SeanNinda

SeanNinda
Terakhir Kali



" Lo mau bawa gue kemana sih? "


"Udah lo diem aja gak usah bawel. Gue gigit nih kalo masih bawel. "


"Idih! Mainnya ancem-anceman segala. " Aninda merajuk. Bibirnya di majukan ke depan. Hal itu justru mengundang Sean untuk tak segan memberikan sebuah kecupan lembut di pipinya. Aninda melotot, bibirnya merengut namun terlihat ingin tersenyum.


"Sok-sokan cemberut, udah di cium malah senyum-senyum sendiri. " Jarinya menoel pipi itu, berniat menggoda dirinya, namun Aninda masih betah dalam mode ngambeknya.


"Lo sih... main nyosor-nyosor aja, malu tahu gak. "


"Malu tapi seneng kan? " Ujarnya sembari menaik turunkan kedua alisnya. " Lagian disini gak ada orang, cuma ada kita berdua kok. "


Aninda menoleh cepat. " Lo bawa gue kemana? " Ucapnya penuh selidik. Masalahnya otak Sean itu masih belum sepenuhnya normal.


"Ke pelaminan mau? "


Aninda cengo.


Namun tak dapat menyembunyikan rasa senangnya. Meskipun hanya sebuah candaan, tapi Aninda sudah merasa bahagia.


Sean bernafas lega. Akhirnya dirinya bisa melihat senyum dan tawa sang pujaan hati. Matanya masih fokus memandang Aninda tanpa berkedip. Senyum Sean berubah menjadi sendu, jika suatu hari ia tidak berada di samping Aninda, Sean tidak tahu apa yang terjadi padanya.


Aninda kerap kali mengalami depresi. Selalu menyalahkan dirinya sendiri atas sebuah insiden itu. Mata Sean mengerjap, mencoba untuk tak menangis dan mengeluarkan suara isak tangis.


Sean menangkup wajah mungil itu, Aninda terkesiap.


"Tetep senyum terus ya? Jangan sampek luntur. " Sedikit tidak mengerti apa kata Sean, namun Aninda tak perlu ambil pusing. Kepalanya mengangguk pelan.


"Iya. Kalo lo selalu di samping gue, gue bakal tetep tersenyum. "


"Kalo misalnya-" Suara Sean tercekat. " Kalo misalnya gue gak ada di samping lo, apa bisa lo tetep tersenyum buat kebahagian lo, Aninda? "


Kedua mata Aninda mengerjap.


Meskipun dirinya tidak dapat melihat, namun Aninda dapat merasakan sebuah keganjalan disini. Jantung Aninda tiba-tiba berdetak cepat. Ucapan Sean mampu mengoyak hatinya.


"Ke-kenapa lo ngomongnya kek gitu? " Bibirnya mulai bergetar, siap mengeluarkan sebuah isak tangis. Sean tersenyum pilu. " Kenapa? Jawab gue kenapa?! "


Aninda tidak mengerti. Di saat dirinya benar-benar percaya akan ketulusan Sean, kenapa cowok itu mengatakan kalimat yang begitu menyakitkan?


" Jawab gue? Lo gak bakalan ninggalin gue kan? Gue minta maaf kalo dulu gue sempet gak percaya sama cinta lo, tapi.. tapi gue mohon... gue mohon beri gue satu kesempatan buat mantepin hati gue dan nerima cinta lo lagi... gue mohon... "


"Aninda.. " Nafas Sean tercekat. Bohong jika dirinya tidak ikut terluka. Melihat seseorang yang di cintainya tengah menangis karena dirinya, itu adalah sebuah kesalahan terbesar baginya. Sean begitu mencintai cewek ini, namun ia juga tidak bisa melakukannya. " Hei? Kenapa nangis? Kan gue udah bilang, kalo misalnya kan? Gak beneran, gue mohon jangan nangis. "


Aninda masih sesenggukan. Kepalanya ia dongakkan ke depan, matanya sembab. Sean terkekeh.


"Ja-jangan ngomong gitu lagi, gue enggak suka.. "


Sean mengangguk.. " Iya, gue cuma bercanda tadi. "


"Bercanda lo gak lucu! " Sean meringis. Pukulan Aninda tepat mengenai luka di bagian dadanya. " Lagian udah sedih-sedihnya juga, masih bisa bercanda. "


"Biar bidadari gue tetep cantik, gue gak mau lihat bidadari gue nangis. "


"Gombal mulu kerjaannya. " Aninda mencibir kecil.


"Kalo gak ngegombal, bukan gue namanya. Gue anti yang namanya sok ja'im-ja'im. "


"Heleh. " Aninda mendecih. Membuang muka ke samping.


