SeanNinda

SeanNinda
Permainan Sean



Hari libur di musim yang sangat panas, cukup membuat dua anak bersaudra itu kecewa lantaran keinginannya untuk keluar beli es krim harus tertunda akibat teriknya matahari. Sean dan juga Sandra kini akhirnya memutuskan untuk berenang di belakang rumahnya. Meminum jus yang begitu dingin yang menurutnya terlalu mubadzir untuk di buang.


"Si Raga itu... ssst kalian itu sebenarnya ada apa sih? Gak biasanya Raga ngelakuin hal sampe sejauh itu. " Setelah melakukan renang, mereka berdua duduk santai di pinggir kolam, memakan potongan buah rujak yang Sandra buat tadi. Sean memakannya dengan lahap. " Orang nanya tuh di jawab! "


"Lo gak buta kan kalo gue lagi ngunyah?! Bisa keselek nih gue! " Sean tak kalah ngegas. Mendengus lantaran sikap arogan sang adik yang tidak ada feminim-feminimnya.


"Lagian masalah lo itu bikin gue penasaran, gak biasanya kalian berantem sampe segininya. "


"Namanya sahabat gak harus berjalan mulus doang kan, Dra? Lagian kenapa lo se-kepo itu buat tahu masalah gue? "


"Gue temannya Aninda soalnya. "


"Gak ada hubungannya... " Sandra meringis ketika Sean mengusek kasar keningnya. Merengut kesal karena kembarannya itu selalu saja berbuat se'enaknya. " Sejak kapan Aninda jadi temen lo? " Sean tersenyum meremehkan, mengundang decakan kesal dari bibir sang adik.


"Lo ngomong gitu seolah lagi ngeremehin gue tahu gak lo? " Sedikit mengayunkan kakinya di dalam air guna mencari sensasi yang begitu dingin hingga ke tulang-tulang. Sandra berfikir sejenak.


"Aninda itu keknya gak bahagia sama hubungannya yang sekarang ini. "


"Bacot! " Sandra sedikit berfikir, melirik ke arah Sean yang kini meminum rakus jusnya.


"Meskipun dia gak pernah pacaran sama lo, setidaknya dia pernah tersenyum kan. " Sean masih diam. Enggan untuk menjawab pertanyaan sang adik. " Ah! Herman gue, cowok zaman sekarang itu emang bener-bener gak guna. "


"Siapa yang lo bilang gak guna? " Sean mulai terpancing. Sandra tersenyum miring.


"Siapa yang ngerasa? "


Sean kicep.


Tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya karena berhasil menbuat sang kakak diam.


"Gue gak mau memperpanjang masalah. " Terlihat guratan kecewa di wajahnya, selama Ini sandra tidak pernah melihat Sean se-lemah ini, apalagi hal itu tengah menyangkut tentang seseorang yang berarti dalam hidupnya. " Raga kelihatan sayang banget sama Aninda, meskipun terkesan cuek yang penting Aninda bahagia. Gue gak masalah akan hal itu. "


"Iyalah, orang yang bermasalah ada di hati lo. " Celetuk Sandra. " Hati lo gak sinkron dengan ucapan lo itu, kalo lo masih nyimpen perasaan sama dia, kenapa gak lo perjuangin? Sebelum janur kuning melengkung, lo bisa berusaha. "


Sean terkekeh, mengacak gemas surai panjang milik sang saudara. " Ah, gue gak kepikiran sampe sejauh itu. "


"Kebodohan lo ada di situ, fikiran lo terlalu pendek sampe gak mau berusaha buat merjuangin kisah cinta lo. Aninda itu cewek baik, dia pantea ngedapetin cowok yang bisa jaga dia sewaktu-waktu. "


" Tumben omongan lo berfa'edah? "


"Hm, gue habis ikut pengajian soalnya. " Ucapnya tak minat, malas jika harus meladeni sng kakak di saat dirinya sedang serius. " Herman deh gue, kenapa gak sih lo itu sedikit aja bisa serius? "


Sean meringis. " Iya, sorry.. "


Sandra memutar bola matanya jengah, melahap lagi potongan rujak yang begitu enak di pandang. Menghela nafas lelah lalu tersenyum tipis.


