingin sekali Sean kurung cewek itu di kamarnya.
Ah, dirinya mulai ngehalu...
"Ayo, satu suapan lagi. "
"Gak Sean, gue udah kenyang. " Aninda menggeleng, mencoba menolak suapan lagi dari Sean.
"Ya udah deh, gak mau kan? " Ujarnya, menutup lagi kotak bekal itu dan menatap cewek di hadapannya. Aninda mengernyit.
"Lo terus ngapain sekarang? "
"Gue? " Tunjuknya pada sendiri, Aninda mengangguk. " Ngelihatin lo. "
Blussss...
Wajah Aninda bersemu merah, terdengar kekehan kecil di depannya hingga mau tak mau Aninda menutup kedua matanya dengan telapak tangan.
"Wajah lo kenapa? kok merah gitu? " Aninda tahu bahwa Sean berusaha menggodanya, Aninda bersikap cuek agar tidak terlihat bahwa saat ini ia sedang gugup setengah mati. "E cieeeee, yang baperr habis di gombalinn, cieee. "
"Issh! apaan sih? diem deh! " Aninda merajuk. Tapi justru kenapa begitu menggemaskan di mata Sean? Ah, rasanya ia benar-benar ingin terbang.
Bucin tingkat dewa...
Tapi, Aninda benar-benar tidak mengerti, apakah benar Sean tulus mencintainya? fikirannya begitu kacau ketika ia memikirkan cowok di depannya itu. Setiap hari, setiap saat, setiap waktu bahkan setiap detik, Sean selalu berada di sampingnya, selalu melindunginya. Sean tidak akan pernah membiarkan sedikitpun seseorang menyakitinya ataupun mengusiknya.
Karena Sean, sangat mencintainya.
"Kenapa? "
"Ngh? "
"Ck! " Sean berdecak sebal. Kenapa Aninda balik bertanya, apakah dia tidak tahu bahwa dirinya saat ini benar-benar tidak ingin di abaikan? Jelas Sean melihat guratan kekhawatiran pada wajah Aninda, seperti menyimpan banyak masalah dalam hidupnya.
"Gue nanya lo kenapa? ada yang ganggu lo lagi? " Tidak! Jangan sampai Sean bertindak ceroboh hanya demi dirinya. Aninda menggeleng pelan, memejamkan kedua mata kucingnya hingga menambah kesan kegelapan dalam matanya.
"Gue, cuma lagi bingung aja. " Gumamnya terdengar lirih. Ia menghela nafas panjang, satu persatu kehidupannya yang dulunya damai kini akan menjadi buruk jika Sean masih saja bersamanya. Tapi kenapa Aninda begitu tidak tenang? Terdapat perasaan aneh pada dirinya, tapi tidak tahu itu apa.
Aninda tahu dan sadar diri, bahwa cewek sepertinya tidak pantas jika bersanding dengan seorang Seandra Alfabeth. Mengingat bahwa dia termasuk pemilik dari Sekolahnya ini, Aninda tidak akan pernah membiarkan Sean mengusik kehidupannya lagi.
Karena dirinya yang paling terburuk.
"Bingung? ada gu-"
"Gue gak butuh lo, gue gak butuh siapapun! Jadi plis, berhenti ganggu gue, atau lo bakal sakit hati, Sean.. "
Sean tertegun, matanya terasa panas hanya karena mendengar kalimat yang mampu membuat hatinya teriris, merasa hidupnya tidak ada gunanya lagi jika Aninda pergi dari hidupnya.
"Tapi, kenapa? " Sean bertanya lirih, Sean tahu bahwa Aninda mengatakan itu tidak benar-benar mengatakannya. Karena Sean mengetahui dari kedua mata teduh itu. Seolah berkata bahwa ia tidak di inginkan untuk pergi dari hidupnya. Tapi sekali lagi kenapa? Kenapa Aninda melakukannya. " Ke-kenapa? lo bencikah sama gue? "
Aninda menggeleng lemah. " Gak. " Isakan tangis mulai terdengar di telinga cowok itu. Sean begitu sakit hanya karena melihat air mata milik Aninda, apakah dia tidak tahu, bahwa ia hanya ingin selalu di sampingnya dan selalu melindunginya?
"Apa lo gak nyadar kalo gue bener-bener udah jatuh cinta sama lo, Aninda sakura? Gue tulus sama lo, kenapa lo gak nyadar hal itu? " Terdengar nada kekecewaan dari suara Sean, dirinya telah di telan oleh rasa kecewa dan juga bersalah. Kecewa karena Aninda tidak menyadari ketulusannya, dan merasa bersalah karena ia tidak bisa membuat Aninda tersenyum. Dua hal itu membuat Sean di landa keterpurukan.
"Gue gak pantes buat lo, jadi gue mohon jangan ganggu gue lagi, atau lo yang bakal sakit hati. "
"Kenapa lo selalu bilang gue bakal sakit hati kalo gue berada di samping lo?! "
Aninda tersentak kaget.
Teriakan Sean benar-benar membuatnya takut. Aninda meremas erat rok abu-abunya. Kepalanya menunduk dalam, meskipun ia tidak dapat melihat dengan jelas, tapi merasakan terpaan hangat dari nafas cowok itu, sanggup membuat dirinya takut dan gugup.
"Sakit hati? " Sean tersenyum sinis." Bahkan sebelum lo ngomong kek gini udah bikin gue sakit hati. Andai lo gak dateng ke sekolah ini dan muncul gitu aja di kehidupan gue, gue gak akan segila ini hanya karena perasaan gue. " Aninda masih diam, kepalanya enggan untuk dia angkat. " Gue gila karena selalu mikirin lo, gue gila karena harus kebayang wajah lo, dan gue hampir gila karena gue baru menyadari kalo gue bener-bener cinta sama lo! " Nafasnya tersengal-sengal. Matanya memerah menahan amarah tapi Sean tidak berani untuk menyakiti cewek di depannya itu.
"Maaf.. " Hanya itu yang sanggup Aninda katakan setelah sekian lama diam dalam kemarahan cowok itu. Yang di katakan Sean memang benar. " Maaf, karena gue udah ganggu kehidupan lo.. " Aninda menangis, menangis karena ia harus menjadi duri dalam kehidupan Sean, Aninda tidak menginginkan hal itu, yang ia inginkan hanyalah ketenangan dalam hidupnya selama di Sekolah barunya. " Gue emang salah karena udah berani ngusik kehidupan lo Sean, gue minta maaf. "
Mata Sean berubah teduh ketika mendengar suara lirih dari cewek yang di cintainya itu. Sean menyalahkan ucapannya yang sembarangan berkata.
"Gue, bakal pergi dari Sekolah ini, dan gue gak akan pernah ganggu hidup lo lagi, Sean. "