Raga datang.


Tak jauh dari mereka. Sean mengisyaratkan untuk mendekat dan tidak bersuara. Raga menurut.


"Kok diem? "


"Ya? " Lantaran tak ada suara dari cowok itu, mau tak mau Aninda melontarkan sebuah pertanyaan.


"Ah, sorry. Habisnya gue terpesona sama bidadari di depan gue ini. " Lagi-lagi Sean menggodanya. Bedanya jika dulu Aninda sedikit risih, namun sekarang entah kenapa ia begitu suka dan mulai merasa nyaman.


"Tuh kan gombal lagi.. " Aninda melipat kedua tangannya di depan dada. " Tahu ah! Sebel gue! "


"Idih! Main ngambek-ngambekkan sekarang ya? "


"Capek denger apa capek hati? " Sean seringkali menggodanya. Aninda berdecak kesal.


Raga tresenyum masam. Menyadari jika Aninda lebih bahagia dengan Sean dari pada dirinya. Selama ini Raga sadar, jika hubungannya dengan Aninda adalah sebuah paksaan. Aninda menerimanya, namun dalam hatinya mungkin ingin menolak.


Namun, apakah semuanya akan bertahan? Ketika Sean sudah tidak ada Lagi di samping Aninda, Raga takut jika cewek itu akan mengalami depresi lagi. Kehilangan sean sama saja kehilangan sosok Genta bagi hidup Aninda.


Aninda selalu menyalahkan dirinya sendiri mengenai kecelakaan itu. Bahwa kematian Genta adalah salah dirinya. Raina telah menceritakan semuanya. Setelah mengetahui masa lalu itu, Raga sangat menyesal. Akan sikapnya dulu yang masih kekanakkan, atas bahagianya Sean, Raga jadi lupa diri.


"Emm, Sean."


"Ya? " Suaranya melembut. Aninda tidak tahu bagaimana wajah Sean, tapi yang pasti sangat jauh dari kata jelek.


"Urusan lo sama Raga, apa lo udah baikan? " Ucapnya berhati-hati. Aninda takut jika ucapannya akan menimbulkan sebuah rasa tersinggung pada diri Sean. " Maksud gue.. bukannya gue bela lo ataupun bela Raga, tapi apa gak sebaiknya lo baikkkan? Kalian udah sahabatan dari kecil. Raga itu cowok baik-"


"Makanya lo mau jadi pacarnya dia? "


"BUKAN GITU!!! " Aninda kesal.


Sean dan Raga terkekeh. Tak habis fikir atas sifat sang sahabat.


"Maksud gue, gak baik juga kan kalo kalian tengkar cuma karena gue, gue jadi ngerasa bersalah. "


"Siapa yang bilang? "


" Ngh? " Aninda bergumam.


"Siapa yang bilang? "


"Gu-gue. " Ucapnya mencicit.


"Lo sendiri kan yang bilang. Gak kata orang. Gue sama Raga tulus sayang sama lo. Jadi, lo gak perlu merasa bersalah. "


"Tapi-"


"Gue udah baikkan sama Raga. Dia dulu yang minta maaf. "


"Beneran? " Aninda berucap antusias. Mata bengkaknya justru terlihat lucu di matanya.


"Iya. " Tak dapat membendung rasa senangnya, membuat Aninda tak menyadari bahwa Sean saat ini tengah terluka. Raga terkejut. Mengetahui darah merembes keluar di baju milik sang sahabat, membuat Raga kalang kabut.


Sean tersenyum, mengisyaratkan Raga untuk menggantikan posisinya.


"Lo-"


Raga mati-matian menahan suaranya. Amarah kembali menyelimuti dirinya.


"Sean? Kok diem lagi sih? Biasanya lo banyak omong. " Bibirnya maju kedepan. Raga mengumpat serapah Sean yang kini hilang entah kemana. " Ih kok? "


Aninda tersentak. Merasakan kursi rodanya kembali berjalan.


"Lo mau bawa gue kemana lagi sih? Pasti lo mau kasi gue kejutan? Iya kan? " Semburat merah di wajahnya semakin membuat Raga gemas. Tangan besarnya mengusap lembut puncak kepala itu.


Aninda mendusel nyaman.


Sean tersenyum.


Ternyata dirinya masih di tempat yang sama. Ia sengaja bersembunyi dan membiarkan mereka berdua.


"Gue harap, lo gak ngerusak kepercayaan gue, Ga. "


Aninda Sakura



Sean Alfabeth



Raga Dirgantara