
Kabar atas renggangnya hubungan antara Sean dan juga Aninda, kini telah berdampak buruk bagi si pendengar di penjuru Sekolah. Para cewek yang diam-diam menaruh hati pada Sean mereka merasa lega karena tidak ada lagi benalu yang mengganggunya. Jika mereka berasumsi bahwa hubungan Sean dan juga Aninda putus adalah hal yang terbaik, namun tidak bagi Aninda.
Tidak tahu kenapa, hatinya begitu sakit seperti mendapatkan sebuah hantaman yang begitu keras di bagian dadanya, mendengar beberapa cibiran orang-orang yang selalu menghinanya saat pertama kali masuk Sekolah. Aninda sadar posisinya, meskipun ia dari keluarga terpandang dengan di bantu usaha sang mama di sebuah butik miliknya yang kini tengah melesat tinggi, Aninda tidak merasa aman sama sekali,
Kecuali jika Kira selalu bersamanya.
Namun pada kenyataannya, sekarang pun Raga, cowok itu menepati ucapannya, Raga menemuinya di kelas setelah jam pertama usai. Kira yang mengerti kondisi itu pun pamit keluar dengan sebuah alasan untuk membelikannya minum, hal itu pun mengundang decakan kesal dari bibir cewek berwajah korea itu.
Raga terkekeh.
Ia duduk di depan cewek itu lalu menatapnya lekat, Aninda diam. " Lo, bukannya mau pindah Sekolah? " Aninda terkejut namun masih ia kontrol ekspresi wajahnya. Mendadak lidahnya terasa keluh hanya sekedar untuk berucap.
"Em, gu-gue gak jadi, mama sibuk sama urusan butiknya. " Si empu yang memberinya pertanyaan hanya mengangguk dan membentukkan bibirnya dengan bulatan kecil.
"Awalnya gue kira lo bakalan jadi pindah, bukannya itu bikin rencana gue buat deketin lo gagal? "
Aninda sama sekali tidak kaget akan hal itu, bagaimana pun juga bahwa dirinya sadar banyak orang-orang yang peduli padanya. Tapi bukan dengan mereka kan? Sampai rela mengorbankan persahabatannya selama bertahun-tahun harus kandas hanya karena seorang cewek buta seperti dirinya.
"Gue gak tahu kenapa lo se-pengen itu buat deketin gue. " Suaranya mulai terdengar pelan, Raga diam dan membiarkan cewek itu berbicara sesuka hati. " Gue merasa bersyukur karena harus di sukai dua cowok sekaligus. Tapi hal itu malah berdampak buruk buat gue, Raga... "
Dahi Raga mengernyit. Belum bisa mencerna sebuah ucapan terakhir dari bibir sang pujaan hati.
"Gue ngerasa cinta dari kalian itu hanya sebuah rasa kasihan ke gue, gue sadar kalo diri gue buta, gak sesempurna seperti cewek kebanyakan. Tapi, kenapa harus gue? " Suaranya terdengar lirih. Entah untuk keberapa kali Aninda harus menangis lagi karena mereka. Jauh di lubuk hati yang paling dalam, Aninda begitu mencintai Sean dan ia baru menyadari hal itu. Namun apalah daya dirinya, mengingat bahwa ia waktu itu telah menyakiti Sean mustahil jika cowok itu akan memaafkan dirinya.
Aninda sadar diri, dirinya memang tidak sempurna jika di lihat dari fisik, membuat semua cowok enggan untuk memberikan seluruh hatinya padanya.
Kecuali, Sean?
Aninda tersenyum pedih, lukanya sudah cukup dalam hanya sekedar untuk mengingat sebuah kata dari bibir Sean.
Aninda tertegun.
Pandangannya yang gelap menyorot penuh pedih di dalamnya. Raga tulus mencintainya, tapi kenapa dirinya masih belum bisa melupakan Sean? Tak ingin membuat Raga merasa tergantung atas perasaannya, Aninda mengangguk dan tersenyum tulus.
"Gue mungkin belum bisa mencintai lo, tapi gue bakal berusaha buat nerima lo di sisi gue. Jadi, bisa lo pegang janji lo itu, Raga? "
******
"Ah, akhirnya mereka berdua jadian. " Gumamnya dengan sebuah rokok di apit oleh kedua jarinya. Sean membuang puntung rokok itu asal, menghembuskan nafas kasar lalu berbaring dan memandangi awan yang sudah mulai gelap karena hujan akan segera datang.
"Gue gak nyangka kalo lo semudah itu ngelupain kenangan kita, Aninda. " Matanya menyorot kosong sebuah foto kecil dengan wajah cewek yang dulu sempat ia potret secara diam-diam.
Sean begitu mencintai Aninda.
Tapi Aninda malah mengabaikannya. Menerima kenyataan pahit bahwa cewek yang disukainya malah memilih cowok lain.
"Lo, terima aja waktu Raga nembak lo, tapi kenapa waktu gue minta lo jadi cewek gue lo seolah berat gitu? Apa sejijik itu lo ke gue? " Sean mulai bermonolog sendiri, mengabaikan sebuah tetesan air yang mulai turun mengenai wajahnya.
Sean menikmatinya.
Memejamkan matanya rapat guna mengingat satu-persatu kenangan termanisnya bersama Aninda. Sekarang Sean menyesal, bahwa mencintai itu lebih sakit dari pada di cintai. Menyukai cewek yang di sukainya diam-diam membuat Sean sakit, tak ada lagi yang bisa ia lakukan kecuali melihat Aninda tertawa lepas oleh sahabatnya itu.
Raga, cowok itu... Entahlah. Bahkan Sean pun tak dapat mendeskripsikannya. Raga selalu diam dan tak pernah mengeluh atas sikapnya dulu. Cowok itu cenderung pendiam dan memilih untuk memendamnya sendiri. Namun tak disangka, kali ini Raga mulai mengeluarkan uneg-unegnya. Mengatakan bahwa dirinya begitu menyesali persahabatannya dengan dirinya.
Hahh
Sean beringsut dari tempat berbaringnya lalu melihat sosok dua pasangan kekasih yang baru saja menjalin itu, begitu romantis. Sean tersenyum kecut, nyatanya Aninda begitu bahagia ketika dirinya tidak berada di dekatnya.