
Raga menghela nafas panjang.
Menoleh kesamping, Aninda masih saja menangis. Cewek itu membuang arah ke jendela mobil tanpa memikirkan Raga yang kini tengah menghadap ke arahnya. Raga mengurungkan niatnya untuk mengantarkannya pulang. membiarkan sang pacar menangis sepuasnya.
Raga terkekeh.
Pacarnya itu sungguh manis sekali, pantas saja Sean sangat mencintainya. Raga melupakan satu hal. Ia mengeluarkan sepucuk surat dari kantongnya, memberikannya pada Aninda. Cewek itu menoleh.
"Ngh? " Aninda bergumam dengan ekspresi bingungnya.
"Baca aja. "
"Buat aku? " Raga mengangguk. Membiarkan Aninda membaca surat itu, yang bahkan Raga sedikit pun tidak tahu isi surat itu.
Aninda mulai membuka. Terdapat 3 lembar kertas berwarna merah muda. Kerutan di dahinya semakin kentara.
Surat Pertama.
Dari Sean untuk bidadari gue.
Hai Aninda...
Mungkin setelah lo baca ini, gue udah gak ada di samping lo. Sorry, karna gue udah ngingkari janji gue buat duduk di samping lo di saat lo bisa ngeliat dunia. Sorry.. karna gue gak bisa bertahan buat ada di sisi lo. Sorry.. karna gue gak bisa nepatin janji buat jagain lo. Sorry.. karna gue gak bisa ganti'in posisi Genta di hati lo. Sorry.. karena selama gue hidup, gue selalu bikin lo menangis, dan sekarang pun gue udah bikin lo nangis.
"Bahkan sekarang pun, lo udah bikin gue nangis, Se... "
Selama ini, lo pasti gak bahagia dan gak nyaman banget di deket gue? Iya kan? Pasti iya. Ya habisnya gimana ya??
Gue maunya lo.
Gue cintanya sama lo Aninda. Di saat gue tahu bahwa lo masih ada rasa sama Genta, hati gue sakit. Padahal waktu itu cinta gue udah tingkat dewa. Tapi gak papa, meskipun kita gak pernah pacaran, tapi gue seneng banget karna udah pernah ada di sisi lo.
Surat Kedua
Aninda mulai membukanya lagi. Ia menoleh sejenak ke arah Raga, cowok itu tersenyum, Aninda tertegun. Apa-apaan ini? Ia membaca lagi.
Surat yang kedua ini mengandung kata-kata bucin dari cowok humoris plus puitis kek gue.
Satu. Sean cinta Aninda.
Dua. Sean pengennya Aninda.
Tiga. Sean sayangnya Aninda.
Empat. Sean bucinnya cuma sama Aninda.
Jangan ketawa, nanti banyak yang naksir.
Aninda tertawa. Sedikit senang membaca surat dari Sean.
Lo tahu Ann, setelah gue ketemu sama lo, gue tahu gimana rasanya mencintai. Sandra selalu ngajarin gue buat nembak lo. Gue gak mau, masa anak orang di tembak?! Mati dongggg!! Dia misuh-misuh. Ngatain gue karna cara gue nembak lo gak gentle banget. Ya gimana ya? Soalnya gue jagonya cuma ngegombal doang sih. Hehehe...
Sebenernya gue pengen banget ngajak lo ke suatu tempat. Lihat sunset sama-sama. Terus gue jongkok di depan lo dan bilang, mau gak jadi pacar gue??
"Gue mau, mau banget... "
Tapi gak bisa. Mungkim tuhan memang gak ngerestuin kita buat bersatu.
Surat Ketiga.
Plis... gue mohon, ketika lo baca ini, gue mohon lo jangan nangis. Sorry.. karna gue gak bilang ke lo tentang donor mata itu. Gue sengaja gak ngasi tahu lo karna takut lo nolak dan malah membenci gue. Gue cuma pengen ngeliat lo bahagia dengan melihat indahnya dunia. Melalui mata gue, lo bisa menikmati gimana rasanya bisa ngeliat lagi. Gue pengen lo bahagia sama seseorang yang tulus cinta sama lo, selalu jaga lo di saat butuh. Raga bener-bener tulus mencintai lo, Aninda. Gue bisa lihat dari matanya. Gue percaya bahwa Raga bisa ganti'in posisi gue. Pliss jangan sedih dan jangan nangis. Gue mohon untuk kali ini aja, tetep bertahan demi gue. Tetep bahagia meskipun gak ada gue, tetep tersenyum walaupun gak ada gue. Dan tetep bahagia meskipun gak ngeliat wajah gue.
Dan satu lagi, ini bonus wajah tampan gue buat lo.
Aninda menangis. Ia lihat lamat-lamat foto itu. Sean tengah tersenyum dengan gaya coolnya. Memamerkan deretan giginya yang putih. Akhirnya setelah lama Aninda bisa melihat wajah itu.
Tampan dan juga manis. Gayanya begitu lucu. Memakai topi adalah ciri khasnya. Aninda melihat satu foto lagi. Kali ini foto cewek. Siapa?
Kalo itu Sandra, adek gue. Lo masih inget kan? Yang punya mulut mercon seantero Sekolah. Gue titip dia ke lo. Jaga dia seperti adek lo sendiri. Meskipun urakan, bar-bar, susah di atur, tapi dia manjanya minta ampun. Gue mohon, cintai Raga seperti lo mencintai Genta. Raga cowok baik seperti yang lo bilang. Dan satu lagi, jangan nangis. Jangan pernah ngeluarin sedikit pun air mata lo untuk sesuatu yang gak berguna. Sampai sini dulu suratnya. Ntar kalo lo kangen, gue bisa nongol di mimpi lo. Cukup sebut nama gue 3 kali sebelum tidur, dengan nada yang manja tapi. Hehehe...
Aninda menggigit bibir bawahnya. Menahan untuk tak menangis. Tubuhnya ia putar menghadap Raga, merentangkan kedua tangannya. Raga mengangkat sebelah alisnya.
"Peluk." Aninda merengek manja. Sedikit heran dan tak percaya akan perubahan sikap sang pacar. Namun Raga mengiyakannya. Tersenyum simpul dan merengkuh lembut tubuh mungil itu.
"Masih mau nangis? " Suara bariton yang begitu khas itu mengaungi indera pendengarannya. Aninda menggeleng pelan, Raga terkekeh.
"Gak. " Suaranya serak. Terlalu banyak menangis memang membuat dirinya lelah. "Raga.. "
"Hm? Ada apa? " Aninda menggigit bibir bawahnya, sedikit ragu untuk mengucapkan hal tersebut.
"Jangan tinggalin aku. " Kepalanya mendongak. Mata kucing itu menghipnotisnya. Raga tercenung beberapa saat. " Jangan pergi seperti mereka ninggalin aku, aku mohon untuk kali ini aja, jangan tinggalin aku.. "
Raga diam beberapa saat. Bagaimana dirinya bisa meninggalkan cewek yang ia cintai? Bagaimana bisa ia meninggalkan sesuatu hal yang paling berharga bagi dirinya dan juga Sean?
Raga mengecup pelan puncak kepala sang pacar. " Hm, aku janji gak bakalan pernah ninggalin kamu. "