SeanNinda

SeanNinda
Hilang



Hari yang di nanti-nantikan telah tiba. Di mana pendonoran mata buat Aninda telah usai di operasi, dan kini tinggal menunggu beberapa jam lagi di buka.


Aninda senang? Tentu.


Karena sebentar lagi ia akan bertemu langsung dengan Sean. Bagaimana wajah asli cowok itu, yang katanya sangat tampan seperti yang ia dengar, Aninda benar-benar tidak sabar untuk menunggu.


Semuanya telah berkumpul. Raina dan juga Raga sudah ada di ruangan itu. Raina mempertahankan air matanya agar tidak tumpah di pelupuk mata. Melihat senyum sang putri, sungguh membuatnya tidak tega jika Aninda mengetahui yang sebenarnya.


"Sean mana? " Semua mendadak bungkam. Nyaris tak dapat menimbulkan suara lantaran sebuah pertanyaan yang saat ini mereka nantikan. Aninda masih mempertahankan senyumannya. "Sean mana? Katanya dia mau nemenin aku, mama minta tolong panggilin Sean ya? "


"Sayang-" Suaranya tercekat. Alis Aninda bertaut nyaris tak terlihat. Ada apa? Kenapa semuanya mendadak sunyi? " Emm, Sean masih-"


Raina terkejut ketika Raga berdiri di samping sang putri. Mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Sempat khawatir akan perlakuan Raga, namun melihat ketulusan cowok itu, akhirnya Raina menyetujuinya.


"Lo telat. " Raga hanya diam, tersenyum palsu dan mengusap pelan kepala itu. Aninda merasa nyaman, namun sedikit berbeda dari cowok itu. " Parfum lo ganti lagi? Gak kek biasanya. "


Raga diam.


Tenggorokkannya tiba-tiba merasa kering. Bibirnya merapalkan do'a semoga saja Aninda tidak mencurigainya.


"Tapi... gak papa deh. Gue tahu kok, pasti lo sengaja bikin gue kejutan iya kan? Soalnya dari kemaren lo ngasi gue kejutan mulu, sosuitt banget sih.. "


Kepalanya ia duselkan di perut Raga. Hatinya berkecamuk menjadi satu. Perasaan bersalah kembali menghantuinya.


"Bisa kita mulai? " Dokter berkata memecahkan keheningan. Raga mengangguk, sedikit menjauhkan kepala Aninda dari tubuhnya. Aninda sedikit tidak terima. Namun akhirnya setuju.


"Setelah perbannya di buka, matanya jangan di buka dulu, pelan-pelan aja. Gak usah terlalu terburu-buru. "


"Hu'um. " Aninda mengangguk antusias. Di samping Raina tak dapat menyembunyikan rasa takutnya saat ini. Matanya melihat bagaimana Aninda tak melepaskan sedikit pun tangan Raga. Aninda memang belum tahu wajah mereka, apalagi Sean. Tapi mereka memang harus jujur padanya. Kebohongan mungkin tidak bisa di terus-teruskan di sembunyikan.


Perban pun sudah di buka. Senyum itu masih saja belum hilang dari bibirnya.


"Pelan-pelan ya... "


"Iya, Dok. " Aninda mencoba membuka matanya. Perlahan kedua matanya terbuka. Pertama yang dia lihat adalah sebuah ruangan putih beraroma obat-obatan, Aninda tahu itu. Setelah itu Aninda melihat Raina, mamanya kini tengah tersenyum padanya. Raina mengulurkan kedua tangannya, Aninda menyambut pelukan itu.


"Sayang... " Raina tak sanggup menyembunyikan rasa senangnya. Melihat sang putri bisa melihat lagi, adalah sebuah kebahagiaan terbesar baginya. Aninda memeluk tubuh Raina.


"Mama, Aninda kangen mama.. "


"Iya sayang.. " Semuanya menangis. Akhirnya setelah sekian lama hidup dalam kegelapan, kini dirinya bisa melihat dunia lagi. Aninda tersenyum. Matanya menyapu seluruh penjuru ruangan. Di sampingnya, Aninda sedikit terkejut mendapati Raga tengah tersenyum padanya.


Sangat tampan.


Tapi, kenapa sedari tadi perasaannya tidak enak. Seperti ada yang kurang saat ini.


"Mama, dia siapa?" Raina menoleh ke arah pandangan sang putri. Aninda menanyakan siapa Raga. " Ma.. dia siapa? "


"D-dia.. Raga. "


Wajah terkejut terpampang di sana. Mata Aninda membola. Tak menyangka jika cowok setampan ini adalah Raga, yang ternyata masih berstatus sebagai pacarnya.


