
"Lepas, ih!!!! " Sesekali Aninda berontak ketika tangan besar itu berusaha menggapainya. Dengan sedikit bantuan dari tongkatnya, Aninda mensempatkan tongkat itu untuk melayangkan ke kepala Sean, sontak Sean membelalak kaget dan segera menangkis tongkat itu, tangannya mencengkeram erat bahu cewek di depannya.
"Lo apa-apaan?! kalo lo yang terluka gimana, hah?! "
"Lepas!! gue gak peduli! "
"Lo kenapa sih? " Kini suaranya melemah ketika raut wajah Aninda mulai tenang. " Apa karena perkataan gue tadi? " Seketika tubuh Aninda menegang, ucapan Sean kembali mengingatkannya dengan kejadian makan malam itu, terlebih Andre selaku Kepala restoran itu mencoba menghinanya. Mata Aninda berkedip beberapa kali, mendorong kembali supaya cairan bening itu tidak lolos dari matanya. "Aninda gu-"
"Lo gak bercanda dengan omongan lo itu kan, Sean? " Aninda tidak habis fikir, kedatangannya di Sekolah barunya mengundang banyak kekacauan. Sempat berfikir jika Anindq tidak akan bisa menjadi seseorang yang begitu penting bagi orang lain, namun perkiraannya salah, 2 cowok saling memperebutkannya hingga membuat mereka terpecah belah. Sosok 2 sejoli itu kini tak lagi akur, banyak orang saling mencibir menjelekkan dirinya.
Aninda jadi teringat dengan Sekolahnya yang dulu, bertemu dengan Genta sebelum menjadi pasangan kekasih, dimana Aninda, masih bisa menikmati keindahan di sekitarnya. Kedekatan mereka berdua teedengar hingga ke penjuru kelas. Aninda tersenyum miris, mungkin ini adalah karma baginya, Tuhan sengaja mengambil Genta darinya karena kesalahannya yang menurutnya sepele.
"Lo lihat ini? " Jari lentiknya menunjuk kedua mata kucingnya. "Gue buta. " Sean menggelengkan kepalanya keras, mencoba meluruskan kesalah pahaman itu. Perasaannya tidak enak sekarang.
"Aninda.. "
"Apa yang lo suka dari gue? " Mungkin saat ini Aninda butuh sandaran, mengingat perihal di Restoran tadi, Sean merasa bersalah padanya. Sean tahu betul meskipun ia seorang cowok, netranya menatap sendu wajah yang selalu cantik itu, membawa pelan tubuh mungil itu dan merengkuhnya lembut.
Hangat...
"Seburuk apapun lo, entah itu kekurangan lo, gue tetep cinta sama lo, gue gak bisa jamin jika suatu saat nanti gue ninggalin lo hingga sesuatu hal buruk menimpa lo, gue bakal ngerasa bersalah, Aninda... Mungkin lo gak bakal percaya gue ngomong ini ke lo, tapi gue pasti'in lo bakalan tetep aman selagi lo ada di sisi gue. "
"Gue juga gak bisa jamin kalo gue bisa bahagiain lo, Sean... mengingat lo begitu terkenal di seluruh Sekolah, mungkin lo bakal menomorduakan gue.. "
"Maksud lo? " Sean mulai menjauhkan tubuh Aninda, melihat wajah serius itu yang sayangnya tidak ada kebohongan. " Eh beneran! maksud lo apasih?! "
"Mungkin kesempatan datang 2 kali, dan gue gak bakal nyiain kesempatan itu, intinya kapan lo nembak gue? "
"Mati dong!!! " Padahal Aninda sudah berfikir bahwa Sean akan mengatakannya, tapi sepertinya cowok di depannya ini tidak dapat di ajak bicara serius. "Lo terlalu tercantik untuk gue tembak. "
"Bodoh ah!! " Kekehan pelan terdengar di pendengaran Aninda, Sean mentertawainya.
"Idih ngambek."
"Minggir!!! " Aninda mulai berjalan dan menggerakan tongkatnya. Kesal akan ketidak pekaan Sean pada hati dan perasaannya, membuatnya marah.
"Lo tahu, kapan gue mulai jatuh hati sama lo, Aninda Sakura? "
"Hanya cowok humoris yang berani ngomong kek gitu. "
"Hm, mungkin gue bakal ngakuin ini langsung ke lo. " Merasa tertarik Aninda membalikkan tubuhnya pelan ke belakang, menunggu perkataan apa lagi yang akan di dengarnya. "Aninda Sakura, pacaran yuk? "