SeanNinda

SeanNinda
Aninda Hilang!!



"Gue pengen lo jauhi Aninda sekarang juga. " Kalimat sama yang sayangnya harus Sean dengar lagi, Sean terkekeh geli, apa coba maksudnya? Atensinya teralihkan sepenuhnya ke arah cowok itu, Raga masih diam menunggu jawaban.


"Gue gak tahu maksud lo apa? "


"Gue harap lo gak terlalu **** buat ngerti'in apa maksud dari perkataan gue barusan. " Ujarnya penuh penekanan. Sean mengangguk mengerti terlihat santai meskipun di dalam hati begitu kesal.


"Lo... segitu pengennya pacaran sama Aninda? " Raga menggeleng pertanda menolak apa yang di ucapkan Sean, cowok itu mengangkat sebelah alisnya.


"Gue udah pacaran sama Aninda, lo-nya aja yang tiba-tiba masuk dalam hubungan asmara gue. "


"Hubungan asmara lo bilang? " Ucap Sean sarkastik, merasa geli karena Raga mengucapkannya begitu percaya diri. " Ngehalu lo terlalu tinggi. "


Selama hubungan persahabatan mereka, baru kali ini Sean mengalami pertengkaran yang begitu sengit. Beda jika di masa kecil dulu.


"Seharusnya lo tahu diri, Ga. Kalo yang di inginin Aninda itu gue, bukan lo. " Sean tersenyum meremehkan saat menemukan air muka mantan sahabatnya itu terlihat kesal. " Lo sendiri yang maksa Aninda buat jadi pacar lo, lo bener-bener keterlaluan. "


"Gue gak peduli, asal Aninda jadi milik gue, gue bisa apa? " Ok! Sean kehabisan akal, merasa tidak ada stok perkataan lagi untuk dirinya membela diri.


Tatapan sengit terpampang di mata mereka masing-masing. Bingung harus melakukan apa, jika seperti ini maka ia akan kalah dan Aninda akan pergi dari hidupnya.


Tidak!


Raga tidak ingin hal itu terjadi, dirinya tidak. boleh kalah dari Sean, sudah cukup mengalahnya sekarang ini.


"Emangnya lo pikir selama ini Aninda bahagia sama lo? Dari pertama gue lihat lo ketemu sama Aninda aja, lo udah bikin dia gak nyaman, lo pikir lo bisa bikin Aninda tersenyum seperti apa yang gue lakuin ke dia? Bahagia mungkin? "


Sean tersenyum samar. " Hm, kalo gue bisa ngelakuin itu semua, apa imbalannya? " Ucapnya sesantai mungkin. Raga memang sengaja membuat dirinya tersulut emosi. Tatpan mereka saling beradu, kafe itu mulai tampak sepi, hanya ada mereka berdua yang masih betah dalam pertarungan sengit itu.


"Imbalannya, kalo lo menang, gue serahin Aninda ke lo, tapi kalo lo kalah, siap-siap aja buat mantepin hati lo karena Aninda gak bisa nerima lo. "


Sean mengangguk santai, menguap sejenak lalu menyipitkan kedua matanya.


"Semudah itu? " Lagi, Sean mengangguk. " Ok! Gue gak takut. Sss, apa sih yang gak bisa di lakuin oleh Sean Alfabeth? "


"PD lo terlalu tinggi, hati-hati jatoh. "


Sean tertawa ringan. " Yang harusnya di sini hati-hati itu lo, lo yakin masih bisa bareng Aninda? Secara Aninda cintanya sama gue, kalo sama lo mungkin terpaksa. " Ya memang, selama ini Raga selalu memaksanya, Aninda di paksa untuk menjadi pacarnya karena takut akan kalah dari Sean. Tapi, jauh dari lubuk hati yang paling dalam, Raga benar-benar mencintai Aninda. Pertemuan singkat itu mampu menarik perhatian Raga yang notabenya merupakan cowok paling susah untuk di dekati.


Cukup terkejut dan aneh memang, cowok dingin, cuek, irit bicara seperti Raga harus jatuh cinta dengan cewek buta seperti Aninda, tapi kenyataannya seperti itulah yang dirasakan oleh Raga. Jantungnya selalu berdetak cepat kala berdekatan dengan Aninda.


Awalnya Raga mengabaikannya, namun lama-lama hatinya tidak terima jika Sean selalu bersama Aninda. Raga cemburu, iya memang. Tapi Raga tidak peduli. Maka dari itulah dia terpaksa melakukannya, agar Sean bisa jauh dari Aninda dan terpaksa mengorbankan persahabatannya selama ini.


"Lo-"


"Iya tante ada apa? " Sean mengangkat ponselnya yang berdering, matanya melebar tatkala di seberang sana mengucapkan sesuatu.


"Aninda hilang!!