"Ra-raga? Mama serius? " Masih belum percaya akan perkataan sang mama dan kenyataan di depan matanya itu, Aninda beberapa kali mengerjapkan kedua matanya.


"Hai.. Aninda. Selamat ya, atas kebahagiaannya. "


"Ngh. " Aninda hanya bergumam sebagai jawaban. Raga terkekeh. Tak kaget karena melihat wajah linglung cewek itu. "Sean mana? "


Pertanyaan yang di tunggu-tunggu terucapkan juga.


Raina hanya diam, begitu pun dengan Raga. Bahkan cowok itu enggan untuk mengatakan yang sejujurnya.


"Kenapa kalian diem? Sean mana? Katanya dia mau datang? Kok ada? " Matanya mencari sosok cowok itu. Aninda turun dari brankar kasur, berdecak kesal. " Ma? Sean mana sih? "


Merasa kesal karena mereka juga tak kunjung menjawab pertanyaannya, mau tak mau Aninda mengungkapkan kekesalannya. Di tambah Sean tidak datang juga. Kemana cowok itu? Padahal moment tadi begitu pas untuk hadiah bagi Sean.


"Ma?! " Aninda berteriak kencang. Memanggil mamanya sedikit keras. Tapi entah perasaannya apa bagaimana, karena memang kenyataannya seperti itu. Mereka apa sedang menyembunyikan sesuatu darinya? Tapi apa? Apa yang sedang mereka sembunyikan?


"Sean mana? " Kali ini Aninda bertanya pada Raga. Cowok itu masih enggan untuk menjawab. Kedua tangan Aninda meremas kuat lengan Raga. " Raga, gue tanya sama lo, dimana Sean? DI MANA SEAN?! "


"Sean masih belum dateng, kamu istirahat dulu ya? Kamu kan baru pulih.. "


"Gue pengen Sean! Gue cuma pengen Sean!!!!! " Tubuh Aninda tremor parah. Hatinya berdenyut sakit. Apa yang harus Raga lakukan? " Bentar lagi Sean dateng, kamu istirahat dulu ya? Aku yang jaga. "


"Gak! "


"Aninda kamu harus istirahat. "


"GUE BILANG GAK MAU YA GAK MAU! Lo gak usah maksa gue! "


"TURUTIN APA KATA AKU BISA?! "


Aninda bungkam. Entah kenapa tiba-tiba ia menangis. Hatinya merasa sakit yang begitu mendalam.


"Bisa kamu turutin apa kata aku sekali aja? Kamu baru sembuh, jangan terlalu di forsir dulu tenagamu, Ok? "


"Sean... " Suaranya begitu lirih memanggil nama Sean. Raina tak kuasa menahan tangis. Kejadian ini sama persis seperti dulu di saat Genta meninggalkan Aninda. Jika Aninda tahu, bagaimana dengan mentalnya? Bagaimana putrinya bisa sembuh jika seseorang yang dia sayang meningggalkan dia?


Raina pun tak dapat berbuat apapun, selain menangis. Raga menuntun tubuh mungil itu ke brankar. Membaringkannya pelan dan menaikkan selimut itu. Raga melihatnya. Jika Aninda sedang menunggu kedatangan Sean. Tapi apa bisa? Sedangkan yang di tunggu pun sudah tak ada lagi di dunia ini. Bahkan Raga melihat sendiri bagaimana jenazah sang sahabat di kuburkan.


Raga duduk di kursi, tangannya mengambil alih jemari mungil itu. Mengecupnya lembut dan lama.


"Sean... "


Lagi, dirinya harus mendengar suara lirih yang begitu pedih itu. Mata elangnya masih setia menatap wajah sang pacar. Tangannya terulur untuk mengusap lembut puncak kepala Aninda, menyalurkan kehangatan dan berharap Aninda segera tidur.


Setelah lama menunggu, akhirnya Aninda mulai tertidur. Matanya yang semula terbuka kini mulai meredup. Kedua matanya sembab. Entah berapa kali Aninda akan menangisi kepergian Sean, Raga tidak tahu. Yang pasti ia tidak akan pernah mengingkari kepercayaan Sean padanya.


"Tante tenang aja, semuanya pasti akan baik-baik saja. "


"Tante berharap seperti itu. "


Hai-hai-hai.....


Akhirnya mau ending nih...


Aduh... pasti nyesek nih, tapi yang namanya cerita pasti ada sedihnya kan, gak enak juga kalo bahagia terus. Tinggal beberapa chapter lagi sih, mohon dukungannya yee


Salam penulis yang gak ada akhlak.


Hehehe... 😅😅😅😅