
"Aninda. " Aninda berhenti sejenak lalu tubuhnya berputar pelan untuk menghadap ke arah Sean.
"Lo, ada acara malam ini? " Aninda mengernyit, lalu menggeleng pelan. "Ngedate? "
"Maksud lo? " Sean merutuki kebodohannya, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Mungkin kadar kepekaan Aninda sangat tipis.
"Hm, maksud gue, ntar malam gue mau ngajak lo jalan, itung-itung PDKT. " Aninda tersenyum tipis mendengar perkataan Sean. Kakinya ia langkahkan untuk lebih mendekat ke arah Sean dengan bantuan tongkatnya.
"Izinin gue ke mama, gimana? " Detik berikutnya Sean mengangguk seru dan menjawab iya.
Sean tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya, Sean menatap kepergian tubuh mungil Aninda masuk ke dalam rumahnya, andai jika ia merengkuh erat tubuh mungil itu, mungkin akan remuk. Sean terkekeh membayangkan hal itu.
Sean masuk ke dalam mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.
SEAN POV
"Dari mana aja? bukannya langsung pulang, malah keluyuran. " Bagai tersengat listrik, suara itu mengejutkan Sean, tubuh Sean terasa kaku, Reano Alfabeth kini sedang berdiri berkacak pinggang, menatap instens putra sulungnya. Sandra di sampingnya Reano hanya dapat menahan tawa dan memeletkan lidahnya.
"Eh? papa udah pulang? tumben? jam bera-"
"Gak usah ngalihin pembicaraan, orang tua ngomong di dengerin bukannya di cuekin. " Sean melotot ke arah Sandra, namun tidak di gubris olehnya, malah enak makan kripik di pangkuannya. "Dari mana saja? "
"Eh? itu a-anu em.. Sean itu-"
"Anu-anu... kamu berani anu-anuan di Sekolah? siapa yang ngajarin kamu, Sean?!!! " Sean dan Sandra reflek menutup telinganya mendengar teriakan dari sang papa.
"Apa sih pa?! Sean baru saja dari rumah temen, lagi ngerjain tugas. "
"Gak usah ngibulin papa! udah gak mempan. "
"Idih! lagian siapa yang ngibulin papa? Sandra kali yang ngibulin papa, masa dari tadi melet-melet terus lidahnya. "
"Udah!! kalian berdua sama aja! untuk kamu Sean, kalo papa lihat nilai ujian kamu anjlok lagi, papa gak akan beri kamu uang jajan selama 3 bulan!"
"Mati dong pa?! "
"Sukurin!!!"
"3 bulan gak bakal mati, gak usah lebay kamu tuh. "
"Pa?! Sean ini anak papa yang paling cakep loh? masa dompetnya tipis, kan gak mungkin pa.. "
"Kalo kamu pengen uang banyak, belajar yang rajin, kayak adek kamu nih? nilainya selalu A!!?
"A, tapi nyontek! "
"Dasar, rai triplek lo!! "
"Ngomong apa barusan lo?! gak nyadar, hah?! " Sean acuh lalu melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam kamar. Menyiapkan dirinya untuk mengajak jalan CALON PACARNYA.
"Hah!!! capek juga ternyata debat sama si Sandra, oh iya! " Sean mengernyit. " Papa kapan pulang ya? kol gue gak tahu sih?! " Sean hanya mengangkat bahunya acuh, tangannya membuka layar ponsel, bibirnya tersenyum melihat sebuah foto yang terpampang di layar ponselnya, Sean memang sengaja mengambil gambar itu secara diam-diam, bisa di bilang Sean itu STALKER.
"Aninda Sakura, gue bener-bener jatuh hati sama lo. " Gumam Sean dengan bibir yang masih betah tersenyum. Tangannya bergerak menyentuh dada kirinya yang tiba-tiba saja berdetak hebat.
"Eh busyet dah!! nih jantung kenapa ya dag dig dug gini? ngajak disko mulu. " Sean tersenyum geli, sesekali menciumi foto itu. Tiba-tiba saja bayangan Raga melintas di fikirannya, senyuman yang tadinya begitu manis, kini berubah meniadi seringaian.
"Raga Dirgantara, sampai kapan pun gue gak akan pernah ngebiarin Aninda jatuh di tangan lo. "
🌺🌺🌺🌺
Aninda tak ada hentinya menggigit ujung kukunya. Raina menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang putri semata wayangnya.
"Gak baik gigit kuku seperti itu, Aninda! " Aninda menduduk ketika Raina memperingatinya. Raina tersenyum, menghampiri sang putri lalu duduk di sebelahnya.
"Gak usah gugup, ada mama. " Aninda mengernyit.
"Mama ikut juga?! " Raina tertawa renyah, menghela nafas pelan.
"Namanya kencan itu, ya berdua sayang, mana ada orang ketiga? kamu mau mama merebut gebetanmu? "
"Ishh mama ih, goda aja terus Aninda. "
"Jangan cemberut gitu, ntar cantiknya ilang. " Aninda terkejut mendengar suara itu. Sean datang.
"Lo kapan dateng? "
"Baru aja. Bisa berangkat sekarang? " Raina melihat penampilan Sean dari atas sampai bawah, tidak ada tanda-tanda cowok pecicilan di dalam diri Sean.
"Kamu, Sean kan? " Sean mengangguk.
"Aninda sering cerita tentang kamu ke tante, ternyata sesuai dengan perkataannya. "
"Boleh saya pinjem Anindanya sebentar tante? jam 9 saya bilikin deh. "
"Lo kira gue barang! "
"Aninda, jaga sikap kamu. " Tegas sang mama. "Tante izinin kamu untuk bawa Aninda, jangan kamu bawa kemana-mana Aninda, dia sering takut. "
"Siap tante. "