"Rujak ini, emang bener-bener seger pas di makan di musim panas. " Sean berjengit heran, lalu menggelengkan kepalanya tak habis fikir.


"Keknya, gue harua bertindak. "


*****


kira menguap lebar ketika mendengar ocehan yang tidak berakhlak dari bibir sang preman Sekolah. Entah atas dasar apa, karena saat ini Sandra masuk ke kelasnya dan ingin berbicara empat mata padanya.


Ah, sungguh pasangan cewek yang bener-bener cocok dengan julukan Queen Bee.


"Hm, gue preman lo lebah, kita ini sama, sama-sama cewek yang punya sikap bar-bar dan gak bermoral. "


"Ngapain lo nyebut nama gue di bagian gak bermoral? Meskipun gue terkesan pedas dalam berbicara, tapi gue masih punya hati selembut kapas. "


"Cih! Seolah kek lo pemeran utamanya aja, kasian yang nulis kalo harus bikin cerita tentang cewek macem lo. "


"Hm, gue gak peduli, dan jangan lupa kalo lo utang penjelasan ke gue perihal munculnya lo di kelas gue. "


"Oh itu... Gue cuma pengen lihat adegan yang begitu langkah di sini. "


"Adegan? Apaan dah. " Kira berujar malas, tidak ingin terlalu lama menanggapi perkataan tak berguna di depannya.


"Mau lo apa sih, Se?! "


Semua hening.


Tak di sangka dua sejoli yang di tunggu-tunggu oleh Sandra akhirnya muncul juga. Sandra tersenyum penuh kemenangan. Mewanti-wanti apa yang akan dilakukan oleh saudra kembarnya itu. Sandra memangku kepalanya dengan tangannya lalu menguap lebar.


"Loh? Kok masih nanya? Bukannya dari satu menit yang lalu kita pacaran? "


Pa-pacaran?? Aninda cengo.


Otaknya tak dapat berfikir dengan jernih. Cowok di depannya ini benar-benar tak dapat di prediksi. Mendadak Aninda pening.


"Iya kan? Makanya aku bawa kamu kesini, buat ngasi tahu sama semua orang kalo kamu pacar aku, kamu lupa? " Lagi-lagi Aninda di buat bingung, padahal satu menit yang lalu, dia berada di halaman belakang namun dengan cepat Sean menyeretnya kesini. Aninda kalut, takut jika Raga mengetahui hal ini.


"Eh, Sean!" Sean menoleh, Sandra memasang wajah lempeng. " Apa ini rencana yang bakal lo mainin? Hm, terlalu antimenstrim. "


"Ya gimana lagi, aku cinta pake banget sama dia soalnya." Ingin rasanya Aninda pingsan dan menenggelamkan dirinya, berharap bisa menghindar dari dua cowok yang mengerikan itu.


"Se, plis gak usah main-main gak lucu. " Aninda bersikeras untuk terlepas dari kungkungan Sean, namun cowok itu enggan untuk melepaskannya.


Sean mengernyit. " Main-main? Kapan aku main-main sih, Yang? " Astaga!!!! Aninda di buat kalut. Panggilan apa itu? " Mana mungkin kan aku mainin perasaan kamu? "


Kira yang masih syok pun, hanya diam dengan bibir terbuka lebar. Bagaimana bisa sahabatnya itu berpacaran dengan dua cowok? Apalagi mereka sepasang sahabat.


"Anin, lo gak bercanda kan? Mana mungkin-"


"Ra, percaya sama gue, gue gak pacaran sama Sean... " Meskipun tak dapat melihat, yang pasti ekspresi teman kelasnya pasti sangat syok. Sudah cukup dirinya jadi bahan gosip lagi. " Sean lagi bercanda-"


"Di bilangin aku lagi gak bercanda, Yang? Kok lo gak percaya sih? "


Aninda cengo.


Tak dapat membela diri. Sandra puj hanya diam dengan senyuman tercetak di bibirnya.


"Gue, suka sama rencana lo. " Kira seketika menoleh ketika mendengar gumaman dari Sandra.


"Jadi, lo juga ikut andil dalam hal ini? "


"Ya mau gimana lagi kan, saudara gue udah bucin soalnya. "