
"Lo gak nyaman ya? " Aninda kerap beberapa kali bergerak tidak nyaman di atas kursi. Bukan karena ajakan Sean, tapi mendengar cibiran para pengunjung lainnya membuat dirinya sedikit tersinggung. Mereka saling mengatakan satu sama lain. Memang, apa yang di ucapkan oleh mereka memang benar adanya, Aninda memang tidak pantas jika duduk bersanding Sean, selaku putra pemilik restoran ini. Aninda tersenyum kikuk mendengar pertanyaan Sean, bibirnya melengkung ke atas.
"Gak kok! gu-gue nyaman, lo gak usah khawatir. " Aninda mencoba menutupi kebohongannya, mungkin Sean bisa saja tahu jika apa yang sedang ia rasakan. Sean mengernyit, perkataan Aninda sedikit membuatnya curiga.
Baru saja Sean ingin bicara, seorang pelayan wanita datang dengan dua nampan. Pelayan itu melirik sebentar ke arah Aninda lalu mengalihkan lagi pandangannya pada Sean.
"Ini pesanan Tuan. " Ucapnya sehalus mungkin. Sean mengangguk pelan.
"Mungkin menurut lo ini makanan terasa aneh, cuma gue pengen lo nyoba yang satu ini, dan lo bakal ketagihan. " Aninda tertawa renyah, sampai Sean di buat spechless di buatnya. Baru kali ini Aninda tertawa lepas seperti itu. Membuatnya semakin...
Cantik.
"Lo... bahagia banget."
"Eh?! " Lantas Aninda menghentikan tawanya dan berdehem pelan. "G-gue keceplosan, maaf ya? " Sean memggeleng pelan.
"Gak pa-pa, baru kali ini gue nemu'in bidadari ketawa lepas kek gitu. " Seketika raut wajahnya merona mendengar pujian dari Sean, Aninda bisa bayangkan bahwa wajahnya saat ini sudah merah seperti tomat.
Aninda mencoba mengalihkan kegugupannya, Sean berusaha menahan tawanya melihat tingkah Aninda. Tangan mungilnya mulai menyendokkan makanan itu, Aninda begitu tidak tahu jenis makanan yang ada di depannya itu, tapi yang jelas rasanya begitu lezat ketika Aninda mencobanya.
"Ini enak banget sumpah!!! " Para pengunjung menghentikan aktifitasnya dan mulai memerhatikan Aninda. Cibiran mulai terdengar namun Aninda menghiraukannya, terlalu hanyut dalam makanannya. Berbeda dengan Sean yang kini menatap tak yakin sekaligus takjub pada cewek di depannya ini. Lagi-lagi Sean di buat gemas olehnya. Cara makan Aninda seperti anak kecil, lucu dan menggemaskan.
"Segitunya? lo laper? "
"Bukan! maksud gue ini makanan enak banget! ini apaan sih? "
"Cuma cake di baluti selai bluberry sama toping coklat. "
Pandangan Sean beralih pada pria paruh baya ber jas warna hitam. Andre Irawan. Seorang Kepala restoran yang diangkat oleh papanya. Sean memasang wajah datar tanpa ekspresi. Andre tersenyum dan membungkukkan tubuhnya menyambut putra dari pemilik restoran itu.
"Malam Tuan. " Sean hanya mengangguk, Andre menoleh ke arah cewek yang ada di sebelah Sean. "Dia? "
"Calon pacar plus istri gue. "
Uhuk!!
Uhuk!!
Aninda tersedak makanannya sendiri, ucapan Sean yang begitu ambigu tanpa ragu itu berhasil membuat seluruh penghuni restoran melongo. Bagaimana tidak, seorang putra dari Jonathan Alfabeth kini sedang mengakui bahwa Aninda adalah calon istrinya... kelak.
"L-lo m-maksud lo-"
"Iya, apa yang gue omongin barusan emang bener. "
"Tuan tidak salah? maksud saya, cewek yang ada di hadapan Tuan itu-"
"Buta? " Satu kata membuat hati Aninda mencelos, mau bagaimana lagi, apa yang dikatakan emang benar adanya. "Gue gak peduli, entah dia buta ataupun tuli, selama dia ada di sisi gue, gue gak peduli. "
"T-tapi Tuan-"
"Angkat kaki dari sini, atau lo gak bakal gue kasi kesempatan di tempat ini, hm? "
"Maaf Tuan. "
"Sean lo... "
"Percaya sama gue Aninda, bahwa omongan gue gak pernah main-main. "