
"Ada yang tahu, Aninda?! " Suara bass yang berasal dari cewek itu, kini sedang berdiri di depan pintu kelas, tak lupa juga topi kebaliknya. Matanya berkedip beberapa kali, merasa tidak ada respon cewek itu mengulangi pertanyaannya itu. "Ya elah? nih orang pada mati apa ya?! gue nanya di cuekkin, herman gue. " Mungkin karena mereka tahu betul siapa yang kini berhadapan dengan mereka.
Sandra Alfabeth.
Cewek bar-bar, bad girl di Sekolahnya, tomboy, dan jangan lupa, menguasai semua jurus bela diri Karate. Adik dari Seandra ini memang beda tipis dari kakaknya, terkadang semua murid berfikir bahwa mereka bukanlah saudara yang akur, tapi jika sudah di rumah, mereka saling merebut satu sama lain. Bahkan di Sekolah pun mereka jarang tegur sapa, kecuali jika Sandra membuat onar, dan dengan senang hati Sean akan menegurnya.
"Eh?! ada neng Sandra? ngapain atuh kesini? kangen sama abang-abang bujang ya? " Ucap salah satu cowok di kelas itu tak lupa juga dengan kedipan matanya. Sandra mendecih pelan. Berjalan masuk dan menyapu pandangan untuk mencari Aninda.
"Diem lo hidung belang!! Kalo lo gak pengen gue gampar, mending lo diem! "
"Widihhhh! galak amat cantik-cantik. " Sandra hanya menatap tajam ke arah cowok itu. Lantas cowok itu langsung diam dan lebih memilih bermain hp. Sandra berdecak sebal, hingga akhirnya bernafas lega. Sosok yang ia cari kini sedang duduk di paling belakang sambil mendengarkan musik di earphonenya.
Aninda terkejut ketika merasakan sesuatu yang menarik earphonenya. Memalingkan kepalanya ke arah kiri.
"Hai!!! lo masih inget gue kan? " Seru Sandra, tak peduli pandangan dari semua pasang mata. Hingga Sandra menyadari bahwa tak seharusnya ia bicara seperti itu. "Oh sorry!! " Sandra menutup mulutnya. " Ok!! jadi gini, sebelumnya maaf, maaf karena gue lupa kalo lo gak bisa lihat, tapi lo masih inget suara gue kan?? " Aninda melongo. Entah cewek macam apa di depannya ini, tapi Aninda ingat betul bahwa cewek ini pernah menyelamatkannya dari gangguan para siswi lama.
"Gue.. lupa. " Aninda tersenyum kikuk.
"Ok! gue maafin! jadi gini, beruntung karena lo cewek yang di taksir saudara gue-"
"Saudara?! " Aninda membeo.
"Sean saudra kembar gue, tapi lebih dulu dia yang brojol. Nah kembali di topik lagi. Karena si Sean naksir sama lo, jadi mulai hari ini lo resmi jadi temen gue. " Ucap Sandra sambil menjabat tangan Aninda. Aninda yang tak mengerti hanya mengangguk pelan. Cukup nyaman dengan obrolan sedikit dari Sandra.
"Lo... ngapain mau temenan sama gue? " Alis Sandra menaut tanda tidak paham. Memangnya apa yang salah? toh, dia berhak berteman dengan siapa saja.
"Ya gue pengen! kenapa lo ngomongnya kek gitu? " Kepala Aninda reflek menunduk dalam. Menautkan kesepuluh jarinya dan menggigit bibir bawahnya.
"Di bawah kagak ada duit jatuh, percuma! " Aninda tersenyum simpul mendengar candaan vulgar dari cewek sebelahnya ini.
"Kok malah jadi kek drama gini sih?! udah deh, Nin? gak usah sok sedih! gue kagak demen! " Ucap Sandra yang tak suka dengan arah obrolan Aninda.
"Seharusnya lo gak nolong gue waktu itu, gue pantes nerimanya. "
"Tapi waktu itu emang si setan yang deketin lo?! kalo lo gak lupa. "
"Hm. " Menghela nafas panjang dan menghirup aroma tanah yang terkena cipratan hujan. Senyum Aninda muncul seketika, bahkan obrolan kali ini, bisa membuat perhatian Aninda teralihkan. "Bahkab mereka gak suka gue. "
"Tapi Setan juga suka. Gue juga suka temenan sama lo. "
"Lo ngomong gitu hanya untuk buat gue seneng kan? "
"Lo kok ngomongnya gitu? gue emang nakal, bar-bar, tomboy, tapi gue masih punya hati nurani seputih salju. Gini-gini gue juga punya perasaan. "
"Terima kasih atas perhatiannya. " Aninda menjeda. " Lo, tahu dari mana kalo Sean suka sama gue? "
"Lo tahu cenayang kan? gue ini cabangnya cenayang. " Tersenyum bangga sambil menaik turunkan alisnya. " Bahkan gue tahu warna CD lo itu apa."
"Lo nginceng gue mandi?! " Reflek Aninda menutup roknya dengan kedua tangannya. Melihat respon yang mengejutkan dari Aninda, Sandra langsung tertawa.
"Ya gak lah! mana mungkin gue nginceng lo? "
Sandra tersenyum miring, matanya sempat melotot ke arah cewek yang sedari tadi membicarakannya, ralat bukan dirinya, tapi Aninda. " Lo tahu, si setan tuh tiap hari senyum-senyum sendiri kek orang gila, gue takut ntar dia malah stres lalu isdet!! kasian nyokap bokap kehilangan sosok saudara gue yang paling dableg!!! "
"Maksud lo? " Aninda menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ya pokoknya lo harus siap-siap buka hati lo demi saudara gue, tenang!! lo gak usah khawatir, saudara gue gak bakalan bisa marah ke lo. "